Halo!

Golok Sakti Chapter 10

Memuat...

Song Boe Ki sementara itu juga sudah turun tangan, ia menggempur dua kali pada Ho Tiong Jong, ia lantas dapat tahu bahwa ilmu tenaga dalamnya Ho Tiong Jong tidak seberapa, ia hanya bernyali besar saja menantang mereka bertiga turun tangan semua. Maka mengingat ini, ia terus lompat mundur, kasihkan jitenya menempur sendiri.

Song Boe Ki tidak tahu, Ho Tiong Jong punya ilmu golok ada sangat mempesonakan-Golok bajanya berkelebatan menangkis serangan dan balas menyerang lawan-

cepat sekali pertarungan sudah berjalan tujuh jurus, oet-ti Kang diam-diam mengeluh karena ia masih belum dapat menjatuhkan Ho Tiong Jong, sebentar kalau sudah sepuluh jurus dilewati apa tidak menjadi runyam urusan? Maka dia telah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dipakai menyerang pada Ho Tiong Jong.

Tekanan tenaga yang hebat itu, membuat Ho Tiong Jong merasa kewalahan, ilmu golok keramatnya dimainkan mulai pelahan, tidak segencar tadi sebelumnya oet-ti Kang menindih dengan kekuatan tenaga dalamnya yang ampuh.

Ho Tiong Jong masih terus bandel, ia tidak mundur terus ia bikin perlawanan dengan jurus jurus berikutnya, Pikirnya, kalau ia sudah menjalankan dua belas jurus yang ia miliki ilmu golok keramat itu, masih juga tidak dapat merubuhkan musuhnya ia akan angkat kaki begitu mendapat kesempatan-

Jurus kesebelas tampak sudah dimainkas habis, belum juga ada perubahan yang menguntungkan kepadanya, maka dalam jurus kedua belas, ia mendesak oet-ti Kang, goloknya satu kali dikelebatkan demikian rupa hingga oet-ti Kang harus lompat mundur untuk mengasih lewat bahaya, justru ini ada lowongan untuk Ho Tiong Jong melarikan diri ia tidak mensia-siakan ketika.

Badannya melesat keluar dari kalangan berkelahi dan mabur, hingga tiga musuhnya yang melihat kejadian itu telah dibikin melongo, Tiba-tiba Song Boe Ki tertawa tergelak- gelak.

"Aku bilang juga apa." katanya dengan bangga, " orang bersemangat tikus begitu mana kuat lama bertanding, Biarlah kasih kesempatan dia lari duluan sampai sepuluh tumbak baru kita mengejarnya, siapa diantara kita yang dapat menangkapnya terlebih dahulu sipengecut itu. Ha ha ha... " Sementara itu Ho Tiong Jong terus lari.

Setelah melewati beberapa pohon besar, pikirnya lebih baik ia menyembunyikan dirinya dibelakang salah satu pohon, Selagi ia celingukan memilih pohon yang dapat digunakan tempat sembunyinya, tiba-tiba mendengar siulan saling susah itulah ada siulan Song Boe Ki dengan dua saudara oet-ti.

Ho Tiong Jong kebingungan juga, ia tidak jadi sembunyi dipohon yang ia hampiri dan teruskan larinya kelain pohon, dimana ia melihat samar-samar seperti ada yang menghadang, ia kira ada ikat pinggang merah yang segera melihat pada goloknya yang saat itu ia hendak ayunkan menyabet pada ikat pinggang itu yang dikiranya ada manusia.

Bukan main Ho Tiong Jong kaget, Kiranya itu ada ikat pinggangnya Li-losat le Ya yang segera terdengar suaranya diatas pohon berkata.

"Hei, hayo kau lekas lekas naik pohon, aku yang nanti menyesatkan mereka"

Berbareng dengan naiknya Ho Tiong Jong, Ie Ya juga sudah lompat turun dan menyelinap dibalik sebuah pohon, Tidak lama, Song Boe Ki dengan dua saudaranya telah datang, Ie Ya melontarkan dua cabang pohon kepadanya, hingga Song Boe Kijadi kaget, dengan angin telapak tangannya ia menangkis dua cabang pohon itu hingga jatuh ketanah, kemudian ia teriaki dua saudaranya untuk menguber lebih lanjut.

