Berhati-hatilah, karena penjahat-penjahat itu tentu takkan melepaskan begitu saja
" Setelah berkata demikian, gadis itu melompat dan iapun lenyap sebelum banyak penghuni rumah penginapan bermunculan
Cin Han juga cepat menyelinap agar tidak nampak oleh mereka dan dia kembali ke dalam kamarnya tanpa diketahui mereka
Tentu saja para penghuni rumah penginapan terheran-heran ketika mereka keluar, mereka tidak melihat seorangpun di sita
Pada hal tadi mereka berani bersumpah telah mendengar suara ribut-ribut seperti ada orang berkelahi di luar rumah penginapan
Sementara itu, Cin Han kembali telah rebah di atas pembaringnya di dalam kamar dai kini lebih gelisah lagi dari pada tadi
Bukan gelisah memikirkan bahwa dia dibayangi penjahat, melainkan gelisah membayangkan gadis itu yang menjadi semakin menarik dan mengagumkan! Dia merasa menyesal tidak sempat berkenalan dengan gadis cantik yang perkasa itu! Ketika dia melanjutkan perjalanannya sampai ke kota Wan-sian, Cin Han sudah berhasil melupakan gadis itu
Hatinya merasa tegang ketika dia tiba di kota Wan-sian, kota kelahirannya, di mana dia kehilangan ayah dan ibunya
Karena dia meninggalkan kota itu dalam usia delapan tahun dan kini dia sudah berusia sembilan belas tahun, dia tidak khawatir akan ada orang yang mengenalnya
Dia datang ke kota itu dengan dendam membara di hatinya, datang dengan niat membunuh orang, yaitu Jaksa Lui dan tukang kebunnya, Phang Lok! Dan membunuh seorang jaksa bukan hal yang boleh dianggap ringan, karena tentu akan menggemparkan dan kalau ketahuan dia tentu akan menjadi buronan pemerintah
Oleh karena itu, Cin Han berhati-hati, tidak mau bermalam di rumah penginapan, melainkan bermalam di luar kota Wan-sian, di sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi
Kuil tua itu kini hanya menjadi tempat bermalam para tunawisma, para jembel atau juga penjahat-penjahat kecil
Akan tetapi karena kuil itu luas dan gelap, tak seorangpun memperhatikannya ketika dia mengambil tempat di sudut belakang yang terpencil
Dia membersihkan lantainya yang penuh debu dengan rumput kering, kemudian duduk bersila, menghimpun tenaga dan beristirahat sebelum tiba saatnya yang baik untuk melakukan pembalasan dendamnya, nanti kalau malam sudah larut dan semua penghuni kota itu sudah tidur
Setelah malam larut, menjelang tengah malam, tanpa diketahui siapapun Cin Han meninggalkan kuil
Bagaikan setan saja, bayangannya berkelebat di antara bayang-bayang pohon dan bangunan
Dia sengaja memilih gang-gang sempit yang gelap dan karena dia dilahirkan di kota Wan-sian
tentu saja dia hapal akan semua jalan dan lorong di kota itu dan dia mengambil jalan lorong-lorong kecil untuk menuju ke gedung besar milik Jaksa Lui
Dia mengenal benar keadaan di gedung besar itu, bahkan hapal akan keadaan pagar tembok yang mengelilinginya, tahu presis di mana adanya para penjaga
Diapun tahu bahwa di bagian belakang sebelah kanan pagar tembok gedung itu, di sebelah luar tembok terdapat sebatang pohon yang rindang, dan ke sanalah dia menuju
Dengan mudah dia meloncat naik ke atas pohon itu dan teringatlah dia akan masa kanak-kanak ketika sering pula dia memanjat pohon ini untuk bermain-main
Dari atas pohon yang kini telah tumbuh besar sekali itu Cin Han dapat melihat keadaan di sebelah dalam, di balik pagar tembok itu
Din tahu bahwa di balik tembok terdapat sebuah taman bunga, dan di seberang taman itu adalah terdapat gedung keluarga bangsawan itu
