Halo!

Golok Sakti Chapter 05

Memuat...

Jurus kedua belas ini telah mengambil dua korban lawannya, tapi ia sudah sangat lelah dan tidak tahu untuk meneruskan pertandingan- Dalam keadaan demikian sebatang golok musuh mampir dibahunya, ia coba menghindarkannya terlambat dan dari bahunya itu telah mengucurkan banyak darah. Untung meskipun sudah sangat lelah, ia masih bisa menangkis, lain-lain serangan musuhnya, hingga ia tidak sampai menjadi perkedel, dalam pertempuran seru itu.

Melihat Ho Tiong Jong hanya dapat memainkan dua belas jurus ilmu golok keramat nya, enam jurus lagi seperti ia belum meyakinkannya, diam diam Seng Giok Cin merasa heran-Tapi bagaimana juga ia tidak bisa tinggal diam melihat Hong Tiong Jong sudah sangat letih kelihatannya. Maka ia berseru.

"Hmm aku kira Sepasang orang ganas yang menggemparkan dunia kangouw ada dua orang yang tinggi ilmu silatnya, tidak tahunya aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri hanya sebegitu saja. Pengecut dan tidak tahu malu. Huh kalian tahu bahwa toako yang membela keadilan itu hanya berkepandaian dua belas jurus ilmu silatnya, akan tetapi kalian tidak tahu siapa adanya aku ini. Ha ha ha ..betul-betul perbuatan kalian akan menjadi buah tertawanya orarg-orang dalam dunia kangouw. Hayo. kalian lekas berhenti jangan bertempur terus"

la meneriaki pada orang-orang yang mengerumuni Ho Tiong Jong.

Tapi dua belas orang penjahat itu tidak mau memberhentikan serang-serangannya? membikin Seng Giok cin jadi sangat mendongkol.

Dari atas kudanya ia enjot tubuhnya melayang sambil perdengarkan siulan bajunya berkibaran membawa tubuhnya turun kebawah dekat dimana Ho Tiong Jong sedang ramainya bertempur.

"Apa kalian tidak mendengar perintah ku?" ia berkata, tubuhnya nyerbu diantara mereka, dalam sekejap saja sudah ada enam penjahat yang terpelanting keluar dari pertempuran- Melihat kelihayan Seng Giok cin- penjahat penjahat lainnya menjadi ciut nyalinya dan pada tumpang siur melarikan diri.

Seng Giok Cin melihat itu tidak mau mengejar hanya setelah tertawa dingin ia berkata: "Ha ha ha kawanan tikus hanya sebegini saja keberanian nya... "

Teng Hong dan Lauw coe Teng mendengar kata-kata sombong itu tidak bisa menelaniya, mereka menghampiri si pemuda pelajar itu dengan menggunakan senjatanya masing-masing tidak banyak rewel, lagi telah menyerang pada Seng Giok Cin.

Doa orang ganas dengan bersenjata telah mendekati Seng Giok Cin yang tidak bersenjata, tapi Seng Giok Cin tidak takut. ia mengandaikan kegesitan dan telapakan tangannya balas menyerang pada dua orang jahat itu.

Senjata poan-koan pit Lauw coe Teng lihay sekali kelihatannya,saban-saban menyerang kebagian bagianjalan darah yang berbahaya sedang senjata gaetannya Teng Hong juga di mainkan dengan hebat sekali. Tapi semua itu dengan tangan kosong dihadapi oleh Seng Giok cin-Tidak ada lowongan terbuka membikin pemuda pelajar itu terluka hingga dua penjahat itu menjadi gelisah sendirinya.

Satu ketika, senjata gaetannya Teng Hong yang menyerang sudah kena dirampas oleh Seng Giok Cin, siap telah meluncurkan balik senjata itu kepada pemiliknya lagi. Baiknya Lauw coe Teng awas, ia cepat menggunakan senjatanya menyontek, hingga senjata gaetan itu nyeleweng jurusannya dan jatuh ditanah tidak jadi meminta korban. Kalau saja Lauw coe Teng tidak turun tangan pada waktunya yang cepat. Teng Hong tentu saat itu hanya tinggal namanya saja.

Teng Hong merasa bersyukur kepada kawannya yang sudah meloloskan dirinya dan bahaya kematian.

Pertempuran masih terus dilanjutkan dengan sengitnya.