Ie Ya sudah lari jauh, disusul terus oleh mereka sebab mengiranya ia ada Ho Tiong Jong. suaranya siulan nyaring saling susul perlahan-lahan telah hilang sendirinya, menyatakan bahwa mereka sudah berada jauh dari Ho Tiong Jong. Dengan perlahan-lahan pemuda itu turun dari atas pohon-

Ia menghela napas, memikirkan kepandaiannya masih belum cukup sempurna untuk digunakan bertanding dengan lawan yang kuat ia menyesal kalau mengingat akan adanya yang tinggi hingga pada enam tahun yang lampau ia mensia-siakan kesempatan, tidak balik lagi kerumahnya Hong Jie dan menerima pelajaran enam jurus lagi ilmu goloknya dari Yayanya si nona.

coba kalau ia sudah mainkan lengkap delapan belas jurus ilmu golok keramat, tentu ia sudah menjadi seorang jago yang memiliki ilmu golok tanpa tanding (Bu-tek Sin-to). Semua sudah berlalu, menyesal juga percuma saja.

Setelah berpikir sejenak. ia mengambil putusan- ia pikir, ie Ya telah membawa tiga muridnya Khu Tok lari kelurusan barat, maka sebaiknya ia mengambil jurusan ketimur supayah tidak berjumpa pula dengan mereka. Tapi kemana ia harus pergi? Malam itu telah berubah gelap keadaan sunyi mulai terasa lagi olehnya. Sambil berjalan pelahan ia segera ia memikirkan nasibnya dikemudian hari, dan sekarang kemana ia harus pergi?

Tanpa merasa ia berjalan sudah melewati puluhan li, hari pun tampak sudah mulai terang, Tidak jauh dari ia berjalan tampak ada sebuah kelenteng (kuil), ia cepatkan tindakannya menuju kesana untuk mengasoh beberapa saat lamanya.

PADA pagi hari udara tampak terang terdengar diluar kelenteng ada lewat beberapa orang yang menunggang kuda menuju ke satu jurusan- Ho Tiong Jong ketarik hatinya, diam-diam ia telah mengikuti jejak mereka.

Kira-kira berjalan setengah lie dari kelenteng. Ho Tiong Jong nampak sebuah benteng yang kokoh kuat, diatasnya terpentang dua bendera tiga segi. Satu dengan latar putih tulisan merah ada tersulam kuda terbang. Satunya lagi latar merah tulisan putih ada berbunyi. "Mengadu kepandaian mengumpulkan Sahabat,"

Ho Tiong Jong menghampiri dan memeriksa keadaan benteng yang besar dan tinggi itu. Didepan benteng ada lapangan yang hias, pintu benteng terdapat disebelah depan dan belakang. Bagian belakangnya tampak bangunannya ada lebih tinggi dan kekar.

Dilihat bangunan itu ada demikian besarnya, maka didalamnya tentu ada luas dan banyak rumah rumah seperti suatu perkampungan saja. Pikirnya Ho Tiong Jong. Dengan dipancangnya bendera yang bertulisan "mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat", tentu pocu (kepala benteng) dari benteng besar itu hendak memilih mantu.

Dipasangnya tulisan itu maksud yang sebenarnya tentu hendak memilih pemuda-pemuda, yang kiranya cocok bakal menjadi mantunya.

Perutnya dirasakan lapar. Pikirnya ia tidak ada urusan apa-apa dan untuk terpilih menjadi mantunya pocu juga tidak mungkin, se-baiknya ia masuk kedalam untuk melihat-lihat keadaan disitu. Untuk memuaskan pemandangan, sekalian menonton orang yang akan mengadu kepandaian-

Saat itu tiba-tiba ia melihat ada dua orang muda berkuda berhenti didepan pintu masuk disambut oleh penjaganya dengan berseri hormat. Setelah menyerahkan kudanya kepada pelayan disitu, mereka merapihka n pakaiannya dan langsung masuk kedalam.

Ho Tiong Jong menghela napas.

"Begitulah kalau orang ternama, kedatangannya disambut dengan muka berseri-seri dan dilayani demikian hormatnya." demikian ia berkata sendirian.

