Sungguh aku tidak mempunyai urusan denganmu dan tidak ingin mengganggumu
Minggir dan jangan mencampuri urusan pribadiku dengan orang she Lui itu
" "Tidak, biar aku dibunuh, aku tidak mau membiarkan engkau masuk!!" Orang itu berkeras "Pergilah engkau, pembunuh dan jangan ganggu kami orang baik-baik!" "Orang baik-baik??" Cin Han mengulang dan kini orang itu malah memukulnya
Tentu saja pukulan itu sama sekali tidak ada artinya bagi Cin Han dan ketika dia menangkis kembali orang itu terpelanting
Tiba-tiba terdengar suara bentakan halus dan nyaring, "Manusia jahat, berani engkau mendatangkan keributan di rumah kami?" Cin Han membalikkan tubuhnya dan dia terpesona! Gadis itu! tak salah lagi, gadis yang pernah membuatnya tak dapat tidur itu, kini tiba-tiba muncul lagi
Demikian cantik jelita, demikian lincah dan gagah! "Siocia, penjahat ini datang untuk membunuh loya! Dia berkeras hendak menerjang masuk dan membunuhnya!" Pelayan itu sudah cepat berlari dan agaknya dia merasa lega dan gembira melihat nona majikannya pulang karena dia maklum akan kelihaian nonanya
Mendengar laporan ini, sepasang mata yang bening dan tajam seperti mata burung Hong itu terbelalak, mukanya menjadi merah, dan mengerutlah sepasang alis yang hitam kecil panjang itu
"Apa? Engkau datang untuk membunuh ayahku? Keparat! Sebelum aku menghajarmu, katakan dulu siapa engkau dan mengapa pula engkau hendak membunuh ayahku!!" Kini wajah Cin Han berubah agak pucat dan dia merasa jantungnya seperti ditusuk, Gadis ini puteri musuh besarnya, puteri Lui Tai jin ! Kalau begitu ia
ia
Nona Kim Eng
tak terasa lagi nama ini keluar dari mulutnya
Gadis itu memang Lui Kim Eng, puteri dan anak tunggal bekas Jaksa Lui yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa berusia tujuh-belas tahun
Mendengar orang itu menyebut namanya, Kim Eng juga menjadi kaget dan memandang penuh perhatian
"Hemm, agaknya engkau mengenalku dan mengenal keluargaku
Akan tetapi aku tidak tahu siapa engkau dan apa pula maksudmu hendak membunuh ayahku
"
Ia mengamati wajah itu, dan kini ia merasa seperti mengenal wajah pemuda yang hendak membunuh ayahnya ini
"Kau
kau
siapakah engkau?" "Nona Kim Eng
aku adalah Cin Han
" Kim Eng mengerutkan alisnya, mengingat-ingat karena ia sudah lupa lagi akan nama itu
Kemudian ia teringat akan anak laki-laki yang pernah bekerja pada keluarganya ketika mereka masih tinggal di Wan-sian, anak laki-laki yang menjadi kacung, putera dari seorang pelayan wanita
"Aihh
Engkau
engkau anak laki-laki she Bu itu yang ibunya mati membunuh diri
" Ketika Cin Han mengangguk, wajah Kim Eng menjadi merah dan ia semakin marah
"Bagus! Manusia tidak mengenal budi! Keluarga orang tuamu bekerja pada ayah, bahkan kalau tidak salah mendiang ayahmu pernah pula bekerja pada keluarga kami, ibumu menjadi pelayan dan engkau sendiri tinggal di sana
Seluruh keluargamu mendapat segalanya dari ayahku, dan sekarang setelah menjadi dewasa, engkau datang untuk membalas semua kebaikan itu dengan membunuh ayahku? Keparat, engkau sungguh jahat!" Dan tiba-tiba saja Kim Eng sudah menyerangnya dengan dahsyat sekali
Tamparan tangan kiri gadis itu mengarah kepalanya, sedangkan jari tangan kanan menyusulkan totokan ke arah jalan darah di dada kiri
Sungguh merupakan serangan yang cepat dan kuat, berbahaya sekali
Menghadapi serangan ini, Cin Han cepat menghindarkan diri dengan gegeran kaki ke belakang dan miringkan tubuhnya
Akan tetapi, begitu serangan kedua tangannya luput, Kim Eng sudah menyusulkan tendangan beruntun sampai empat kali! Kembali Cin Han mengelak cepat sehingga kedua kaki gadis itu yang melayang bergantian hanya mengenai tempat kosong
"Hemm, kiranya engkau pernah belajar ilmu silat, pantas menjadi kepala besar dan berani mati
Akan tetapi jangan harap akan dapat membunuh ayah selama aku masih berada di sini!" kata Kim Eng yang menjadi semakin penasaran, kini menyerang semakin hebat dan gencar
Diam-diam Cin Han terkejut
Ilmu silat gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan! Diapun bergerak dengan cepat, menangkis atau mengelak untuk menyelamatkan diri dari hujan serangan yang dilakukan gadis itu
