Inilah kesempatan yang amat baik baginya! Tadi ia bingung karena tidak dapat melihat pelajaran teori itu, tidak tahu di mana letak titik yang tepat dari jalan-jalan darah yang sudah ia hafal namanya dan ia ketahui letaknya, akan tetapi tidak ia ketahui letak titik yang tepat. Ia menahan kegirangan hatinya agar tidak tampak pada mukanya, kemudian melepaskan gagang sapunya dan membuka bajunya yang biarpun bersih namun berpotongan sederhana, agak terlalu besar dan sudah robek di dua bagian. Ia membuka dengan hati-hati karena bajunya tidak banyak dan inipun adalah baju bekas majikannya yang diberikan kepadanya, baju bekas! Dengan tubuh atas telanjang bulat, ia kini berdiri menghadapi tiga orang anak itu.
“Wah, dadamu bidang sekali, Kwan Bu. Tubuhmu kekar kuat dan kulit dadamu putih bersih dan sehat.” Siang Hwi yang belum pernah melihat pelayan ini membuka baju, berseru dengan kagum dan sejujurnya. Ia masih terlalu kecil untuk mempunyai rasa sungkan dan malu menyaksikan tubuh atas yang bertelanjang bulat. Mendengar pujian ini, wajah Kwan Bu menjadi merah dan matanya berseri- seri. Liu Kong yang kulitnya agak hitam, biarpun tinggi besar namun dadanya tidak sebidang Kwan Bu, bentuk pundaknya tidak lurus dan tidak sekokoh tubuh pelayan ini. Ia melihat betapa mata pelayan ini berseri-seri maka timbul iri hati dan semburu dihatinya ketika mendengar pujian dari Siang Hwi.
“Hemm, tubuh yang dipakai bekerja setiap hari tentu kekar, akan tetapi kekar tak berisi, perutnya hanya penuh dengan tai!” Siang Hwi dan Kwee Cin tertawa geli mendengar usapan ini karena merasa Iucu. Dari pengemis sampai raja sekalipun kemana-mana membawa tai dalam perutnya! karena inilah mereka tertawa, akan tetapi bagi Kwan Bu, ucapan itu merupakan penghinaan hebat. Matanya yang tadi berseri kini menjadi keras, wajahnya menjadi muram, akan tetapi ia menekan perasaanya dan menggigit bibirnya. “Nah, inilah Yan-goat-hiat-to.......” Siang Hwi berseru girang sambil menuding dengan telunjuknya yang kecil menyentuh kulit di dada kiri Kwan Bu, di bawah ketiak. Kwan Bu memandang dan girang sekali. Kini tahu dimana letaknya Yang-goat-hiat yang menurut majikannya tadi kalau ditotok membikin orang menjadi kaku.
“Sssttt..! Sumoi, jangan sentuh! Pelajaran ini merupakan rahasia, bagaimana sumoi (adik seperguruan) memperlihatkan begitu saja kepada si tolol ini?”
“Aaah, kalau Kwan Bu tahu mengapa sih? Dia toh tidak akan mengerti ujung pangkalnya!” kata Siang Hwi, akan tetapi gadis cilik yang manja ini amat takut kepada ayahnya maka ia khawatir kalau-kalau suhengnya (kakak seperguruannya) ini akan mengadu kepada ayahya, maka ia menurut. Dapat dibayangkan betapa kecewa dan menyesal hati Kwan Bu karena kini mereka tidak lagi menyentuh kulit tubuhnya, hanya menunjuk dan malah sering membicarakan jalan darah yang berada di punggung. Namun ia ingat-ingat betul letak Yan-goat-hiat tadi dan biarpun hanya tahu satu tempat, baginya sudah cukup baik. Satu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
“Biar kucoba menotok dia!” tiba-tiba Liu kong berkata.
“Aihh, suheng! Kalau suhu tahu tentu kita mendapat marah. Ilmu menotok tidak boleh dibuat main- main kata suhu.” Kwee Cin mencegah suhengnya.
“Sute, apakah engkau akan menjadi setolol budak ini? Dia hanya seorang pelayan, dan kita toh tidak akan membunuhnya, hanya untuk memperdalam latihan. Andaikata suhu tahu pun agaknya beliau malah girang karena kita benar-benar berlatih secara sungguh-sungguh. Selain itu kalau teori ilmu menotok tidak dipraktekan. mana kita bisa mendapat kemajuan?”
