Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 10

Memuat...

“Ah, untung hanya luka kecil. Mari kita obati di dalam,” kata Bu Taihiap dan pergilah suami isteri perkasa ini ke dalam rumah. Sampai lama, lebih lama dari jalannya pertempuran itu sendiri. Kwan Bu mendekam dibelakang rumpun kembang. Ia melongo dan tiada habis kagumnya terhadap kedua majikannya. Bayangkan saja. Dikeroyok tujuh, dan pengeroyok-pengeroyoknya demikian hebat ilmu goloknya!

Namun dalam waktu singkat kedua majikannya dapat merebahkan empat lawan dan melucuti tiga yang lain! Kwan Bu membayangkan musuh besarnya, agaknya tentu tinggi besar dan pandai bermain golok seperti seorang diantara Sin-to Chit-hiap ini! kalau saja ia berkepandaian seperti majikannya! Alangkah akan mudahnya membalas dendam hanya terhadap seorang perampok! Peristiwa yang dilihatnya di dalam pekarangan pada malam hari itu, yang tidak diketahui orang lain, membuat Kwan Bu makin mengilar lagi untuk belajar ilmu silat. Jelas bahwa majikannya tidak mau mengajarinya. Lalu, kepada siapa ia harus berguru? Sepekan kemudian, Kwan Bu yang sedang membersihkan ruangan dalam, mendengar namanya dipanggil majikannya. Ia melepaskan kemocing (pengebut bulu ayam) dari tangannya, lalu bergegas keluar.

Setibanya di ruangan tamu di luar, ia melihat majikannya sedang duduk menghadapi seorang tamu yang usianya sudah tua, tubuhnya kurus kering dan pakaiannya seperti seorang tosu (pendeta To) dari kain kuning, rambutnya tak bertopi, terurai ke belakang hanya diikat sehelai kain kuning pula di atas telinganya. Majikannya kelihatan amat menghormati tamu ini dan ia melihat pula ketiga orang anak murid majikannya berada di situ. Agaknya pagi ini mereka diberi penjelasan teori ilmu silat di ruangan ini oleh guru mereka ketika tosu itu datang berkunjung. Ketika ia disuruh mengambilkan air teh untuk disuguhkan, Kwan Bu bergegas ke dapur dan segera menyediakan yang diminta majikannya. akan tetapi ketika ia kembali membawa air teh, ia mendengar tamu itu bersitegang dengan majikannya. Ia sengaja (berhenti di belakang pintu, mendengarkan).

“Bu-sicu, memang tak dapat pinto (aku) membenarkan kekasaran murid-murid keponakan pinto Sin- to Chit-hiap itu. Terhadap seorang sahabat seperti sicu, tidak perlu menggunakan kekerasan. Tak dapat dibantah lagi, mendiang Liu Ti adalah seorang penjilat kaisar dan telah banyak sekali patriot dan pejuang pembela rakyat yang tewas gara-gara Liu Ti. Sudah sepantasnyalah kalau para orang gagah yang menentang kelaliman kaisar menjatuhkan hukuman pada keluarganya.”

“Totiang, saya dapat mengerti pendapat totiang dan saya tidak akan membantah, karena seperti totiang ketahui. saya tidak suka mencampuri permusuhan antara Orang gagah yang melibatkan diri dengan politik. Memang benar bahwa Liu Ti adalah adik isteriku, akan tetapi dia sudah bermain politik. kemudian menjadi korban akibat permainan itu. aku tidak dapat berkata apa-apa, tidak dapat membenarkan juga tidak menyalahkan dia, seperti juga saya tidak membiarkan maupun menyalahkan golongan totiang.” Tosu itu mengangguk-angguk

“Pinto tahu pendirian sicu dan setiap orang memang berhak mempunyai pandangan hidup sendiri, akan tetapi, kalau sicu yang berdiri di tengah-tengah tidak berpihak sana sini kemudian menerima putera Liu Ti bukankah ini sama artinya dengan berpihak kepadanya? Kalau memang sicu tidak berpihak, pandanglah muka pinto dan harap sicu serahkan putera Liu Ti ini kepada pinto.” Tosu itu memandang kepada Liu Kong yang memandangnya kembali dengan mata melotot marah.

“Sayang dalam hal ini kita berselisih paham, totiang. Sudah saya katakan kepada Sin-to Chit-hiap bahwa biarpun saya tidak perduli akan permusuhan politik itu. namun saya selalu akan menentang siapa saja yang akan mengganggu anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Baik dari pihak yang pro kaisar, maupun yang anti kaisar, kalau saya ketahui mengganggu dan hendak membunuh anak-anak, sudah pasti sekali saya tidak mau mendiamkannya begitu saja. Tidak perduli anak siapa yang akan dibunuhnya.”

