" Hek-bin Lo-hati kini menghadapi Cong Bu dengan sikap tenang dan muka ramah
"Nah,
engkau sudah mendengar sendiri, kongcu dan siocia
Muridku yang bodoh dan bersalah ini telah mencuri hanya satu jurus saja ilmu silat kalian, terserah kepada kalian untuk menghukumnya
" "Aib, Lo-han, urusan kecil tidak berarti ini, sudahlah
Perlu apa dibesarkan ?" kata Lian Hwa dengan hati tidak enak mengingat betapa tadi suhengnya memburuk-burukkan kakek ini sebagai bekas perampok
"Tidak, sumoi
Hek-bin Lo-han benar
Siapa mencuri haruslah dihukum dan hasil curiannya harus dikembalikan
" "Aku sudah merasa bersalah, kongcu
Kalau hendak menghukumku, silakan, akan tetapi
bagaimana aku harus mengembalikan jurus yang kau anggap telah kucuri itu ?" kata Cin Han dengan penasaran dan penuh penyesalan karena urusan itu ternyata telah menyangkut diri gurunya, bahkan tadi gurunya telah mengalami penghinaan
"Cin Han, engkau tadi mengaku telah melatih diri dengan jurus Harimau Putih Menerkam Ular
Nah, engkau kini pergunakan jurus itu untuk menyerangku, hendak kulihat apakah engkau benar telah menguasainya atau belum
Kalau belum, biarlah kubebaskan engkau dari mengembalikan jurus itu dan hanya akan kuhukum yang layak bagi seorang pencuri
Nah, kau seranglah aku dengan jurus itu!" Berkata demikian, Cong Bu memasang kuda-kuda, siap menyambut serangan Cin Han dengan jurus yang telah dikenalnya dengan baik itu
Lian Hwa meman-dang dengan khawatir, tidak tahu harus berbuat apa
Tentu saja Cin Han menjadi bingung dan ragu-ragu, tidak berani menyerang Cong Bu dan dia menoleh ke arah gurunya
Dia melihat hwesio tua itu juga memandang kepadanya dan Hek-bin Lo-han mengangguk sambil berkata, "Engkau harus berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu
Dia minta engkau menyerangnya dengan jurus itu, nah, lakukanlah
Tunggu apa lagi ?" Cin Han merasa bingung sekali, akan tetapi karena dia sudah mengaku salah dan sudah sanggup menerima hukumannya, maka diapun lalu melangkah maju sambil berseru, "Beginilah jurus itu!" Dia meloncat ke arah Cong Bu, mengangkat kedua tangan ke atas lalu menceng-keram ke bawah, ke atas dan ke bawah lagi dengan cepatnya, mula-mula menyerang muka, kemudian
mencengkeram ke arah leher dan perut Cong Bu tentu saja mengenal baik jurus ini yang sudah dilatihnya selama bertahun-tahun, dan biarpun dia kaget melihat betapa baiknya gerakan jurus itu dilakukan oleh Cin Han, namun dia tahu bagaimana harus menghadapinya
Karena dia ingin sekaligus menghadapi jurus ini dan merobohkan Cin Han, maka dia mengerahkan tenaga untuk menangkis dan terus mendorong dengan kekuatan sepenuhnya! Di sinilah letak kesalahan Cong Bu
Begitu dia menangkis dan mendorong, bukan tubuh Cin Han yang terdorong atau terpelanting, sebaliknya dia merasa seolah-olah tenaganya membalik dan dia sendiri yang terdorong sampai terhuyung-huyung ke belakang!
