“Hamba she Chi, thai-thai (nyonya besar)” “Katanya keluargamu terbasmi perampok, betulkah itu?” Hal ini bagi hati Ciok Kim yang sudah mengeras bukan merupakan lagi hal baru yang menyedihkan, akan tetapi ia memaksa diri bermuka sedih bahkan berhasil mengeluarkan beberapa butir air mata yang diusapnya dengan tangan kiri.
“Betul sekali, nyonya besar. Semua keluarga... termasuk suami hamba... terbunuh ketika perampok menggagas di dusun kami. Hamba... hamba berhasil menyelamatkan diri dalam keadaan mengandung dan ditolong Cheng In Nikouw. Hamba menjadi pelayan disana dan... dan melahirkan anak hamba ini, sampai hari ini hamba berterima kasih sekali kepada tuan dan nyonya yang sudah sudi menerima hamba yang rendah...” Bu Hujin terharu. Memang ia mudah sekali mengasihani orang. Ia menggigit bibir dan berkata,
“Sungguh menyebalkan perampok-perampok jahanam itu! Kalau mereka berani mengganggu kota ini, hemm...!” Nyonya ini mengepul tinjunya. Setelah hening sejenak, Bu Keng Liong bertanya, suaranya tenang dan halus, akan tetapi penuh wibawa,
“Dalam keadaan seperti ini, dimana keluargamu terbunuh semua bagaimana bisa kau melarikan diri?” Ciok Kim terkejut. Pertanyaan yang amat berbahaya! Namun ia cepat berkata,
“Hamba telah roboh pingsan karena terkena serangan pada mata hamba yang kiri yang kemudian ternyata sebatang jarum. Hamba pingsan ketika terjadi keributan dan setelah hamba sadar, hamba merangkak dan berhasil lari..” Bu Taihiap mengangguk-angguk, akan tetapi hanya meragu dan ia menduga tentu terjadi hal lain yang disembunyikan wanita ini. Ia dapat dapat melihat bahwa wanita ini cantik, apalagi tiga tahun yang lalu masih muda remaja, cantk dan belum buta sebelah. Dan ia tahu akan watak dan sepak terjang para perampok kejam itu terhadap wanita-wanita muda itu tentu saja takkan dapat diberitakan oleh wanita itu.
“Hemmm, menurut penuturan Cheng ln Nikouw engkau ingin sekali bekerja disini. Mengapa?” kembali ke Bu Taihiap bertanya, suaranya tetap tenang dan halus akan tetapi membikin Ciok Kim berdebar bingung dan khawatir. Majikan pria ini benar seorang yang tak boleh diabaikan, amat cerdik dan meneliti pandangan mata tajam seperti dapat menjenguk hatinya. Ia harus cerdik!
“Sesungguhnya, Thai-ya (tuan besar)..... hamba ingin agar anak hamba ini kelak menjadi seorang anak yang berguna, tidak lemah seperti ayahnya sehingga mudah menjadi korban keganasan perampok.” Bu Keng Liong dan isterinya saling pandang, lalu bersenyum. Bu Taihiap kembali memandang Kwan Bu lalu berkata,
“Anak baik, coba kau angkat mukamu.” Kwan Bu yang sejak tadi duduk diam menunduk seperti arca tampak tergetar dan perlahan-lahan ia mengangkat mukanya. Suami isteri itu kembali menjadi kagum, anak itu selain bertulang baik, juga mempunyai wajah tampan, sinar matanya tajam dan bibirnya merah. Bu Keng Liong terseyum kepada anak itu dan mengangguk-angguk, sedangkan Kwan Bu kembali menunduk kemalu-maluan.
“Siapa nama anakmu ini?” Tanya Bu Hujin, “Namanya Kwan Bu, thai-ya..?
“Shenya?”
“She Bhe.” “Bhe Kwan Bu.” hemm, baiklah. Bawa anakmu bekerja disini, dan pergi ke belakang dimana sudah tersedia kamar untuk kau dan anakmu. Tanya kepada para pelayan lain.” Pada saat itu, Siang Hwi sudah turun di pangkuan ibunya dan mendekati Kwan Bu. Kemudian secara tiba-tiba Siang Hwi merenggut topi Kwan Bu, topi buatan ibunya berwarna merah, topi sulaman. Setelah merampas topi, Siang Hwi tertawa-tawa dan lari menjauhi. Dalam usia hampir dua tahun ini Siang Hwi sudah pandai lari.
“Heh-eh, anak nakal. Kenapa kau mengambil topinya?” Bu Hujin tertawa, menganggap perbuatan anaknya itu lucu. Memang ia amat memanjakan Siang Hwi. Hal ini tidaklah mengherankan kalau dipikir bahwa setelah menikah dengan suaminya selama lima belas tahun, baru sekali ini mempunyai anak. Usianya ini sudah tiga puluh lima tahun dan suaminya sudah empat puluh tahun! Maka. Seperti kebanyakan kaum ibu yang memanjakkan anak, semua kenakalan anaknya dianggap lucu!
“Siang Hwi anak baik, kau kembalikanlah topinya..?” Ia membujuk dengan suara halus dan tersenyum-senyum. akan tetapi Siang Hwi tidak mau menuruti ibunya, malah memegang topi merah itu di belakang tubuhnya. Adapun Ciok Kim hanya tersenyum saja dan Kwan Bu memandang Siang Hwi dengan muka merah dan pandang mata bingung.
