Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 09

Memuat...

Liu Ti termasuk seorang yang pro kaisar, maka tentu saja terjadi permusuhan antara dia dan mereka yang pro para pemberontak. Kini Liu Ti dan isterinya terbunuh oleh tokoh kang-ouw yang pro pemberontak dan dia sebagai kakak ipar, tentu takkan dapat membebaskan diri begitu saja dari ikatan permusuhan itu. Bu Keng Liong adalah seorang pendekar, akan tetapi dalam urusan politik, ia bebas. Menurut pendapatnya, politik adalah kotor, hanya permainan belaka daripada mereka yang ingin mendapat kekuasaan. Yang satu berusaha merobohkan yang lain, semata-mata hanya untuk merampas kedudukan. Dan ia tidak suka terlibat dengan urusan ini. Karena itu, selama ini ia berbaik dengan tokoh-tokoh kang-ouw kedua pihak, baik yang pro maupun yang anti kaisar.

Akan tetapi, setelah timbulnya peristiwa kematian Liu Ti dan setelah kini Liu kong putera Liu Ti tinggal bersamanya, ia tidak tahu lagi apakah dalam pandangan orang-Orang kang-ouw yang anti kaisar itu ia masih bebas! Ia khawatir bahwa sewaktu-waktu akan datang keributan mengganggu kesejahteraan rumah tangganya. Bu Keng Liong bukan seorang penakut. Ia akan menghadapi tantangan setiap Orang penjahat. akan tetapi, menghadapi ancaman terlibat dalam pertikaian politik antara orang-orang gagah sedunia, ia benar-benar merasa gelisah. Menghadapi penjahat adalah tugasnya. akan tetapi bertentangan dengan sesama orang gagah hanya karena perbedaan paham, ini dia tidak suka. Namun kalau keadaan memaksa, bagaimana? Ia makin risau, dan untuk menghilangkan kerisauan hatinya ini, ia kembali masuk ke rumah dan minum arak sampai urusan itu terlupa sama sekali olehnya.

Dengan hati rajin dan sabar luar biasa, Kwan Bu mempelajari ilmu membaca dan menulis. lngatannya yang kuat membuat Cong-sian-seng guru sastera amat suka kepadanya dan mengajarnya dengan rajin pula sehingga dalam waktu setahun saja, Kwan Bu sudah pandai membaca kitab-kitab kuno dan tulisannya juga indah. akan tetapi dalam waktu setahun itu, tak pernah ia melupakan latihannya ilmu silat, dan terutama sekali ilmu menotok. Tentu saja ia melakukan latihan ini secara sembunyi-sembunyi, yakni di waktu malam di dalam kamar ibunya. Seringkali ia termenung kapankah kiranya ia akan dapat pergi mencari musuh besar itu dan membalas dendam? apakah ilmu totok yang dimilikinya itu sudah cukup untuk menjadi senjata melawan musuhnya? Ah, melawan Liu kong saja ia masih kalah, apalagi melawan kepala perampok itu yang menurut ibunya amat kuat.

“Ibu, siapa sih namanya perampok keparat musuh besar itu?” pernah ia bertanya ibunya.

“Aku tidak tahu namanya Kwan Bu. akan tetapi kau ingat baik-baik, ia seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Usianya sekarang ini kira-kira empat puluh tahun, matanya lebar bundar, keningnya tebal, dahinya lebar, suka tertawa-tawa terbahak-bahak, dan.., kalau tak salah, ada tahi lalat di bawah dagunya. Ia selalu memegang sebatang golok besar dan ia suka menyerang orang dengan jarum-jarum. Nah, hanya itu yang kuketahui, anakku, akan tetapi aku percaya, kelak kau tentu akan dapat mencari dan menemuinya untuk membalaskan dendam ibumu, Inilah jarum yang dahulu menancap di mata kiriku.” Kwan Bu menerima jarum itu dari tangan ibunya, sebatang jarum yang panjangnya hanya sejari telunjuk, kecil dan runcing. Ia mengamat-amati jarum itu, kemudian membungkusnya kembali dan menyimpannya dalam saku, semenjak itu tak pernah jarum ini terpisah daripadanya,

