Halo!

Dendam Si Anak Haram Chapter 07

Memuat...

“Desss!!” Totokan yang keras sekali mengenai Hong-hu-hiat di belakang pundak. Kwan Bu terhuyung ke depan, kepalanya pusing pundaknya seperti lumpuh. Sejenak rasa girang mengusir rasa nyeri, akan tetapi kembali ia kecewa karena totokan inipun tidak mendatangkan akibat apa-apa kecuali nyeri pada bagian tertotok. Bukan nyeri karena tepatnya totokan, bahkan nyeri karena tidak tepat. Kemudian datang totokan bertubi-tubi dari Liu kong, pada punggung, pada leher, lambung, dan pundak. Tubuh Kwan Bu menggeliat-geliat ke sana-sini, roboh terguling, berdiri lagi.

“Cukup suheng......!” teriak Siang Hwi, namun sekali lagi Liu kong menotok Thian-hu-hiat dan...

seketika tubuh Kwan Bu menjadi lemas, mendeprok di atas tanah, kaki tangannya tak dapat digerakkan lagi. Lumpuh! Ia hanya memandang kepada tiga Orang di depannya itu dengan mata terbelalak. Ujung bibir kirinya mengeIuarkan sedikit darah, sikunya juga berdarah ketika ia roboh tadi dan pipinya biru karena menimpa batu.

“kau berhasil, suheng!!” kata Siang Hwi berseru girang. Gadis cilik ini lupa akan penderitaan Kwan Bu yang mebuat ia tadi mencegah suhengnya dan kini ia ikut berlutut bersama Liu kong dan Kwee Cin memeriksa keadaan tubuh Kwan Bu. Mereka menggerak-gerakan kaki tangan Kwan Bu yang lemas seperti tak bertulang lagi. “Bagaimana rasanya?” Tanya Liu kong menyeringai akan tetapi Kwan Bu tidak menjawab sama sekali bahkan melihat wajah anak itupun tidak.

“Apakah sama sekali kaki tanganmu tak dapat digerakkan, Kwan Bu?” Tanya Kwee Cin penuh perhatian gembira karena melihat hasilnya pelajaran itu. Kembali Kwan Bu tidak menjawab, hanya memandang Kwee Cin dengan mata muram. Siang Hwi memegang pundaknya.

“Kwan Bu, sakitkah?” Wajah anak perempuan ini penuh kekhawatiran dan entah bagaimana, terasa girang sekali hati Kwan Bu melihat nona majikannya berkhawatir untuknya! Ia lalu menggelengkan kepalanya. Karena akibat totokan ini hanya melumpuhkan kaki dan tangannya saja.

“Tidak, nona. Tidak sakit.” Jawabnya lemah. Ia membohong besar karena selama hidupnya, belum pernah ia merasakan nyeri yang sehebat sekarang ini. Bukan hanya nyeri akibat totokan yang berhasil ini, juga nyeri karena totokan-totokan Liu Kong yang gagal dan dilakukan bertubi penuh tenaga tadi.

“Suheng, lekas bebaskan kembali dia!” Siang Hwi berkata. Liu kong menyanggupi dan mereka lalu membalikan tubuh Kwan Bu sehingga menelungkup. Kemudian Kwan Bu merasa betapa punggungnya ditotok. Inilah jalan darah lntai-thiat-to seperti dalam pelajaran tadi dan ia memperhatikan baik-baik agar dapat mengetahui titiknya yang tepat. Akan tetapi ia kecewa. Totokan Liu kong itu tidak ada hasilnya sama sekali! Tubuhnya masih belum dapat bergerak karena kaki tangannya masih lumpuh! Mereka bergantian berusaha membebaskannya, akan tetapi sampai njarem [sakit-sakit) punggungnya, ia belum juga dapat dibebaskan!

“Ah, sudahlah, biarkan saja,” terdengar Liu Kong berkata,

“Bukankah menurut suhu, dibiarkan juga ia akan bebas sendiri setelah tiga jam ?” “Jangan suheng! Dia harus dibebaskan!” kata Siang Hwi,

“Sumoi benar, Kwan Bu harus dibebaskan dari totokan,” kata pula Kwee Cin.

