Halo!

Dendam Membara Chapter 17

Memuat...

Akhirnya, kami bersepakat memberikan ibumu kepada Phang Lok, tukang kebun yang setia agar ibumu kembali berumah tangga dan terbebas dari aib

Akan tetapi ia

ia malah nekat membunuh diri

" "Ah, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai fitnah itu?" Cin Han kembali berseru dengan nada penuh penasaran

"Cin Han!" Kini Kim Eng membentak danr menudingkan telunjuknya ke arab muka pemuda itu

"Engkau ingin menang sendiri! Yang bersalah dalam hal ini adalah ayahku dan juga ibumu

Merekalah yang mempunyai ulah sehingga menimbulkan korban ayahmu yang diracuni oleh ibumu sendiri

Dan engkau berani mengatakan bahwa ibuku melemparkan fitnah? Bukankah dengan ulah mereka berdua itu ibu sudah menderita batin yang hebat? Kalau engkau membela ibumu mati-matian, akupun berhak membela ayahku mati-matian

Nah, sekarang engkau mau apa lagi ?" Sejenak Cin Han menjadi bingung sekali, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan

Dia sungguh bimbang dan sukar untuk percaya bahwa ibunya mempunyai watak yang sedemikian buruknya, akan tetapi diapun-teringat betapa Nyonya Lui ini seorang yang baik hati, bahkan sampai sekarang sikapnya, demikian lemah lembut dan pandang matanya, demikian jernih

Akan tetapi, bagaimanapun juga, yang menjadi korban adalah ayahnya dan ibunya

Mereka telah tewas, sedangkan jaksa Lui sekeluarga dalam keadaan selamat! "Aku harus membunuh Jaksa Lui!" katanya tegas

"Bagus, kalau begitu aku akan mengadu nyawa denganmu!"; ia berkata demikian, Kim Eng sudah menggerakkan pedangnya lagi menyerang, tidak perduli akan teriakan ibunya yang melarangnya

"Eng-ji

jangan

,

! Jangan berkelahi

!" Akan tetapi, Kim Eng marah sekali karena pemuda itu nekat hendak membunuh ayahnya, maka kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengirim serangan dengan jurus-jurus paling dahsyat

Cin Han juga cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengelak

Tiba-tiba terdengar suara yang berat, "Kim Eng, tahan pedangmu dan mundurlah!" Mendengar suara ini, Kim Eng menahan senjatanya dan meloncat ke belakang, ke dekat orang yang melarangnya itu

"Akan tetapi, ayah

Orang ini hendak membunuhmu!" bantahnya

Cin Han menengok dan dia mengenal Jaksa Lui, akan tetapi pembesar yang dulunya memang sudah bertubuh tinggi kurus itu kini tinggal kulit membungkus tulang saja

Demikian kurusnya, juga wajahnya pucat sekali, matanya cekung dan sinarnya redup, bahkan berdiripun dia harus dipapah oleh pelayan tadi

Seorang mayat hidup, orang yang agaknya menderita sakit parah dan dalam keadaan setengah mati! "Biarlah, Kim Eng

biarlah

Engkau Bu Cin Han, bukan? Engkau mencari aku untuk membunuhku? Untuk membalas kematian ayah dan ibu kandungmu ? Nah, lakukanlah, orang muda

Bunuhlah aku, biar hitung-hitung aku menebus semua dosaku dalam kehidupanku selama menjadi jaksa

Bagaimanapun juga, akukah yang mendatangkan orang tuamu ke rumah tangga kami, dan aku pula yang menggoda ibumu

Aku sudah menderita karena semua dosaku, Thian telah menghukumku, aku difitnah sehingga kehilangan kedudukan dan harta, hidup melarat dan berpenyakitan di sini, tinggal menanti sisa hidup yang sengsara

Kalau engkau hendak membebaskan aku dari penderitaan ini, aku bersukur

Nah, kau bunuhlah aku, Bu Cin Han !" Berkata demikian, laki-laki yang lemah itu membusungkan dadanya yang kerempeng dan memandang kepada Cin Han dengan sinar mata sedikitpun tidak memperlihatkan tanda takut

Melihat keadaan orang itu, yang dianggap musuh besarnya selama ini, dalam keadaan seperti itu, seketika lemaslah rasa tubuh Cin Han

Betapa mungkin dia membunuh atau menyerang orang yang sedang menderita seperti ini? Jangankan masih ada keraguan karena keterangan Nyonya Lui tadi, andaikata tidak ada keraguan akan kesalahan bekas jaksa inipun, agaknya akan sukar baginya untuk membunuh atau menyerang seorang laki-laki lemah seperti ini

"Sesungguhnya, siapakah yang telah membunuh ayahku?" tanyanya, suaranya terdengar tidak bersemangat lagi dan matanya terus mengamati wajah yang kurus kering itu

Wajah yang kering itu tersenyum, senyum yang nampak menyeringai seperti orang kesakitan

"Apa bedanya? Bagaimanapun juga, ayahmu telah tewas akibat kesesatan kami berdua, ibumu dan aku

Sebagai seorang pembesar aku terseret oleh 'arus' yang dibuat iblis, seperti para pembesar lain, gila hormat, berfoya-foya dalam kesenangan dan gila perempuan

Dan ibumu, sebagai seorang wanita lemah, gila kehormatan dan gila kedudukan dan kemuliaan

Ialah yang meracuni ayahmu, demi untuk dapat bebas sehingga dapat mencapai kemuliaan melalui kedudukanku

ah, sudahlah

Untuk apa semua itu diceritakan lagi? Yang jelas, ayahmu tewas karena hubungan gelap antara aku dan ibumu

