Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 15

Memuat...

“Toat-beng-kiam...!” Kwan Bu berseru kaget dan girang. Tanpa dapat diikuti pandang mata tahu- tahu tangan suhunya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan, merah darah! Inilah pedang Toat-beng-kiam (Pedang Pencabut Nyawa) milik suhunya. yang amat dipuja-puja suhunya, dan pernah suhunya bercerita kepada semua muridnya bahwa pedang ini turun temurun dari nenek moyang gurunya dan merupakan pedang tanda kekuasaan.

“Kalian boleh saja membantah dan mendurhakai aku yang menjadi guru kalian, akan tetapi sekali- kali kalian tidak boleh membantah terhadap pedang ini. Siapa pemegang pedang, dialah pengganti guru besar yang menciptakan ilmu-ilmu kita dan siapa menentangnya, dia akan mati di ujung Toat- beng-kiam!” Dan kini gurunya hendak menyerahkan pedang itu kepadanya!

“Suhu apakah teecu... cukup berharga untuk.. memiliki Toat-beng-kiam?” Ia bertanya meragu, masih belum berani menerima pedang pusaka itu.

“Mengapa tidak berharga? Kau kira pinceng tidak tahu akan keadaanmu? Ha-ha-ha, muridku, engkau, di samping semua sifat-sifat baik, masih rendah hati pula! Nah, kau terimalah dan wakili aku untuk menghadapi tosu bau, Koai-Kiam-Tojin Ya-Keng-Cu itu. Kami berjanji bertemu di rumah Bu Keng Liong. Terimalah!” Sebelum menerima pedang keramat itu, Kwan Bu mengangguk-anggukan kepala dan berkata,

“Teecu Bhe Kwan Bu mendapat kehormatan menerima dan memiliki Toat-beng-kiam yang keramat, semoga teecu dapat menjunjung tinggi sifat-sifat kegagahan yang diutamakan pedang ini dan kalau teecu melanggar, semoga roh-roh para Couwsu mengutuk dan menghukum teecu...!” Hwesio gendut itu tertawa bergelak dengan gembira sekali. Kwan Bu yang menerima pedang melihat bahwa pedang itu terbuat daripada logam merah yang aneh. Tipis sekali pedang itu dan lemas, dapat digulung seperti sehelai sabuk kulit!

“Nah, pergilah sekarang juga, jangan sampai terlambat agar tosu bau itu tidak mengira bahwa pinceng takut. Pinceng karena malas dan memang dahulu sudah pinceng janjikan akan mengirim wakil seorang murid.” Kwan Bu lalu bermohon diri dan berangkat meninggalkan puncak gunung dimana ia belajar ilmu sampai sepuluh tahun lamanya. Pakaiannya dari kain tebal sederhana dan buntalannya pun hanya terdapat sesetel pakaian yang butut pula penuh tambalan. Memang Kwan Bu seorang miskin, suhunya tidak punya apa-apa pula, bahkan baju sehelai pun tidak punya.

Maka selama berada di puncak gunung Kwan Bu menjual kelebihan sayur-mayur dan buah-buahan yang ditanam untuk membeli atau ditukar dengan pakaian sekedar untuk menutupi tubuhnya. Ia tidak iri sama sekali melihat pakaian Siok Lun yang serba indah, karena sebagai pelayan rumah keluarga Bu, sudah biasa ia melihat anak-anak lain berpakaian indah tanpa merasa iri. Bahkan ia girang melihat pakaian Bi Hwa terjamin dengan adanya Siok Lun yang suka membelikan pakaian untuk gadis ini. Kalau tidak ada Siok Lun, tentu Bi Hwa terpaksa harus berpakaian kasar dan sederhana seperti dia! Kwan Bu melakukan perjalanan seorang diri, kemudian menduga-duga ke mana perginya Bi Hwa dan apakah dapat disusul oleh Siok Lun. Ia tahu bahwa dua orang muda itu saling mencinta, dan seperti gurunya,

Iapun hanya dapat mengharap semoga mereka itu dapat terangkap menjadi jodoh yang cocok dan bahagia. Kalau orang melihat pemuda ini, tentu sedikitpun tidak menduga bahwa pemuda ini adalah murid Pat-jiu Lo-koai, bahkan yang telah mewarisi Toat-beng-kiam yang berarti bahwa ia menjadi murid kepala sekarang, wakil gurunya! Takkan ada yang mengira bahwa dia seorang yang bukan hanya pandai ilmu silat, bahkan memiliki kesaktian yang tinggi. Berbeda dengan Siok Lun yang menggantungkan pedang pemberian ayahnya di pinggang dan berpakaian seperti seorang pendekar, bahkan Bi Hwa juga menggantungkan pedang di pungung, Kwan Bu ini menyembunyikan pedang pusakanya yang dapat digulung, dipakai sebagai sebuah sabuk di pinggangnya, terbungkus sebuah sarung kulit sehingga kelihatan persis sebuah kulit.

