Halo!

Golok Sakti Chapter 07

Memuat...

Sejak mana Khoe Tok tidak kedengaran lagi namanya dalam kalangan Kangouw, ia menyembunyikan dirinya sehingga sekarang sudah tiga puluh tahun lamanya. Halnya siluman Khoe Tok itu hanya akulah yang dapat menceritakan seterang ini, orang lain barang kali tidak

dapat."

Ho Tiong Jong setelah mendengar habis ong Kung Gie cerita, lantas berpaling ke arahnya tiga muridnya si siluman kejam, seakan-akan ia hendak memandang atau menegasi bagaimana sih rupanya murid-murid dari Khoe Tok itu?

"Sekarang keadaan disini amat genting." kata pula ong Kong Gie, "aku lihat banyak orang dari rimba persilatan yang jalan putih dan hitam mengalir masuk kota, Mungkin yang berjalan hitam ada hubungannya dengan "Sepasang orang ganas", Saudara Ho sudah menanam bibit permusuhan dengan "Sepasang orang ganas", kantor kantor piauwkiok disini menganggap ada berbahaya untuk menerima kau bekerja, maka sebaiknya kau angkat kaki dari sini pergi ke Kang-lam umpamanya, siapa tahu disana kau bisa mendapat pekerjaan, sekalian untuk menyelamatkan diri, entah bagaimana ada pikiran saudara Ho?"

Ho Tiong Jong tidak menjawab akan nasehatnya ong Kong Gie, la termenung, pikirnya. Lim piauwTao rupanya sengaja mengirim ong Kong Gie untuk menyuruh aku lekas angkat kaki dari sini, itu sih tidak jadi apa, cuma saja dalam kantongku tidak membekal uang barang Sepeser, bagaimana dengan ongkos dalam perjalananku? Dan kemana aku harus pergi? Betul-betul dalam dunia ini orang harus kejam dan telengas, baru bisa beruntung, orang seperti aku ini, tidak lebih seperti sampah masyarakat, Kesana-sini melamar pekerjaan ditolak. apakah nasibku memangnya ada demikian buruk ? Apa sebenarnya keyakinanku sehingga aku mengalami meski penderitaan hidup begini? Diam-diam ia merasa putus asa.

Dalan bengong memikirkan nasibnya, tiba tiba ong Kong Gie berkata, "Saudara Ho, kau dari tempat jauh datang disini, mungkin ada kekurangan ongkos dijalan, maka sukalah kau terima sedikit pemberianku ini sebagai tandanya persahabatan kita, untuk menambah bekal diperjaianan yang akan kau tempuh."

Setelah berkata ia meletakkan uang tiga tahil perak diatas meja.

Dalam keadaan setengah sinting adatnya, Ho Tiong Jong yang angkuh timbul dengan tiba-tiba, ia menggebrak meja, hingga yang diatasnya suaranya yang nyaring. Para tetamu pada menoleh kearah dua orang itu dengan wajah merasa heran dan menduga-duga, apakah dua orang itu hendak bertempur?

sambil berbangkit dari duduknya Ho Tiong Jong berkata.

"Saudara ong, banyak terima kasih atas pemberianmu, aku masih ada cukup uang di kantong untuk melanjutkan perjalananku Disini aku sudah tidak dapat tempat untuk tancap kaki, semoga dilain tempat ada yang suka pakai aku punya tenaga."

Ketika matanya melirik kepada tiga orang jumawa tadi, jusru mereka punya mata pun sedang ditujukan kearah nya, hingga berbentrokan.

Satu antaranya yang muda, yang sang at jumawa tadi, telah berkata pada dua kawannya.

"Hei, kalian lihat, itu tikus matanya menyala pada kita, kelihatannya sangat menantang"

Ia berkata seraya berbangkit dari duduknya menghampiri mejanya Ho Tiong Jong, hingga ong Kong Gie menjadi ketakutan dan mukanya pucat pasi.

Ketika ia datang dekat, ia melihat uang yang jatuh tadi telah melesak diatas meja, Diam- diam ia bersenyum, katanya.

"Kau main-main didepan kami orang seperti juga yang menantang, apa artinya itu?"

