Halo!

Dendam Membara Chapter 10

Memuat...

"Cuci mukamu dan bekerjalah seperti biasa

Mulai malam nanti, pinceng akan mengajarkan ilmu silat kepadamu

" "Terima kasih, suhu, terima kasih

!" Dengan girang sekali, Cin Han menjatuhkan dirinya berlutut dan berkali-kali membenturkan dahinya di atas tanah

Kalau begini jadinya, mau rasanya dia dihajar sekali lagi oleh Cong Bu! Bagi para hwesio di kuil di puncak Bukit Mawar yang merupakan satu di antara bukit-bukit di Pegunungan Heng-tuan-san itu, terutama sekali bagi ketuanya, yaitu Thian Cu Hwesio, Hek-bin Lo-han dianggap sebagai seorang bekas penjahat besar yang telah bertobat dan mengambil jalan kebenaran, menjadi seorang hwesio yang selama ini memperlihatkan sikap dan tindakan yang baik dan benar! Akan tetapi, tidaklah demikian bagi Hek-bin Lo-han sendiri

Dia memang seorang bekas perampok yang dahulu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya

Merampok, membunuh, memperkosa wanita, apa saja dia lakukan demi memenuhi segala hasratnya, demi pemuasan semua nafsu keinginannya

Akan tetapi, kini dia telah menjadi seorang hwesio, bukan seorang hwesio berkedudukan tinggi, melainkan seorang pekerja dapur sebuah kuil, kedudukan yang sama sekali tidak terpandang, tidak terhormat

Namun, dibandingkan dengan ketika dia masih menjadi perampok ganas, sungguh cara hidupnya telah berbalik sama sekali, dengan perbedaan bumi langit

Bagi dia sendiri, perubahan kehidupannya ini bukanlah sekedar bertobat

Biasanya, karena perbuatannya yang jahat mendatangkan akibat yang menyengsarakan, maka orang lalu menyesal dan bertobat, berjanji dan bersumpah tidak akan melakukan lagi perbuatannya yang jahat itu

Akan tetapi, tak lama kemudian, dia melakukan atau mengulanginya lagi

Melakukan lagi, bertobat dan menyesal karena akibatnya yang pahit lagi, melakukan Jagi, bertobat, lagi dan demikian selanjutnya

Penyesalan karena akibat suatu perbuatan jahat, perasaan bertobat tidak akan melenyapkan perbuatan jahat itu

Kalau penyesalannya sudah menipis, kalau dorongan nafsu keinginan lebih besar dan lebih kuat dari pada perasaan bertobatnya, maka perbuatan itupun akan diulanginya lagi

Karena sesungguhnya yang di sesalkan hanyalah akibat pahit yang tidak menguntungkan dari perbuatan jahat itu

Bagaikan seorang pencuri, menyesali perbuatannya setelah dia tertangkap dan terhukum, mendapat malu

Akan tetapi beberapa bulan atau

beberapa tahun lagi, akibat pahit itu akan terlupa dan penyesalannyapun menghilang atau menipis, dan diapun akan mencuri lagi

Seperti yang biasa dilakukan oleh kita sejak kanak-kanak

Seorang anak melakukan kenakalan, kalau dihukum dan dipukuli dia berteriak-teriak menyatakan menyesal dan bertobat, akan tetapi sehari dua hari kemudian dia sudah mengulang kenakalan yang sama, untuk bertobat lagi kalau dihukum! Yang penting bukanlah menyesal dan bertobat setelah menderita akibat dari perbuatan sesat kita

Yang penting adalah pengamatan dengan waspada terhadap diri sendiri lahir batin setiap saat

Setiap perbuatan hanya merupakan pencerminan dari keadaan batin

Kalau batin bebas dari kebencian tidak mungkin kita melakukan kekejaman

Kalau batin penuh, dengan cinta kasih, segala perbuatan yang kita lakukan sudah pasti baik dan benar! Hek-bin

Lo-han bukan bertobat, melain dia telah dapat membebaskan batinnya dari kebencian! "Bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah !" Demikian nasihat ini berdengung dalam telinga kita sejak kita kecil kalau kita sedang marah

