Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 13

Memuat...

“Agar teecu dapat membasmi orang-Orang jahat!” jawab Kwan Bu tidak ragu-ragu lagi. Kembali hwesio itu tertawa, kemudian berkata.

“Pinceng sih tidak perduli engkau mau menggunakan ilmu silat untuk membasmi kejahatan atau tidak. Bukan urusan pinceng itu, ha-ha-ha! Sudah bulatkah hatimu menjadi murid pinceng?”

“Sudah, losuhu. Mohon diterima ”

“Haa, diterima sih mudah, akan tetapi kalau memang sudah bulat tekadmu, kau boleh meloncat dari tempatmu itu ke sini. Aku tidak mau menolongmu kalau kau salah loncat dan mati terbanting di bawah sana. Beranikah?” Kwan Bu sudah tidak memikirkan hal-hal lain lagi. Apalagi hanya meloncat, biar mati sekalipun ia tidak takut.

“Baik, losuhu!” katanya dengan keberanian penuh, ia lalu meloncat dari atas pohon kecil itu ke arah tempat hwesio gendut. Tubuhnya melayang bagaikan sebuah batu cepat sekali dan tentu tubuh itu akan terbanting hancur kalau saja hwesio itu tidak mengangkat kaki dan... menerima tubuhnya dengan gerakan kaki menendang. akan tetapi anehnya tubuh itu berhenti meluncur dan tahu-tahu ia sudah berdiri di depan hwesio itu. Cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-angguk delapan kali sambil menyebut,

“Suhu..!” Hwesio itu kembali tertawa.

“Semangatmu dan keberanianmu lebih besar dari pada dua orang muridku. Sebetulnya pinceng sudah merasa terlalu banyak dengan dua muridku, akan tetapi melihat semangatmu, biarlah pinceng menambah seorang lagi. Mudah-mudahan kau tidak mengecewakan hati pinceng. Hayo, pegang tanganku dan ikutlah!” Kwan Bu girang bukan main. Ia berusaha berdiri dan memegang tangan hwesio gendut yang menjadi gurunya itu dan... ia hanya memeramkan mata saking ngerinya menyaksikan betapa pohon-pohon beterbangan lewat di kanan kirinya. Kedua kakinya terangkat dan ia seperti terbang saja dengan kecepatan yang amat luar biasa. Gurunya telah membawanya berlari cepat seperti terbang!

Pada keesokan harinya setelah malam kedatangan Ya Keng Cu yang gagal itu, Bu Taihiap terheran- heran karena tosu itu semalam tidak muncul. Selagi ia terheran-heran dan menduga-duga, ia mendapat laporan dari Ciok Kim yang menangis dan mengatakan bahwa puteranya Kwan Bu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas, tidak meninggalkan pesan, bahkan pakaiannya pun tidak dibawa. Penuh kekhawatiran, akan tetapi ia dihibur oleh Bu Keng Liong yang tahu akan watak Kwan Bu yang penuh keberanian dan aneh.

“Jangan khawatir, aku melihat puteramu itu bukan anak sembarangan. Anak seperti dia tidak akan mengalami malapetaka. Percayalah. mungkin sekali dia mencari guru yang sakti.” Ciok Kim terhibur dan membenarkan dugaan ini. akan tetapi yang masih menduga-duga adalah Bu Taihiap. Adakah hubungan antara tidak munculnya tosu itu dan Ienyapnya Kwan Bu? Di sudut hatinya, ia mendapat dugaan bahwa agaknya ketidakmunculan tosu itu adalah karena perbuatan Kwan Bu yang entah telah melakukan apa dan entah sekarang pergi ke mana. Isterinya pun terheran-heran, akan tetapi Liu Kong segera berkata.

“Agaknya tosu jahat itu suka kepadanya dan mengambilnya murid. Kelak bocah itu tentu akan datang dan memusuhi kita.”

“Kwan Bu? Hemm... aku tidak takut, biarpun dia menjadi murid tosu jahat itu,” kata Siang Hwi. adapun Kwee Cin diam saja, hanya diam-diam ia mengharap agar kelak Kwan Bu tidak menjadi orang jahat seperti tosu itu.

“Sumoi, begitu kejamkah hatimu? Tidak sedikitkah kau menaruh kasihan terhadap seorang pria yang tergila-gila kepadamu ini? Sumoi, bertahun-tahun aku menahan diri, sehingga tamat pelajaran kita. Waktu berpisah sudah dekat, tidak maukah engkau membalas cinta padaku?” Gadis itu mengerutkan keningnya, lalu membalikkan tubuh membelakangi pemuda itu untuk menyembunyikan dua titik air mata yang meloncat keluar dan mengalir di pipinya.

“Suheng sudah berulang pula kukatakan kepadamu, kita ini kakak beradik seperguruan, dan kini bukan waktunya bicara tentang perjodohan. Mengapa kau begini mendesak?”

“Hemm, sumoi apakah engkau lebih condong memilih sute daripada aku? Bocah tolol itu? Kau mencintai dia?” Gadis itu membalikkan tubuhnya memandang marah, mukanya yang manis kemerahan menambah kejelitaannya.

“Twa-suheng! Kau terlalu menuduh yang bukan-bukan! Pula, kau tidak semestinya menyebut sute tolol. Kepandaiannya tidak di sebelah bawah kita!”

