“Dia hebat ya?” bisik seorang tamu muda yang duduk di sebelahnya. Agaknya tamu ini melihat pandang matanya yang tertuju kepada nona itu.
“Hee...? Dia, ya, tentu saja. Dia hebat sekali,” kata Kwan Bu dengan muka menjadi kemerahan. Tolol, pikirnya, kenapa aku tidak menjaga diri sampai ketahuan orang lain kekagumanku kepada Siang Hwi,
“Hebat !” kata pula pemuda itu mengangguk-angguk. “Bagaikan setangkai bunga merah jambon
yang menggairahkan, akan tetapi hati-hati kawan, durinya runcing bukan main. ha-ha!” Mau tidak
mau Kwan Bu tersenyum. Pemuda ini seorang yang periang, seperti suhengnya, pikirnya. “Dan lebih berbahaya lagi adalah kedua ekor kumbang!”
“Hee? Dua ekor kumbang?” Kwan Bu tidak mengerti. Orang muda itu mengarahkan dagunya ke arah dua orang pemuda yang duduk dekat Siang Hwi.
“Ya, dua ekor kumbang muda itu yang selalu berterbangan mengitari kembang mawar. Berbahaya kalau menyengat!” orang itu menyeringai dengan hati kecut, agaknya mengiri melihat Liu Kong dan Kwee Cin. Kwan Bu tentu saja sekali pandang mengenal Liu Kong. Memang gagah dan tampan. Hebat pemuda itu, pikirnya. Dan Kwee Cin...! Bibir Kwan Bu tersenyum, Kwee Cin yang baik hati. Masih sekurus dulu, sungguh pun wajahnya yang agak pucat kini mengandung sinar kehijauan, sinar wajah seorang ahli lweekeh. Ia kagum dan ingin sekali ia merangkul, menepuk pundak, dan beramah tamah dengan mereka, terutama kwee Cin.
Tiga orang ini duduk di dekat meja di mana di pasang lilin merah sebanyak enam puluh buah menyala. Meja ini dihias dengan kembang-kembang dan di belakang meja ini tertumpuk barang- barang hadiah dari para tamu. Tiga orang muda itu seolah-olah menjaga meja itu yang memang tanda penting dalam acara ulang tahun itu, karena enam puluh batang lilin itu diumpamakan enam puluh tahun yang dilalui Bu Taihiap. Hidup enam puluh tahun dalam gilang-gemilang seperti lilin itu. Lilin-lilin harus dijaga jangan sampai ada yang padam, dan nanti akan ditiup oleh Bu Taihiap sendiri. Pada saat itu, selagi para tamu minum-minum gembira, dari luar muncul lima orang laki-laki. Dua di antara mereka adalah orang-orang berusia kurang lebih empat puluh tahun yang membawa golok besar pada punggung mereka dan yang tiga orang adalah kakek-kakek yang aneh.
Melihat munculnya orang ini, Bu Taihiap memandang dan jantungnya berdebar tegang. Kiranya setelah sepuluh tahun tiada berita, kini secara tiba-tiba, justru pada saat keluarganya merayakan pesta ulang tahunnya, tosu itu datang kembali! Tidak seorang diri, malah bersama empat orang temannya. Bu Keng Liong tentu saja mengenal mereka itu dan inilah yang membuat hatinya berdebar tegang dan gelisah. Dua orang bergolok itu tidak ada artinya, mereka hanyalah dua di antara Sin-to Chit-hiap dan menurut taksirannya, seorang di antara murid-muridnya saja mampu menandingi mereka. Akan tetapi yang membuat ia kaget adalah tiga orang kakek itu. Yang seorang adalah Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu yang sudah ia ketahui kelihaian nya sepuluh tahun yang lalu. Seorang lagi adalah tosu lain yang tubuhnya bongkok,
Tangannya panjang hampir sampai ke tanah, rambutnya riap-riapan dan mukanya seperti tengkorak. Dia dapat menduga bahwa agaknya inilah yang mempunyai julukan Sin-jiu Kim-wan (Lutung Emas Bertangan Sakti) karena rambut yang riap-riapan itu diikat oleh gelang emas. Ia pernah mendengar nama tokoh tua ini yang namanya tidak berada di sebelah bawah nama besar Koai-Kiam-Tojin! adapun orang ketiga juga seorang kakek, pakaiannya seperti petani, tubuhnya kurus tinggi mukanya juga panjang buruk sekali, di pundaknya tampak tersembul gagang pedang, Ia tidak tahu siapa orang ini, akan tetapi dapat menduga bahwa orang inipun bukan orang sembarangan! Rombongan lawan yang datang kali ini benar-benar amat berat! Namun dengan muka tersenyum tenang ia cepat bangkit berdiri menyambut, menjura dan berkata.
