“Hahhh. !” kembali Bu Taihiap menghela napas panjang. “Dalam adu lweekang, selagi aku payah
dia masih enak-enak dapat bicara, ini saja sudah membuktikan kelihaiannya. Dia berjuluk Pedang Setan, tentu ilmu pedangnya lihai. Andaikata aku dapat mengimbangi ilmu pedangnya, namun mengingat kekuatan lweekangnya ”
“Ahh, bagaimana nanti sajalah! Demi kebenaran, kekalahan bukan apa-apa.” Kwan Bu tidak berani mendengarkan lebih lama lagi, lalu ia pergi ke belakang. Majikannya dalam bahaya, pikirnya. Kalau Liu Kong ia tidak perduli. Memang lebih baik anak itu dibawa pergi saja oleh si tosu. jadi tidak ada lagi urusan yang menyusahkan majikannya. Tosu itu lihai sekali.
Kalau saja ia bisa menjadi muridnya. Inilah guru yang amat baik, seperti yang ia idamkan. Sayang tosu ini memusuhi majikannya dan kalau ia menjadi muridnya. berarti ia harus menjadi musuh majikannya. Dan hal ini tidak benar sama sekali. Semenjak kecil ia berada di situ. Dia dan ibunya menerima perlindungan keluarga Bu. Budi ini amat besar dan sampai matipun takkan terlupa. Bagaimana mungkin ia menjadi murid musuh majikannya? Tidak, ia mengusir keinginan ini dan memutar otaknya mencari jalan bagaimana ia akan dapat menolong majikannya. Kalau saja ia dapat menunda maksud kakek itu menyerbu rumah ini sampai besok pagi. Bukankah kakek ini berkata bahwa kalau sampai besok tidak mampu mengambil Liu Kong, berarti dia mengaku kalah dan tidak akan mengganggu lagi?
“Pedang Setan, perlahan dulu. !!” Seruan ini membuat tosu Ya Keng Cu kaget setengah mati. Ia
sudah mempergunakan ilmu Couw-sang-hui (Terbang di Atas rumput), nampak kosong tidak ada suara orang, hanya terdengar desir angin yang bermain dengan daun-daun pohon, Bagaimana secara tiba-tiba ada orang yang menegurnya adalah seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang ia kenal sebagai anak pelayan yang pagi hari tadi di rumah Bu Keng Liong telah menyiramnya dengan teh panas kemudian menotoknya!
Memang bocah itu adalah Kwan Bu, semenjak tadi ia telah bersembunyi di dalam pekarangan sebelah belakang rumah, karena ia dapat menduga bahwa tosu yang akan menculik Liu Kong tentu datang melalui pekarangan belakang. Orang yang hendak melakukan sesuatu secara menggelap, tentu lebih suka mengambil jalan-jalan yang gelap pula! Dengan hati berdebar tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, namun dengan sabar ia menanti sampai tengah malam dan tepat seperti yang diduganya, bayangan hitam tosu itu berkelebat maka ia lalu membuka mulut dan menegur, sengaja menyebutnya “Pedang Setan” agar menarik perhatian. Betul saja, tosu itu berhenti dan kini berhadapan dengan dia dalam keadaan terheran-heran.
“Hah, engkau... bocah pelayan Bu Taihiap? Mau apa engkau?”
“Sengaja hendak menghadangmu di sini” Jawab Kwan Bu dengan sikap tenang. Tosu itu memandang dengan mata terbelalak.
“Kau. ? Menghadang pinto? Mau apa?” Dengan suara setenang tadi, bahkan dengan mengangkat
muka membusungkan dada, anak ini rnenjawab.
“Mau mengatakan kepadamu bahwa engkau. biarpun berjuluk Pedang Setan, sesungguhnya tak lain tak bukan hanyalah seorang.... penakut!!!” Tosu itu hampir tak dapat mempercaya telinganya sendiri. Nama besar Koai-Kiam Tojin Ya Keng Cu telah menggetarkan dunia kang-ouw dengan ilmu pedangnya yang jarang tandingan, para penjahat takut bertemu dengannya, disegani kawan ditakuti lawan, dan kini dia dimaki penakut oleh seorang bocah pelayan berumur sebelas tahun! Bocah ini
kalau tidak gila, tentu ada sesuatu yang aneh dibalik keberaniannya yang luar biasa. Ya Keng Cu seorang gemblengan yang sudah berpengalaman, tentu saja tidak mudah menjadi marah. Mendengar ucapan bocah itu, ia malah terseyum dan bertanya.
