Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 14

Memuat...

“Sumoi !” ketika sumoinya membuat gerakan menengok, saat itulah ia menggerakan tangannya

menotok. Kalau ia tidak memanggil dulu. belum tentu ia akan dapat menotok sumoinya yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi itu. Akan tetapi karena dipanggil dan menengok, maka perhatian gadis itu terpecah sehingga ia dapat ditotok roboh dalam keadaan lemas! Siok Lun menerima tubuh yang hendak roboh itu, lalu dipondong dan diciumilah mulut yang setengah terbuka dan tak berdaya itu penuh nafsu sambil membawa lari menuju ke hutan di lereng gunung!

“Suheng! Suci mengapa?” Bagaikan disambar halilintar, Siok Lun melompat bangun. Ia baru saja merebahkan Bi Hwa di atas tanah yang penuh rumput hijau. Ia membalik dan ternyata Kwan Bu telah berdiri di hadapannya. Siok Lun menjadi pucat mukanya.

“Entah........, entah mengapa dia......... pingsan agaknya, aku sedang berusaha menyadarkannya..?” Siek Lun cepat berlutut di dekat tubuh Bi Hwa, membelakangi Kwan Bu dan cepat sekali ia meraba jalan darah sumoinya sehingga terbebas dari totokannya. Bi Hwa meloncat bangun sambil terisak. Tangannya yang kiri mengusap-usap Bibirnya seakan-akan hendak rnenghapus sesuatu dari bibirnya. Kalau ia teringat tadi betapa mulutnya diciumi begitu rupa oleh mulut Suhengnya, ingin rasanya ia menjerit dan mencabut pedang untuk menyerang Siok Lun. akan tetapi, dia seorang gadis yang dapat berpikir panjang. Kalau ia membuka rahasia perbuatan Siok Lun, tentu akan hebat akibatnya. Maka ia hanya menangis. menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Suci, kenapakah engkau menangis? apakah yang menyusahkan hatimu, suci?” Kwan Bu bertanya, suaranya halus dan tenang. Pemuda ini sekarang telah menjadi seorang dewasa berusia dua puluh satu tahun, bertubuh tegap dadanya bidang, wajahnya tampan dan wataknya pendiam. Dia tidak pernah bicara dengan siapa juga tentang dendam keluarganya, akan tetapi kelirulah dugaan orang kalau dia melupakannya. Setiap malam terbayang wajah ibunya yang bermata satu. Dan dikeluarkannyalah sebatang jarum dari saku bajunya. Karena jarum inilah maka Kwan Bu yang digembleng ilmu silat oleh Pat-jiu Lo-koai, berlatih siang malam mempergunakan senjata rahasia jarum. Mendengar pertanyaan Kwan Bu, Bi Hwa dapat menekan perasaan marahnya dan berkata,

“Sute, kalau kuingat betapa sudah sepuluh tahun kita tinggal disini... dan tiba-tiba harus berpisah seperti yang suhu katakan tidak akan lama lagi... ah, hati siapa yang tidak menjadi terharu dan duka?” sambil berkata begini, tanpa melihat kepada Siok Lun, ia pergi meninggalkan dua orang pemuda itu. Siok Lun menarik napas lega, terang-terangan ia menarik napas di depan sutenya lalu berkata,

“Ah, betapapun sudah memiliki ilmu yang tinggi, wanita tetap lemah hatinya... aih, ini mengingatkan aku akan adikku. Ha-ha-ha, di antara segala wanita di dunia ini, kiranya tidak ada yang seperti adik perempuanku. Sama sekali tidak lemah, sebaliknya, keras seperti baja. Ha-ha-ha!” Siok Lun tertawa gembira. Kwan Bu tidak suka melihat suhengnya menertawakan Bi Hwa. Akan tetapi tidak memperlihatkannya di wajahnya ia hanya berkata.