Dengan demikian kita meletakkan arti kesabaran sebagai kebalikan dari kemarahan, sebagai lawan

Dan kita terumbang-ambing antara kesabaran dan kemarahan, terjadi konflik yang tiada hentinya

Kita marah, disabar-sabarkan, marah lagi, disabarkan lagi dan perang itu terjadi terus menerus sampai kita tua-dan mati

Kesabaran tidak mungkin diusahakan atau dilatih, kalau diusahakan, maka kesabaran seperti itu hanya merupakan kesabaran semu atau kesabaran palsu saja, dan kemarahan yang disabarkan hanya seperti api dalam sekam, nampaknya saja tidak ada, namun sebenarnya belum lenyap dan sewaktu-waktu akan berkobar kembali

Kesabaran suatu keadaan batin di mana kemarahan sudah tidak ada lagi! Akan tetapi, bagaimana untuk mengusahakan agar kemarahan tidak ada lagi, agar dapat melenyapkan kemarahan? Tidak mungkin lenyap kalau kita sengaja hendak melenyapkannya karena sama saja dengan kesabaran yang diusahakan tadi

Kesabaran itu tiada bedanya, sama saja sumbernya

Sumbernya dari pikiran, dari si-aku

Si-aku merasa tersinggung, merasa dirugikan, maka timbul kemarahan

Kemudian, si-aku melihat bahwa kemarahan merugikan, tidak baik, lalu si-aku ingin sabar agar tenang, agar sehat, agar baik dan sebagainya

Kalau kemarahan datang, kita amati saja dengan seluruh perhatian kita, dengan seluruh kewaspadaan

Dan kesadaranpun akan tercipta, dan kemarahan akan lenyap dengan sendirinya bukan karena diusahakan supaya lenyap

Api kemarahan akan padam dengan sendirinya kehabisan bahan bakar, bukan ditutupi dengan sekam dan masih membara di dalam

Karena itulah, maka Hek-bin Lo-han girang melihat betapa dia tidak menemukan bayangan kemarahan dan kebencian di sinar mata dan wajah muridnya dan dia menganggap bahwa kini muridnya sudah memiliki keadaan batin yang cukup kuat untuk menerima pelajaran ilmu silat

Dan kakek ini memiliki ilmu silat yang bertingkat tinggi, lebih tinggi dari pada tingkat ilmu silat Thian Cu Hwesio, walaupun tidak ada orang lain yang mengetahuinya, kecuali Thian Cu Hwesio yang dapat menduganya

Ketua kuil itu dapat menduga bahwa bekas penjahat yang kini telah menjadi hwesio dan diterimanya bekerja di situ, memiliki kepandaian tinggi yang dirahasiakannya dan tidak pernah dipergunakannya

Inilah agaknya yang membuat Thian Cu Hwesio bersikap hormat kepada kepala dapur itu

Mulai malam hari itu, Cin Han menerima pelajaran ilmu silat dari gurunya

Karena tubuhnya sudah kuat dan kedua kakinya sudah dapat membuat kuda-kuda dengan kokoh pula, maka mulailah dia mempelajari dasar-dasar ilmu silat, langkah-langkah dan gerakan tubuh ketika membuat langkah-langkah itu

Dia belajar dengan tekun sekali

Beberapa bulan kemudian setelah terjadinya peristiwa di dekat sumber air itu, utusan Ciu Taijin dan Kim-ciangkun datang untuk menjemput anak-anak mereka

Utusan itu menyampaikan berita dari Ciu Taijin yang menghaturkan terima kasih kepada Thian Cu Hwesio yang sudah mendidik puterinya, dan putera Kim-ciangkun selama enam tahun dan memberitahukan bahwa mulai sekarang kedua orang anak mereka akan melanjutkan pelajaran ilmu silat di kota, di mana telah diundang guru-guru silat yang pandai