“Ha-ha-ha-ha! Dengan lain perkataan, sicu tidak suka memandang muka pinto dan tidak mau mengalah? Ha-ha, sicu terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga tidak memandang sebelah mata kepada pihak lain. Benarkah sicu belum mengetahui siapa kini yang mengajukan permintaan kepada sicu?”

“Saya sudah cukup mengetahui. Totiang adalah Ya Keng Cu Totiang, yang berjuluk Koai-kiam Tojin (pendeta Pedang Setan), yang namanya sudah tersohor selama puluhan tahun, semenjak saya masih belajar, akan tetapi, saya hanya mengabdi kepada kebenaran, oleh karena itu kalau totiang berpihak kepada yang tidak benar, terpaksa saya tidak dapat mengalah.”

“Pendeta bau, siapa takut kepadamu!!” Tiba-tiba Liu Kong yang sudah amat marah semenjak tadi, menerjang maju dengan nekat. Di belakangnya bergerak pula Siang Hwi dan Kwee Cin yang hendak membantu suheng mereka.

“Ha-ha-ha-ha, kalau gurunya harimau, murid-muridnya tentu anak harimau yang galak pula!” Kakek itu tertawa tidak bergerak dari tempatnya, akan tetapi ketika Liu Kong datang menubruknya, ia membiarkan anak itu memukul yang tidak dirasakannya sama sekali, akan tetapi di lain pihak. Liu Kong sudah dirangkul dan dikempitnya, tak mampu bergerak lagi. Ketika Siang Hwi dan Kwee Cin datang menerjang kakek itu menggerakkan kakinya perlahan ke depan. Tampaknya kedua anak itu tersentuh kaki, akan tetapi buktinya mereka terlempar ke belakang sampai empat meter jauhnya!

Pada saat itu, Kwan Bu sudah sejak tadi keluar dan berdiri di depan pintu membawa sebuah tekoan berisi air teh panas dan beberapa buah cangkir. Ia bengong melihat tiga orang anak itu menerjang, kemudian khawatir sekali melihat Liu Kong dikempit, Tanpa berpikir panjang lagi, Kwan Bu berlari maju sambil membawa tekoan dengan Cepat dan kuat ia melemparkan tekoan berisi air teh panas itu ke arah muka tosu! Tosu itu terkekeh dan menghadapi anak-anak kecil tentu saja ia tidak mau menurunkan tangan jahat, juga bukan seorang kejam, melainkan seorang pejuang yang gigih. Kini melihat diserang tekoan, ia mengangkat lengan kanan menangkis ke atas sedangkan tangan kiri tetap menjepit Liu Kong. Dan pada saat itu, melihat lengan kanan kakek itu terangkat untuk menangkis tekoan, Kwan Bu sudah maju mengirim totokan ke arah jalan darah di bawah ketiak dengan terjangan kuat.

“Hhhh...!” Kakek itu agak kaget. Pertama karena ketika tekoan dapat ia tangkis dan terlempar, ada air teh panas memercik ke mukanya. Dan kedua, melihat pelayan cilik itu menotok jalan darah di ketiaknya, sungguh merupakan hal yang sama sekali tak diduga-duganya! Saking kaget, ia melepaskan Liu Kong dan menangkis totokan Kwan Bu dengan tangan kiri lalu sekali kakinya bergerak, kembali tubuh Kwan Bu sudah terlempar, jatuh bergulingan. Liu Kong hendak lari mundur, tapi tangan kakek itu menjangkau hendak menangkapnya. Pada saat itu, Bu Keng Liong yang masih duduk di kursinya, mendorong dengan tangan kanan dari tempat duduknya sambil mengerahkan tenaga sakti melalui lengannya. Dia adalah seorang ahli lweekeh tenaga (dalam) yang terkenal maka dorongannya ini mengundang hawa pukulan untuk menangkis tangan si kakek yang hendak menangkap Liu Kong.