Rumah gedung keluarga Bu di kota Kian-cu dihias indah. Di pekarangan depan yang luas itu ditaruh banyak meja kursi dan suasananya amat meriah karena ada beberapa rombongan musik yang meramaikan suasana perayaan pesta. Apakah yang dirayakan keluarga Bu? Pesta itu diadakan untuk merayakan hari she-jit (ulang tahun) Bu Keng Liong, karena pendekar sekarang telah genap berusia enam puluh tahun. Juga sebagai perayaan gembira bahwa selama ini tidak ada lagi datang gangguan musuh, kehidupan mereka amat tenteram dan tiga orang muda yang belajar silat kini sudah tamat pula. Liu Kong sudah menjadi pemuda betubuh tinggi besar dan kokoh kuat,

Berwajah gagah perkasa dan pakaiannya juga indah serba biru dengan pedang tergantung di pinggang kiri. Sekali pandang saja, tidak akan orang meragu bahwa pemuda tinggi besar murid Bu Taihiap tentulah seorang pemuda yang amat lihai ilmu silatnya. Dan memang begitulah, Liu Kong berwajah tampan gagah dan angkuh ini amat hebat kepandaiannya, jarang ada orang muda yang dapat menandinginya, terutama dalam hal tenaga dan ilmu silat tangan kosong. Kwee Cin juga telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, ia lebih tampan dari pada Liu Kong, lebih pendiam, akan tetapi tubuhnya tetap kecil kurus tidak segagah suhengnya. Namun jangan memandang rendah tubuhnya yang kecil kurus itu karena sesungguhnya Kwee Cin inilah yang telah berhasil mewarisi ilmu silat yang berdasarkan tenaga dalam dari gurunya.

Dialah seorang pemuda ahli lweekeh (tenaga dalam) yang amat tangguh dan dibanggakan oleh gurunya. Pakaiannya juga indah, sungguh pun tidak semewah Liu Kong, dan sebatang pedang tergantung pula di pinggang. Bagaimana dengan Bu Siang Hwi? Dia seorang dara yang cantik jelita! Cantik jelita dan menjadi makin manja karena ia tahu bahwa kedua suhengnya telah tergila-gila dan jatuh cinta kepadanya! Secara diam-diam kedua orang suhengnya berlomba untuk merebut hatinya dengan cara-cara mereka sendiri! Liu Kong dengan cara yang terang-terangan dan kadang-kadang kasar, sebaliknya Kwee Cin dengan halus dan tidak berterang, melainkan tersembunyi di antara kata- kata dan sikap serta pandang matanya.

Namun sudah amat jelas bagi Siang Hwi bahwa kedua orang suheng ini amat mengharapkan balasan cintanya dan masih menahan-nahan karena di dalam perlombaan mereka itu, Siang Hwi mendapatkan perasaan yang amat nikmat dan membanggakan! Kalau Liu Kong merupakan seorang ahli gwakang tenaga luar yang dahsyat sedangkan Kwee Cin mempunyai keahlian sebagai seorang ahli lweekeh, adalah Siang Hwi menuruni ilmu pedang ibunya yang diperkuat oleh gemblengan ayahnya, yaitu siang-kiam-hoat (ilmu pedang berpasangan) dalam hal memainkan sepasang pedang yang kini terpasang di punggungnya, Siang Hwi telah jauh melampaui permainan ibunya sendiri! Demikianlah besar sekali hati Bu Keng Liong melihat tiga orang muridnya. Biarpun mereka belum dapat mencapai tingkatnya namun mereka boleh dibanggakan.

Setelah kini mereka menjadi dewasa dengan memiliki kepandaian yang lumayan, hati Bu Taihiap tidak lah begitu khawatir lagi. Anak-anak ini telah pandai menjaga diri sendiri sekarang, dan karena selama sepuluh tahun tidak pernah terjadi sesuatu, maka ia anggap bahwa kini tidak ada bahaya mengancam. Hanya hal yang menyusahkan hatinya, yaitu lenyapnya Kwan Bu. Sampai sepuluh tahun anak ini lenyap dan sampai kini tidak ada beritanya bersamaan dengan lenyapnya Koai-Kiam-Tojin yang juga tak pernah muncul kembali, Bu Keng Liong suami isteri bukan hanya mengkhawatirkan keadaan Kwan Bu semata, melainkan terutama sekali menyusahkan keadaan Ciok Kim, ibu Kwan Bu. Sepeninggal anak itu, Ciok Kim makin tahun menjadi makin payah keadaannya. Payah lahir batin, seakan-akan nyonya ini mati sekerat demi sekerat, digerogoti penderitaan batin dari dalam.

