Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 12

Memuat...

“Ha-ha-ha, semua orang di dunia adalah murid pinceng (aku), termasuk engkau sendiri, Ya Keng Cu!” Kwan Bu mendengar ini menjadi geli hatinya. Eh, kiranya hwesio ini tidak bohong, karena biasanya seorang hwesio disebut suhu (guru) oleh semua orang, jadi tidaklah terlalu salah kalau hwesio itu dianggap guru olehnya!

“Pat-jiu Lo-koai, jalan kita bersimpang harap kau orang tua jangan mencampuri urusanku dengan keluarga Bu.”

“Eh, tosu yang sama tuanya dengan pinceng, kau dengarlah. Pinceng juga minta agar engkau jangan mencampuri urusan Bu Keng Liong dengan anak keponakannya itu. Nah kau tidak mencampuri urusan mereka, pinceng tidak mencampuri urusanmu. Bukankah adil itu?”

“Wah, adil. Adil sekali itu!!” Kwan Bu bersorak girang, merasa mendapat kawan.

“Pat-jiu Lo-koai, kalau begitu kau sengaja menantangku!” Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakan tangan kanannya dan tampaklah sinar kemerahan ketika pedangnya tercabut. Kwan Bu menjadi khawatir lagi. Ah, kalau sampai terjadi pertempuran, mana bisa hwesio gendut ini menang? Dia memandang dengan hati berdebar-debar. Akan tetapi hwesib itu hanya tertawa, lalu menggunakan tangan mengelus-elus kepalanya yang gundul licin.

“Hah-hah, kepalaku baru saja dicukur licin, mana bisa kau hendak tolong aku mencukurnya kelimis seperti pohon itu? aha, tosu kau terlalu baik hati!” Diejek demikian, Koai-kiam Tojin yang sudah mengenal siapa adanya hwesio di depannya, berseru keras dan menerjang maju. Pedangnya berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung. Untuk kedua kalinya selama hidupnya Kwan Bu menyaksikan pertandingan. Pertandingan pertama antara kedua majikannya melawan tujuh orang Sin-to Chit-hiap dianggapnya merupakan pertandingan yang hebat dan amat cepat, akan tetapi pertandingan sekali ini membuat ia benar-benar melongo, karena ia seperti melihat kilat menyambar-nyambar dan angin menderu- deru di sekeliling tempat itu. Ia tidak bisa melihat bagaimana jalannya pertandingan karena sama sekali tidak melihat dua orang itu. Hanya tampak gulungan sinar pedang merah menyelimuti mereka berdua sehingga anak ini hanya berdiri terpaku di tempatnya dengan mata terbelalak menahan napas. Lewat sepuluh menit, tiba-tiba gulungan itu pecah menjadi dua dan tahu-tahu tubuh si tosu sudah mencelat dan berdiri jauh. Pedangnya kini telah berada di tangan si hwesio gendut yang tertawa-tawa lalu melontarkan pedang ke arah tosu itu sambil berkata,

“Permainan bagus sekali. apakah masih ada lagi, totiang?” Tosu itu marah bukan main, menerima pedangnya, lalu menjura dan berkata.

“Sepuluh tahun lagi pinto datang untuk membunuh anak Liu Ti di rumah ini, boleh losuhu datang menghalangi!”

“Ha-ha-ha, cukup kelak kuwakilkan pada muridku, tosu bandel!” Ya Keng Cu memandang kepada Kwan Bu dengan melotot, kemudian tubuhnya berkelebat dan ia lenyap dari situ. Hwesio itu tertawa lagi, mengelus-elus perutnya yang gendut, kemudian membalikkan tubuhnya dan dengan langkah lebar meninggalkan pekarangan itu.

“Losuhu.... tunggu....!” Kwan Bu memanggil dan mengejar, akan tetapi hwesio itu berjalan terus tanpa memperdulikannya. Betapapun cepatnya Kwan Bu mengejar, tetap saja ia tidak mampu menyusul dan setibanya di bawah dinding pekarangan, tubuh hwesio itu tiba-tiba mencelat ke atas dan lenyap di luar dinding, Kwan Bu berlari-lari melalu pintu dinding dan terus ia berlari keluar. Tidak dilihatnya ke mana perginya hwesio itu, maka ia berlari terus mencari-cari. Tiba-tiba dari jauh ia melihat bayangan hwesio itu berjalan seenaknya menuju ke selatan kota. Ia terus mengejar sambil memanggil-manggil.