Sekarang ibumu telah tiada, tinggal aku, nah, kalau engkau hendakmelampiaskan dendam, bunuhlah aku orang muda!"Akan tetapi, Cin Han menjadi semakin lemas! Untuk apa dia harus membunuh orang ini ? Ayah dari gadis yang diam-diam telah menjatuhkan hatinya? Dan kini dia percaya

Mungkinibunya seorang wanita lemah dan dalam kelemahannya itu menjadi silau oleh kemuliaan danmata gelap! Dalam keadaan mata gelap, siapapun dapat melakukan pembunuhan

Dia sendiri, andaikata kini menjadi gelap mata, bukankah dia akan mudah saja membunuh bekas jaksa ini bahkan dengan seluruh keluarganya? "Tidak

!" Jawaban ini keluar melalui mulutnya dan diapun membalikkan tubuh, berlari keluar dari rumah itu tanpa pamit lagi

"Bu Cin Han

kau bunuhlah aku

bunuhlah untuk mengakhiri penderitaanku lahir batin

" Dia masih mendengar suara bekas jaksa itu berteriak-teriak dan menangis

Suara ini bagaikan mengejarnya dan diapun berlari semakin cepat keluar dari dusun itu

Rumah itu kecil saja, menyerupai gubuk dari kayu dan bambu, terletak di ujung kota Wan-sian, di tempat terpencil dekat muara

Cin Han sejak tadi mengamati rumah ini dari jarak agak jauh

Menurut hasil penyelidikannya, di sinilah kini tinggal Phang Lok, bekas tukang kebun Jaksa Lui yang dahulu memperkosa ibunya di depan matanya, bahkan telah memukul dan menendangnya

Penglihatan ketika ibunya diperkosa bekas tukang kebun itu di depan matanya yang agak kabur karena dia dalam keadaan setengah pingsan, tak pernah dapat dilupakannya

Peristiwa yang membuat ibunya membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada dinding

Kini timbul keraguan dan kebimbangan di hatinya mengenai bunuh diri ibunya

Karena aib setelah diperkosa Phang Lok, ataukah karena kecewa oleh Lui Taijin diberikan kepada tukang kebun itu? Dia telah melakukan penyelidikan di Wan-sian, dan dari bekas tetangga keluarga jaksa itu, dia mendengar bahwa Phang Lok masih tinggal di Wan-sian dan kini menjadi tukang membuat tahu, berumah di sudut kota itu

Dan pada siang hari itu, dia berhasil menemukan rumah kecil ini dan kini dia termenung mengamati rumah itu dari jauh

Beberapa kali dia melihat seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun keluar dari rumah itu, menjemur pakaian dan agaknya melakukan pekerjaan lain, dan pernah pula dia melihat seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih enam tahun

Karena dia tidak pernah melihat Phang Lok, dia lalu menghampiri rumah itu

Sebuah rumah yang kecil, mirip gubuk, amat miskin

Lantainya dari tanah, dindingnya sebagian dari bambu

Si wanita yang sudah dilihatnya tadi, keluar menyambutnya dengam senyum

Seorang wanita yang berparas lumayan, namun pakaiannya kumal dan miskin

"Selamat siang, kongcu (tuan muda)

Apakah kongcu ingin memesan tahu?" tanyanya, mengira bahwa orang muda ini datang untuk, membeli atau memesan tahu

Cin Han menggeleng kepalanya

"Apakah di sini rumah Phang Lok?" Wanita itu memandang dengan heran, lalu mengangguk

"Benar, dan dia adalah suamiku

" Cin Han memandang wanita itu dan anaknya yang kini mendekat dan ikut mendengarkan

"Dan ini anaknya?" Kembali wanita itu mengangguk

"Ada keperluan apakah kongcu mencari suamiku?" "Apakah dia berada di rumah ? Aku ingin bertemu dengannya," katanya sambil menengok ke dalam rumah dari mana dia mendengar suara gilingan tahu

Anak itupun lari ke dalam rumah sambil berteriak-teriak

"Ayah ada orang mencari ayah!" Suara gilingan tahu yang diputar tadi berhenti dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih

Tubuhnya tinggi besar, mukanya bopeng, dan tubuh yang tidak memakai baju, hanya bercelana hitam panjang itu nampak kuat penuh otot besar melingkar-lingkar, kulitnya penuh keringat

Jelaslah, orang itu Phang Lok! Dia keluar sambil menyeka keringat dengan sebuah kain yang kumal

Kemiskinan membayang pada keluarga ini

Phang Lok memandang kepada Cin Han dan sedikitpun dia tidak mengenal pemuda ini

Sambil tersenyum kasar dia menghampiri pemuda itu

"Kongcu membutuhkan tahu yang baik?" tanyanya

Agaknya hanya menjual tahu saja, urusan mereka sehari-hari karena kalau tahu mereka itu laku berarti penyambung hidup mereka

Kalau tadinya hati Cin Han sudah menjadi dingin bertemu dengan isteri dan anak Phang Lok, kini begitu melihat Phang Lok, teringatlah dia kembali akan peristiwa yang terjadi di dalam gubuk taman di mana ibunya diperkosa orang ini dan hatinya menjadi panas sekali

"Phang Lok, lupakah engkau kepadaku?" bentaknya

Phang Lok terbelalak, memandang penuh perhatian, akan tetapi dia menggeleng kepala dan mengerutkan alis, tanda bahwa dia memang tidak ingat lagi siapa gerangan pemuda yang berdiri di depannya ini

"Phang Lok, ingatkah engkau akan peristiwa sebelas tahun yang lalu, di dalam gubuk taman keluarga Lui ketika engkau masih menjadi tukang kebun? Apa yang kau lakukan kepada Nyonya Bu dan anaknya laki-laki ?" Sepasang-mata itu semakin terbelalak, kemudian wajah itu berubah pucat sebentar kemudian merah

Post a Comment