Halo!

Dendam Membara Chapter 14

Memuat...

"Brakkkk

!" Pintu itu jebol dan Cin Han meloncat ke dalam

"Haiiii

!" Dari dalam terdengar orang berteriak dan kembali Cin Han tertegun ketika melihat orang yang bangkit dari pembaringan itu

Bukan Phang Lok! Orang inipun belum empat puluh tahun usianya, sedangkan Phang Lok sekarang tentu sudah lima puluh tahun lebih, dan orang ini bermuka hitam dan tubuhnya kurus kecil, tidak seperti Phang Lok yang tinggi besar dan bermuka bopeng

Tidak ada orang lain lagi di dalam pondok ini dan orang itupun kini sudah membentaknya dengan marah

"Siapakah engkau dan mau apa masuk merusak daun pintu? Apakah engkau sudah bosan hidup? Akan kupanggil penjaga dan

" Ciu Han sudah bergerak ke depan dan sekali jari tangannya bergerak menotok, orang itupun terkulai lemas

Dia cepat menangkap dan mengempit tubuh orang itu dan dibawanya lari menuju ke pagar tembok

Ada beberapa orang penjaga melakukan pengejaran ketika melihat bayangannya

Mereka berteriak-teriak menyuruhnya berhenti, akan tetapi Cin Han melanjutkan larinya dan meloncat ke atas pagar tembok, kemudian menghilang ke dalam gelap sambil mengempit tubuh orang yang menghuni gubuk tukang kebun di sudut taman itu

Gegerlah gedung tempat tinggal pembesar itu

Sang pembesar gendut marah-marah dan mengerahkan para perajurit pengawal untuk mencari pemuda tadi, namun usaha mereka, sia-sia belaka

Bahkan ketika pasukan keamanan melakukan pencarian di dalam kota, di penginapan-penginapan, pada waktu itu Cin Han sudah berada jauh di luar kota, di sebuah tempat yang sunyi bersama tawanannya

"Ampunkan saya

saya orang miskin tidak punya apa-apa

saya hanya seorang pekerja biasa

" Orang itu meratap ketika Cin Han melempar tubuhnya ke atas tanah dan membebaskan totokannya

Orang itu berlutut dengan ketakutan "Aku tidak akan menyakitimu kalau saja engkau mau mengaku sejujurnya

Apakah engkau tukang kebun di rumah gedung itu?" "Benar

kongcu (tuan muda)

" Cin Han menahan senyumnya mendengar dia disebut tuan muda itu, akan tetapi dia tidak perduli

"Lalu di mana adanya Phang Lok, tukang kebun yang dulu?" "Saya

saya tidak mengenal orang yang bernama Phang Lok

Ketika saya bekerja di sana, tujuh delapan tahun yang lalu, pondok itu sudah kosong

Agaknya kongcu maksudkan tukang kebun dari majikan yang dahulu

" Cin Han terkejut dan teringat akan laki-laki gendut itu

"Bukankah gedung itu rumah kediaman keluarga Jaksa Lui ?" "Bukan, kongcu

Majikan saya adalah Jaksa Thio

" "Si gendut itu ?" "Benar, majikan saya, Thio Tai-jin

bertubuh gemuk

" "Ahhh

!" Kini tahulah Cin Han bahwa orang-orang-yang dicarinya, Lui Taijin dan Phang Lok, sudah tidak lagi tinggal di tempat itu

"Jadi keluarga Lui sudah pindah ? Ceritakan, sejak kapan mereka pindah dan ke mana pindahnya ?" "Saya tidak tahu dengan jelas, kongcu, hanya mendengar dari percakapan para pengawal

Katanya, bangsawan yang dahulu tinggal di situ, Lui Taijin, sudah pindah dan pulang kampung mereka dan sejak itu, kami tidak pernah lagi mendengar kabarnya

Itupun saya dengar dari para perajurit

"

"Di mana kampung mereka itu?" "Kabarnya di dusun

eh, dusun Liang-

ok

bun, ya, dusun Liang-ok-bun di dekat kota Bin juan

Benar, sekarang saya teringat, mereka pindah ke dusun itu yang menjadi kampung halaman Lui Taijin

" Cin Han mengangguk-angguk, girang juga mendengar keterangan ini, akan tetapi juga terkejut karena kota Bin-juan adalah kota yang terletak dikaki pegunungan Heng-tuan-san itu, di mana dia diganggu perampok

Kiranya selama ini keluarga Lui tinggal tidak jauh dari kuil di mana dia tinggal, kalau dia tinggal di puncak Bukit Mawar, satu di antara bukit-bukit di Pegunungan Heng-tuan-san, keluarga Lui tinggal di kaki pegunungan itu

"Dan di mana adanya Phang Lok, dahulu tukang kebun dari keluarga Lui?" "Maaf, kongcu, sungguh mati saya tidak tahu dan para perajurit itu tidak pernah membicarakan tentang dia

" Cin Han mengangguk-angguk

Siapa yang akan bicara tentang seorang tukang kebun

Akan tatapi, kalau dia sudah dapat menemukan Lui Taijin, kiranya tidak akan sukar menemukan di mana adanya tukang kebun itu

Bahkan mungkin sekali Phang Lok sekarang masih menjadi pelayan keluarga Lui

Dia harus mencari keluarga Lui

Sekarang juga!1 Tanpa banyak cakap diapun berkelebat pergi

Dusun Liang-ok-bun terletak di sebelah timur kota Bin-juan, merupakan sebuah dusun pertanian yang tanahnya subur

Sawah ladang nampak kehijauan di musim semi itu dan pemandangan alamnya di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu serba indah dan menyejukkan hati

Suasana alamnya menimbulkan kedamaian hati, namun hati Cin Han tidaklah sedamai itu

