Halo!

Golok Sakti Chapter 08

Memuat...

Wanita itu mengenakan baju putih mukanya ketika berdongak tampak pucat seperti mayat, Tersorot oleh terangnya sang dewi malam tampaknya lebih pucat lagi dan menyeramkan hati.

Sebentar lagi ia bangkit berdiri, mukanya mendongak keatas memandang rembulan, mulutnya berkemak-kemik seperti yang sedang berdoa.

Selainnya tiupan angin yang membuat cabang pohon dan daun daunnya berkresekan saling bentur, keadaan disitu sunyi senyap. Tiba tiba terdengar sayup,sayup suaranya seperti orang menangis, pelahan-pelahan suara itu, semakin terdengar nyata dan menusuk kuping, hingga Ho Tiong Jong tanpa terasa menjadi bergidik.

Suara tangisan itu seperti telah keluar dari mulutnya si wanita yang berada dibawah pohon, Ho Tiong Jong dengan hati berdebaran mengikuti terus gerak-geriknya wanita aneh itu.

Sebentar lagi wanita itu menundukkan kepalanya, kemudian tekuk lututnya menghadap lurus kedepan, Dua tangannya dilonjorkan dan sepuluh jarinya dibuka lebar.

Perlahan-lahan dari ujung jari-jarinya wanita itu ada keluar sinar lemah berwarna hijau. la tertawa, tapi tertawanya itu seperti mengandung perasaan yang kurang puas, dengan hasil latihannya belum sempurna, sinar hijau yang keluar dari sepuluh jarinya masih lemah, belum memuaskan hatinya.

Sinar itu adalah yang dinamai api setan, ia rupanya sedang meyakinkan ilmu nyeleweng, ilmu gaib yang dapat membikin celaka sesamanya.

Tengah ia sedang memainkan api senjatanya, tiba dari luar rimba ada meluncur sebuah batu besar kearahnya dibarengi dengan teriak-kan seseorang.

Wanita itu tidak jadi kaget diserang dengan batu yang tidak kurang dari lima puluh kati beratnya, ia menggunakan api senjatanya untuk menyambuti, begitu batu itu kebentur dengan api bikinannya, lantas saja sang batu nyeleweng dari tujuannya dan jatuh diatas lapangan rumput yang hijau.

Kemudian dengan cepat-cepat ia menyimpan kembali api senjatanya, dua tangannya diulur kekepalanya untuk membereskan rambutnya yang riap-riapan dan disanggul rapih sebentar lagi tampaklah wajahnya yang cantik luar biasa, sehingga Ho Tiong Jong yang berada diatas pohon menjadi melongo saking kagum.

Pada saat wanita itu sudah beres menyanggul rambutnya, tampak mendatangi kearahnya seorang pemuda sambil cengar cengir dan berkata.

"Bagus bagus, memang ilmumu. "Telapakan tangan setan- sangat lihay, cuma sayang wanita yang termasyhur cantik bernama ie Ya dengan gelar Li-lo-sat sudah mengorbankan dirinya menjadi mayat hidup karena meyakinkan ilmu setan itu, ha ha ha... "

Pemuda itu pengawakannya tegap. bahunya lebar dan pinggangnya langsing. Sayang alisnya besar dan kasar, sedang hidungnya melesak. hingga tampak nyata mukanya yang buruk. umurnya ditaksir kira-kira dua puluh lima tahun-

Ho Tiong Jong tertegun ia pikir, berani benar pemuda itu terhadap pendekar wanita yang menguasai daerah Huang-ho (sungai kuning) bernama le Ya yang bergelar Li lo-sat (Wanita telengas), bahkan dengan seenaknya saja menyindir dengan kata-katanya, siapakah gerangan anak muda yang berwajah buruk itu.

Li- lo-sat ie Ya selama beberapa tahun ini namanya terkenal dikalangan kangouw sebagai Li-mo-tao atau Kepala Wanita Setan, ia bukan saja parasnya sangat cantik, tapi kepandaian silatnya sangat tinggi. ia malang melintang dalam dunia kang ouw menuruti sesuka hatinya, kalau diwaktu marah ia dapat membunuh orang dengan mata tidak berkesiap. ia marah dan gembira sesenang hatinya saja, Banyak pendekar dalam kalangan kang-ouw yang sungkan berurusan dengan wanita aneh ini.

