Keduanya membutuhkan kekuatan otot
Yang pertama adalah Sin-liong-kun yang banyak menggunakan serangan dari bawah, tendangan-tendangan yang sulit dilawan
Adapun yang kedua adalah Kim-tiauw-kun (Silat Rajawali Emas) yang juga mengandalkan tenaga otot, akan tetapi banyak melakukan serangan dari atas
Kedua ilmu silat ini selama bertahun-tahun pinceng pelajari dan selama ini pinceng mencoba untuk menggabungnya dan baru-baru ini pinceng merasa berhasil
Gabungan kedua ilmu silat ini sengaja pinceng rangkai untukmu
" Tentu saja Cin Han merasa girang bukan main, juga berterima kasih karena ternyata suhunya itu, yang nampaknya selama ini seperti acuh dan hanya menyuruh dia bekerja berat, kiranya diam-diam telah merencanakah pelajaran khusus untuk dirinya
Maka diapun amat tekun mempelajari ilmu silat itu dan mentaati seluruh petunjuk gurunya, betapapun beratnya latihan yang harus dilakukannya
Atas perintah suhunya, semua ilmu silat yang dipelajarinya dan dilatihnya, dilakukan, secara sembunyi dan di luar pengetahuan para hwesio di kuil itu
Hanya Thian Cu Hwesio seoranglah yang tahu bahwa Hek-bin Lo-han adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi
Bagi para hwesio lainnya, kakek ini hanyalah seorang hwesio yang dipercaya penuh oleh ketua mereka dan menjadi kepala dapur, pandai memasak dan pendiam
Dan Cin Han bagi mereka hanyalah Seorang kacung dan pembantu kepala dapur itu yang bertenaga besar dan mampu menyelesaikan semua, tugas dapur yang berat-berat tanpa minta bantuan mereka
Sama sekali mereka tidak pernah mengira bahwa pemuda itu kini dengan pesatnya telah menguasai ilmu-ilmu silat yang amat tinggi dan menjadi orang yang jauh lebih lihai dibandingkan mereka yang sudah lama mempelajari ilmu silat
Cin Han tidak pernah mengeluarkan sepatahpun kata yang mengandung dendam dan juga tidak pernah memperlihatkan sikap mendendam, namun, jauh di sebelah dalam lubuk hatinya, sesungguhnya api dendam itu tidak pernah padam
Setiap kali pikirannya termenung dan ingatannya membayangkan kembali segala yang telah terjadi atas diri ibunya, betapa ibunya diperkosa orang di depannya, kemudian mendengar cerita ibunya bahwa ayah kandungnya diracun orang dan ibunya dipermainkan, betapa kemudian ibunya diberikan begitu saja seperti barang bekas setelah majikannya merasa bosan, sehingga ibunya diperkosa orang dan akhirnya membunuh diri, perasaan hatinya seperti ditusuk-tusuk pedang berkarat dan berlubang-lubang dia berjanji dalam hati sendiri bahwa kalau, sudah tiba saatnya, dia akan membalas dendam kepada mereka yang menyebabkan kematiah ayah bundanya
Dia akan membunuh Lui Tai-jin, jaksa di kota Wan-sian itu, kemudian diapun akan membunuh Phang Lok, tukang kebun jaksa itu, yang telah memperkosa ibunya di depan matanya sehingga ibunya kemudian membunuh diri
Hanya kedua orang itu saja dan dia maklum bahwa sebelum dia dapat membunuh mereka untuk membalas dendam atas kematiah ayah ibunya, maka dia takkan pernah merasa tenteram dalam hidupnya
Dendam merupakan api beracun yang selalu bernyala di dalam batin, dengan bahan bakar pikiran yang mengingat-ingat dan membayangkan peristiwa yang menimpa kita, merugikan kita, baik diri kita sendiri maupun keluarga kita, teman, golongan, bahkan bangsa kita yang sesungguhnya hanyalah pemekaran dari pada si-aku