Biasanya, di ujung taman terdapat pula dua atau tiga orang penjaga secara bergiliran, dan mereka duduk di dalam sebuah gardu kecil
Dari atas pohon, masih nampak gardu itu, bahkan kini dia dapat melihat empat orang penjaga di dalam dan di luar gardu karena sebuah lentera yang digantung di depan gardu menerangi gardu itu dau sekitarnya
Dia tahu benar di mana letak kamar Lui Tai-jin
Dari pohon itu dia dapat melihat deretan kamar
Ada empat buah kamar di bagian belakang yang ditempati para pelayan
Dan gubuk di sudut taman itu tentu masih ditempati Phang Lok, pikirnya
Terbayang kembali peristiwa sebelas tahun yang lalu, ketika dia melihat ibunya diseret ke dalam gubuk oleh tukang kebun itu, kemudian melihat dalam keadaan setengah pingsan betapa ibunya diperkosa oleh jahanam itu
Dia mengepal tinju memandang ke arah gubuk itu, dari mana juga nampak sinar lampu mencuat keluar
Tunggu saja engkau, jahanam, pikirnya
Lui Tai-jin, dialah yang harus dibunuh lebih dahulu, baru giliran tukang kebun itu! Dia masih hafal akan letak kamar jaksa itu
Di sebelah dalam, kamar induk yang besar, Di sana pembesar itu tidur bersama seorang di antara selir-selirnya, atau tidur di kamar Lui Toa-nio, isteri pertama yang kamarnya berada di sebelahnya, bersambung pula dengan kamar puteri mereka, Lui Kim Eng
Tiba-tiba Cin Han tertegun
Kim Eng! Dan Nyonya Lui! Dua orang itu mendatangkan kesan baik sekali dalam lubuk hatinya
Kim Eng demikian manis budi, tidak memandang rendah kepadanya
Dan Nyonya Lui itu! Teringat dia betapa ketika dia diusir, nyonya itu membekalinya dengan sekantung uang
Tidak, dia tidak akan mengganggu mereka
Bahkan dia tanpa ragu-ragu pasti akan membela mereka kalau ada yang mengganggu kedua orang wanita itu
Sejenak terbayanglah dia kepada Kim Eng, anak perempuan lucu dan mungil itu
Tentu sekarang telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik
Atau mungkin juga sudah menikah dan sudah tidak lagi tinggal di gedung itu, ikut suaminya
Hatinya lega memikirkan ini
Lebih baik lagi kalau Kim Eng sudah pergi dari situ agar tidak ada lagi kemungkinan dia akan bertemu dengannya
Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung hantu, Cin Han meloncat dari atas cabang pohon, langsung melompati dan melewati pagar tembok dan diapun sudah berada di dalam taman bunga gedung itu
Dengan masih berhati-hati sekali dia menyelinap di antara pohon-pohon bunga dan semak-semak, menghampiri gedung dan memutari gubuk penjagaan
Para penjaga yang berada di dalam gardu itu masih bercakap-cakap, agaknya mereka sedang bermain catur, dua orang di antara mereka duduk di atas bangku depan gardu, aama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan hitam menyelinap di belakang gardu dan kini bayangan itu sudah tiba di sudut gedung yang tidak nampak dari gardu
Cia Han meloncat ke atas genteng dan langsung saja dia berlari menuju ke bagian tengah di mana terdapat kamar induk di bawahnya
Dengan mudah saja dia membongkar genteng, lain mematahkan rusuk kayu penyangga genteng dan mengintai ke bawah
Kamar itu besar dan mewah
Penghuninya sudah tidur karena dia dapat menangkap dengkur orang di balik kelambu
Di depan pembaringan besar yang tertutup kelambu itu terdapat sepasang sepatu laki-laki dan dua pasang sepatu wanita
Hemm, Lui-taijin sedang tidur bersama dua orang selirnya, pikir Cin Han dan mukanya berubah merah