Dia memasuki dusun dengan dendam di dalamnya, agak gelisah karena khawatir kalau-kalau dia akan gagal lagi menemukan musuh besarnya

Tidaklah sukar menemukan rumah keluarga-Lui di dusun yang jumlah penduduknya hanya di bawah dua ratus keluarga itu

Apa lagi karena keluarga Lui yang pindah dari kota Wan-sian cukup terkenal, bahkan amat dikenal oleh penghuni dusun Liang-ok-bun

Dengan ramah mereka memberi tahu kepada Cin Han di mana letak rumah keluarga Lui, seolah-olah mereka merasa gembira sekali bertemu dengan seorang tamu keluarga Lui

Rumah itu cukup besar apabila dibandingkan dengan rumah-rumah lain didusun itu

Dan terawat rapi dan bersih, juga taman bunga di depan rumah itu penuh dengan bunga-bunga indah, di samping kirinya terdapat sebuah kebun yang ditumbuhi pohon-pohon buah

Nampak sunyi saja ketika Cin Han pada pagi hari yang tenang itu memasuki pekarangan rumah

Cahaya matahari mulai hangat dan cerah menembus celah-celah daun pohon, Cin Han merasa aneh sekali mengapa dalam suasana yang demikian penuh kedamaian dia datang untuk membunuh! Akan tetapi, dendam dalam hatinya haruslah dihanyutkan dalam perbuatan, dalam pembalasan yang sudah diinginkannya sejak bertahun-tahun

Begitu dia tiba di beranda yang nampak sunyi dan kosong, dia mendengar langkah kaki dari dalam

Dia berdiri dan memperhatikan, lalu melihat munculnya seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti pelayan, muncul dari dalam dan memandang kepadanya dengan ramah

"Aih, kiranya ada tamu!" kata orang itu sambil menghampiri Cin Han, memandang penuh perhatian lalu melanjutkan, "Saya belum pernah melihat kongcu

Siapakah kongcu ini dan ada keperluan apa datang berkunjung?" Pertanyaannya tetap ramah dan mengandung, keheranan karena bagaimanapun juga, dari sikap dan pakaiannya dia dapat menduga bahwa pemuda yang datang ini bukanlah seorang pemuda dusun itu, bahkan sama sekali bukan seorang pemuda petani

"Memang baru sekarang saya datang untuk mencari bekas Jaksa Lui dari kota Wan-sian

Benarkah di sini rumahnya?" Laki-laki itu memandang wajah Cin Han dengan alis berkerut dan kini sinar matanya memandang penuh selidik

Pertanyaan pemuda itu menunjukkan bahwa pemuda itu benar-benar seorang asing dan diapun menjadi curiga

"Ada keperluan apakah kongcu mencari Lo-ya (tuan tua Lui)? Dan siapakah kongcu ini, datang dari mana ?" Cin Han mulai merasa tidak sabar

Orang ini, melihat pakaiannya, hanya seorang pelayan dan dia yakin bahwa benar musuh besarnya berada di sini, maka diapun menjawab cepat

"Engkau tidak perlu tahu siapa aku, dan harap segera beritahukan kepada Lui-loya bahwa aku ingin bertemu dan bicara dengan dia mengenai urusan pribadi yang teramat penting!"

"Maaf, kongcu

Saya adalah pengurus di rumah ini, bukan hanya mengurusi rumah, akan tetapi juga semua urusan oleh lo-ya telah diserahkan kepada saya

Urusan jual beli hasil pertanian, urusan tanah atau

" "Sudahlah

aku tidak mempunyai urusan denganmu," kata Cin Han, kini agak marah

"Masuklah dan beri tahu kepadanya bahwa aku datang mencarinya!" "Tapi

tapi

dia sedang sakit

Mau apakah kongcu mencarinya?" Orang itu berkeras membantah, bahkan kini berdiri menghadang di depan pintu yang menuju ke dalam, seolah-olah hendak menghalangi pemuda itu masuk ke dalam, Melihat sikap ini, Cin Han menjadi semakin tak sabar lagi

"Aku mau membunuhnya!" Tiba-tiba saja sepasang mata itu terbelalak, mulutnya ternganga dan mukanya berubah pucat bukan main

Orang itu memalangkan kedua lengan ke kanan kiri dan menghadapi Cin Han dengan nekat

"Tidak! Engkau atau siapapun tidak boleh membunuhnya! Tolooonggg ada pembunuh

!" Tentu saja Cin Han menjadi semakin mendongkol

"Minggirlah!!" bentaknya dan diapun mendorong pundak orang itu

Sekali dorong saja, orang itu terpelanting, akan tetapi dengan nekat dia bangkit kembali dan menghadang di depan pintu

"Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya! Tidak boleh

biar engkau bunuh aku lebih dahulu!" Melihat kenekatan ini, hati Cin Han tertarik

Jelas orang ini bukan tukang pukul, bukan pula orang jahat yang suka mempergunakan kekerasan, melainkan seorang pelayan biasa

Akan tetapi kenapa dia membela majikannya demikian mati-matian dan setia? "Eh, bukankah engkau ini hanya seorang pelayan saja? Kenapa mati-matian hendak membela majikanmu?" "Anjingpun akan setia dan membela majikannya yang baik hati, apa lagi manusia!" jawab orang itu dan kembali Cin Han tertegun heran

Ada yang menganggap Lui Taijin seorang yang baik hati sehingga orang ini begini mati-matian hendak membelanya? Sukar untuk dapat menerima kenyataan baru ini

Baginya, orang she Lui itu adalah sejahat-jahatnya orang, telah meracuni ayah kandungnya dan mempermainkan ibu kandungnya

Dibunuh seratus kalipun belum cukup untuk menebus dosanya! "Minggirlah, paman

Post a Comment