Hal ini tidaklah mengherankan
Walaupun Cong Bu tentu saja lebih mahir menggunakan jurus itu, namun latihan selama empat tahun telah memberi kepada Cin Han tenaga yang luar biasa, bukan sekedar tenaga otot melainkan tenaga dalam karena selain berlatih badan, diapun digembleng dengan ilmu siu-lian (samadhi) dan cara menghimpun tenaga di dalam tubuh oleh gurunya, walaupun belum dijelaskan bagaimana kegunaan tenaga dalam itu
Cong Bu salah perhitungan dan dia terlalu meman-dang ringan kepada Cin Han
Kalau saja dia mengelak dan mempergunakan kecepatannya, tak mungkin dia sampai terhuyung dan tentu Cin Han takkan pernah mampu mengenai tubuhnya
Akan tetapi dia terlalu bernapsu untuk merobohkan Cin Han, maka dia menggunakan tenaga untuk menangkis, tidak tahu bahwa dalam hal adu tenaga, dia sama sekali bukan tandingan Cin Han
"Ehhh
!" Dia berseru ketika terhuyung dan hampir terjengkang
Kemarahan membuat mukanya berubah merah sekali
"Sekarang, terimalah hukumanmu sebagai pencuri!" teriaknya dan diapun menyerang kalang kabut,
mempergunakan ilmu silat Siauw-lim-pai yang dipelajari selama enam tahun ini dari Thian Cu Hwesio! Cin Han tidak mau melawan karena dia sudah berjanji menerima hukumannya dan diapun bingung melihat gerakan Cong Bu sedemikian cepatnya dan tahu-tahu tangan kanan Cong Bu-sudah menghan-tam ke arah dadanya, keras sekali
"Bukkk!!" Hampir Cong Bu berteriak kaget
Pukulannya yang mengenai dada itu meleset seperti memukul benda keras yang licin saja dan tubuh Cin Han hanya terpukul miring, akan tetapi pemuda kecil itu sama sekali tidak terhuyung karena kakinya dapat tegak di
tempatnya! Hal inipun tidak aneh
Latihan kerja berat dan samadhi telah membuat Cin Han memiliki tenaga yang kuat dan otomatis tenaga di dalam tubuhnya bergerak melindungi bagian yang akan dipukul, membuat bagian dada tadi dipenuhi tenaga yang amat kuat
Sementara itu, kedua kakinya juga sudah dilatih memasang kuda-kuda yang dilakukan dengan tekun sambil mengipasi api di dapur sehingga kedua kakinya dapat merpasang kuda-kuda sedemikian kuatnya seolah-olah berakar
Karena penasaran, kembali Cong Bu memukul, tidak kalah kuatnya dari pukulan pertama tadi, sekarang leher yang menjadi sasaran! "Desss
!P Kembali leher Cin Han yang sebelah kiri terkena pukulan kuat sekali dan untuk kedua kalinya pukulan itu meleset
Sekali inipun Cin Han tidak roboh atau terhuyung, hanya melangkah ke samping satu langkah saja untuk menahan keseimbangan tubuhnya
Marahlah Cong Bu
Dua kali pukulannya tidak mampu merobohkan Cin Han, bahkan selalu meleset dan kacung itu terhuyungpun tidak!
Dia lalu menyerang dengan cepat dan bertubi-tabi, memukul, menampar dan menendang! Repotlah Cin Han sekarang
Dia dipukul dan ditendang bertubi-tubi, akan tetapi anehnya, dia tidak pernah roboh dan kedua kakinya melangkah ke sana-sini dengan amat sigapnya! Ini adalah berkat latihannya memikul air dan memanggul kayu melalui lorong yang dibuat oleh gurunya, yang amat licin itu
Latihan ini membuat dia mampu mengatur langkah-langkah sedemikian rupa sehingga dia dapat bertahan dan tidak akan terjatuh biarpun diserang secara hebat dan bertubi-tubi oleh Cong Bu
Suara pukulan dan tendangan yang mengenai tubuhnya itu terdengar bak-bik-buk dan pakaiannya sudah robek-robek
Melihat betapa Cin Han belum juga roboh, Cong Bu menjadi semakin penasaran dan marah, dan dia terus menyerang tanpa ingat lagi bahwa hukuman yang dijatuhkannya itu sudah melampaui batas! Biarpun tubuh Cin Han amat kuat seolah-olah memiliki kekebalan liar, namun dia tidak dapat melindungi mukanya ketika Cong Bu yang penasaran itu kini menyerang mukanya
Bibirnya pecah berdarah, juga hidungnya berdarah ketika terkena pukulan
Akan tetapi, pengalaman dihajar orang ini mendatangkan sesuatu yang menarik hati Cin Han
Dia mulai dapat melihat meluncurnya pukulan atau tendangan, dan dengan kelincahan kakinya, dia mulai mampu mengelak! Hajaran ini baginya seperti latihan saja, walaupun bukan latihan silat, setidaknya latihan menghindarkan diri dari serangan lawan!!
