Halo!

Dendam Membara Chapter 08

Memuat...

Semua ini tentu sudah diatur oleh suhunya

Dia mengingat-ingat lagi pelajaran atau pekerjaan apa saja yang telah diberikan oleh gurunya kepadanya selama dua tahun ini

Memikul air dengan pikulan yang setiap bulan dikurangi besarnya

Mengangkat dan memanggul kayu bakar, kemudian membelah kayu bakar itu menjadi kayu-kayu kecil memperguna-kan kapak yang setiap bulan diganti semakin besar akan tetapi semakin tumpul

Kalau dia disuruh menanak nasi atau memasak air, dia harus mengipasi api dengan berdiri dalam posisi yang tertentu, mula-mula seperti orang menunggang kuda dan dia tidak boleh mengubah posisi kedua kaki dan tubuh itu sebelum nasi yang ditanaknya matang atau air yang dimasaknya mendidih

Mula-mula pekerjaan ini membuat kedua kakinya terasa lelah dan kaku, bahkan kalau dipakai berjongkok saja terasa nyeri semua otot kedua kaki, akan tetapi lambat laun dia menjadi biasa dan kedudukan kaki itu diubah ubah, makin lama semakin sulit

Gurunya tidak memberitahu apa gunanya dun kelihatannya memang seperti siksaan

Namun dia yakin semua ini diperintahkan gurunya untuk kebaikan dirinya, untuk menggemblengnya

Bahkan beberapa bulan terakhir ini, kalau dia memikul air atau memanggul kayu, dia diharuskan melalui lorong kecil yang dibuat gurunya, lorong dari batu-batu yang tidak rata dan licin bukan main

Beberapa kali dia terjatuh ketika melintasi lorong ini, sampai lambat laun dia mampu memikul air atau memanggul kayu melalui lorong itu sambil berlari! Dan yang terakhir ini, dia diharuskan memakai sepatu kayu yang amat berat! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan bersembunyi di dekat sumber air untuk mengintai dan menonton Lian Hwa dun Cong Bu berlatih silat

Tak lama kemudian, dua orang anak itu datang dan mereka lalu berlatih jurus jurus ilmu silat baru

Cin Han memperhatikan, akan tetapi dia tidak mengerti

Gerakan mereka itu baginya terlalu cepat dan terlalu sukar untuk diikuti, hanya dia melihat bahwa kaki mereka itu membentuk kedudukan kedudukan seperti yang pernah dilakukannya ketika dia menanak nasi dan mengipasi api

Dia mengenal kedudukan-kedudukan dua kaki, akan tetapi tidak tahu bagaimana caranya bergerak memindah-mindahkan kaki dan mengubah-ngubah posisi seperti kedua orang anak itu

Juga kedua tangan mereka amat cepat, dan amat indah

Diam-diam dia mencatut beberapa gerakan dalam hatinya untuk ditirunya nanti

Demikianlah, kini seringkah Cin Han bersembunyi dan mengintai latihan silat dua orang anak ini, sementara itu, gurunya memberinya pekerjaan yang semakin lama semakin berat

Bahkan gurunya menyerahkan sebuah ikat pinggang dari besi yang berat sekali, yang harus dipasang di balik bajunya setiap kali dia bekerja berat! Demikianlah, dua tahun lagi lewat dengan cepatnya, Empat tahun sudah Cin Han tinggal di dalam kuil itu dan dia telah menjadi seorang pemuda remaja berusia empat belas tahun! Demikian tekun dia bekerja mentaati semua perintah suhunya sehingga digembleng selama empat tahun ini, tubuhnya telah memiliki kekuatan yang luar biasa sekali sehingga tak seorangpun hwesio yang bekerja di dapur mampu menandinginya dalam hal kekuatan atau kecepatan memikul air atau memanggul kayu, membelah kayu dan semua pekerjaan dapur

Dan karena Cin Han amat rajin, tak pernah mengomel, juga bersikap hormat, sopan dan ramah, semua hwesio di kuil itu, termasuk Thian Cu Hwesio, suka kepadanya

Kalau Cin Han sudah empat tahun berada di kuil itu, Cong Bu dan Lian Hwa sudah belajar silat sampai enam tahun lamanya! Kini Cong Bu telah menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun sedangkan Lian Hwa seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun yang semakin manis, lincah dan lucu

Semenjak pertemuan mereka pada pertama kali itu, hubungan antara Cin Han dan Lian Hwa semakin akrab, walaupun jarang sekali mereka berkesempatan untuk bicara berdua saja dan rasa saling suka antara mereka lebih banyak terpendam di dalam hati masing-masing

Hubungan antara Cin Han dan Cong Bu biasa saja, dan pemuda putera komandan pasukan keamanan itu kini menjadi semakin congkak saja setelah merasa bahwa dia telah menguasai ilmu silat yang lumayan tingginya

Tentu saja dia meman-dang rendah kepada Cin Han yang diketahuinya hanya seorang kacung yang belum pernah belajar ilmu silat, walaupun diam-diam dia mengagumi kekuatan Cin Han kalau memikul air menggunakan pikulan kecil dan memanggul kayu besar dengan kaki memakai sepatu kayu yang berat akan tetapi dapat berlari cepat mendaki anak tangga itu

Namun baginya, semua itu tidak ada gunanya

Apa artinya tenaga besar kalau tidak dapat bersilat? Seperti gentung kosong berisi angin belaka, demikian dia pernah berkata kepada sumoinya

Pada suatu pagi, seperti biasa, Cong Bu dan Lian Hwa berlatih ilmu silat di dekat sumber air

Mereka tidak tahu bahwa Cin Han mengintai dan nonton mereka berlatih silat, seperti biasa pula