“Ah, kiranya totiang dan Cuwi enghiong (tuan-tuan yang gagah) yang datang berkunjung. Silahkan duduk!” Lima orang itu membalas hormatnya, akan tetapi sikap mereka kaku dan Ya Keng Cu segera berkata, suaranya nyaring sekali.
“Bu sicu, maafkan kalau kami menggangu, Sungguh pinto tidak tahu bahwa hari ini sicu sedang merayakan hari shejit. Selamat ulang tahun. Bu sicu!”
“Terima kasih totiang!”
“Kami datang bukan karena perayaan yang sicu adakan, melainkan untuk urusan sepuluh tahun yang lalu. Pinto telah berjanji dengan orang untuk datang lagi sepuluh tahun, dan tidak perduli orang itu muncul atau tidak, sekali ini kami harap Bu sicu suka menyerahkan bocah bernama Liu Kong itu kepada kami agar pestanya tidak terganggu. Harap sicu suka maafkan.” Ucapan itu cukup sopan dan beraturan, akan tetapi terdengar tegas dan jelas menyatakan bahwa tosu ini tidak suka dibantah lagi. Bu Taihiap mengerti apapun yang terjadi, tidak nanti ia dapat menyerahkan Liu Kong begitu saja, bukan hanya karena Liu Kong telah menjadi muridnya dan keponakan isterinya, akan tetapi terutama sekali karena ia tidak melihat adanya alasan mengapa Liu Kong harus terbawa-bawa dalam urusan pertikaian politik itu. “Totiang, sunguh saya harus menyatakan maaf sebesarnya. Seperti yang telah saya katakan sepuluh tahun yang lalu, yang berurusan dengan golongan totiang sekalian adalah mendiang Liu Ti, adapun anaknya, sejak kapan dianggap musuh? apakah dosanya? Tidak, selama tidak ada alasan yang cukup adil, tidak nanti saya dapat membiarkan anak itu diganggu.”
“Ha-ha-ha! Biarpun hari ini sudah merayakan hari lahirnya yang ke enam puluh, namun Bu Keng Liong tetap seorang yang keras kepala dan kukuh! Bu-sicu, apakah kau menantang pinto?”
“Kalau saya yang menentang dan mencari gara-gara, tentu bukan totiang berlima yang datang ke sini, melainkan saya yang mendatangi totiang! Saya hanya menyampaikan pendapat saya. dan selanjutnya terserah, sebagai tuan rumah kewajiban saya hanya melayani kehendak tamu.” Jawaban ini mengagumkan hati Kwan Bu yang sejak tadi menonton dan mendengarkan, Ternyata majikannya masih tetap gagah perkasa seperti dulu, sungguh pun ada hal yang amat mengecewakan dan menyesalkan hatinya, yaitu kalau ia teringat betapa majikannya selalu menolak mengajar silat kepadanya, bahkan melarangnya! Kini biarpun ia mewakili suhunya untuk menghadapi Koai-Kiam- Tojin, namun kalau ia begitu saja maju berarti akan merendahkan nama besar majikannya, maka ia hanya bersiap-siap saja dan memandang dengan waspada.