Pada suatu malam, setelah semua orang tidur nyenyak karena sudah hampir tengah malam, Kwan Bu masih rajin berlatih silat dalam kamarnya. Kamarnya menjadi satu dengan kamar ibunya. Ibunya juga sudah tidur, dan Kwan Bu melatih gerakan-gerakan menotok sambil mengingat-ingat gerakan Liu kong dahulu. Kalau ia teringat betapa selama setahun ini sama sekali tidak pernah melihat mereka berlatih lagi, dan membayangkan betapa tiga orang itu kini telah mendapat kemajuan pesat, hatinya menjadi sedih. Hanya ada kebaikannya sedikit, yaitu biarpun sikap Liu kong, Siang Hwi, dan Kwee Cin masih dingin terhadapnya, namun Liu kong tidak berani mengganggu dan menghinanya. Agaknya mereka itu mendapat peringatan keras dari majikannya, dan tidak berani lagi mengulangi perbuatannya yang dahulu.

Tiba-tiba Kwan Bu berhenti berlatih. Telinganya mendengar sesuatu. Kamar ibunya adalah sebuah daripada kamar-kamar pelayan yang letaknya di belakang, Pekarangan belakang berada tepat di belakang kamar itu. Tak salah lagi ia, mendengar suara orang! apakah majikannya melatih muridnya menjelang tengah malam yang gelap ini? ah, tak mungkin, akan tetapi, siapa tahu dan kalau memang betul demikian, ini merupakan kesempatan amat baik baginya. Di dalam gelap ini, siapa yang akan melihatnya! Hati-hati Kwan Bu membuka jendela kamarnya, lalu merangkak keluar, menutupkan lagi jendela itu. Ia sudah meniup padam lampu kamar sehingga perbuatannya itu takkan tampak dari luar. Ia hafal betul dengan keadaan di situ. Pekarangan itu setiap hari ia sapu dan bersihkan, tentu saja ia hafal akan letak setiap pohon, hafal mana tempat yang banyak daun keringnya dan mana yang tidak.

Dengan amat hati-hati ia menyelinap dan melangkah maju, menjaga selalu agar ia tidak melalui tempat yang tertutup daun kering sehingga langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara karena yang diinjaknya adalah tanah yang agak lunak terkena hawa dingin malam. Akhirnya tibalah ia di tengah pekarangan dan di bawah sinar bintang-bintang yang rnemenuhi angkasa tak berbulan, ia melihat pemandangan yang membuat matanya terbelalak kaget. Ia cepat menyelinap dekat dan menyusup di balik serumpun kembang, mengintai kedua majikannya, suami-isteri Bu berdiri tengah beradu punggung, masing-masing memegang pedang ditangan! Ditangan kedua majikannya tampak sebatang pedang yang panjang dan berkilauan. Dan tujuh orang laki-laki tampak mengurung suami istri itu, berdiri memasang kuda-kuda dengan golok-golok tajam di tangan mereka! “Bu Keng Liong, sekali lagi kami serukan agar kau berikan anak itu kepada kami. Bukankah Bu Taihiap selamanya tidak pernah bermusuhan dengan golongan kami?” bentak seseorang di antara mereka yang suaranya besar parau, Terdengar Bu Keng Liong menjawab, suaranya tenang namun mengandung tenaga yang berpengaruh,

“Sin-to Chit-hiap (Tujuh Pendekar Golok Sakti), sekali lagi kutekankan bahwa kami tidak akan menyerahkan anak itu untuk kalian bunuh! Tak mungkin kami membiarkan kalian melakukam kekejaman terhadap seorang anak kecil!”

“Ha-ha-ha, Bu Taihiap. Tak tahukah akan peribahasa yang mengatakan bahwa membasmi rumput harus sampai ke akar-akarnya? Hanya membunuh orang tuanya melepaskan anaknya, di kemudian hari tentu akan menimbulkan perkara yang lebih besar”

“Terserah pendapat kalian. akan tetapi kami tetap tidak mau menyerahkan anak itu..!!”