Si-aku dirugikan, dikecilkan, dihina, disakiti, demikianlah pikiran berbisik-bisik membakar sehingga timbullah nyala api dendam
Dendam karena merasa dirugikan ini menimbulkan kebencian dan kekejaman, ingin melihat orang yang dibencinya itu tertimpa bencana, baik yang dilakukan oleh kita sendiri maupun oleh orang lain
Akan puaslah rasanya hati ini melihat orang yang kita benci tertimpa malapetaka, tersiksa dan sengsarai Betapa kejam, sadis dan kotor
Membaca batin yang sudah diracuni oleh dendam! Namun, ada pula yang menggantungkan hidupnya, pada dendam kebencian, seolah-olah itulah satu-satunya tujuan hidupnya
Kalau sudah begitu, hanya nafsu yang menguasai diri, membuat kita seperti buta atau lupa bahwa dendam kebencian itu membuat kita menjadi alat perputaran lingkaran setan dari balas membalas dan dendam mendendam, benci membenci dan permusuhan yang tiada hentinya dan tiada habisnya antara manusia
Betapa indahnya, betapa bijaksananya, kalau saja saat ini kita mampu melihat bahwa batin kita membenci seseorang atau sesuatu, kemudian saat ini pula mengakhiri kebencian itu, membuangnya jauh-jauh sehingga lenyap sama sekali tanpa akar tertinggal, tanpa bekas! Seperti orang yang membuang jauh-jauh sebotol racun yang amat berbahaya agar jangan dekat dengan kita
Bukannya menekan kebencian dengan kesabaran, atau dengan usaha untuk menjadi baik, atau hendak menutup kebencian itu dengan sikap baik dan cinta kasih karena hal seperti ini akan sia-sia saja
Sama saja dengan menutup api dengan sekam, sama saja dengan menyembunyikan pakaian kotor di balik pakaian indah
Api dalam sekam tetap membara
Baju kotor di balik pakaian indah tetap saja masih ada dan berbau busuk, mendatangkan kutu dan penyakit
Yang penting, menyadari akan adanya kebencian itu dalam batin kita, sadar sepenuhnya dan menghadapi kebencian yang sesungguhnya adalah buah dari pikiran kita sendiri, penonjolan dari si-aku yang merasa dirugikan, menghadapinya sebagai suatu kenyataan, tanpa ingin menutupi, tanpa ingin mengubah, melainkan mengamati dengan penuh kewaspadaan dan membuangnya sebagai racun yang mengancam diri kita
Cin Han yang sudah menerima ilmu-ilmu yang tinggi dari Hek-bin Lo-han, masih belum menyadari akan hal itu, masih menganggap bahwa dendam kebencian di dalam hatinya sebagai sesuatu yang wajar, sesuatu yang seharusnya, bahkan lebih celaka lagi, menghadapi dendamnya itu sebagai suatu kewajiban seorang anak yang harus membela orang tuanya! Dengan ketekunan luar biasa, dia berlatih dan waktu berjalan dengan amat cepatnya, tahu-tahu sudah sembilan tahun dia berada di kuil itu
Kini dia telah menjadi seorang pemuda dewasa, berusia sembilan belas tahun
Dan pagi hari itu dia dipanggil gurunya
"Cin Han, pinceng melihat bahwa semua ilmu yang pinceng ajarkan telah dapat kau kuasai dengan baik dan engkau telah lama sekali berada di sini
Sekarang engkau telah dewasa, Cin Han, bagaikan seekor burung, sayapmu telah kuat sehingga sudah sepatutnya kalau engkau meninggalkan sarang dan terbang sendiri menempuh kehidupan di alam luas
Hari ini juga, engkau tinggalkanlah kuil ini
Pergunakan semua ilmu yang telah kau pelajari di sini untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan
Dan ingat, jangan sekali-kali engkau mempergunakan ilmu yang pinceng ajarkan untuk mencuri atau merampok