“Eh budak kecil, mengapa kau bisa bilang bahwa pinto Koai-kiam Tojin Ya Keng Cu seorang penakut?”
“Karena kau hanya berani dan sombong terhadap lawan yang sudah dapat dipastikan bukan menjadi tandinganmu. Sudah jelas bahwa Bu Taihiap bukan lawanmu dan tidak akan menang sungguhpun sampai mati sekalipun Bu Taihiap tidak akan mundur selangkah melawanmu, namun engkau masih mendesaknya dan datang untuk memaksakkan kehendakmu. Tosu tua, memaksa orang yang bukan tandingannya, bukankah itu merupakan sebuah perbuatan pengecut dan penakut?”
“Ha-ha-ha-ha, bocah, apakah Bu Keng Liong menggunakan engkau untuk menyelamatkan diri? Ha- ha-ha, kalau dia memang takut, lebih baik serahkan anak Liu Tiu itu kepada pinto dan habis perkara. Pinto pun bukan orang yang suka mencari permusuhan dengan Bu Taihiap!”
“Engkau keliru besar, totiang. Sudah kukatakkan tadi bahwa Bu Taihiap bukan lawanmu, maka jangan kau paksa jika tidak ingin kusebut pengecut dari penakut paling besar di dunia ini. aku datang karena kehendakku sendiri, mengapa nama Bu Taihiap dibawa-bawa? Dia menantimu dengan pedang di tangan, dia tidak pernah takut, akan tetapi engkaulah yang beraninya hanya melawan orang yang kepandaiannya lebih rendah daripadamu, Cih, tak bermalu!!!” Sesabar-sabarnya manusia ada batasannya. Ya Keng Cu bukan seorang dewa, melainkan seorang manusia biasa. Mulailah ia “terbakar” oleh ucapan-ucapan Kwan Bu, matanya mengeluarkan sinar berapi,
“Budak cilik! Jagalah baik-baik mulutmu yang kurang ajar! Kalau pinto tidak ingat bahwa engkau masih seorang kanak-kanak, lehermu sudah kupenggal sejak tadi!”
“Nah-nah, apa kataku tadi? Beranimu hanyalah mengancam kanak-kanak!”
“Keparat! Kalau Bu Taihiap bukan lawanku, siapa yang akan melawan pinto? Engkaukah? Ha-ha-ha- ha!” “Beberapa tahun lagi baru aku akan melawanmu! Akan tetapi sekarang, kalau engkau bisa menandingi guruku. barulah engkau berhak memakai julukan Koai-kiam dan tidak akan kusebut pengecut lagi. Lawanlah dulu guruku, kalau engkau menang, baru kau boleh ganggu keluarga Bu, aku tidak banyak omong lagi!” Hati pendeta itu sudah kena dibakar. Ia marah dan penasaran, mendengar ini lalu tertawa.
“Ha-ha-ha, baru bisa sedikit ilmu menotok kau sudah sombong menganggap gurumu dewa? Ha-ha, bocah, kau bermulut lancang, mungkin belum pernah menyaksikan ilmu yang sebenarnya. Nah, kau lihat baik-baik, apakah gurumu sanggup melakukan seperti ini?” Baru saja habis tosu itu berkata, tubuhnya sudah berkelebat melayang ke arah sebatang pohon besar,
Lalu tampak sinar terang kemerahan menyambar-nyambar di sekeliling pohon seakan-akan pohon itu terbakar sinar merah. Tak lama kemudian sinar merah lenyap, tubuh pendeta itu sudah berada di depannya, Kwan Bu berhenti bernapas saking kaget dan herannya melihat betapa pohon itu telah berubah bentuknya! Pohon itu kini telah menjadi bulat bentuknya. Semua daun dan ranting telah terbabat rapi dan kini di bawah pohon tampak bertebaran daun dan ranting. Bahkan ketika tosu itu sudah kembali di tempatnya, masih ada beberapa helai daun yang melayang-layang belum sampai ke tanah! Pucat wajah Kwan Bu, akan tetapi kesuraman malam menyembunyikan perubahan warna mukanya. Ia menduga tepat. Ilmu pedang kakek ini hebat luar biasa dan kalau bertanding melawan kakek ini, majikannya bisa celaka. Maka ia lalu tertawa,
“Hahaha, permainan kanak-kanak macam itu boleh saja kau pakai untuk menakut-nakuti orang lain, akan tetapi tentu hanya ditertawai guruku.”