Ia tutup kata-katanya sambil menggebrak meja hingga uang yang nancap tadi telah mencelat keluar.

Masing-masing telah menggunakan tenaga dalamnya yang mahir, hingga para tetamu lainnya yang menyaksikan menjadi sangat kagum. orang tadi mengawasi pada Ho Tiong Jong dengan roman menghina.

"Kau ini anjing kecil berani unjuk lagak didepan tuan besarmu, lekas kalian berdua berlutut baru ada harapan diampuni jiwa kalian-"

Mendengar hinaan itu, Ho Tiong Jong diam-diam berpikir, "Lebih baik aku mati dari pada menelan hinaan orang."

Tengah ia berpikir untuk berlaku nekad, tiba-tiba ia melihat ong Kong Gie telah menjatuhkan dirinya berlutut, Sambil manggut-manggutkan kepalanya seperti ayam yang matokin gabah. ong Kong Gie meratap minta ampun-

Tiga orang jahat itu tertawa tergelak- gelak, tapi kemudian wajahnya beringas, karena melihat Ho Tiong Jong masih tinggal berdiri tegak, tidak mau berlutut seperti kawannya telah berbuat.

Anak muda itu telah unjuk sikapnya yang tenangkan sorot matanya yang dingin mengawasi kepada tiga penjahat itu.

"IHmm . . . ." menggeram si jumawa tadi, "Sayang kami ada urusan penting yang meminta lekas diurus, kalau tidak hmm.. "

"Kalau tidak kenapa?" tanya Ho Tiong Jong dengan berani.

"Siapa namamu?" sijumawa tidak menjawab pertanyaan Ho Tiong Jong.

"Aku belum pernah menukar nama dalam perjalananku aku she Ho nama Tiong Jong, kau mau

apa?"

"Ho Tiong Jong." menggerutu sijumawa.

"Ho Tiong Jong kau mau apa? Siapa nama kalian, aku juga mau tahu bukan?" Sijumawa marah sekali mendengar ceritanya Ho Tiong Jong.

"Aku oet-ti Koe dan ini engkoku oet ti Kang, yang itu ada suhengku Song Boe Ki yang bergelar si "Tangan Telengas", Kalau kan orang she Ho ada bernyali besar, sebentar malam jam tiga boleh datang ditempat yang bernama Lian-mang kang, kau boleh pilih diantara kami bertiga siapa yang kau taksiran menempur."

"Hmm... " Ho Tiong Jong keluarkan suara dihidung.

"Kau boleh membawa kawan untuk mengerubuti salah satu diantara kami bertiga," meneruskan sijumawa, hatinya mendongkol sekali melihat sikapnya Ho Tiong Jong yang kelihatannya tidak jerih sedikitpun terhadap mereka.

"Hm... " kembali Ho Tiong Jong menggeram.

" Kenapa kau menggeram?"

"Aku sebal mendengar kata katamu yang tengik, Kenapa aku harus membawa pembantu, kalau aku sendirian saja menghadapi kalian masih kekurangan lawan? Ha ha ha, kau terlalu memandang rendah padaku."

Sijumawa panas hatinya, "Bagus bagus" katanya "Kaiau sebentar malam kau tak muncul ditempat yang barusan aku sebuikan, kami bertiga saudara akan mencari kau sampai dapat meskipun sampai diujung langit sekalipun- Kami akan menghisap dan meminum darahmu yang masih hangat, untuk menghilangkan rasa haus, kau ngerti?"

Ho Tiong Jong geli dalam hatinya mendengar kata-kata sombong itu, setelah ia tertawa terbahak-bahak. berkata, "Kalian tak usah mencari aku, sebab aku sendiri yang akan mencari kalian, ini bukan sudah bagus untuk menghemat tempo kalian?"

Bertiga saudara itu sebenarnya sudah sangat marah dan ingin turun tangan saat itu pun kalau tak terhalang oleh urusannya yang penting, Lantaran mana, mereka hanya mengawasi dengan sorot mata mendelu ketika Ho Tiong Jong dengan agak sempoyongan lewat diantara mereka pergi keluar rumah makan-

la sudah ambil putusan nekad, Mati dan hidup sudah maunya takdir, ada ditangannya Yang Maha Esa, maka ia tidak harus takuti segala orang jahat itu.