“Losuhu... tunggu…, teecu (murid) mohon menjadi murid losuhu...!” Namun hwesio itu terus berjalan sampai di luar kota sebelah selatan kemudian tiba-tiba lenyap. Kwan Bu terus mengejar. Terengah-engah, dan jatuh bangun karena jalanan gelap. Namun ia tidak perduli, terus ia berlari-lari ke depan. Bayangan hwesio itu kadang-kadang Nampak, kadang-kadang lenyap. Benar-benar seperti setan, akan tetapi setiap kali tampak oleh Kwan Bu, anak ini terus berteriak-teriak memanggil dan menyatakan ingin menjadi muridnya. Hwesio gendut itu tetap tidak pernah menengok dan berjalan terus, bahkan kadang-kadang menghilang.

Sampai malam terganti pagi, Kwan Bu masih terus mengejar-ngejar bayangan hwesio itu. Tubuhnya sudah lelah sekali, akan tetapi ia tidak perduli! Ia harus menjadi murid hwesio sakti itu. Harus! Biar sampai mati mengejar, lebih baik mati kalau tidak bisa menjadi muridnya, karena ia tahu bahwa selama hidupnya belum tentu dapat bertemu dengan seorang guru yang sakti seperti hwesio itu. Sampai tengah hari, hwesio itu masih tampak berjalan di depan, menuju sebuah gunung, mulai mendaki gunung. Melihat ini sungguh mengecilkan hati. Tubuh sudah lelah seperti itu, bagaimana harus mendaki gunung lagi? Namun Kwan Bu adalah seorang anak yang sejak kecil sudah banyak mengalami tekanan batin, sudah pandai menyimpan perasaan dan karenanya tekadnya kuat sekali. Ia mengejar terus dan tiba-tiba bayangan hwesio di lereng gunung itu lenyap!

Kwan Bu mendaki terus dengan susah payah, tidak mungkin hwesio itu menghilang, pikirnya. Tentu di atas sana terdapat kuilnya. Sepatunya sudah mulai hancur batu-batu runcing rnenggerogoti telapak kakinya. Lututnya terasa tak bertulang lagi, akan tetapi ia tidak mau berhenti sama sekali. Sampai matahari turun ke barat, hwesio itu tidak tampak lagi dan mulailah hati anak itu khawatir. Ingin ia menangis, ingin ia menjerit-jerit karena kecewa dan menyesal, akan tetapi ia menekan perasaan ini dan mendaki terus. Ia harus menemukan hwesio itu atau kalau perlu mati dalam usahanya! Setelah melalui dan naik turun beberapa anak bukit di lereng-lereng gunung itu, mencari ke mana, akhirnya cuaca menjadi demikian gelapnya sehingga tidak memungkinkan dia maju lagi. Banyak terdapat jurang-jurang di situ dan di dalam gelap, mana mungkin maju? Pula, kedua kakinya sudah tidak dapat ia gerakkan lagi.

Semalam dan sehari ia berjalan dan berlari tanpa henti. Ia masih berusaha mengangkat kaki, akan tetapi tak dapat dan setelah mengeluarkan keluhan panjang, tubuh anak ini terguling ke atas tanah dalam keadaan pingsan! atau boleh jadi juga tertidur karena saking lelahya. Pada keesikan harinya, sinar matahari yang hangat membangunkannya. Ia merasa tubuhnya sakit-sakit perutnya lapar, akan tetapi ia tidak menghiraukan semua itu. Pertama-tama yang dilakukan adalah bangkit duduk dan memandang ke sekeliling dengan pandang mata mencari-cari. Mencari bayangan hwesio itu! Namun lereng gunung itu sunyi sekali, tidak ada seorang pun manusia. Ia bangkit berdiri, kakinya sakit-sakit akan tetapi dapat digerakkan dan mulailah mendaki lagi sambil berpegangan pada batu-batu besar.

