Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 08

Memuat...

“Bukk!!!” Tubuh Kwan Bu terhuyung ke belakang, akan tetapi ketika tubuh lawannya mendesak maju mengirim tendangan, ia ingat akan gerakan mengelak yang dipelajarinya, secara otomatis tubuhnya miring dan merendah lalu secepat kilat tangan kirinya bergerak dari bawah menangkap pergelangan kaki lawan!

“Hemm...!” Bu Keng Liong kembali mengusap-usap jenggotnya. ltulah gerakan jurus Hio-tee-hoan- hwa (Di Bawah Daun Mencari Bunga) yang dilakukan cepat dan indah, dan memang tepat dipergunakan untuk menghadapi serangan tendangan lawan. Kalau Kwan Bu berlatih matang, pada detik berikutnya dengan sentakan tangan itu ke atas, tubuh Liu kong tentu akan terlempar ke belakang, atau lebih hebat lagi, dengan pukulan tangan ke arah bawah putar, bisa membahayakan Liu kong. Namun Kwan Bu yang hanya ngawur. Tentu saja tidak megetahui perkembangan selanjutnya, dan hanya memegang kaki kanan Liu kong itu erat-erat! Kesempatan ini dipergunakan Liu kong untuk mengirim tendangan berantai dengan kaki kirinya dengan meminjam tenaga Kwan Bu yang memegangi kaki kanannya.

“Blukk!” kembali perut Kwan Bu kena ditendang sampai ia terjengkang dan terguling tiga kali baru bangkit berdiri. Melihat anak ini meloncat bangun dari atas tanah terus berdiri, Bu Taihiap mengangguk-angguk. ltulah gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Lee Meloncat) yang biarpun belum sempurna, namun masih lebih baik dari pada gerakan ketiga orang muridnya. Akan tetapi kini Kwan Bu dihajar benar-benar oleh Liu kong yang menerjang dan menyerangnya kalang kabut. Liu kong sebelum menjadi murid Bu Keng Liong, sudah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil, gerakannya cepat, pukulannya mantap.

Dalam pembelaan dirinya, Bu Keng Liong sedikitnya ada sepuluh jurus, ilmu silatnya yang dimainkan Kwan Bu dengan cara baik sekali, akan tetapi kesemuanya ngawur dan tidak pada tempatnya. Hatinya merasa lega. Belum berbahaya, pikirnya. Mulai sekarang ia harus menjaga agar anak itu jangan sampai mencuri lihat muridnya berlatih lagi. Kwan Bu sudah babak belur, hidungnya kena tonjok, mengeluarkan darah. Mata kirinya biru, bibirnya pecah. Akan tetapi Liu Kong masih menyerang terus. Kalau budak ini belum roboh, aku masih belum mau sudah, pikirnya. Ada juga rasa penasaran karena sudah lima puluh jurus ia menyerang, belum juga Kwan Bu dapat dirobohkan. Beberapa kali roboh, selalu bangun kembali dan satu kalipun dia tidak pernah mendengar suara keluhan keluar dari mulut Kwan Bu.

“Suheng! Cukuplah, suheng!” teriak Siang Hwi.

“Ayah, hentikan dia!” Pada saat itu tangan kanan Liu Kong menyusul pukulan tangan kiri yang mengenai leher Kwan Bu dan membuat anak itu terhuyung ke belakang, dan kini tangan kanan Liu kong memukul ke arah kepala. Pukulan yang berbahaya! Kwan Bu yang sudah merasa sakit-sakit di seluruh tubuhnya, kepalanya menjadi pening, kemerahan menyesak dada, malu dan marah dan merasa terhina! Ia melihat datangnya pukulan tangan kanan. Cepat ia menggerakan tangan kiri diangkat tinggi-tinggi lalu menangkap pergelangan tangan Liu kong, menahan tangan itu turun. Mereka bersitegang dan pada saat itulah Kwan Bu melihat ketiak kanan Liu kong. Jari-jari tangan kanannya menegang, yang dua diluruskan dan secepat kilat, sepenuh tenaga ia menotok tepat di jalan darah yan-goat-hiat yang tadi disentuh oleh ujung jari Siang Hwi.