“Ha-ha-ha! Engkau melindungi anak Liu Ti si pendukung kaisar, si penjilat yang menari di atas kesengsaraan rakyat?”

“Sin-to Chit-hiap! Sudah lama aku mendengar nama besar kalian dan aku tidak akan mencampuri urusan kalian mengenai diri kaisar. akupun tidak mencampuri pendirian kalian tentang membasmi musuh-musuh kalian. Akan tetapi ingat, Bu Keng Liong bukan seseorang tanpa pendirian pula! Dan dengar baik-baik, selama Bu Keng Liong masih hidup, tidak akan membiarkan tujuh orang yang mengaku gagah seperti kalian ini membunuh anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Tidak peduli anak itu keponakan kami, ataupun anak jembel, bahkan anak penjahat sekalipun! Orang tuanya boleh jadi bermusuhan, akan tetapi anaknya tahu apa? Membunuh kanak-kanak adalah perbuatan pengecut, kalau memang gagah, tunggulah sampai dia besar dan mampu membela diri!”

“Aaaahh, dan kau mengajarinya ilmu silat agar kelak melawan kami? Bu Keng Liong, engkau sudah menentang kami, berarti engkau termasuk golongan pendukung kaisar!”

“Terserah penilaianmu, akan tetapi aku tidak mendukung siapa-siapa, aku hanya mendukung kebenaran dan keadilan!”

“Kalian patut dibasmi pula!” Dan mulailah tujuh orang itu menerjang maju dengan golok mereka.

Gerakan mereka cepat sekali sehingga mata Kwan Bu menjadi pening dan kabur ketika memandangnya. Ia melihat tubuh tujuh orang itu berkelebatan mengelilingi kedua suami isteri, sinar golok menyambar-nyambar dan Kwan Bu merasa betapa tubuhnya menggigil dan tengkuknya dingin sekali saking ngeri dan cemasnya! ah, bagaimana kedua majikannya akan dapat melawan tujuh orang yang begini lihainya? Kemudian ia mendengar suara nyaring bertemunya senjata tajam, berdencing, berkerontang dan matanya terbelalak memandang sesosok sinar putih yang besar itu berguIung-gulung seperti seekor naga putih, dan di antara sinar putih yang besar itu tampak dua buah sinar hijau yang juga bergulung-gulung dan sungguhpun tidak secepat sinar putih. namun juga cepat sekali gerakannya.

la sama sekali tidak tahu bahwa sinar putih itu adalah sinar pedang Bu Taihiap, adapun sepasang sinar hijau adalah sinar pedang dari siang-kiam (sepasang pedang) ditangan Bu Hujin! Juga ia tidak tahu bagaimana jalannya pertempuran itu karena pandangan matanya tak dapat mengikutinya. Hanya terdengar olehnya belasan menit kemudian, jerit kesakitan Bu Hujin disusul teriakan arah Bu Taihiap dan pertandingan itu berhenti. Tahu-tahu diantara tujuh orang bergolok itu, yang empat sudah menggeletak berlumur darah sedangkan yang tiga orang kehilangan goloknya. Bu Taihiap berdiri tegak disitu, pedang di tangan, dan di sisinya berdiri pula Bu Hujin, sepasang pedang masih di tangan, akan tetapi pangkal lengan kirinya terluka, berdarah. Seorang diantara yang tiga itu menjura kepada Bu Taihiap, lalu berkata.

“Kami menerima kalah kali ini. Akan tetapi urusan ini takkan sampai di sini saja. Tunggu pembalasan kami!” Dengan suara angkuh dan marah Bu Taihiap menjawab,

“Aku selamanya tak pernah memusuhi kau yang anti kaisar, akan tetapi kalau mereka hendak membunuh anak-anak yang tidak tahu apa-apa, terpaksa aku Bu Keng Liong akan berusaha mencegahnya!” Tiga orang itu mendengus marah, lalu memanggul pergi empat orang kawan mereka yang terluka dan lari menghilang ke tempat gelap. Bu Taihiap lalu menghampiri isterinya dan memeriksa tangannya.

Post a Comment