Kalau sampai hal itu terjadi dan terdengar oleh pinceng, tentu pinceng akan mencarimu untuk menghukummu sendiri
" Diam-diam Cin Han merasa girang sekali bahwa akhirnya dia diperbolehkan turun gunung
Dia sendiri sudah merasa jemu tinggal di kuil yang sunyi itu, apa lagi setelah kini dia merasa memiliki kepandaian yang cukup
Dia berlutut memberi hormat dan hatinya terharu juga
"Teecu akan mentaati semua pesan suhu dan teecu menghaturkan terima kasih atas semua kebaikan yang suhu limpahkan kepada teecu
"
"Engkau terima uang emas ini untuk bekal, Cin Han
Ini adalah simpanan pinceng dan pinceng tidak membutuhkannya lagi
" Cin Han menerima sekantung kecil uang emas dengan terharu dan hari itu juga dia meninggalkan kuil
Bu Cin Han kini merupakan seorang pemuda yang bertubuh agak jangkung
Tidak terlalu tinggi sebetulnya, akan tetapi karena dia agak kurus maka nampak jangkung
Namun, tubuh yang tidak berapa besar itu mengandung otot yang kokoh kuat, dan kedua kakinya yang panjang itu demikian tegap dan kokoh seperti kaki kuda
Sinar matanya mencorong, akan tetapi mulutnya membayangkan senyum kelembutan sehingga merupakan hal yang berlawanan dengan sinar matanya yang agak kurus
Mukanya bulat berkulit putih, sepasang alisnya tebal hitam berbentuk golok dan hidungnya mancung
Biarpun mulut itu selalu dihias senyum ramah, namun dagunya juga membayangkan kekerasan hati
Pakaiannya sederhana, dan bantalan pakaian yang di gendongnya juga tidak besar
Dilihat sepintas lalu, dia hanyalah seorang di antara ribuan pemuda yang sederhana dan miskin, sedikit pun tidak ada kesan bahwa dia sebenarnya seorang pemuda gemblengan yang memiliki ilmu silat tinggi
Cin Han menuruni Pegunungan Heng-tuan-san dengan wajah gembira
Tepat sekali kata-kata suhunya tadi, pikirnya
Dia merasa seolah-olah menjadi seekor burung-dewasa yang baru saja terbang meninggalkan sarangnya, sarang tua lapuk dan apak, untuk memasuki dunia luas yang menjanjikan ketegangan-ketegangan dan kegembiraan luar biasa
Dia harus berganti pakaian, pikirnya sambil mengamati pakaiannya sendiri
Pakaian itu bukan hanya sederhana sekali, akan tetapi juga aneh dan lucu, pakaian pendeta
Di kuil litu, dia tidak bisa mendapatkan pakaian lain kecuali pakaian pendeta yang kedodoran
Pada suatu hari tibalah dia di Bin-juan, sebuah kota kecil di kaki Pegunungan Heng-tuan-san
Biarpun kota kecil ini tidak berapa ramai, namun di situ terdapat beberapa buah toko, bahkan terdapat pula sebuah rumah penginapan
Cin Han yang kemalaman, mengambil keputusan untuk bermalam di kota kecil ini dan membeli pakaian
Diapun menyewa sebuah kamar di rumah penginapan itu, kemudian setelah mandi, dia keluar meninggalkan kamarnya untuk berbelanja dan makan malam
Melihat sebuah toko yang menjual pakaian masih buka, dan terdapat cukup banyak orang berbelanja, Cin Han tertarik dan diapun memasuki toko itu
Beberapa orang melirik ke arahnya dengan pandang mata heran karena melihat seorang pemuda yang pakaiannya kedodoran, kebesaran karena yang dipakainya adalah pakaian pendeta! Akan tetapi pelayan toko dengan ramahnya menyambut
Dan Cin Han lalu mengatakan bahwa dia ingin membeli tiga atau empat stel pakaian
Pelayan itu Jalu mengajak Cin Han ke sudut di mana terdapat pakaian jadi bertumpuk-tumpuk dan sibuklah Cin Han memilih, tidak curiga melihat beberapa orang juga sibuk memilih pakaian jadi