Halo!

Dendam Membara Chapter 16

Memuat...

Apakah engkau sudah gila? Hayo cepat keluarkan senjatamu, kalau tidak, aku

aku akan menyerangmu dengan pedang ini!" "Aku tidak mempunyai senjata

aku, aku harus membunuh ayahmu, dan aku tidak ingin berkelahi denganmu

" bagaikan seorang yang ling-lung Cin Han berkata, suaranya seperti orang memohon pengertian

Kim Eng menjadi semakin marah

"Bagus!! Engkau harus membunuh ayahku, ya? Kalau begitu aku akan membunuhmu lebih dulu!" Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menyerang dengan tusukan pedangnya

Ujung pedang menyambar ke arah tenggorokan Cin Han yang cepat mengelak dengan menggeser kaki ke belakang dan menjauhkan tubuh sehingga ujung pedang itu tidak sampai mengenai sasaran

Akan tetapi, Kim Eng sudah melangkah maju dan kini pedangnya diputar cepat, mengirim serangan bertubi-tubi, tusukan dan bacokan silih berganti menyambar-nyambar ke arah tubuh Cin Han! Kembali pemuda ini kaget

Kalau ilmu silat tangan kosong gadis itu sudah hebat tadi, kini ilmu pedangnya ternyata lebih dahsyat lagi

Gerakannya demikian ringan dan cepat, juga mengandung tenaga yang kuat sehingga dia tidak akan berani secara gegabah menyambut pedang itu dengan lengan dan tangan, walau telah mengerahkan sin-kang sekalipun

Maka Cin Han lalu mempergunakan langkah-langkah aneh untuk menghindarkan diri, tubuhnya juga menyelinap di antara sambaran pedang, kadang-kadang saja dari samping dia berani menyampok pedang dengan tangan dan berusaha untuk menotok atau mencengkeram ke arah lengan kanan Kim Eng yang memegang pedang

Gadis itupun diam-diam merasa kaget dan kagum bukan main

Biarpun tadi tidak pernah mengakui dengan kata-kata, namun di dalam hatinya ia mengakui keunggulan pemuda itu ketika mereka berkelahi dengan tangan kosong

Ia sudah kagum sekali, akan tetapi kini, melihat betapa semua serangan pedangnya dapat dihindarkan dengan baik bahkan beberapa kali lengannya terancam oleh cengkeraman dan totokan Cin Han ia sungguh merasa kagum dan heran

Suhengnya sendiri, jangan harap akan mampu menandinginya lebih dari dua puluh jurus kalau ia berpedang dan suhengnya bertangan kosong

Akan tetapi, sudah hampir tiga puluh jurus ia menyerang, belum juga pedangnya mampu merobohkan Cin Han

Jangankan merobohkan atau melukai, bahkan mengenai ujung bajunya-pun belum! Dan iapun tahu bahwa pemuda ihi tetap saja masih mengalah biarpun menghadapi pedangnya dengan tangan kosong

Kalau pemuda ini bersungguh-sungguh dan membalas serangannya dengan serangan yang berisi, mungkin sudah sejak tadi ia roboh

Akan tetapi, ia selalu teringat bahwa pemuda ini merupakan bahaya bagi keselamatan ayahnya, maka dengan nekat iapun menyerang terus

Pada saat itu, terdengar seruan, "Aihhh

Kim Eng, jangan berkelahi

hentikan seranganmu itu

!" Kim Eng mengenal suara ibunya, maka iapun meloncat mundur ke dekat ibunya

Legalah hati Cin Han dan diapun berdiri menghadapi dua orang wanita itu dengan sikap tenang

"Ibu, dia ini orang jahat, dia datang hendak membunuh ayah!! Karena itu aku harus membunuhnya lebih dahulu !" kata Kim Eng, membela diri karena teguran ibunya dalam suara tadi dan dalam pandang matanya

Wanita itu adalah Lui Toa-nio (Nyonya Besar Lui), isteri bekas jaksa Liu yang segera dikenal oleh Cin Han

Nyonya itu kini nampak tua, dan pakaiannya tidaklah seindah dahulu

Juga Kim Eng mengenakan pakaian sederhana dan ringkas, bukan pakaian bangsawan seperti dahulu