“Suheng, kau tentu tidak dapat merasakan kedukaan sumoi seperti aku.” “Eh, bagaimana maksudmu, sute?”

“Suheng adalah seorang putera hartawan yang memiliki keluarga kaya, sehingga kalau suheng turun gunung, ada tempat yang suheng datangi dan ada tujuan tertentu dalam perjalanan suheng turun gunung. Akan tetapi tidak demikian dengan sumoi. Dia tidak punya apa-apa, keluarga pun tidak, sehingga baginya suhu seolah-olah pengganti orang tua dan kita seperti saudara-saudaranya. Kini dia harus meninggalkan semua ini, bagaimana tidak berduka?” Di dalam hatinya, Siok Lun mentertawakan sutenya ini. Engkau tahu apa, pikirnya dan kembali hatinya lega bahwa sumoinya tadi tidak membuka rahasia. Dia tidak takut menghadapi sutenya, akan tetapi kalau dikeroyok dengan sumoinya, hemm berat juga! Apalagi kalau suhunya marah dan turun tangan pula.

“Sute, engkau sendiri kalau sudah turun gunung hendak ke mana? Kalau tidak punya tujuan tertentu, mari kau ikut saja bersamaku, sute. Rumahku besar sekali, ayah seorang pedagang besar yang kaya raya. Tentu ayah dapat memberi pekerjaan untukmu!”

“Terima kasih suheng. Aku aku mempunyai urusan penting yang harus kuselesaikan.”

“Dendam?” Kwan Bu kaget dan memandang wajah suhengnya. “Bagaimana kau bisa tahu?” Siok Lun tersenyum, “Seringkali aku dan sumoi membicarakan engkau. Dan suhu pernah kelepasan bicara kepada sumoi, katanya engkau adalah seorang anak yang keras hati dan sekali mendendam, sampai mati pun akan kau usahakan pembalasannya. Betulkah, sute?” Agar suhengnya ini tidak membujuknya lagi agar ikut bersamanya, Kwan Bu mengangguk dan menjawab singkat.

“Betul, suheng. aku harus mencari musuh besar yang membasmi keluargaku.”

“Wah, katakan kepadaku siapa orangnya, sute. Jangan khawatir, aku akan membantumu memenggal batang lehernya!” Siok Lun berkata penuh semangat. Kwan Bu tersenyum. Suhengnya ini orangnya memang peramah sekali, dan pandai bersikap menyenangkan hati.

“Terima kasih, suheng. Soalnya, aku sendiri belum tahu siapa orangnya.” “Hahhh..?” Siok Lun terbelalak memandang. “Habis bagaimana kau bisa ?”

“Aku hanya tahu bahwa ia pandai silat, pandai mainkan golok dan pandai pula menggunakan jarum sebagai senjata rahasia.”

“Namanya?” “Aku tidak tahu.”

“Wah-wah, sute, bagaiana kau akan bisa mencarinya? Di dunia ini banyak sekali yang pandai main golok dan jarum. Heee, nanti dulu! Kau tahu? Ayahku sendiri pun seorang ahli golok yang pandai melempar jarum!”

“Ah, suheng jangan main-main. Musuh besarku ini seorang kepala perampok yang ganas dan liar. Ayahmu adalah seorang hartawan yang terhormat, mana bisa dibanding-bandingkan?”

“Aku hanya main-main sute. Akan tetapi, kalau kau tidak dapat ikut bersamaku, sewaktu-waktu mampirlah ke rumah kami di Kam-sin-hu. Asal kau Tanya saja disana rumah gedung keluarga Phoa wangwe, tak ada yang tidak tahu.” Kwan Bu mengangguk-angguk.