Tubuhnya menjadi kurus dan pucat, dan juga wataknya tidak normal lagi, tidak waras. Kadang- kadang tertawa sendiri membisik-bisikan nama Kwan Bu, kadang-kadang menangis sedih. Akan tetapi ia masih tetap melakukan semua pekerjaan rumah dengan rajin. Keadaan Ciok Kim inilah yang menyusahkan keluarga itu. Sudah tidak kurang banyaknya usaha Bu Taihiap suami isteri untuk mengobati dan menghibur Ciok Kim, namun sia-sia dan akhirnya mendiamkannya saja. Mereka tidak tega untuk mengusir pergi Ciok Kim yang sengsara, maka mereka mendiamkan saja perempuan itu yang dianggapnya seperti bayangan saja. Memang sukar mengurus orang tidak waras. Diberi pakaian bersih dan baik, malah dibikin kotor dan dirobek sana sini. Rambutnya selalu awut-awutan. Mula- mula ditegur dan dicela. Akan tetapi karena terus-menerus begitu, akhirnya didiamkan saja.

Bu Keng Liong dan isterinya sudah berdandan rapi dan menyambut para tamu dengan duduk di bagian agak dalam. Di bagian luar berdiri tiga orang muda yang membuat semua mata orang kagum. Yaitu bukan lain adalah Liu Kong, Kwee Cin dan Bu Siang Hwi. Diam-diam para tamu memuji dan mengatakan bahwa Bu Keng Liong yang terkenal sebagai Pendekar Besar Bu itu memang patut sekali mempunyai tiga orang murid seperti itu. Apalagi puterinya, Bu Siang Hwi, benar-benar membuat mata para pria tidak perduli muda maupun tua, melotot dan seperti orang kelaparan melihat nasi putih dan panggang ayam! Diam-diam ludah ditelan, jantung serasa pepat menggeletak di bawah kaki Bu Siang Hwi yang dalam kesempatan itu menggunakan pakaian serba merah jambon, Ikat pinggang berwarna kuning emas, ikat rambut atau pitanya berwarna biru muda sama dengan warna sepatunya yang bersulam benang emas. Gagang siang-kiam tampak tersembul di belakang punggung. Sungguh manis dan juga gagah! Membuat hati para pria mengilar akan tetapi juga gentar! Seperti melihat seekor burung yang berbulu indah berpelatuk runcing, hati ingin sekali tangan mengelus bulu indah akan tetapi takut dipatuk! Setelah tempat itu penuh tamu yang berdatangan untuk memberi selamat kepada Bu Taihiap dan mendoakan panjang umur sambil menyerahkan barang-barang sumbangan dan tanda mata yang kini bertumpuk-tumpuk di atas meja, Bu Taihiap lalu bangkit berdiri, menghaturkan selamat datang dan terima kasih pada para tamu dan mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan.

Pada saat itu, dari luar masuklah seorang pemuda yang berpakaian sederhana. Ia meragu sebentar, akan tetapi seorang pelayan yang berjaga di luar cepat mempersilahkannya masuk. Pelayan-pelayan Bu Taihiap terdidik untuk menerima tamu-tamu dari golongan apapun juga, tidak pandang pakaian karena Bu Taihiap maklum bahwa banyak tokoh kang-ouw yang pakaiannya tidak karuan. Pemuda ini bukan lain adalah Kwan Bu. Tentu saja pelayan-pelayan tidak ada yang mengenal mukanya yang sudah banyak berubah dari dulu, sepuluh tahun yang lalu. Kwan Bu kebetulan datang di Kian-cu, mendengar bahwa keluarga Bu mengadakan perayaan pesta ulang tahun. Ketika melihat tempat itu penuh tamu, sebagai seorang yang tahu diri, Kwan Bu tidak masuk begitu saja memperkenalkan diri karena hal ini akan mengganggu jalannya upacara atau pesta.

Maka ia masuk dan duduk di antara para tamu, tidak memperkenalkan diri karena selain menjaga agar tidak mengganggu juga mencari-cari kalau-kalau di antara para tamu terdapat tosu yang dimaksudkan gurunya, yaitu Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu. Ia mengambil keputusan untuk menekan rasa rindunya kepada ibunya, dan menanti sampai pesta bubar, barulah ia masuk menemui keluarga Bu dan ibunya. Dari tempat duduknya di antara para tamu, Kwan Bu dengan girang melihat betapa bekas majikannya itu bertambah gemuk dan sehat, juga Bu Hujin kelihatan sehat gembira. Kemudian ia mengerling kearah Siang Hwi dan pandang matanya berseri-seri gembira. Tidak salah dugaanya dahulu, nona majikannya itu benar-benar menjadi seorang dara yang cantik jelita!

Post a Comment