Halo!

Dendam Membara Chapter 13

Memuat...

Berhati-hatilah, karena penjahat-penjahat itu tentu takkan melepaskan begitu saja

" Setelah berkata demikian, gadis itu melompat dan iapun lenyap sebelum banyak penghuni rumah penginapan bermunculan

Cin Han juga cepat menyelinap agar tidak nampak oleh mereka dan dia kembali ke dalam kamarnya tanpa diketahui mereka

Tentu saja para penghuni rumah penginapan terheran-heran ketika mereka keluar, mereka tidak melihat seorangpun di sita

Pada hal tadi mereka berani bersumpah telah mendengar suara ribut-ribut seperti ada orang berkelahi di luar rumah penginapan

Sementara itu, Cin Han kembali telah rebah di atas pembaringnya di dalam kamar dai kini lebih gelisah lagi dari pada tadi

Bukan gelisah memikirkan bahwa dia dibayangi penjahat, melainkan gelisah membayangkan gadis itu yang menjadi semakin menarik dan mengagumkan! Dia merasa menyesal tidak sempat berkenalan dengan gadis cantik yang perkasa itu! Ketika dia melanjutkan perjalanannya sampai ke kota Wan-sian, Cin Han sudah berhasil melupakan gadis itu

Hatinya merasa tegang ketika dia tiba di kota Wan-sian, kota kelahirannya, di mana dia kehilangan ayah dan ibunya

Karena dia meninggalkan kota itu dalam usia delapan tahun dan kini dia sudah berusia sembilan belas tahun, dia tidak khawatir akan ada orang yang mengenalnya

Dia datang ke kota itu dengan dendam membara di hatinya, datang dengan niat membunuh orang, yaitu Jaksa Lui dan tukang kebunnya, Phang Lok! Dan membunuh seorang jaksa bukan hal yang boleh dianggap ringan, karena tentu akan menggemparkan dan kalau ketahuan dia tentu akan menjadi buronan pemerintah

Oleh karena itu, Cin Han berhati-hati, tidak mau bermalam di rumah penginapan, melainkan bermalam di luar kota Wan-sian, di sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi

Kuil tua itu kini hanya menjadi tempat bermalam para tunawisma, para jembel atau juga penjahat-penjahat kecil

Akan tetapi karena kuil itu luas dan gelap, tak seorangpun memperhatikannya ketika dia mengambil tempat di sudut belakang yang terpencil

Dia membersihkan lantainya yang penuh debu dengan rumput kering, kemudian duduk bersila, menghimpun tenaga dan beristirahat sebelum tiba saatnya yang baik untuk melakukan pembalasan dendamnya, nanti kalau malam sudah larut dan semua penghuni kota itu sudah tidur

Setelah malam larut, menjelang tengah malam, tanpa diketahui siapapun Cin Han meninggalkan kuil

Bagaikan setan saja, bayangannya berkelebat di antara bayang-bayang pohon dan bangunan

Dia sengaja memilih gang-gang sempit yang gelap dan karena dia dilahirkan di kota Wan-sian

tentu saja dia hapal akan semua jalan dan lorong di kota itu dan dia mengambil jalan lorong-lorong kecil untuk menuju ke gedung besar milik Jaksa Lui

Dia mengenal benar keadaan di gedung besar itu, bahkan hapal akan keadaan pagar tembok yang mengelilinginya, tahu presis di mana adanya para penjaga

Diapun tahu bahwa di bagian belakang sebelah kanan pagar tembok gedung itu, di sebelah luar tembok terdapat sebatang pohon yang rindang, dan ke sanalah dia menuju

Dengan mudah dia meloncat naik ke atas pohon itu dan teringatlah dia akan masa kanak-kanak ketika sering pula dia memanjat pohon ini untuk bermain-main

Dari atas pohon yang kini telah tumbuh besar sekali itu Cin Han dapat melihat keadaan di sebelah dalam, di balik pagar tembok itu

Din tahu bahwa di balik tembok terdapat sebuah taman bunga, dan di seberang taman itu adalah terdapat gedung keluarga bangsawan itu