Sampai sekarang, pembesar itu ternyata masih saja merupakan seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsunya, bersenang-senang dengan wanita
Karena wataknya itulah maka ibu kandungnya menjadi korban dan ayahnyapun sampai dienyahkan agar pembesar rakus itu dapat menguasai ibunya
Teringat akan semua ini, kemarahan besar membakar hatinya dan dengan ringan sekali Cin Han melayang masuk ke dalam kamar itu
Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara ketika dia hinggap di atas lantai dalam kamar itu
Dia menghampiri pembaringan, akan tetapi ketika tangannya sudah menjangkau kc depan untuk menyingkap kelambu, dia menahan tangannya dan mukanya menjadi semakin marah, dia merasa betapa tidak sopannya membuka kelambu tempat tidur orang di mana sedang tidur seorang laki-laki bersama dua orang selirnya
"Jaksa Lui, keparat busuk, bangunlah!" Akhirnya dia membentak dan menendang pinggiran tempat tidur sehingga pembaringan itu terguncang keras
Terdengar jeritan-jeriyan wanita
Kelambu terkuak dari dalam dan dua orang wanita muda cantik, dalam keadaan setengah telanjang dan menutupi tubuh dengan selimut, berhamburan keluar dari pembaringan
Seorang laki-laki yaag bertubuh pendek gemuk, dengan perut gendut sekali, menggelinding keluar dari pembaringan saking takutnya dan melihat orang ini, Cin Han tertegun
Orang ini bukan Lui Taijin! Biarpun sudah sebelas tahun terlewat, dia tentu akan mengenal Lui Taijin yang tentu telah berusia lebih dari lima puluh tahun
Akan tetapi orang ini berusia empat puluh tahun lebih dan tubuhnya pendek gendut, sebaliknya dari tubuh Lui Taijin yang tinggi kurus, juga wajahnya sama sekali berbeda
"Siapa engkau?" Cin Han membentak sambil mencengkeram rambut orang itu dengan sikap mengancam
"Dan katakah di mana adanya Lui Taijin?" Akan tetapi, orang gendut itu ternyata bukan orang lemah dan bukan pula penakut
Dia meronta dan kedua tangannya bergerak menyerang ke depan, yang kanan mencengkeram kearah muka Cin Han sedangkan yang kiri menghantam ke arah dada pemuda itu
Gerakannya cukup cepat dan kuat, tanda bahwa si gendut, ini pandai silat pula
Karena bukan ini orang yang dicarinya, Cin Han tentu saja tidak berniat membunuhnya, maka dia melepaskan cengkeraman pada rambut dan mendorongnya ke belakang
Gagallah serangan orang itu, bahkan tubuhnya terjengkang keras dan terbanting ke atas lantai
Segera dia berteriak-teriak memanggil pengawal dan saat itu, dua orang wanita muda yang tadi sudah turun terlebih dahulu dari pembaringan-dan sekarang saling rangkul di sudut kamar sambil menangis dan lantai di bawah mereka basah karena mereka terkencing-kencing saking takutnya, merekapun mulai menjerit-jerit
Menghadapi keributan ini, Cin Han menjadi-bingung
Dia sudah mendengar suara kaki berlarian menuju ke kamar itu, maka diapun cepat meloncat ke atas, menerobos lubang di atas genteng
Dia tidak perduli lagi kepada mereka yang kini ribut-ribut di dalam kamar orang gendut itu, dan dengan beberapa kali loncatan, dia sudah turun ke dalam taman
Tukang kebun itu! Dia gagal menemukan Lui Taijin, akan tetapi di sana ada Phang Lok! Teringat kembali dia akan perbuatan Phang Lok yang memukulnya roboh, kemudian memperkosa ibunya di depan matanya dan kemarahannyapun berkobar
Dia akan berurusan dengan Lui Taijin, hal ini sudah pasti, akan tetapi kelak, setelah dia menghajar Phang Lok lebih dahulu
Dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah tiba di depan gubuk yang masih terang dan dengan marah dia menendang pintu gubuk itu