“Totiang, tidak baik main-main dengan anak kecil!” katanya. Kakek itu terkekeh, merasa betapa tangannya tertangkis dari jauh oleh serangkum tenaga yang tak tampak. Ia mengurungkan niatnya menangkap Liu Kong, kemudian membalikan tangannya dan juga mendorong ke depan, menyambut tenaga dorongan tuan rumah. Keduanya kini duduk tegak, jarak mereka antara tiga meter dan keduanya meluruskan lengan kanan ke depan, dengan telapak terbuka menghadap lawan. Terjadilah adu tenaga dalam yang dahsyat! Beberapa lamanya pertandingan berlangsung secara diam-diam dan tampaklah peluh membasahi dahi Bu Keng Liong. Ya Keng Cu, tosu itu, tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata,

“Ha-ha, hebat memang kepandaian sicu, sayang kalau sampai rusak karna seorang penjilat. Terhadap sicu, tidak berani pinto menggunakan kekerasan secara kasar, sampai ketemu malam nanti. Kalau sampai besok pagi pinto tidak mampu mengambil anak ini, anggap saja pinto kalah dan takkan mengganggu sicu lagi.” Setelah berkata demikian tiba-tiba Ya Keng Cu menarik tangannya dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ melalui pintu depan. Gerakannya amat berat sehingga hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kursinya sudah kosong. Bu Keng Liong agak terengah-engah dan kelihatan lelah, kemudian berkata kepada semua anak-anak.

“Mulai detik ini sampai besok, kalian tidak boleh keluar dari dalam rumah!” kemudian masuklah pendekar itu ke dalam kamarnya.

“Kwan Bu, aku kagum akan keberanianmu. Kau tidak bisa silat akan tetapi kau berani menerjang tosu itu,” kata Kwee Cin dengan pandang mata jujur.

“Kau hanya mau mencari muka di depan ayah saja!” kata Siang Hwi yang masih marah karena ketika terjadi peristiwa setahun yang lalu, Liu Kong mengatakan bahwa guru mereka diam-diam memberi latihan kepada Kwan Bu. “Kalau kau tahu diri, maka kau secara gila-gilaan menyerang kakek itu? Membikin malu saja kau!”

“Bukan hanya membikin malu, tapi juga merintangi aku. Ketika tadi aku dikempit, aku sudah hampir berhasil membebaskan tangan dan kalau saja budak tolol ini tidak menyerang tiba-tiba, tentu akan berhasil menotoknya dari jarak dekat tanpa ia duga. Dasar tolol, selalu hendak merintangi kita dengan menjual muka kepada siokhu.” Kwan Bu menjadi marah sekali di dalam hatinya kepada mereka berdua, akan tetapi ia tidak berani melawan, lalu ia menundukkan mukanya, mengambil lap untuk membersihkan lantai dari air teh yang tumpah, kemudian mengambil tekonya yang tadi terlempar.

Ketika ia selesai mengangkat muka, ternyata ketiga orang anak itu sudah tidak berada disitu. Ia merasa khawatir sekali terhadap majikannya. Kakek itu luar biasa lihainya, sungguhpun ia tidak mengerti bagaimana lihainya, namun dapat ia menduganya. Kalau tidak begitu, tentu majikannya tidak tampak begitu berduka. Ketika melewati kamar majikannya, ia mendengar suara majikannya bicara dengan isterinya. Ia tahu bahwa tentu majikannya membicarakan urusan tosu tadi, maka ia lalu menggunakan lap untuk mengelap pintu kamar majikannya, karena memang inipun merupakan pekerjaannya sehari-hari di gedung itu disamping mengepel dan lain-lain. Akan tetapi kali ini ia membersihkan pintu dengan maksud mendengarkan percakapan, maka perhatiannya ia curahkan ke dalam.

“Kita lawan saja, seperti tempo hari melawan Chit-hiap,” terdengar Bu Hujin berkata. Bu Taihiap menarik napas panjang.

“Tidak bisa isteriku. Kali ini engkau jangan turut campur. Dia datang seorang diri, biarlah aku menghadapinya seorang diri pula. aku yang bertanggungjawab..?

“Mana mungkin? Liu Kong adalah keponakanku, aku harus mempertanggungjawabkannya pula!” bantah sang isteri.

“Tidak Engkau jangan ikut-ikut. Lebih baik malam ini kau menjaga mereka bertiga dan akulah yang akan menghadapinya. Kau tahu, dia amat lihai sekali, engkau bisa berbahaya menghadapinya. Sedangkan aku sendiri masih ragu-ragu apakah akan dapat mengalahkannya. Dalam pertemuan tadi...”

“Mengapa, suamiku? Sebelum bertanding bagaimana kau bisa mengira begitu? Ilmu pedangmu jarang ada yang dapat menandinginya!”

Post a Comment