Melihat betapa muka Cin Han berdarah, Lian Hwa cepat meloncat ke depan dan menengahi mereka sambil berteriak, "Suheng, cukup, suheng!" Cong Bu sudah mandi keringat, berbeda dengan Cin Han yang sama sekali belum mengeluarkan peluh dan kini dia berdiri sambil menyusuli darah yang keluar dari hidung dan bibirnya yang terluka
Mukanya ada tanda-tanda pukulan, agak membengkak dan membiru
Dengan napas agak memburu, karena lelah, dan juga marah, Cong Bu hendak mendorong sumoinya agar minggir
"Tidak, aku harus menghajarnya !" bentaknya
"Engkau sudah menghajarnya, dan sudah berlebihan !" kata pula Lian Hwa
"Sudah, mari kita pergi
" "Tidak
!!" "Suheng,' kalau kau lanjutkan, aku akan marah dan aku akan membela Cin Han untuk menandingimu!!" Tiba-tiba anak perempuan itu mengambil sikap tegas dan keras
Cong Bu terkejut dan sejenak mereka saling pandang dengan marah
Akhirnya Cong Bu mengalah
Tak mungkin dia akan berkelahi melawan Lian Hwa
Akan tetapi hatinya tidak puas karena dia belum berhasil merobohkan Cin Han ! Lian Hwa menghampiri Cih Han
"Cin Han, engkau tidak apa-apa ?" Cin Han tersenyum dan menggeleng kepala
"Ciu-siocia (nona Ciu), harap maafkan aku yang telah mengintai engkau berlatih silat
" "Ahh, sudahlah, Cin Han
Engkau maafkan kami!" kata Lian Hwa yang segera pergi meninggalkan tempat itu
Ditinggalkan sendirian, Cong Bu merasa agak jerih juga, dan setelah mendengus diapun pergi menyusul Lian Hwa
Sejak tadi, Hek-bin Lo-han tersenyum saja melihat betapa muridnya dihajar
Kini dia memanggil
"Cin Han, ke sinilah engkau!" Cin Han menghampiri gurunya dan berlutut, akan tetapi kakek itu menyentuh pundaknya
"Berdirilah, aku ingin melihat mukamu
"
Cin Han berdiri dan kakek itu mengamati muka muridnya, bukan untuk melihat keadaan muka yang dipukuli tadi, bukan melihat luka-lukanya, melainkan untuk melihat sinar matanya dan juga seri wajahnya
Bukan main girang rasa hati kakek itu ketika sedikitpun dia tidak melihat kemarahan atau kebencian membayang dari wajah dan mata muridnya
Mata itu masih mencorong bening, dan wajah itu masih berseri cerah dan ramah, mulut itu masih membayangkan senyum kesabaran! Inilah sebabnya mengapa dia tadi membiarkan saja muridnya dipukuli orang, pertama untuk sekedar menghukum murid yang telah berani mengintai dan mencuri ilmu silat orang, dan kedua hendak menguji sampai di mana hasil yang didapatkan muridnya selama empat tahun digemblengnya ini
Dan dia puas
Tadi dia melihat kekuatan dalam tubuh yang melindungi tubuh muridnya, melihat pula penggunaan kelincahan kaki, melihat betapa dihajar sedemikian rupa, muridnya tak pernah roboh dan kuda-kuda kakinya tidak pernah goyah
Hal ini membuktikan bahwa latihan yang tersembunyi di dalam kerja keras selama empat tahun telah memperlihatkan hasilnya dengan baik sekali
Akan tetapi, yang paling menggembirakan hatinya adalah melihat betapa disiksa orang seperti itu, sedikitpun tidak bangkit kebencian atau kemarahan dalam hati Cin Han! Inilah hasil yang paling tinggi dan paling baik