Ho Tiong Jong merasa kagum akan kepandaiannya Seng Giok Cin yaig tadinya ia duga tidak punya kepandaian silat makanya ia berulang-ulang menyuruh ia pergi supaya tidak kerembet dan menjadi korban nya Sepasang orang ganas.

Pikirnya, pantasan Seng Giok Cin saban kali ia menyuruh berlalu hanya dijawab dengan senyum dan anggukkan kepala, akan tetapi tidak bergerak dari tempatnya Kalau begitu memangnya ia pandai silat?

Melihat Seng Giok Cin berikan perlawanan dengan tangan kosong berada diatas angin dari kedua musuhnya Ho Tiong Jong pikir tidak perlu ia turun tangan membantu.

Ketambahannya ia merasakan sakit dibahu-nya yang terluka kena hajaran golok musuh. Maka setelah sejenak melihat lukanya, ia lantas meninggalkan tempat itu pergi kelereng gunung, dimana tadi ia bersama Bhe Kong dan Kho Piauwtao berada. Ia disana kecele, sebab ia tidak menemukan kawannya itu.

Ho Tiong Jong menghela napas jikalau mengingat akan dua kawannya itu yang berhati pengecut dan memikirkan hidupnya sendiri saja.

Ia periksa dengan teliti lukanya, ternyata hanya luka biasa saja, tidak terkena racun- Maka setelah ia membelebat. lantas ia duduk mengasoh mengawasi kebawah. dimana Seng cick cin masih terus bertempur dengan "Sepasang orang ganas"

Betul-betul lihay Seng Giok Cin itu, sebab saban kali ia menyerang dengan telapakan tangannya, musuhnya mesti sempoyongan dan dengan susah payah baru bisa menegakkan pula dirinya.

Demikian ketika untuk kesekian kalinya ia membikin dua musuhnya sempoyongan mundur, ia telah bersiul kegirangan dan berkata.

"Hmmm Kalian ini orang macam apa, baru tiga gebrakan saja sudah begini rupa keadaannya. Sebaiknya kalian ngiprit saja pulang kesarangmu untuk memikirkan nasib kalian yang sialan itu ketemu aku. Kalau kalian masih tidak puas dan hendak menagih hutang kekalahan ini, boleh datang cari aku dibenteng seng-kee-po yang terletak disebelah timur dari kota Lok-yang."

Teng Hong yang sedang sesak napasnya habis menerima angin pukulan Seng Giok Cin, berubah mukanya ketika mendengar kata-katanya si pemuda pelajar. ia bertanya apakah pemuda itu ada kepala dari Seng kee-po? Pertanyaan mana tidak dijawab oleh Seng Giok cin, hanya ia menambahkan-

"Untuk mencari aku, jikalau kalian tidak menemui aku di Seng-kee-po, boleh mencari ke "Rumah Es digunung Tay-pekssan", kalian pasti akan menempurnya."

"sepasang orang ganas" itu dibikin terkejut mendengar perkataannya Seng Giok Cin.

Bagaimana mereka tidak kaget, karena benteng Seng-keepo itu ada sangat termasyhur namanya, pusat dari Peserikatan Benteng-Perkampungan, lebih lagi ketika mendengar disebutnya "Rumah Es" digunung Tay-pekssan yang dikepalai oleh Kok-Lo lo, salah satu dari lima pendekar yang termasyhur dalam rimba persilatan pada masa itu. Teng Hong meskipun ketakutan, coba menabahkan hatinya dan dengan ketawa dibikin-bikin ia berkata.

"Ya, harap Seng Siauw-ya suka mengampuni perbuatan kami yang tidak baik. Kami adalah orang yang berwatak tidak baik, sukar dirubahnya. Harap saja lain kali kita dapat berjumpa pula."

Setelah mengucapkan perkataan itu, lalu ia mengajak Lauw coe Teng dan anak buahnya berlalu dari situ.

Seng Giok Cin mengawasi mereka berlalu sampai kemudian menghilang dari pemandangannya. Mendadak ia seperti kaget, matanya celingukkan seperti ada yang dicari.

Memang ia kehilangan Ho Tiong Jong, di mana adanya pemuda itu ia tidak tahu. Pelayannya ditanya hanya mengunjuk ke lereng gunung, lain tidak.