“Bocah! Siapa gurumu? Panggil dia ke sini biar kupenggal lehernya dalam sepuluh jurus!” bentak si tosu yang tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.
“Kuberitahu juga, tentu engkau tidak mengenalnya. Namanya terlalu besar untuk dikenal sembarangan tokoh seperti totiang.” Hampir saja tangan tosu itu bergerak menampar kepala Kwan Bu saking marahnya. Dia dikatakan tokoh sembarangan!” Padahal ia amat terkenal di dunia kang- ouw dan tidak ada tokoh besar yang tidak dikenalnya, sedikitnya mengenai nama. Melihat kemarahan tosu itu memuncak, Kwan Bu yang cerdik tidak mau menggoda lagi dan melanjutkan.
“Guruku seorang hwesio.” Anak ini tahu bahwa hwesio dan tosu tidak pernah akur, maka ia sengaja menyebut nama hwesio agar membuat si tosu menjadi makin penasaran. Yang penting, pikirnya tosu ini tidak akan menyerbu rumah majikannya!
“Hemm, seorang keledai gundul, ya? Bagus, siapa julukannya?” Karena memang tidak punya guru. Kwan Bu tentu saja tidak dapat menyebutkan julukannya, akan tetapi ia tidak kekurangan akal dan berkata lagi.
“Tak perlu menyebut nama, guruku dalam beberapa hari ini akan datang ke sini. Kau tunggulah saja kalau beliau sudah datang, boleh memusuhi Bu Taihiap.” Anak ini mengarang cerita begitu dengan maksud agar majikannya mendapat waktu dan kesempatan untuk mencari akal menghadapi lawan berat ini.
“Bocah! Kalau kau tidak menyebutkan nama gurumu, pinto tidak akan melayanimu lagi!” Tosu itu kini menengok ke arah rumah tinggal Bu Taihiap dan hati Kwan Bu menjadi gelisah. Saking cemasnya kalau-kalau tosu ini benar-benar tidak melayaninya dan meninggalkannya menerjang ke dalam rumah, ia berkata cepat-cepat dan gagap. “Guruku bukan manusia sembarangan. Beliau setengah dewa......... berlengan delapan...!” Tentu saja ini hanyalah bual dan gertakan seorang kanak-kanak. akan tetapi sungguh di luar dugaan Kwan Bu, tosu tua itu menjadi pucat dan agaknya menjadi kusut sekali. Sejenak tosu itu termanggu kaget, kemudian membentak,
“Dia...? Tak mungkin! Bocah kecil, kau berani membohong, ya? Kau pantas dipukul…!” tosu itu melangkah maju dan membuat gerakan hendak menampar.
“Ha-ha, sejak kapan seorang tosu tua Bangka hendak memukul seorang anak kecil?” Suara ini parau dan besar sekali namun tanah di sekitar pekarangan itu serasa tergetar-getar seperti ada gempa bumi, Kwan Bu cepat menengok sambil memutar tubuh ke belakang dan...... kiranya disitu telah berdiri seorang hwesio tua yang berkepala gundul dan amat gendut perutnya, persis seperti arca yang sering ia lihat dalam kelenteng! Hwesio tua ini bertangan kosong, kepalanya gundul pelontos. bahkan tubuh atas tidak memakai baju.
“Pat-jiu Lo-koai !!” Si tosu berseru dengan suara kaget sekali. Dan Kwan Bu yang mendengar ini
menjadi kaget juga girang. Agaknya di dunia ini memang ada Orang yang berjuluk Pat-jiu Lo-koai (Kakek Aneh Berlengan Delapan), jadi cocok dengan kata-katanya tadi bahwa gurunya berlengan delapan. Pantas saja tosu ini kaget, dan mengapakah tosu itu kaget mendengar nama seorang hwesio yang kelihatan lucu ini? Ia cepat mundur dan minggir sambil menonton dengan mata terbelalak dan penuh perhatian.
“Pat-jiu Lo-Koai, jadi benarkah engkau guru bocah ini?”