“Kita harus Tanya dia dulu, mau atau tidak!” kata Siang Hwi.
“Perlu apa mesti tanya budak tolol ” bantah Liu kong akan tetapi Siang Hwi segera memotongnya.
“Kalau ia tidak mau, kita tidak boleh paksa. Kalau ia kelak mengadu kepada ayah, kan kita celaka? ayah amat sayang kepada Kwan Bu, kau tahu?”
“Kalau dia mengadu, kepalanya akan kupukuli sampai babak belur!” akan tetapi Siang Hwi tidak memperdulikan omelan kakak seperguruan ini dan menghadapi Kwan Bu yang memandangnya dengan mata berseri kembali. Biarpun nona ini masih ketus dan galak terhadapnya, akan tetapi sedikit banyak membelanya, hatinya menjadi girang sekali karenanya. Selain itu, usul Liu Kong tadi diam-diam mendatangkan harapan baru di hatinya. Ia tidak takut kalau-kalau ia akan celaka dalam latihan mereka ini, yang penting ia harus dapat menguasai ilmu menotok yang dipuji-puji itu!
“Kwan Bu, kau kan mendengar tadi. Kami amat membutuhkan bantuanmu untuk melatih ilmu menotok. Maukah kau membantu dan meminjamkan tubuhmu untuk kita pakai berlatih?” Ia mengangguk dengan hati berdebar karena tegang.
“Aku akan mencobanya dulu!” kata Siang Hwi yang memasang kuda-kuda, kemudian ia meloncat ke depan, menusuk dengan dua buah jarinya, ke arah jalan darah Kin-seng-hiat di pundak kiri Kwan Bu. Kwan Bu yang merasa pundaknya sakit karena kedua jari itu biarpun kecil dan halus telah terlatih dan mengandung tenaga kuat. Biarpun merasa nyeri, namun ia memperhatikan betul-betul titik yang ditotok Siang Hwi. Tanpa ia sadari, karena melihat pundaknya hendak ditotok sebelum jari tangan anak perempuan itu menotoknya, Kwan Bu telah mengerahkan tenaga ke tempat itu, membuat pundaknya mengeras. lni menjadi sebab mengapa totokan itu gagal, di samping tidak tepatnya totokan itu sendiri karena belum terlatih. Kwan Bu menahan sakit dan hanya meringis, bersikap tolol seakan-akan tidak mengerti apa yang mereka perbuat atas dirinya.
“Wah, gagal !” kata Siang Hwi kecewa.
“Kau coba lagi, di lambungnya!” kata Liu kong. Siang Hwi meragu, lalu bertanya kepada Kwan Bu.
“Sakitkah pundakmu?” Kwan Bu membohong. Ia pun tidak puas kegagalan itu karena gagal berarti tidak tepat totokannya dan berarti pula ia tidak mendapat pelajaran. Ia menggeleng kepala dan untuk membikin percaya anak perempuan yang memandangnya penuh perhatian itu ia menambahkan,
“Tidak sakit, hanya geli!” Siang Hwi tertawa, agaknya lega hatinya.
“Aku mau coba sekali lagi. Kau diam saja, Kwan Bu.” Siang Hwi kembali melangkah mundur, memasang kuda-kuda yang amat diperhatikan oleh Kwan Bu. Ia mengenal kuda-kuda ini, dengan kaki kanan di belakang, kaki kiri di angkat dan ditekuk ke belakang, berdiri tegak, tangan kanan di atas kepala, mengacung, dan jari tengah bersama telunjuk menuding, tangan kiri menyentuh siku kanan. Tiba-tiba gadis itu menurunkan kaki kiri, meloncat dan merendahkan tubuh dengan gerakan indah sekali, menotok lambung kanannya.
“Cuss!! Kwan Bu merasa lambungnya nyeri sekali. Ia tidak mengerahkan tenaga lagi maka lambungnya menjadi lunak dan dua jari kecil itu seakan-akan menusuknya bolong. Rasa nyeri membuat ia menggigit bibir, akan tetapi akibatnya... tidak apa-apa. Padahal dalam pelajaran tadi disebutkan bahwa totokan pada jalan darah di lambung ini akan membuat ia lemas, Siang Hwi sudah melompat mundur lagi, memandang sasarannya dengan mata terbelalak penasaran.