“Ha-ha-ha, kalau begitu, tak dapat dicegah lagi, urusan ini harus diselesaikan dengan kekerasan. Kebetulan banyak hadir para tamu yang menjadi saksi. Bu-sicu kalau memang ada pembantu dari luar yang akan memperkuat pihakmu silahkan, pinto tidak akan menghalanginya.” Tosu itu tersenyum-senyum sambil memandang ke kanan kiri, lagaknya tidak sombong namun sudah jelas terbayang di wajahnya bahwa ia sudah yakin akan kemenangan di pihaknya, Wajah Bu Keng Liong menjadi merah. Biarpun ia dan keluarganya akan kalah, sampai mati sekalipun, ia akan kalah atau mati dalam keadaan seorang pendekar besar,
“Totiang, Totiang telah datang membawa teman-teman akan tetapi saya tidak pernah mengharapkan bantuan luar untuk membereskan urusan dalam.”
“Ha-ha-ha, sicu jangan salah kira. Teman-temanku ini bukanlah orang luar, melainkan orang sendiri, tokoh-tokoh dari pada golongan kami, kaum penentang kaisar lalim! Dua orang sicu ini tentu sudah sicu kenal, yaitu saudara Kam Tek dan Gan lt Bong, dua orang di antara Sin-to Chit-hiap. adapun saudara ini adalah suhengku sendiri, Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu!” tosu itu berhenti sebentar setelah memperkenalkan suhengnya, untuk menikmati kekagetan orang-orang yang berada di situ, akan tetapi ia kecewa karena yang kaget hanya tiga orang muda murid Bu Keng Liong saja sedangkan para tamu lain hanya memandang dengan wajah kosong! Baru ia mengerti bahwa tamu-tamu ini adalah orang biasa, bukan tokoh-tokoh kang-ouw, maka tentu saja tidak mengenal segala macam julukan seperti Sin-jiu Kim-wan (Lutung Emas Bertangan Sakti).
“Dua saudara yang terhormat ini juga seorang tokoh golongan kami yang tentu sudah sicu dengar namanya. Dia adalah Ban-eng-kiam Yo Ciat!” Di dalam batinnya Bu Taihiap terkejut sekali. Inilah sama sekali tidak pernah disangkanya, Yo Ciat, si jago pedang yang amat menggemparkan sehingga belasan tahun yang lalu mendapat julukan Ban-eng-kiam (Selaksa Bayangan Pedang), Benar-benar lawan yang amat berat, akan tetapi pada wajahnya, jagoan ini tetap tenang saja. Pada saat itu terdengar seruan keras dan tahu-tahu Ya Keng Cu yang bongkok dan berlengan panjang itu telah meluruskan kedua lengannya dan berkata,
“Ha-ha, tidak membawa sumbangan apa-apa, hanya bisa membantu memadamkan lilin!” Dari kedua lengannya yan didorongkan ke depan itu mengeluarkan hawa pukulan menyambar ke arah meja lilin dan keenam puluh lilin yang menyala itu mulai goyang apinya! Tiga orang murid Bu Keng Liong marah sekali, mereka sudah bangkit dan seperti di komando saja mereka pun mendorong ke arah lilin-lilin dari jurusan yang berlawanan dan, api lilin yang sudah bergoyang dan doyong itu menjadi tegak kembali! Kakek itu terkekeh, akan tetapi terus mendorong, sedangkan tiga orang muda itu mempertahankan. Tiba-tiba kakek itu berseru kaget dan menurunkan kedua lengannya, mengacungkan ibu jari ke atas dan berkata,
“Di bawah guru pandai, murid-muridnya sangat hebat!” akan tetapi kakek ini sebenarnya mendongkol sekali karena tadi sewaktu ia mengadu tenaga dan sudah yakin pasti menang menghadapi pengeroyokan tiga orang muda itu, secara tiba-tiba saja kakinya terpeleset! Ia maklum bahwa tidak ada orang berkepandaian tinggi mengganggunya, akan tetapi karena ia mengira bahwa hal itu mungkin dilakukan oleh tuan rumah, maka ia tidak menyebut-nyebut yang akan membuat ia sendiri kehilangan muka,