Mendengar keterangan puterinya, Lui Toa-nio yang baru datang itu terkejut dan memandang kepada Cin Han, Mereka saling pandang, dan sinar mata nyonya itu mengandung keheranan karena ia mengenal pemuda itu! "Kau

bukankah Bu Cin Han yang dulu pernah berada di rumah tangga keluarga kami

?" Cin Han segera memberi hormat kepada nyonya tua itu

Dia teringat betapa nyonya ini merupakan orang yang bijaksana dan baik sekali, sungguh seperti bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan suaminya

Bahkan ketika dia diusir dari rumah keluarga itu, nyonya inilah yang bersikap baik kepadanya, memberinya bekal uang

"Benar sekali, toa-nio

Saya adalah Bu Cin Han

Maafkan kedatangan saya seperti ini, toa-nio, akan tetapi saya kira toa-nio juga mengerti mengapa saya bermaksud membunuh suami toa-nio

" "Ahhhh

!!" Wanita tua itu menutupi muka dengan kedua tangannya dan ia menangis

Melihat ini, Kim Eng menjadi marah lagi

"Ibu, biar kubunuh keparat ini!" Ia sudah hendak menerjang lagi ketika ibunya memegang lengannya

"Jangan, Kim Eog

, dia„

dia memang beralasan untuk membunuh ayahmu

" Dan kini air mata bercucuran dari kedua mata wanita tua itu

Betapa banyak penderitaan dialami semenjak menjadi isteri dari ayah Kim Eng

Dahulu, di waktu ia masih muda, suaminya itu yang masih menjadi seorang pejabat yang berkuasa dan kaya raya, selalu menyakiti hatinya dengan mengumpulkan banyak selir dan selalu berganti kekasih baru tanpa memperdulikan perasaan hatinya

Kemudian, malapetaka itu tiba, Suaminya kena fitnah dan dipecat dari kedudukannya dengan tidak hormat, bahkan harta bendanya disita pemerintah sehingga mereka jatuh miskin dan terpaksa pindah ke dusun itu tanpa membawa apa-apa

Semua selir juga meninggalkan suaminya, demikian pula semua kawan lama

Hanya ia dan puterinya, dan pelayan yang seorang itu saja yang dengan setia terus mengikutinya

Ia tahu pula akan peristiwa kematian ayah Bu Cin Han ini, juga tentang kematian ibunya

Mendengar ucapan ibunya, seketika wajah Kim Eng menjadi pucat sekali

"Apa kata ibu ? Dia beralasan hendak membunuh ayah? Apa yang telah dilakukan ayah kepadanya? Bukankah dahulu kita bersikap baik kepadanya, juga kepada ibunya yang membunuh diri itu?" "Aiihh

engkau memang tidak pernah tahu tentang ayahmu, Kim Eng

dan aku selalu menyembunyikannya darimu agar engkau tidak memandang rendah kepada ayahmu! Akan tetapi, sekarang

agaknya terpaksa aku harus menceritakan kepadamu

" "Tidak! Aku tidak perduli apapun yang pernah dilakukan ayah kepadanya, akan tetapi aku akan membela ayah dengan jiwaku kalau dia hendak membunuhnya!!" Kembali Kim Eng siap untuk menyerang Cin Han, "Cin Han, engkau datang untuk membunuh suamiku

Nah, jelaskanlah, apa yaog telah dilakukan suamiku terhadap dirimu maka engkau mendendam kepadanya?" tanya nyonya itu, "Akan tetapi

saya yakin bahwa toa-nio sudah tahu

" kata Cin Han

"Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri," jawab nyonya itu karena ia belum yakin apakah Cin Han telah mengetahui semuanya

Sebetulnya Cin Han tidak ingin menceritakan semua sebab dendamnya di depan Kim Eng karena dia tidak ingin membuat gadis itu berduka, akan tetapi kini dia terpaksa bicara, bahkan diapun menganggap bahwa sebaiknya kalau gadis itu mengetahui agar tidak merasa penasaran lagi!! "Ayah saya yang menjadi pegawai Lui Tai-jin telah tewas karena diracun oleh Lui Tai-jin agar ibu saya dapat dijadikan selirnya