Thian Cu Hwesio yang sebenarnya mengajarkan ilmu silat kepada dua orang anak itu karena sungkan dan terpaksa untuk membalas budi Ciu Taijin dan Kim Ciangkun, melepas kedua orang murid itu pergi setelah memberi wejangan-wejangan agar mereka dapat menjadi orang yang berjiwa pendekar

Ketika dua orang remaja itu berpamit kepada Cin Han, sikap Cong Bu berubah baik sekali

Bagaimanapun juga, dia merasa bahwa di samping Lian Hwa, Cin Han merupakan satu-satunya pemuda yang sebaya dengannya dan sebelum terjadi keributan di dekat sumber air, dia memang sudah bersikap baik kepada Cin Han, walaupun dia selalu merasa lebih "tinggi"

Kini dia memegang kedua tangan Cin Han dan wajahnya berseri ketika dia berpamit

"Cin Han, selamat tinggal!! Kalau kelak engkau sudah meningggalkan kuil ini dan kebetulan lewat di kota Tongan, jangan lupa untuk singgah di rumahku, ya? Ingat saja, ayahku adalah Kim Ciangkun, kepala keamanan kota Tong-an, dan ayah dari sumoi adalah Ciu Taijin, kepala daerah Tong-an," kata Cong Bu

"Ya, engkau singgahlah di rumah kami, Cin Han

Dan sekali lagi, maafkan atas segala kesalahanku, ya?" kata Lian Hwa dengan ramah sekali

Dua orang anak itu kelihatan gembira bukan main karena dijemput dan hendak pulang ke kota tempat tinggal mereka

Sudah enam tahun mereka tinggal di tempat sunyi ini dan mereka bosan, setiap hari hanya belajar ilmu silat dan membaca kitab-kitab agama

Mereka merasa rindu kepada keluarga, rindu kepada keramaian dan tontonan kota, rindu pula akan makanan enak walaupun di kuil itu merekapun mendapatkan hidangan yang bermacam-macam, berbeda dengan makanan para penghuni kuil yang bersahaja

"Tidak ada yang harus dimaafkan, bahkan aku yang minta maaf kepada kalian," kata Cin Han, merasa terharu dan gembira juga melihat perubahan sikap Cong Bu

Anak itu memang tidak memiliki watak jahat, pikirnya, hanya keras hati dan agak congkak

"Kelak kalau ada kesempatan, tentu aku akan singgah di rumah kalian

" Setelah dua orang anak itu pergi meninggalkan kuil, Cin Han merasa kehilangan

Apa lagi

kalau dia teringat kepada Lian Hwa, gadis remaja yang manis wajah dan halus budinya itu

Dia merasa kesepian

Untunglah bahwa dia sedang tekun-tekunnya mempelajari ilmu silat yang mulai diajarkan oleh Hek-bin Lo-han

Maka dengan membenamkan diri ke dalam latihan-latihan, dia melupakan perasaan kesepian itu

Selama dua tahun Cin Han digembleng dengan dasar-dasar ilmu silat sehingga kedua kakinya dapat membuat langkah-langkah dan geseran-geseran lemas sekali di samping kokoh kuat seperti batu karang di tepi samudera

Setelah kaki tangannya memiliki kelenturan dan kokoh kuat, barulah Hek-bin Lo-han mengajarkan ilmu silat simpanannya yang hebat, yaitu Sin-liong-kun (Silat Naga Sakti) yang amat dahsyat

Kakek ini masih mempergunakan gaya lama dan peraturan kuno yang keras dan sulit dalam mengajarkan ilmu silat, namun kalau orang mempelajari ilmu silat secara ini, ilmu itu akan mendarah-daging di tubuhnya, dikuasainya lahir batin, tidak hanya dikuasai kulitnya saja

Karena itu, ilmu silat yang ringkasannya dapat dipecah menjadi kurang lebih empat puluh jurus itu, oleh Hek-bin Lo-han dipecah menjadi tujuh puluh dua jurus

"Pinceng mempunyai dua macam ilmu silat simpanan yang dahulu selalu menjadi andalan pinceng

Melihat betapa engkau memiliki tubuh kuat sekali, maka kedua ilmu silat itu cocok untuk kau pelajari, Cin Han

Post a Comment