“Sekali waktu aku akan singgah dirumahmu, suheng?” Tiba-tiba kedua orang muda itu membalikkan tubuh dan segera berlutut di depan hwesio gendut yang sudah tua sekali, Pat-jiu Lo-koai guru mereka. Biar pun gerakkan hwesio gendut itu sama sekali tidak bersuara,

Namun kedua orang muridnya dapat mengetahui kedatangannya, hal ini saja sudah cukup membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian dua orang muda ini. Memang Pat-jiu Lo-koai kakek aneh ini mempunyai cara mengajar yang luar biasa. Ia menggembleng siang-malam dan khusus ilmu silat dan segala kepandaian yang mengenai hal itu. Dia tidak mengajar yang lain-lain bahkan lwekang dan siulian pun ia ajarkan dengan tujuan khusus untuk kemajuan ilmu silat. sedikitpun ia tidak mengajarkan filsalat ilmu kebatinan, pendeknya, ia hanya mencurahkan penggemblengan jasmaniah belaka, sama sekali tidak memperdulikan pendidikan batin. Memang dia seorang ahli silat yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, maka dalam waktu sepuluh tahun saja, tiga orang muridnya telah mewarisi ilmu kepandaiannya yang hebat-hebat.

“Suhu. !” Siok Lun dan Kwan Bu berlutut didepan kaki guru mereka. Pat-jiu Lo-koai si kakek aneh

berlengan delapan itu tertawa dan menggaruk-garuk perutnya yang gendut dan tak tertutup pakaian. “Ha-ha-ha, kalian tidak lekas pergi, masih menanti apa lagi? Bhi Hwa sudah pergi sejak tadi, ha-ha- ha! Lekas pergi, Pinceng tidak bisa mengajarkan apa-apa lagi sekarang, sudah habis terkuras oleh kalian!” Yang paling menarik perhatian Siok Lun hanya ketika mendengar Bi Hwa sudah pergi. Maka cepat ia berlutut, mengangguk-angguk delapan kali dan berkata.

“Suhu, teecu mohon pamit, hendak menyusul sumoi.” Belum juga kakek itu menjawab, Siok Lun sudah berkelebat cepat sekali dan lenyap dari depan gurunya. Hwesio itu tertawa bergelak dan kembali mengelus-elus perutnya.

“Ha-ha-ha, dasar orang muda. Akan tetapi kuharap mereka dapat berjodoh, akan baik sekali bagi Bi Hwa...! Omitohud, kau masih di sini Kwan Bu?” Kwan Bu berlutut mengangguk-angguk kepala sebelum menjawab,

“Suhu, setelah sepuluh tahun menerima budi suhu yang amat besar, bagaimana sekarang teecu bisa meninggalkan suhu? Suhu sudah tua, kalau semua murid pergi, siapa yang akan melayani suhu? Biarlah teecu tinggal di sini melayani suhu untuk membalas budi suhu yang amat besar.” Hwesio itu tidak tertawa lagi, menghela napas panjang.

“Hehh... kau keras hati, berkemauan besar, kenal budi, dan pandai menyimpan perasaan. Kalau dahulu pinceng mempunyai watak sepertimu, kiranya pinceng tidak akan seperti sekarang ini, menjadi orang gelandangan yang tidak karuan, hanya pandai membanggakan nama kosong melompong! Nama besar itu banyak ruginya dari pada untungnya. Nama besar yang disanjung- sanjung orang dapat membuat si pemilik nama menjadi besar kepala, sombong dan bangga, merasa pandai sendiri, hebat sendiri, dan karenanya menimbulkan sifat-sifat kepandiran dan sifat angin- anginan. Belum lagi bahayanya dari pihak yang merasa iri, yang setiap saat berusaha untuk merobohkannya atau mengalahkannya. Hah, nama kosong!”

“Semua wejangan suhu teecu catat dalam hati,” kata Kwan Bu.

“Hahh...? Aku tidak memberi wejangan, hanya menceritakan keadaanku. Ahh, engkau murid yang baik, Kwan Bu, murid yang paling baik! Karena itu, dan karena pinceng hendak mengangkat engkau sebagai wakil, maka kau terimalah ini!”

Post a Comment