Diapun balas menyerang, akan tetapi bukan untuk melukai, apa lagi merobohkan lawan, melainkan untuk membendung datangnya serangan yang demikian dahsyat dan gencarnya
Hatinya terpikat oleh gadis ini sejak pertemuan pertama, dan siapa kira bahwa gadis yang membuatnya tergila-gila itu bukan lain adalah Lui Kim Eng gadis yang di waktu kecilnya sudah bersikap ramah kepadanya dan yang bukan lain adalah puteri tunggal musuh besarnya sendiri! Kenyataan ini membuat hatinya nyeri, akan tetapi permusuhan dan kebenciannya terhadap ayah gadis ini sama sekali tidak melenyapkan rasa kagum dan cintanya terhadap Kim Eng
Sebaliknya, rasa kagum dan cintanya terhadap gadis itupun tidak mampu mengusir kebencian yang terkandung di dalam hatinya di mana dendam membara sejak dia kecil
Dia banyak mengalah dalam perkelahian ini, dan hanya mempergunakan kecepatan dan kekuatan tubuhnya untuk membela diri tanpa niat sedikitpun untuk mengalahkan Kim Eng
Sementara itu, Lui Kim Eng juga merasa terkejut dan terheran-heran
Ia tidak mengenal Cin Han sebagai pemuda yang pernah ditolongnya dari serangan perampok beberapa pekan yang ialu
Dalam pertemuan itu, beberapa kali ia mengalami guncangan batin yang hebat
Mula-mula melihat bahwa Cin Han, kacung itu, kini bukan saja telah menjadi seorang pemuda yang tampan, akan tetapi juga seorang pemuda yang hendak membunuh ayahnya! Dan kini, semua serangannya gagal! Hal ini membuat ia terkejut, terheran dan penasaran sekali
Semenjak kurang lebih tujuh delapan tahun yang lalu, setelah ayahnya memboyong keluarganya meninggalkan kota diam-diam dan pindah ke dusun ini, ia berguru kepada seorang sakti yang menyatakan bahwa ia berbakat sekali, dan bahkan gurunya sendiri mengatakan bahwa ia telah menguasai banyak ilmu silat yang tinggi dan bahwa ia sudah memiliki ketangguhan yang sukar menemui tandingan
Hal ini sudah dibuktikannya sendiri karena entah sudah berapa puluh kali ia menghajar dan membasmi gerombolan penjahat yang suka mengganggu di daerah Bin-juan dan sekitarnya
Dusunnya sendiri, Liang-ok-bun, kini menjadi sebuah dusun yang amat tenteram setelah ia dan suhengnya, yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya, melakukan pembersihan dan membasmi semua gerombolan penjahat
Akan tetapi mengapa sekarang, menghadapi Cin Han, bekas kacung itu, ia telah menyerang lebih dari tiga puluh jurus dan belum pernah ia berhasil menyentuhnya? Bahkan kadang-kadang kalau pemuda itu menangkis, ia sempat terhuyung
Dan ia bukan seorang anak kecil, melainkan seorang gadis dewasa yang berilmu tinggi sehingga tentu saja ia maklum bahwa dalam perkelahian itu, Cin Han tidak pernah membalas dengan serangan berat
Pemuda itu seolah-olah mengalah! Hal inilah yang membuatnya merasa penasaran sekali, karena dianggapnya Cih Han memandang rendah kepadanya
"Singgg
!" Nampak sinar berkelebat ketika Kini Eng mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya
Sebatang pedang yang pendek saja, hanya dua kaki, namun bermata dua dan tajam, juga runcing sehingga baja itu mengeluarkan sinar kebiruan dan ronce-ronce merah menghias gagang pedang
Akan tetapi Kim Eng tidak segera menggerakkan pedang menyerang, melainkan berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan, dipegang di depan dahi dan menuding lurus ke atas, sedangkan tangan kirinya diletakkan di depan dada dengan miring, jari telunjuk dan tengah juga menunjuk ke atas, tiga lainnya ditekuk
"Keluarkan senjatamu!" bentaknya dengan, sepasang mata tajam berkilauan seperti mata pedangnya memandang kepada wajah Cin Han
Melihat Kim Eng mengeluarkan sebatang pedang, diam-diam Cin Han merasa semakin khawatir dan bingung
Sejak perkelahian tadi dimulai, dia sudah bingung sekali
Terjadi pula perkelahian di dalam batinnya, antara cinta terhadap gadis itu dan bencinya terhadap ayah gadis itu
Kita biasa saling menghadapkan dendam dan cinta, seolah-olah cinta adalah lawan dari benci
Inilah sebabnya mengapa seringkah terjadi orang yang tadinya mengaku paling mencinta setengah mati, di lain waktu berubah menjadi saling membenci setengah mati!!