“Akan tetapi setelah kita bertiga gagal, bagaimana membebaskannya? Mari kita gotong dia ke kamarnya agar dapat tidur dan nanti bebas sendiri!”

“Ah, repot-repot amat mengurus budak tolol ini. Biarkan saja di sini, nanti kan bebas sendiri. apa artinya tiga jam untuknya? Malah ia enak di sini bebas dari pekerjaan berat!” kata Liu kong. Mereka berbantahan dan akhirnya Liu kong menurut juga. Bersama Kwee Cin ia menggotong tubuh Kwan Bu yang lumpuh, sedangkan Siang Hwi membawa baju Kwan Bu. Pada saat itu. terdengar suara yang amat mengejutkan mereka bertiga, suara Bu Keng Liong.

“Apa yang kalian lakukan ini?” Tahu-tahu Bu Leng Liong telah muncul di depan mereka memandang dengan kening berkerut.

“Siang Hwi, tentu engkau yang membuat gara-gara ini!” Tiba-tiba Liu Kong berlutut di depan guru dan pamannya.

“Siokhu (paman), semua ini adalah kesalahan saya. Teecu (murid) yang minta bantuan Kwan Bu untuk menjadi percobaan ilmu tiam-hiat-hoat yang baru kami pelajari, teecu berhasil menotok Thian-hu-hiat di dalam tubuhnya, membuatnya lumpuh, akan tetapi Teecu dan sute serta sumoi tidak berhasil membebaskannya.” Tadinya Bu Keng Liong sudah marah sekali, marah melihat perlakuan yang keras dan kejam dari Liu Kong terhadap Kwan Bu. akan tetapi kini melihat betapa anak ini secara gagah mengakui semua kesalahan dan menutupi kedua adik seperguruannya, wajahnya menjadi terang kembali. Liu kong Sebetulnya anak baik, pikirnya, hanya terlalu keras hati, hal ini mungkin disebabkan oleh kematian ayah bundanya dalam pertandingan.

“Kalian bertiga lancang sekali sudah ku katakan bahwa ilmu tiam-hiat-hoat tidak boleh dibuat main- main. Kalau belum sempurna latihan kalian, tidak boleh sekali-kali dipergunakan. Hemmm, main- main seperti ini bisa menimbulkan kematian, tahu?”

“Nah, lihat baik-baik aku membebaskan Kwan Bu. Untuk membebaskan jalan darah ln-thai-hiat yang melingkar di seluruh pinggang sampai ke pusar dan yang berhubungan dengan semua jalan darah, kedudukan jari tangan harus begini, tidak membujur melainkan melintang, dan menotoknya tidak lurus ke depan melainkan agak dicondongkan ke bawah,

“Lihatlah!!!” Tiga orang murid itu melihat dengan penuh perhatian, akan tetapi agaknya lebih besar lagi perhatian Kwan Bu. Ia tidak dapat melihat seperti tiga orang anak itu, akan tetapi ia lebih untung daripada mereka karena ia dapat merasakan, dan perasaan ini membuat ia tahu dengan tepat di mana titik di bagian punggung untuk membebaskan totokan. Ia merasa punggungnya, agak di atas pinggang, sebelah kanan, ditumbuk dengan jari-jari yang keras, akan tetapi tidak mendatangkan rasa nyeri dan seketika rasa lumpuh pada kedua kaki tangannya lenyap, kaki tangannya dapat digerakkan kembali.

“Tenang, Kwan Bu, jalan darahmu kacau balau oleh totokan-totokan tadi, biar kuobati kau dan......

heee ??” Pendekar itu membelalakan mata ketika melihat Kwan Bu bangkit, duduk, lalu bersila

meramkan mata dan mengatur pernapasan! semua ini dilakukan Kwan Bu secara otomatis dan tepat. sehingga sebentar saja kesehatan anak ini pulih kembali! Tiga orang anak yang memandangnya hanya mengira bahwa Kwan Bu beristirahat untuk mengumpulkan tenaga, tidak tahu bahwa anak ini melakukan siulian untuk memulihkan luka-luka di bawah kulitnya yang tertotok berkali-kali. Setelah merasa tubuhnya sehat kembali. Kwan Bu bangkit lalu berdiri di depan Bu Keng Liong yang berdiri memandangnya sambil meraba-raba jenggot.