Biasanya, di ujung taman terdapat pula dua atau tiga orang penjaga secara bergiliran, dan mereka duduk di dalam sebuah gardu kecil

Dari atas pohon, masih nampak gardu itu, bahkan kini dia dapat melihat empat orang penjaga di dalam dan di luar gardu karena sebuah lentera yang digantung di depan gardu menerangi gardu itu dau sekitarnya

Dia tahu benar di mana letak kamar Lui Tai-jin

Dari pohon itu dia dapat melihat deretan kamar

Ada empat buah kamar di bagian belakang yang ditempati para pelayan

Dan gubuk di sudut taman itu tentu masih ditempati Phang Lok, pikirnya

Terbayang kembali peristiwa sebelas tahun yang lalu, ketika dia melihat ibunya diseret ke dalam gubuk oleh tukang kebun itu, kemudian melihat dalam keadaan setengah pingsan betapa ibunya diperkosa oleh jahanam itu

Dia mengepal tinju memandang ke arah gubuk itu, dari mana juga nampak sinar lampu mencuat keluar

Tunggu saja engkau, jahanam, pikirnya

Lui Tai-jin, dialah yang harus dibunuh lebih dahulu, baru giliran tukang kebun itu! Dia masih hafal akan letak kamar jaksa itu

Di sebelah dalam, kamar induk yang besar, Di sana pembesar itu tidur bersama seorang di antara selir-selirnya, atau tidur di kamar Lui Toa-nio, isteri pertama yang kamarnya berada di sebelahnya, bersambung pula dengan kamar puteri mereka, Lui Kim Eng

Tiba-tiba Cin Han tertegun

Kim Eng! Dan Nyonya Lui! Dua orang itu mendatangkan kesan baik sekali dalam lubuk hatinya

Kim Eng demikian manis budi, tidak memandang rendah kepadanya

Dan Nyonya Lui itu! Teringat dia betapa ketika dia diusir, nyonya itu membekalinya dengan sekantung uang

Tidak, dia tidak akan mengganggu mereka

Bahkan dia tanpa ragu-ragu pasti akan membela mereka kalau ada yang mengganggu kedua orang wanita itu

Sejenak terbayanglah dia kepada Kim Eng, anak perempuan lucu dan mungil itu

Tentu sekarang telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik

Atau mungkin juga sudah menikah dan sudah tidak lagi tinggal di gedung itu, ikut suaminya

Hatinya lega memikirkan ini

Lebih baik lagi kalau Kim Eng sudah pergi dari situ agar tidak ada lagi kemungkinan dia akan bertemu dengannya

Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung hantu, Cin Han meloncat dari atas cabang pohon, langsung melompati dan melewati pagar tembok dan diapun sudah berada di dalam taman bunga gedung itu

Dengan masih berhati-hati sekali dia menyelinap di antara pohon-pohon bunga dan semak-semak, menghampiri gedung dan memutari gubuk penjagaan

Para penjaga yang berada di dalam gardu itu masih bercakap-cakap, agaknya mereka sedang bermain catur, dua orang di antara mereka duduk di atas bangku depan gardu, aama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan hitam menyelinap di belakang gardu dan kini bayangan itu sudah tiba di sudut gedung yang tidak nampak dari gardu

Cia Han meloncat ke atas genteng dan langsung saja dia berlari menuju ke bagian tengah di mana terdapat kamar induk di bawahnya

Dengan mudah saja dia membongkar genteng, lain mematahkan rusuk kayu penyangga genteng dan mengintai ke bawah

Kamar itu besar dan mewah

Penghuninya sudah tidur karena dia dapat menangkap dengkur orang di balik kelambu

Di depan pembaringan besar yang tertutup kelambu itu terdapat sepasang sepatu laki-laki dan dua pasang sepatu wanita

Hemm, Lui-taijin sedang tidur bersama dua orang selirnya, pikir Cin Han dan mukanya berubah merah