Jelaslah bahwa
, "cinta" dan benci seperti itu pada hakekatnya sama saja, bersumber sama, yaitu dari nafsu! Nafsu mengejar kesenangan pribadi, menimbulkan cinta dan benci seperti itu
Kalau disenangkan, maka cintalah, kalau disusahkan maka bencilah yang timbul sebagai gantinya
Namun, cinta yang sesungguhnya jauh lebih besar dari pada itu
Cinta adalah suci, murni, menjadi sifat dari Tuhan
Tuhan adalah Cinta, Tuhan adalah Hidup
Tuhan adalah Kebenaran dan Kenyataan! Kalau dalam batin kita terdapat cinta, maka segala apapun yang kita lakukan adalah benar dan baik
Kalau batin kita diterangi sinar cinta kasih, tidak mungkin ada dendam, tidak mungkin ada kebencian
Cinta tidak dapat dipelajari, tidak dapat dilatih, tidak dapat dicari
Cinta datang dengan sendirinya menerangi batin yang bersih, batin yang kosong dan bebas, batin yang tidak dipenuhi dengan pengaruh dan kekuasaan si-aku dengan seribu satu keinginannya
Bagaikan sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar yang jendela dan pintunya terbuka, melalui kaca-kaca yang bersih dari kotoran dan debu, demikian pula cinta kasih menerangi batin yang kosong dan bersih
Dan batin baru dapat kosong dan bersih kalau kita mengenal diri sendiri lahir batin, mengenal kekotoran sendiri, waspada dan sadar sehingga mulai detik ini pula, membuang semua kotoran dan tidak membiarkan debu dan kotoran baru memasuki, rongga batin kita
Cin Han masih bingung menghadapi Kim Eng yang sudah siap dengan pedangnya
Dia amat kagum kepada gadis itu, cantik jelita dan gagah perkasa, dan kenangan manis tentang Kim Eng di waktu kecil, begitu mungil dan manis, menambah kemesraan yang tumbuh di dalam hatinya
Dia memang tidak memiliki senjata
Gurunya pernah berkata, "Muridku yang baik, ilmu silat bukan alat untuk membunuh atau mencelakai orang
Ilmu silat hanya untuk menyehatkan diri lahir batin, untuk menyalurkan keindahan dalam gerak, dan untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya
Tidak demikian dengan senjata
Senjata sifatnya ganas dan keras, lebih condong untuk merobohkan lawan
Senjata yang paling ampuh dan baik adalah anggauta tubuh kita sendiri, asal dipergunakan dengan tepat dan dilatih dengan tekun
Kaki tanganmu tidak kalah oleh senjata apapun juga
" Karena, demikian pendapat gurunya, maka diapun tidak pernah memegang senjata dan semua ilmu silat yang dipelajarinya dari Hek-bin Lohan adalah ilmu silat tangan kosong
"Nona, aku
aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan denganmu atau dengan siapa juga
" Akhirnya dia berkata sambil memandang wajah yang manis ini
Gadis itu mengeluarkan suara mengejek, "Huh, engkau tidak ingin berkelahi atau bermusuhan, akan tetapi ingin membunuh ayahku!