Sampai lewat tengah hari ia masih mendaki, keringatnya sudah membasahi seluruh tubuh dan perutnya amat lapar, serasa kulit perut menempel kulit punggung saking kosongnya, kedua kakinya seperti tak bertulang lagi. Ia tidak putus harapan, hanya hampir putus tenaga. Sore hampir tiba dan tidak tampak bayangan hwesio itu. Ketika Kwan Bu dengan pengerahan tenaga seadanya mendaki lagi sebuah puncak kecil dengan hati lebih berat daripada kakinya karena sedari itu tak juga ia melihat bayangan hwesio yang dikejarnya, tiba-tiba ia hampir berseru kegirangan karena dari puncak kecil itu ia melihat bayangan hwesio gendut yang dicari-carinya! akan tetapi hwesio itu berada di tempat jauh di bawah dan jalan menuju hwesio itu hanya melalui sebuah jurang yang terjal sekali. Namun Kwan Bu tidak perduli.

“Losuhu...!!” Ia berteriak girang lalu turun dan mulailah ia merangkak menuruni jurang yang amat terjal dan sukar itu. Hanya berpegang kepada ujung-ujung batu gunung atau pohon-pohon yang tumbuh di situ, atau menginjak benda-benda yang sama pula, Amat sukar, licin dan kaki tangannya sudah mulai baret-baret terkena batu yang tajam, akan tetapi ia turun terus tidak perdulikan itu semua, kadang-kadang menengok ke bawah dan bayangan hwesio yang berdiri termenung jauh di bawah itu menambah semangatnya.

Akan tetapi, kekuatan yang timbul dari kegembiraan hati itu tidaklah dapat bertahan lama karena memang tubuhnya sudah terlalu lelah, perutnya terlalu lapar dan urat-urat di tubuhnya terlalu banyak dipergunakan, melewati ukuran. Setelah merayap turun kira-kira lima puluh meter, tiba-tiba kakinya terpeleset. Ia bergantung dengan tangannya saja pada sebuah akar pohon. Celaka baginya akar itu sudah lapuk dan tak dapat ditahan lagi, tubuhnya melayang jatuh ke bawah, ke tempat yang dalamnya tidak kurang dari tiga ratus meter! Orang lain mungkin akan mengeluarkan pekik mengerikan kalau terjatuh seperti ini, atau pingsan, akan tetapi Kwan bu benar-benar seorang anak yang luar biasa. Ia tidak menjerit, bahkan ia menekan rasa ngerinya, menggunakan akalnya, kaki tangannya bergerak terutama tangannya menjangkau sedapat mungkin ke arah lereng jurang.

Tiba-tiba ia merasa kedua tangannya seakan-akan hendak terlepas dari tubuh, pundaknya serasa patah, akan tetapi tubuhnya tidak melayang turun lagi. Kiranya ia telah jatuh tersangkut pada sebatang pohon kecil dan kedua tangannya berhasil mencengkeram ranting-rantig pohon itu. Tubuhnya sakit-sakit, terutama pundak dan lengannya, akan tetapi ia selamat untuk sementara.

Berapa lama ia dapat bertahan? Selagi ia meramkan mata untuk mengusir kepeningan kepalanya, tiba-tiba ia mendengar tertawa, ia membuka mata dan. Tahu-tahu hwesio gendut itu sudah berada

di situ, berdiri di pangkal pohon yang berada di sebelah bawahnya, ada dua puluh meter jaraknya antara dia dan hwesib gendut di bawah. “Ha-ha-ha, bocah bandel. Mengapa kau mengejar-ngejar pinceng sampai begini macam?”

“Losuhu. !” kata Kwan Bu dan ia sendiri merasa heran mendengar semuanya, begitu ringan, begitu

kosong, seperti bukan suaranya sendiri, suara orang yang berada di ambang pintu kematian, hampir kelaparan, hampir kehabisan tenaga.

“Losuhu... teecu mohon... sudilah kiranya suhu menerima teecu menjadi murid..?” “Mau apa menjadi murid pinceng? Pinceng tidak bisa apa-apa!”

“Teecu... teecu ingin belajar ilmu silat..?

“Ha-ha-ha, anak goblok kalau belajar ilmu silat saja sampai ditempuh seperti ini! apa sih untungnya pandai silat? Mau apa kau belajar silat?”

Post a Comment