“Siang Hwi, kembalikan topi itu!” Tiba-tiba Bu Taihiap membentak, suaranya nyaring berpengaruh. Siang Hwi memandang ayahnya, kelihatan takut dan... ia melemparkan topi itu ke atas tanah, lalu kelihatan mengambul, mau menangis sambil membenamkan muka di pangkuan ibunya yang terus memeluknya penuh kasih sayang.
“Bu ji (anak Bu), ambillah topimu.” Kata Ciok Kim halus. Kwan Bu bangkit dan mengambil topinya kemudian ibu dan anak ini dengan sikap hormat mengundurkan diri untuk pergi ke belakang setelah Bu Hujin memanggil seorang pelayan untuk mengantar mereka. Semenjak saat itu, Ciok Kim bekerja di rumah keluarga Bu. Semenjak kecilnya dahulu dia hidup bergelimang kemewahan dan tidak biasa bekerja berat,
Akan tetapi sejak ia bercita-cita untuk membalas dendam, bercita-cita untuk membesarkan anaknya agar dapat memenuhi cita-citanya ini, ia siap melakukan pekerjaan betapa beratpun. Tekadnya membuat hatinya keras membaja dan di tempat tinggal yang baru ini ia bekerja mati-matian tanpa banyak cakap sehingga sebentar saja ia disuka oleh Bu Hujin, disuka pula oleh pelayan-pelayan lain karena Ciok Kim selalu amat rajin, juga tidak banyak cakap. Di waktu malam. semenjak Kwan Bu mulai mengerti diajak bercakap-cakap mulailah ia menasehati puteranya agar suka mencari kesempatan ilmu belajar silat dari majikan mereka. Kwan Bu juga tidak dibiarkan malas, melainkan dilatih untuk membantunya, membantu pekerjaan kecil-kecil yang ringan. Setelah berusia empat tahun, Kwan Bu pada suatu malam bertanya kepada ibunya.
“Ibu, nona Hwi mempunyai ibu dan ayah akan tetapi mengapa aku hanya mempunyai ibu saja? ayahku mana?”
“Ayahmu telah dibunuh orang sejak kau belum lahir, Kwan Bu. Ayahmu telah mati. anak itu termenung, lalu memandang ibunya.
“Mata ibu kenapa?”
“Kau lihat baik-baik, Kwan Bu. Mata ibumu yang kiri ini buta, karena perbuatan orang yang membunuh ayahmu pula, karena ia tusuk dengan jarum!” Anak itu bergidik ngeri.
“Ditusuk jarum? Sakitkah ibu?” “Sakit sekali, nak. ayahmu dibunuh. kakek dan nenekmu dibunuh, ibumu ditusuk jarum matanya! Kau ingat baik-baik, manusia itu seperti binatang jahatnya dan engkaulah yang kelak harus mencarinya, kau balas dia, kau tusuk-tusuk matanya, kau bunuh dia.” Kwan Bu mengangguk-angguk.
“Dia nakal sekali ibu. Kelak kalau sudah besar, kucari dia.”
“Karena itu, engkau harus rajin bekerja agar Thai-ya suka kepadamu dan memberi pelajaran ilmu silat padamu.” Demikianlah, mulai kecil, Kwan Bu sudah dijejali perasaan dendam ini oleh ibunya. Ciok Kim yang memang hidup untuk ini, mulai menanam bibit dendam ini dan memupuknya setiap malam sehingga akhirnya anak itu terpengaruh dan mulailah memperhatikan majikannya untuk memperoleh ilmu silat seperti yang diharapkan ibunya, agar kemudian ia dapat membalas sakit hati itu terhadap si penjahat yang menurut ibunya memiliki ilmu silat tinggi!
Kwan Bu menyapu pekarangan belakang. Biarpun kedua tangannya bekerja, namun sepasang matanya memandang dengan penuh perhatian, dengan hati penuh ingin, ke tengah pekarangan dimana Bu Keng Liong tengah menerangkan teori ilmu silat kepada tiga Orang anak. Yang seorang adalah Bu Siang Hwi sendiri. Sekarang telah menjadi seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun, kedua adalah seorang pemuda tinggi besar bernama Liu Kong, berusia dua belas tahun dan anak ketiga adalah Kwee Cin berusia sebelas tahun, bertubuh kurus dan berwajah tampan. Liu Kong datang ke rumah keluarga Bu setahun yang lalu. Menurut dongeng yang di dengar para pelayan, Kwan Bu hanya tahu bahwa Liu Kong ini masih keponakan nyonya Bu dan bahwa ayah bunda pemuda itu tewas dalam pertandingan melawan musuh, dan bahwa kini pemuda ini ikut dengan pamannya untuk belajar silat.
Kwan Bu sendiri tidak dapat berbicara dengan Liu Kong yang kelihatannya segan untuk berkenalan dengan anak seorang pelayan. dan selalu memandang angkuh kalau bertemu muka sehingga Kwan Bu sendiripun tidak berani menegur. adapun Kwee Cin adalah seorang murid Bu Taihiap, kabarnya putera seorang sahabat baik dari kota Bi-ciu, yang kini tinggal bersama seorang pamannya di Kwi- cun dan setiap hari datang ke rumah keluarga Su untuk berlatih silat. Sudah hampir setahun pula Kwee Cin belajar ilmu silat pada Bu Taihiap. Tidak seperti Liu Kong, Kwee Cin lebih ramah kepada Kwan Bu, suka bertanya ini itu, akan tetapi karena ditegur Liu Kong ia kinipun jarang mengajak Kwan Bu bicara, hanya kadang-kadang tersenyum kepadanya. Teguran Liu Kong itu masih teringat oleh Kwan Bu, yang pada waktu itu menyakitkan hatinya.