““Kau... kau... tidak lemas?” Ingin rasanya Kwan Bu melemaskan diri pada saat itu karena kasihan melihat Siang Hwi yang tampak kecewa sekali. akan tetapi ia takut ketahuan kalau bersandiwara, maka menggeleng kepala sambil menunjukkan muka penuh penyesalan mengapa tubuhnya tidak menjadi lemas, seolah-olah kegagalan Siang Hwi adalah karena dia! Di samping menyesal demi kekecewaan Siang Hwi, iapun menyesal karena kegagalan itu, berarti kegagalan baginya.
“Gagal lagi..., ah, memang aku belum bisa, harus bertanya lagi kepada ayah,” kata Siang Hwi membanting kaki. Kwan Bu memandang. ah, diapun amat mengenal gerakan itu, membanting kaki kanan! Hal ini selalu dilakukan Siang Hwi semenjak masih kecil yaitu sebagai tanda bahwa ia kecewa, kesal hati, atau marah!
“Kau cobalah lagi, sumoi. Tak mungkin gagal terus!” Liu kong mendesak, ikut kecewa melihat sumoinya gagal dua kali.
“Tidak! Sudah cukuplah, kalian boleh mencoba.” Kwee Cin maju menghadapi Kwan Bu.
“Kwan Bu, aku mencoba, ya?” Kwee Cin memang tadinya juga ramah terhadap Kwan Bu, dan pelayan ini mempuyai kesan baik terhadap dirinya. Kwan Bu mengangguk, diam-diam mengharapkan kali ini Kwee Cin berhasil karena hal itu akan berarti ia berhasil pula. Kalau mereka ini yang sudah mempelajari secara langsung sampai gagal apa lagi dia! Kwee Cin memasang kuda-kuda seperti yang dilakukan oleh Siang Hwi tadi, kemudian ia menerjang maju dengan gerakan cepat dan dua jari tangan kanannya menotok pada jalan darah Kian-keng-hiat, di pundak kanan Kwan Bu. “Dukk!!!” Totokan itu keras sekali dan terasa oleh Kwan Bu betapa tenaga jari Kwee Cin jauh lebih kuat daripada jari tangan Siang Hwi. Tubuhnya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah dan ia merasa pundaknya kanannya sakit bukan main. Ia tadinya sudah girang. Inilah totokan yang berhasil baik, akan tetapi ia segera menjadi kecewa setelah mendapat kenyataan bahwa tidak ada akibat sesuatu pada tubuhnya kecuali sakit yang hebat. Rasa sakit itu sampai meresap ke ulu hatinya, membuat wajahnya pucat sekali.
“Ah... sakitkah, Kwan Bu ”
“Aku pun gagal!!” Kwee Cin maju memegang pundak Kwan Bu, mukanya memperlihatkan penyesalan yang tidak dibuat-buat. Suara penyesalan ini merupakan obat yang amat menyenangkan hati Kwan Bu, seperti pupuk dingin pada tubuh yang bengkak. Ia menggeleng kepala, tidak berani mengeluarkan suara karena takut rasa nyeri akan terbayang pada suaranya.
“Coba lagi, sute.”
“Ah, tidak suheng. Akupun belum sempurna seperti sumoi, akan mohon penjelasan dari suhu.” Jawab Kwee Cin mundur.
“Kalau begitu, biarlah aku yang mencoba. Kalian perhatikan!” kata Liu kong. Biarpun di dalam hatinya Kwan Bu ingin sekali melihat Liu kong gagal pula untuk inginnya mempelajari ilmu itu lebih besar, maka ia menekan perasaanya ingin melawan totokan-totokan Liu kong dengan tenaga. Ia dia saja berdiri, tidak mengerahkan tenaga dan totokan pertama datang dari belakang, mengenai pinggangnya.
“Dukkk!!!” Keras sekali totokan ini dan amat nyeri rasa pinggang Kwan Bu, menembus ke perut rasanya, membuat Kwan Bu membungkuk dan memegangi perutnya sambil menangis, akan tetapi ia tidak mengeluarkan suara keluhan sedikitpun juga. Dan datanglah totokan-totokan berikutnya dari Liu kong yang merasa penasaran. Bukan hanya rasa penasaran yang membuat Liu kong menyerang terus dengan totokan-totokannya, juga karena ia ingin melampiaskan amarah kepada Kwan Bu karena iri hati tadi mendengar Siang Hwi memuji-muji keindahan tubuh pelayan ini.