“Dukkk. !!l”

“Ayaaaa !!” Teriakan ini keluar dari mulut Bu Keng Liong dan Kwan Bu yang sudah meloncat ke

belakang juga berdiri terbelalak melihat betapa Liu kong berdiri kaku seperti arca! Tubuh itu masih berdiri seperti ketika menyerangnya tadi, tangan kanan diangkat tinggi-tinggi untuk memukul, tangan kiri di kepal di pinggang! Siang Hwi dan Kwee Cin juga berdiri terbelalak, melihat dengan wajah pucat. Biarpun tidak mengerti sama sekali bagaimana Kwan Bu dapat melakukan itu. Mereka berdua maklum bahwa Liu kong telah kena ditotok secara tepat sekali oleh Kwan Bu!

“Ahhh.... ini... ini... ampunkan hamba!” Kwan Bu menajadi bingung dan gagap, tergopoh-gopoh ia lalu menghampiri tubuh Liu kong, memutarinya kemudian ia menotok ke punggung kanan Liu kong, tepat pada sebelah kanan punggung di atas pinggang, tempat dimana ia tadi juga ditotok majikannya.

“Dukkkl” Dapat dibayangkan betapa herannya hati mereka melihat bahwa totokan pembebasan inipun tepat sekali, Liu kong mengeluh dan terhuyung, dapat bergerak lagi! Marahnya bukan main, marah dan malu. Ia menyambar sapu di dekatnya, sapu yang tadi dilepaskan Kwan Bu, lalu menerjang maju, menusuk ke arah perut Kwan Bu dengan gagang sapu. “Krakkkkk!!” Gagang sapu hancur berkeping-keping bertemu dengan tangan Bu Keng Liong yang menangkisnya. Pendekar ini memandang tiga orang muridnya dengan marah-marah, kemudian membentak,

“Kalian pergilah!” Mereka bertiga dengan muka tunduk lalu pergi meninggalkan pekarangan, meninggalkan Kwan Bu yang berlutut dengan tubuh gemetar di depan majikannya.

“Thai-ya... hamba... hamba salah.., hamba mohon Thai-ya memberi ampun.”

“Hemm, Kwan Bu. Darimana kau mempelajari ilmu menotok itu tadi?” suara pendekar itu dingin dan marah.

“Dari... dari mendengar penjelasan teori Thai-ya tadi, kemudian ditambah dengan latihan siocia (nona) dan kedua kongcu...” Bu Keng Liong kagum bukan main dan hampir tak dapat percaya. anak ini selain berbakat dan bertulang baik, juga memiliki ingatan yang tajam dan kuat. jarang dicari keduanya!

“Bagaimana jari-jarimu dapat melakukannya? Coba kulihat jari-jari tanganmu!” Dengan gemetar Kwan Bu mengulurkan tangan dan dipegang serta diperiksa oleh pendekar Bu. Tenyata ujung-ujung jari anak ini kasar dan keras, tanda terlatih pasir panas.

“Hemm, kau latihan menusuk pasir panas?”

“Benar, Thai-ya... hamba hanya meniru-niru... di kamar ibu kalau malam.” “Dan totokan pembebasan tadi?”

“Meniru ketika Thai-ya membebaskan hamba.”

Bu Taihiap menghela napas dalam-dalam. Kalau dibandingkan tiga orang muridnya, sungguh jauh bedanya. Mereka itu berlatih sebulan, dibandingkan anak ini berlatih sehari, mungkin berimbang! akan tetapi kalau ia ingat akan cita-cita Ciok Kim, lenyaplah keinginan hatinya mengambil murid anak ini. anak seperti inilah yang mungkin cepat mewarisi seluruh kepandaiannya, bahkan melebihi melihat kecerdikan dan bakatnya yang luar biasa. akan tetapi kalau dipergunakan untuk membunuh ayah sendiri, apa akan kata Orang kang-ouw? Muridnya membunuh ayah sendiri? Tak mungkin!