Sampai sekarang, pembesar itu ternyata masih saja merupakan seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsunya, bersenang-senang dengan wanita

Karena wataknya itulah maka ibu kandungnya menjadi korban dan ayahnyapun sampai dienyahkan agar pembesar rakus itu dapat menguasai ibunya

Teringat akan semua ini, kemarahan besar membakar hatinya dan dengan ringan sekali Cin Han melayang masuk ke dalam kamar itu

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika dia hinggap di atas lantai dalam kamar itu

Dia menghampiri pembaringan, akan tetapi ketika tangannya sudah menjangkau kc depan untuk menyingkap kelambu, dia menahan tangannya dan mukanya menjadi semakin marah, dia merasa betapa tidak sopannya membuka kelambu tempat tidur orang di mana sedang tidur seorang laki-laki bersama dua orang selirnya

"Jaksa Lui, keparat busuk, bangunlah!" Akhirnya dia membentak dan menendang pinggiran tempat tidur sehingga pembaringan itu terguncang keras

Terdengar jeritan-jeriyan wanita

Kelambu terkuak dari dalam dan dua orang wanita muda cantik, dalam keadaan setengah telanjang dan menutupi tubuh dengan selimut, berhamburan keluar dari pembaringan

Seorang laki-laki yaag bertubuh pendek gemuk, dengan perut gendut sekali, menggelinding keluar dari pembaringan saking takutnya dan melihat orang ini, Cin Han tertegun

Orang ini bukan Lui Taijin! Biarpun sudah sebelas tahun terlewat, dia tentu akan mengenal Lui Taijin yang tentu telah berusia lebih dari lima puluh tahun

Akan tetapi orang ini berusia empat puluh tahun lebih dan tubuhnya pendek gendut, sebaliknya dari tubuh Lui Taijin yang tinggi kurus, juga wajahnya sama sekali berbeda

"Siapa engkau?" Cin Han membentak sambil mencengkeram rambut orang itu dengan sikap mengancam

"Dan katakah di mana adanya Lui Taijin?" Akan tetapi, orang gendut itu ternyata bukan orang lemah dan bukan pula penakut

Dia meronta dan kedua tangannya bergerak menyerang ke depan, yang kanan mencengkeram kearah muka Cin Han sedangkan yang kiri menghantam ke arah dada pemuda itu

Gerakannya cukup cepat dan kuat, tanda bahwa si gendut, ini pandai silat pula

Karena bukan ini orang yang dicarinya, Cin Han tentu saja tidak berniat membunuhnya, maka dia melepaskan cengkeraman pada rambut dan mendorongnya ke belakang

Gagallah serangan orang itu, bahkan tubuhnya terjengkang keras dan terbanting ke atas lantai

Segera dia berteriak-teriak memanggil pengawal dan saat itu, dua orang wanita muda yang tadi sudah turun terlebih dahulu dari pembaringan-dan sekarang saling rangkul di sudut kamar sambil menangis dan lantai di bawah mereka basah karena mereka terkencing-kencing saking takutnya, merekapun mulai menjerit-jerit

Menghadapi keributan ini, Cin Han menjadi-bingung

Dia sudah mendengar suara kaki berlarian menuju ke kamar itu, maka diapun cepat meloncat ke atas, menerobos lubang di atas genteng

Dia tidak perduli lagi kepada mereka yang kini ribut-ribut di dalam kamar orang gendut itu, dan dengan beberapa kali loncatan, dia sudah turun ke dalam taman

Tukang kebun itu! Dia gagal menemukan Lui Taijin, akan tetapi di sana ada Phang Lok! Teringat kembali dia akan perbuatan Phang Lok yang memukulnya roboh, kemudian memperkosa ibunya di depan matanya dan kemarahannyapun berkobar

Dia akan berurusan dengan Lui Taijin, hal ini sudah pasti, akan tetapi kelak, setelah dia menghajar Phang Lok lebih dahulu

Dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah tiba di depan gubuk yang masih terang dan dengan marah dia menendang pintu gubuk itu

Post a Comment