Sebelumnya ia bertindak untuk turut juga masuk, tiba-tiba ia melihat ada dua ekor kuda lagi mendatangi dinaiki oleh satu pemuda dan satu wanita cantik. Ketika mereka pada turun dari kudanya didepan pintu benteng sejenak mengawasi keatas pintu yang tertulis Seng- keepo". .Pemuda itu berpinggang langsing, mukanya merah dan gagah, sayang agak bengkok badannya. Umurnya kira-kira tiga puluh tahun-

Yang perempuan parasnya cantik sekali perawakannya tidak ada celanya, umurnya ditaksir duapuluh tahun. Dengan paras bersenyum-senyum ia mengikuti yang lelaki jalan menghampiri pintu benteng, dimana mereka disambut oleh orang yang jaga disitu dengan kelakuan hormat.

Kepada si penjaga anak muda bengkok itu perkenalkan namanya.

"Aku adalah murid dari oey-san-pay bernama Him Toa Ki dan ini ada sumoyku bernama Tiong Ie. Secara kebetulan lawat di- kota Lok-yang ini mendengar bahwa disini ada berkumpul banyak orang gagah maka kami datang untuk bantu meramalkan sebagai penonton-oleh sebab kesusu, maka semua antaran tidak keburu disediakan-.. "

Mengetahui slapa yang datang penjaga benteng dengan kelakuan lebih hormat lagi telah menyilahkan tetamunya ia masuk ke-dalam setelah dua ekor kudanya diserahkan kepada pelayan yang sudah ditugaskan untuk itu. Kembali Ho Tiong Jong menghela napas.

Pikirnya, kalau ia sebentar mau masuk. apakah penjaga benteng akan menyambut padanya demikian hormatnya pula? Tentu tidak sebab ia ada berpakaian kumel dan tidak ternama. Habis, bagaimana? Apakah ia bisa masuk ke dalam benteng?

Tengah ia berjalan mundar mandir sambil menggendong tangan, telah dihampiri oleh seorang yang berbadan tegap. yang sudah lama mengawasi kepadanya. "Hei. sahabat, kau disini jalan mundar-mandir ada urusan apa?" tegur orang itu. Ho Tiong Jong menatap wajah penegurnya sejenak.

"oh, aku bernama Ho Tiong Jong. sebagai seorong kang-ouw dimana juga aku merdeka untukjalan-jalan, untuk apa kau menegurku?" orang itu tampak berubah parasnya.

Ho Tiong Jong ada satu nama yang barusan saja terkenal karena mengalahkan Sepasang orang ganas. Sikapnya orang itu tiba-tiba berubah lunak.

"oh, kau yang bernama Ho Tiong Jong, Perkenalkan, namaku Tham-Khek dan orang telah memberi julukan pa daku si "Ular Kumbang."

Ho Tiong Jong tertawa melihat sikap orang itu hormat padanya.

Ia memang sedang mencari sahabat, maka kebetulan sekali ia dapat berkenalan dengan orang she Tham ini. la sendiri tidak pernah dengar nama si Ular Kumbang, tapi sengaja ia mengumpak.

"oh, nama saudara dengan julukan si Ular Kumbang telah lama aku kagumi, apa Saudara juga ada penghuni dari benteng besar ini ?" Si Ular Kumbang girang mendengar namanya di kagumi.

"Sebaiknya saudara Ho turut masak ke-dalam benteng, untuk menyaksikan keramaian, belajar kenal dengan banyak orang gagah yang sudah pada berkumpul," jawab si Ular Kumbang yang tidak menjawab langsung pertanyaannya si anak muda.

"Ya, memang ada maksudku demikian- cuma dikuatirkan yang menjaga pintu tidak memperkenankan aku masuk." jawab Ho-Tiong Jong.

"Ah, mustahil. Mari aku antar saudara masuk."

Si Ular Kumbang lantas jalanjalan menghampiri penjaga pintu benteng diikuti oleh Ho Tiong Jong Si Ular Kumbang bicara beberapa patah perkataan dengan penjaga pintu, ia ini lalu memanggil pelayan dan menyilahkan Ho Tiong Jong masuk.

Pelayan antar Ho Tiong Jong ke sebuah rumah berloteng yang bertulisan- Tempat berkumpul tetamu. Dikanan kirinya rumah berloteng itu ada dibangun rumah-rumah yang bagus bagus.

Mengikuti si pelayan Ho Tiong Jong masuk kedalam sebuah kamar yang diperlengkapi komplit dan menarik hati.

Post a Comment