“Kwan Bu, mulai saat ini, engkau sama sekali tidak boleh belajar ilmu silat! Sekali-kali tidak boleh menonton latihan murid-muridku, tidak boleh mencuri dengar atau lihat! Mengerti?”“

“Anak itu menganggukkan kepalanya, akan tetapi kedua matanya menjadi panas dan berbutir air mata menitik turun melalui kedua pipinya. Ia menangis, akan tetapi pantang sesenggukan, ditahannya sampai dada serasa hampir meledak! Terharu hati Bu Keng Liong. alangkah ingin ia mengelus-elus kepala anak itu, menghiburnya dan membimbingnya sehingga menjadi seorang pendekar yang lebih besar daripadanya, akan tetapi kesadarannya mengingatkannya bahwa sekali- kali ia tidak boleh melakukan hal itu demi kebaikan bocah ini sendiri. Ia harus mencegah anak ini yang diam-diam ia kagumi dan ia suka, menjadi pembunuh ayahnya sendiri!

“Dan sekali lagi kau mendapatkan kau belajar ilmu silat, engkau akan kuusir pergi dari sini. Mengerti?” Kembali Kwan Bu mengangguk, akan tetapi air matanya makin deras membanjir turun. “Nah, pergilah mengurus pekerjaanmu!” Kwan Bu bangkit berdiri, masih agak pening, mengambil bajunya dan sapunya yang gagangnya sudah hancur, kemudian pergi sambil menundukkan mukanya. Hati pendekar itu makin terharu.

“Kwan Bu, kesinilah dulu kau!” Kwan Bu kembali, hendak berlutut akan tetapi dicegah majikannya yang memegang kedua pundaknya, Pundak yang kuat, pikirnya. Ia lalu memeriksa muka dan tubuh anak itu kalau-kalau ada terdapat luka parah. akan tetapi ia terheran. Tidak ada luka yang berarti. Tubuh yang amat kuat sekali. Ia merogoh saku, mengeluarkan sepotong uang perak.

“Kau pergilah ke rumah obat, beli param dan obat gosok untuk mengobati bagian tubuhmu yang sakit.” Kwan Bu menerima, dengan suara serak, berkata,

“Terima kasih, Thai-ya ”

“Kwan Bu, kau dengar baik-baik kata-kataku ini. Demi Tuhan, aku suka kepadamu, dan kalau aku melarang kau belajar ilmu silat, hal ini bukan sekali-kali karena aku tidak suka kepadamu. Aku melarang kau belajar ilmu silat demi kebaikanmu sendiri, anak baik. Mulai besok, aku akan menyuruh guru sastra Cong-sian-seng untuk mengajarmu membaca menulis dua kali sepekan, ilmu bu (silat) tidak baik bagimu, ilmu bun (sastra) lebih penting.”

Kembali Kwan Bu mengangguk dan menghaturkan terima kasih, lalu pergi meninggalkan majikannya yang masih lama berdiri termenung di dalam pekarangan berulang-ulang menarik napas panjang. Pendekar ini melupakan urusan Kwan Bu karena ia sedang bingung dan risau memikirkan persoalan adik iparnya yang terbunuh mati oleh musuh-musuhnya, yaitu Orang tua Liu kong. Ayah Liu kong bernama Liu Ti adik isterinya yang menjadi tokoh kang-ouw juga. akan tetapi Liu Ti terlibat dalam pergolakan politik. Pada masa itu, dunia kang-ouw juga terpecah menjadi dua. sebagian pro kepada kaisar dan menjadi pembela-pembela nama kaisar, sebagian lagi anti kaisar dan pro kepada pihak pemberontak-pemberontak yang muncul di sana sini.

Post a Comment