Setelah dia bosan kepada ibu saya, lalu ibu saya diberikan dengan paksa kepada tukang kebun Pbang Lok

Ibu saya diperkosa oleh Phang Lok di depan mata saya, kemudian ibu saya membunuh diri dengan membenturkan kepala di dinding

" Selama bercerita dengan singkat ini, pandang mata Cin Han tidak pernah meninggalkan wajah Kim Eng dan gadis itupun mendengarkan sambil memandang kepadanya

Dia melihat betapa sepasang mata gadis itu terbelalak dan mukanya menjadi semakin pucat

"Bohong!! Dia membohong, ibu!! Tidak mungkin ayah melakukan perbuatan sejahat itu!" Kim Eng berseru marah

"Ada benarnya, ada pula bagian yang tidak benar," kata Nyonya Lui kepada Kim Eng, juga kepada Cin Han karena kini ia memancang kepada pemuda itu

"Agaknya engkau memperoleh keterangan yang tidak benar seluruhnya, orang muda

Dari siapakah engkau memperoleh keterangan sumua itu ?" "Dari mendiang ibu, sebelum ia meninggal dunia karena bunuh diri

" Nyonya itu mengangguk-angguk

"Terserah engkau mau percaya atau tidak kepadaku, Cin Han, akan tetapi aku harus menceritakan hal yang sebenarnya kepadamu, sama sekali bukan untuk membela suamiku, melainkan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi

Suamiku memang seorang yang lemah sekali terhadap wanita

semoga Tuhan mengampuninya, akan tetapi dia bukan seorang jahat yang berhati kejam

Ketahuilah, mendiang ayahmu, merupakan seorang pegawai yang setia dan sudah bertahun-tahun bekerja pada suamiku

Karena itu, ketika dia mengajukan permohonan agar, isteri dan anaknya boleh diboyong ke dalam perumahan kami, suamiku menyetujuii

Isteri ayahmu, yaitu ibu kandungmu, masih muda dan ia cantik manis, juga

genit

" "Ini bukan kukatakan karena aku cemburu, Cin Han

Sudah terlampau biasa aku melihat suamiku menyukai wanita lain sehingga tiada cemburu lagi di hatiku

Baru beberapa pekan saja tinggal di rumah kami, suamiku tergila-gila dan ibumu

menyambut uluran cintanya

Aku pura-pura tidak tahu saja

Akan tetapi pada suatu malam, ayahmu sakit keras, muntah-muntah dan meninggal dunia! Dan keterangan tabib, kami tahu bahwa ayahmu, meninggal karena keracunan

" Cin Han mengepal tinjunya

"Diracun oleh Lui Tai-jin, tentu dengan menyuruh orang, lain

" "Bukan, Cin Han

Ayahmu keracunan karena, racun yang ditaruh ke dalam makanannya ketika dia makan malam dan yang menaruh racun itu adalah

ibumu sendiri

" "Tidak

Tidak mungkin

!!"

Cin Han berteriak, wajahnya menjadi pucat sekali

Nyonya itu tersenyum sedih

"Sudah sepatutnya engkau tidak percaya, akan tetapi demikianlah kenyataannya

Dua orang pelayan melihat ketika ibumu membuang sisa makanan dan sisa racun dalam botol, ke dalam tempat sampah

Kami melakukan penyelidikan dan tahu akan hal itu

Ibumu meracuni suaminya sendiri karena dianggap penghalang hubungannya dengan suamiku

aih, sungguh memalukan sekali perbuatan mereka berdua itu

Ibumu mempunyai cita-cita yang besar, ingin mengambil hati suamiku agar kelak menjadi selir nomor satu dan berkuasa

" "Tapi

bagaimana mungkin saya mempercayai cerita seperti itu tentang ibu kandung saya, toa nio? Semua itu fitnah belaka!" "Terserah kepada penilaianmu, Cin Han

Namun demikianlah kenyataannya

Ketika mengetahui akan hal itu, suamiku marah dan hendak membawa ibumu ke pengadilan atau mengusirnya

Akan tetapi aku yang melarangnya karena kasihan kepada ibumu, kepadamu

Post a Comment