Ho Tiong Jong sudah lama mendengar nama wanita telengas itu, tapi belum melihat bagaimana macam orangnya, Kini dengan mata kepala sendiri ia melihatnya, Ternyata Li- lo-sat Ie Ya ada sangat cantik dan menggiurkan siapa yang melihatnya. Entah, bagaimana macamnya kalau ia sedang marah?

Li-lo-sat Ie Ya ketika mengetahui siapa yang datang, dengan tersenyum berkata:

"Aku kita siapa, tidak tahunya Khoe-ya (tuan Khoe). Apakah Khoe- ya sudah lama datang? Lo Pocu bagaimana, apakah tidak datang?"

"Ya, ayah telah meninggalkan benteng "jawab orang itu, "dikalangan kangouw terus onar tidak habisnya, Bagatmana tentang kau ini, apa baik-baik saja? Apa kau tak pernah mendengar tentang ayahku ada dimana."

"Tidak." jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Pemuda wajah jelek itu mengawasi paras nya le Ya yang cantik menarik.

"Aku juga datang kesini hanya sebentaran saja."

"Ah, apa betul-betul katamu?" menyela si pemuda sambil bertindak maju menghampiri si cantik. Tangannya diulur hendak memegang tangan yang putih mulus, tapi le Ya cepat menarik tangannya, hingga tidak sampai terpegang.

Pemuda itu itu merangkak hendak menubruk dan memeluk sicantik, tapi le Ya dengan gesit sudah bisa menghindarkan dirinya.

"IIHhh... Siauw pocu suka main-main," katanya sambil bersenyuman genit.

"le Ya, kau benar-benar sangat cantik, kenapa kau selalu menjauhkan diri dariku.. ? oh, kau

cantik benar le Ya... " matanya beringas, seolah-olah hendak menelan korbannya.

"Siauw Pocu kau terlalu memuji aku," jawab le Ya dengan wajah ramai senyuman, "tapi kau tak tahu kalau dalam Seng keepo ada nona Seng yang kecantikannya seratus kali melebihi aku. Nah, sebentar kalau kau sudah melihatnya, kau lantas akan melupakan wajah ku yang buruk. Hi hi hi" le Ya tertawa genit, sambil menekan mulutnya.

"Hmm mana ada wanita yang melebihi kecantikanmu, Aku tak percaya, eh, le Ya apa kau

hendak terus-menerus berlaku kejam tidak memberi kesempatan padaku untuk memeluk pinggangmu yang ramping dan-.. "

"Masih belum, Siauw Pocu... " le Ya menyelak.

"Belum bagaimana?"

"Belum sampai waktunya, hi hi hi... "

Pemuda itu melengak. semakin dipandang wajahnya Ie Ya yang genit menarik semakin mengobarkan napsunya untuk memeluk dan memberikan beberapa ciuman hangat kepada iblis wanita itu.

Keadaan pun disitu ada sangat sepi dan ada kesempatan baik untuk ia melakukan sesuatu menuruti napsu hatinya terhadadap si genit apa mau ia sedang menjalankan tugas yang memaksa ia harus pergi dari situ.

Memikir akan tugasnya, seketika itu napsunya telah tertekan dan lumer sendirinya, ia mengelah napas, " Ya h, sudahlah aku harus pergi sekarang, Harap lain kali kita bisa bertemu muka lagi disini, Selamat tinggal, sampai ketemu lagi Ie Ya... " Kata-katanya belum habis, orangnya sudah melesat dan menghilang dari pemandangan-

"Sungguh hebat kepandaiannya dia" Ho Tiong Jong diam diam berkata dalam hatinya sendiri, sementara itu ia melihat Te Ya berdiri mengawasi perginya si orang she Khu sambil tolak pinggang.

Bibirnya yang halus mungkin memperlihatkan senyuman mengejek.