“Ha-ha-ha! Mungkin karena ia hanya hampir sepuluh tahun setiap hari melatih jarum-jarum terkutuk itu, ia menjadi ahli menyambit jarum yang yang jarang ada keduanya. Akan tetapi dalam hal ilmu pedang, belum tentu ia dapat menangkan aku! Di samping itu, dia tidak terpelajar seperti aku, dia miskin tidak seperti aku, dan tentang wajah, hemm... apakah aku kalah olehnya, sumoi? Jawablah, adik manis, sungguh aku cinta..?”

“Sudahlah, Jemu aku mendengarnya!” kata gadis itu sambil membalikan tubuhnya lari membelakangi pemuda itu. Gadis itu usianya kurang lebih dua puluh tahun, wajahnya manis dan tubuhnya langsing padat berisi. Karena pakaiannya serba ringkas seperti biasa pakaian seirang ahli silat, maka pakaiannya itu tidak banyak menyembunyikan lengkung-lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Di balik kecantikannya jelas tampak sifat gagah seorang pendekar wanita. Sebatang pedang tergantung di punggung dengan gagang terhias ronce-ronce merah. Inilah Liem Bi Hwa murid kedua dari Pat-jiu Lo-Koai, seorang gadis yatim piatu yang tidak mempunyai keluarga lagi karena keluarganya tewas semua ketika perampok mengganas di dusunnya.

Dia puteri seorang sasterawan miskin dan biarpun ia berusia Sembilan tahun ketika Pat-jiu Lo-Koai membawanya ke puncak gunung dan dijadikan muridnya, namun Bi Hwa sudah pandai tentang sastera. Hwesio gendut ini melihat bakat baik pada diri Bi Hwa maka diambilnya sebagai murid kedua. Murid pertamanya adalah si pemuda itu, pemuda berusia dua puluh tiga tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan gagah. Pakaiannya mewah dan pedang yang tergantung di pinggangnya amat indah. Pemuda ini adalah Phoa Siok Lun, putera Phoa wangwe (hartawan Phoa) yang tinggal di Kam-sin-hu. Dia belajar setahun lebih dulu dari Bhi Hwa dan semenjak Bhi Hwa menjadi adik seperguruannya, ia selalu bersikap manis kepada gadis ini. Ia dibekali banyak uang emas oleh ayahnya, maka ia dapat hidup mewah dan royal,

Dan selalu membelikan pakaian untuk sumoinya dari pedagang keliling yang lewat di dusun-dusun yang terletak di kaki gunung itu. akan tetapi rasa sayang sebagai saudara seperguruan ini makin lama tumbuh menjadi cinta kasih seorang pria terhadap wanita. Seperti kita ketahui, Pat-jiu Lo-kiai mengambil Kwan Bu sebagai murid pula, murid ketiga, sungguhpun dalam usia ia lebih tua setahun dari pada Bi Hwa, namun karena ia murid ketiga, ia menyebut suci (kakak seperguruan) kepada gadis itu yang menyebutnya sute (adik seperguruan). Demikianlah, pagi hari itu terulang kembali adegan- adegan yang sering terjadi antara Siok Lun dan Bhi Hwa, yaitu pernyataan cinta kasih pemuda ini kepada sumoinya. Sesungguhnya secara diam-diam di dalam hatinya Bi Hwa juga tertarik dan suka kepada twa suhengnya yang tampan gagah dan kaya raya.

Akan tetapi karena suheng ini terlalu mendesak dan selalu memperlihatkan sikap hendak mencumbu rayu. Gadis itu menjadi kesal hatinya dan merasa tersinggung, merasa tidak dihargai. Berbeda dengan sikap sutenya, Kwan Bu yang selalu ramah tamah dan sopan terhadap dirinya. suhengnya ini tidak ragu-ragu kadang-kadang menyentuh tangannya, memandang ke arahnya seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat! Siok Lun memandang tubuh sumoinya yang membelakanginya. Tubuh yang terbungkus pakaian dengan ketat, yang memperlihatkan bagian-bagian belakang tubuh yang indah dan padat. Alangkah bedanya dengan wanita-wanita yang kadang-kadang diperolehnya di dusun- dusun di kaki gunung. Tidak pernah ia mendapatkan wanita yang kulit lehernya begini putih kuning dan halus, rambut yang begitu halus dan hitam, yang mengikat mayang di dekat telinga.

Siok Lun memang seorang pemuda yang tak dapat mengekang nafsu. Karena gurunya lebih sering bertapa daripada memperhatikan murid-muridnya, karena gurunya seorang aneh yang tak pernah memberi pendidikan ahlak, maka pemuda ini seenaknya saja mencari hiburan, bermain-main dengan wanita-wanita di dusun-dusun, mempergunakan pengaruh uangnya, ketampanannya, juga kadang- kadang kepandaiannya. Kini, setelah menjadi hamba dari pada nafsu birahinya sendiri, melihat tubuh sumoinya dari belakang. membuat nafsunya berkobar dan tak dapat lagi ia menahannya, membuat pikiran yang jernih menjadi keruh. Ia memandang ke kanan kiri. Sunyi di situ. Gurunya sedang Samadhi, adapun Kwan Bu kalau tidak berlatih pedang tentu berlatih main jarum yang menjemukan itu. Setelah mendapat kenyataan bahwa sekelilingnya sunyi, ia memangil.

Post a Comment