Meskipun ia agak sinting, matanya awas dan dapat melihat berkelebatnya bayangan Bhe Kong, yang sudah lantas hendak menjauhkan diri ketika melihat Ho Tiong Jong.

"Ha ha ha, Bhe toako kau mau kemana?" kata Ho Tiong Jong sambil menyekal orang punya bahu, hingga Bhe Kong terpaksa hentikan tindakannya, ia kelihatan ketakutan dan mukanya meringis ringis kesakitan bahunya dicekal Ho Tiong Jong.

"Bhe toako, kau ini sangat pengecut. Lihat aku Ho Tiong Jong, dikemudian hari pasti akan tersohor namanya dikalangan kangouw, ha ha ha... "

"Mungkin demikian-" jawab Bhe Kong, "tapi lebih dahulu lepaskan cekelanmupada bahuku, sakit, nih".

Ho Tiong Jong segera melepaskan cekelannya, hingga Bhe Kong merasa lega hatinya. "Tiong Jong, namamu dikantor pengantar barang sangat dikagumi, tapi... " "Tapi, kenapa?" tanya Ho Tiong Jong tidak sabaran.

"Tapi karena demikian tenagamu tidak ada orang yang mau pakai dalam kantor Piaukiok, sebabnya?"

"Sebabnya kau terlalu polos dan mau campur saja urusan orang untuk membela keadilan-Lebih-lebih kau ada menanam bibit permusuhan dengan "Sepasang orang ganas", tidak ada satu kantor piauwkiok yang mau pakai tenagamu, karena mereka takut pembalasan si Sepasang orang ganas, yang kejam telengas."

"Aku tidak perduli. Aku berbuat menurut kemauanku berdasarkan keadilan-"

"Sebenarnya, ilmu silatmu belum dapat menandingi sepasang orang ganas. Hanya nyalimu saja yang besar membuat kau berlaku nekad, Andaikata kau dipakai oleh salah satu kantor Piuuw-kiok. yang menjadi sasaran si sepasang orang ganas, bukan hanya pada dirimu saja, akan tetapi juga kantor pengantar barang tersangkut sekalian disikat habis, ini bukan merugikan? Maka nya bagaimana juga setelah kau menanam bibit permusuhan dengan dua orang jahat itu, kau tak dapat bekerja lagi di kantor Piauw-kiok."

Ho Tiong Jong bengong sejenak, pikirnya apa yang dikatakan oleh Bhe Kong memang beralasan- Tapi ia penasaran dan hatinya mendongkol katanya.

"Hmm Memangnya penghidupanku tergantung pada kantor Piauw-kiok saja? Tanpa bekerja

pada kantor demikian aku jadi kelaparan ? Ha ha ha. Bhe toako kau salah hitung. Bicara terus terang, sejak hari ini aku tidak akan menghiraukan aku yang jadi urusan Piauwkiok. Kau lihat saja sendiri, dikemudian hari aku Ho Tiong Jong akan mengangkat nama menjadi seorang lihay. Nah, selama tinggal... " Ia segera meninggalkan Bhe Kong, siapa menjadi melongo dibuatnya. Ho Tiong Jong jalan menuju kepintu utara.

Setelah berada diluar kota, mabuknya perlahan-lahan telah hilang kena disapu oleh angin musim rontok. ia mencari salah satu pohon besar dan memanjat keatasnya, ia baringkan dirinya pada sebatang dahan setelah mengikat dirinya sendiri dengan ikat pinggang kepada dahan pohon dimana ia berbaring supaya jangan sampai jatuh. Dalam sekejapan saja ia sudah tidur menggeros dengan nyenyaknya.

Entah berupa lama ia tertidur, sang rembulan yang terang telah memancarkan sinarnya, sehingga sang jagat menjadi terang benderang.

Ketika ia mendusin, tengah mengucek-ngucek matanya ia melihat kebawah ada seorang wanita dengan rambut riap- riap sedang berlutut sembahyang kepada sang dewi malam.

Post a Comment