"Hmm... " kedengaran ia berkata sendirian, "Macammu yang seperti kodok buduk. Jangan harap dapat menggerakkan hatinya Li-lo sat Ie Ya... "

Tiba-tiba ia melihat dibawah seperti ada bayangan orang yang berada diatas pohon, ia cepat mendongakkan mukanya mengawasi keatas dan melihat benar saja ada manusia diatas pohon- ia perdengarkan tertawanya yang aneh, badannya berbareng melesat ke atas, hingga tidak jauh dari dahan di mana Ho Tiong Tong tadi merebahkan dirinya. Saat itu sipemuda sedang repot membuka tali yang mengikat dirinya dengan dahan pohon tak tahu kalau Li-lo-sat le Ya sudah berada dibadapannya.

Matanya si iblis wanita berkilat-kilat menakutkan, ia marah benar, sebab adegan barusan antara ia dan Siauw Pocu (kepala benteng muda) tentu telah dilihat dengan nyata oleh orang-orang yang sekarang berada dihadapannya, ia sudah demikian beringas, napsu membunuhnya timbul seketika.

Tapi Tiba-tiba Ho Tiong Jong mendongakkan mukanya memandang kepadanya membikin semua amarahnya telah terbang entah kemana, ia berdiri kesima, karena melihat wajah yang cakap tampan dari si pemuda dihadapannya.

"Apa mungkin ada orang begini cakap?" ia menanya dalam hatinya sendiri.

Ho Tiong Jong sementara itu sudah menjadi ketakutan menghadapi wanita telengas itu, tapi dengan ramah tamah si iblis wanita datang mendekati dan menanya dengan lemah lembut. "Kau siapa berada di atas pohon? Apa dengan sengaja kau mengintai aku barusan?"

Ho Tiong Jong melihat le Ya tidak bersikap bengis, sebagaimana yang ia duga semula hatinya menjadi tenangan

"Aku Ho Tiong Jong," jawabnya.

Li-lo-sat ie Ya berpikir sejenak. "Oh, kau yang telah bertanding dengan Sepasang orang ganas"? Meskipun dalam pandanganku dua setan itu tidak ada artinya, tapi kau berani menempur mereka sesungguhnya harus dipuji juga nyalimu yang besar, sebab mereka dalam kalangan kangouw terkenal kejam dan ganas serta banyak yang rubuh ditangannya, hingga mereka menjadi sangat sombong."

"Ya, aku Ho Tiong Jong yang menempur mereka, ini bukannya aku sengaja, rapi karena terdorong oleh perasaan ingin menolong orang yang diperbuat sewenang-wenang oleh mereka maka aku terpaksa turun tangan."

"Nah baik, sekarang kau jawab pertanyaanku. Kenapa kau berada diatas pohon ini? Kau tentu menyaksikan dan mendengarkan pembicaraan kami dengan Siauw Pocu, bukan? Lekas jawab" nada suaranya agak dingin dan sikapnya juga berubah bengis.

Ho Tiong Jong tidak menjawab lantas hanya terus membuka tali yang mengikat dirinya, setelah bebas, ia menatap wajahnya ie Ya.

Roman bengis dan nada suara dingin barusan entah bagaimana telah menjadi hilang tanpa bekas diawasi si anak muda.

"Betul- betul dia cakap " demikian suara hatinya berkata sambil tundukan kepala. Sesaat kemudian ia dongak lagi dan balas mengawasi si pemuda yang masih terus memandang padanya.

"orang she Ho, lekas dijawab pertanyaanku." katanya dengan suara lemah.

Ho Tiong Jong tertawa manis, "Aku berada disini tidur lantaran mabuk." jawabnya.

"Apa perbuatanmu dengan si orang she Khoe itu secara kebetulan aku telah mendengar dan melihatnya. tapi betul-betul bukan sengaja aku mengintai."

ie Ya merah selebar mukanya, ia merasa jengah sendirinya. "Kau... " hanya ini yang meluncur dari mulutnya.

Sementara itu Ho Tiong Jong sudah lompat turun dari atas pohon, tapi sebelum ia berdiri tegak Li-losat ie Ya sudah berdiri dihadapannya dengan pedang terhunus ditangannya, wajahnya yang pucat tampak dingin sekali.

Post a Comment