“Kwan Bu!” katanya, suaranya keren.

“Dari mana kau dapat melakukan siulian sambil mengumpulkan hawa di tubuh itu?” Sambil berlutut Kwan Bu yang tak dapat berbohong lagi berkata, suaranya takut-takut,

“Thai-ya... ampunkan hamba... hamba hanya meniru-niru... pelajaran nona Siang Hwi dan kedua kongcu..?” Bu Keng Liong mengangguk-angguk.

“Hem, kau suka mendengar, melihat, dan kemudian mempelajari, ya?” “Betul Thai-ya, ampunkan hamba..?”

“Kau juga melatih ilmu pukulan?”

“Celaka” pikir Kwan Bu, akan tetapi kini ia sudah melangkah maju, tak mungkin mundur lagi. Ia mengangguk, “Sedikit-sedikit, Thai-ya... hanya ngawur karena tidak ada yang sudi menuntun hamba...” Pendekar itu merasa disindir, dan memang ini yang dimaksudkan Kwan Bu yang mendengar dari ibunya bahwa ia tidak diterima menjadi murid!

“Bangunlah!” Suara Bu Keng Liong merupakan perintah dan dengan takut Kwan Bu bangkit dan berdiri.

“Cin ji (anak Cin) kau boleh mencoba dia, coba bertanding melawannya, hendak kulihat apa yang telah ia dapatkan!” perintah lagi sang guru. Kwee Cin meragu.

“Tapi.... tapi suhu... Kwan Bu tidak bisa silat!” Bantahan Kwee Cin ini diam-diam menyenangkan hati Bu Keng Liong karena menandakan sifat gagah muridnya yang tidak mau menyerang seorang yang dianggapnya bukan lawannya. Akan tetapi menjengkelkan karena hal ini menandakan kelemahan hati si murid yang tidak tunduk akan perintah guru.

“Biarlah teecu mencobanya, susiok!” kata Liu kong yang marah kepada Kwan Bu. Ia mengira Kwan Bu “mencuri” ilmu silat gurunya, maka kini siap memberi “hajaran”. Ia meloncat ke depan Kwan Bu lalu membentak.

“Kwan Bu, bersiaplah engkau menerima seranganku!” Kwan Bu yang masih bertelanjang dadanya itu tidak berani melawan, ia memandang majikannya, menggagap berkata.

“Tapi... tapi, Thai-ya...!”

“Kwan Bu engkau bukan seorang laki-laki?” pertanyaan ini keluar dari mulut Siang Hwi dan ucapan ini menggugah semangat Kwan Bu, membangkitkan keberaniannya. Karena majikannya tidak mau berkata apa-apa lagi, ia pun perlahan-lahan menghadapi Liu kong. Ia melihat Liu kong memasang kuda-kuda Chi-ma-he, tangan kanan Liu kong dipentang ke kanan lurus pundak dengan tangan mengepul, tangan kiri ditarik ke belakang dengan jari terbuka. Gagah kuda-kudanya ini, Kwan Bu memang seringkali berlatih di dalam kamar ibunya, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana harus menggunakan semua gerakan silat yang dilatihnya itu untuk menghadapi lawan. Maka ia hanya berdiri dengan kedua kaki di agak tekuk dan kedua tangannya bergantung biasa. Melihat ini, Bu Keng Liong mengerutkan kening dan menjadi ragu-ragu. Akan tetapi ia belum merasa yakin lalu berkata.

“Kong ji, seranglah!” Liu Kong menyerang. Dahsyat serangannya ini, kakinya maju dengan teratur dan cepat sekali. Tangannya bergerak membingungkan Kwan Bu yang tahu-tahu sudah terpukul dadanya.

Post a Comment