Pemuda pelajar itu mengelah napas dengan muka muram. setelah menyemplak pula kudanya lantas berjalan diikuti oleh pelayannya. juga beberapa saudagar yang terluput dari kematian, sudah mengikuti jejaknya dua orang tadi yang masing-masing naik kuda putih dan hitam.

Ho Tiong Jong diatas gunung menyaksikan berlalunya mereka itu dengan pikiran kusut. Ia sebenarnya ingin bisa berkenalan dengan Seng Giok Cin yang berkepandaian tinggi, tapi hatinya tidak mengasih karena tertekan oleh rasa rendah diri.

PIKIRAN ia ada seorang pemuda miskin, tidak berpendidikan dan ilmu silatnya tidak seberapa tinggi. Sebaliknya Seng Giok Cin ada suatu Kongcu (anak hartawan), terpelajar dan berilmu silat tinggi, mana dapat ia bergaul dengan orang seperti Seng Giok cin? Tambahan dalam kata-katanya yang mengandung teka-teki ia tidak dapat memecahkannya^

Setelah menghela napas beberapa kali, Ho Tiong Jong berbangkit dari duduknya dan ia juga pergi mengikuti mereka menuju ke kota Lok-yang. Di dalam perjalanannya yang telah memakan waktu lima hari lamanya untuk sampai di kota Lok-yang, bukan sedikit ia mengalami penderitaan dari bahunya yang sakit kena hajaran golok. ia naik turun gunung dengan susahnya, tapi akhirnya, sampai juga ketempat tujuannya.

Dari salah seorang sahabatnya ia juga ada bawa surat perkenalan untuk salah satu perusahaan pengantar barang di Lok-yang. Pikirnya, mungkin ia bernasib baik dalam kota itu, maka ia terus mencarinya perusahaan yang dimaksudkan.

setelah masuk keluar beberapa perusahaan sejenis itu, ia telah lewat didepan perusahaan pengantar barang yang merek nya tidak nyata.

Rumahnya rendah, bendera kantor piauwkiok itu berkibar kibar diatasnya, akan tetapi mereknya sudah luntur Meskipun begitu ia perlu menyelidiki siapa tahu itu ada kantor pengantar barang yang dimaksudkan oleh sahabatnya.

Ketika ia menghampiri lebih dekat, tiba-tiba pintu kantor terbuka dan keluar seorang lelaki berumur kira-kira empat puluh tahun, Ketika melihat Ho Tiong Jong seperti seorang asing sedang langak longok, ia telah menegur. "saudara cari siapa?"

"oh, maafkan aku, ada kurang sopan, Aku sedang mencari piautao Lim San yang bergelar Huito (golok terbang), apakah saudara itu ada bekerja disini?"

"itulah aku sendiri, saudara datang dari mana?" tanya orang itu.

"Aku datang dari kota See-an bernama Ho Tiong Jong, ada membawa surat dari sahabatku untuk disampaikan pada saudara."

Ho Tiong Jong berkata sambil merogo sakunya dan keluarkan sepucuk surat diserahkan kepada si Golok Terbang Lim San-

Setelah surat dibaca, mendadak air mukanya Lim San berubah dan dengan suara dingin berkata.

"saudara Ho ada menginap di penginapan mana? sekarang aku sedang ada urusan penting hendak diurus, maka sebentar malam saja aku datang kesana untuk bicara dengan saudara, akur."

Ho Tiong Jong sedikit bingung, karena ia belum tahu akan menginap dirumah penginapan yang mana, sebab dalam kantongnya tidak punya uang. Ketambahan melihat air mukanya Lim San yang demikian, seakan-akan tidak akan menerima ia bekerja dalam kantornya, maka ia telah menjawab sembarangan saja.

"oh, ya, aku baru saja sampai di kota ini, Belum tahu dimana aku akan menginap. maka sebentar malam aku sendiri saja yang datang kesini, bagaimana pikiran Saudara?"

Lim San tidak memberikan jawabannya, ia terus saja meninggalkan Ho Tiong Jong masuk kedalam kantornya, Kelakuan mana telah membikin Ho Tiong Jong melongo.

Diam-diam dalam hatinya mengutuk orang itu tidak tahu adat, belum selesai bicara, sudah meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa.

Dengan pikiran jengkel Ho Tiong Jong menindakkan kakinya tanpa tujuan-

Post a Comment