Sudah ada beberapa jurus yang dipelajari Cin Han dari hasil mencuri lihat ini, akan tetapi hal ini disimpan rahasia, bahkan kepada Hek-bin Lo-han sendiri tak pernah dia memperlihatkan hasil "curiannya" itu

Akan tetapi pada pagi hari ini, hanya perkiraan Cin Han saja bahwa dua orang itu tidak tahu akan pengintaiannya

Sebetulnya, Cong Bu dan Lian Hwa sudah mengetahuinya

Ada seorang hwesio memberitahu kepada mereka akan perbuatan Cin Han, setelah tanpa disengaja hwesio ini melihat perbuatan Cin Han mengintai itu

Hwesio ini memang agak tidak suka kepada Cin Han, terdorong rasa iri karena kepala dapur amat menyayang pemuda itu

Cong Bu dan Lian Hwa berlatih dengan sengaja berpura-pura tidak tabu bahwa Cin Han sedang mengintai mereka dari balik batang pohon dan batu besar di dekat sumber air

"Mari kita berlatih Sin-eng-kun, sumoi" kata Cong Bu

"Baik, suheng!" jawab Lian Hwa dan mereka berdua lalu bersilat saling serang dengan ilmu silat Sin-eng-kun (Silat Garuda Sakti)

Gerakan mereka cepat bukan main akan tetapi Cin Han melihat betapa dalam latihan saling serang dengan ilmu silat yang sama ini, nampaklah bahwa gerakan Lian Hwa masih lebih gesit dan ringan dibandingkan suhengnya

Tubuh mereka berkelebat dan kadang-kadang tubuh Lian Hwa melayang ke atas lalu menyambar ke bawah

Mereka benar-benar tangkas dan gagah

Gerakan mereka mirip sepasang burung garuda yang saling serang, membuat Cin Han kagum bukan main

Pengetahuannya tentang ilmu silat terlalu dangkal untuk dapat mengikuti gerakan mereka

Akan tetapi dia melihat betapa Cong Bu terdesak dan mulai mundur-mundur mendekati tempat di mana dia bersembunyi

Dia tidak tahu bahwa memang latihan ini disengaja oleh mereka dan Cong Bu sengaja mundur untuk mendekati tempat dia bersembunyi

"Haiiiiitt!" Lian Hwa menyerang dengan cepat

"Hynaaah !" Cong Bu meloncat menghindar, akan tetapi loncatannya jauh dan tahu-tahu dia telah tiba di samping Cin Han yang tentu saja menjadi terkejut sekali

"Wah, kiranya di sini ada orang mengintai kita, sumoi!" kata Cong Bu sambil menangkap lengan Cin Han dan menarik pemuda itu keluar dari balik batu besar

Dengan muka merah Cin Han membiarkan dirinya ditarik keluar

"Cin Han, engkau mengintai kami berlatih? Sudah seringkah engkau melakukan hal ini?" tanya Lian Hwa sambil mengerutkan alisnya, tidak mengerti bagaimana seorang seperti Cin Han yang diketahuinya selalu terbuka dan jujur itu kini dapat bersembunyi sambil mengintai orang lain

"Sudah sering sekali," kata Cin Han mengangguk

"Tapi mengapa?" tanya pula Lian Hwa

"Aku ingin sekali melihat kalian berlatih silat

Karena tidak mau mengganggu dan khawatir kalian berkeberatan, maka aku mengintai

Maafkan aku, kongcu dan siocia

" Dia membungkuk dengan sikap hormat meminta maaf

"Enak saja kau! Sudah mencuri lalu meminta maaf begitu saja! Tidak, engkau harus diperlakukan sebagai pencuri ! Kau kembalikan hasil curianmu dan engkau harus dihukum!" "Aku tidak mencuri apa-apa, akan tetapi aku sudah bersalah melakukan pengintaian dan terserah kalau mau menghukum aku," kata Cin Han pasrah karena dia sudah merasa bersalah

Sementara itu, Lian Hwa diam dan menonton saja karena bagaimanapun juga, tidak senang ia melihat Cin Han melakukan pengintaian yang dianggapnya perbuatan yang tidak layak, ia kecewa melihat Cin Han yang dikaguminya itu ternyata kini suka mengintai orang

"Engkau menyangkal bahwa engkau telah mencuri? Engkau mengintai kami berlatih silat, tentu engkau telah menirunya, bukankah itu berarti engkau mencuri ilmu kami? Huh, kiranya Hek-bin Lo-ban mengajarmu untuk mencuri, ya? Pantas, memang dia bekas perampok !" Cin Han mengangkat mukanya dan memandang wajah Cong Bu dengan sinar mata mencorong dan alis berkerut

"Aku memang telah bersalah, akan tetapi itu kesalahanku sendiri dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan suhu! Suhuku bukan perampok, jangan engkau menghina orang!" "Hemm, bukan perampok, ya ? Dia bekas perampok besar yang kini menjadi seorang hwesio

Tanya saja kepada para hwesio di sini

Semua orang tahu, kecuali engkau yang pura-pura tidak tahu

Buktinya sekarang dia mengajar engkau mencuri ilmu kami

Sungguh cocok guru dan muridnya!" "Omitohud

!" Tiba-tiba terdengar seruan halus dan ketika mereka menengok, tahu-tahu di situ telah berdiri Hek-bin Lo-han, Lian Hwa merasa rikuh sekali, akan tetapi Cong Bu tidak

Dia adalah putera seorang perwira, dan murid ketua kuil itu

Takut apa menghada-pi tukang masak pengurus dapur ini? Pula, dia bicara apa adanya secara terbuka karena memang dia mendengar bahwa hwesio bermuka hitam ini bekas perampok

Melihat gurunya, Cin Han cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu

"Suhu, maafkan teecu yang membuat keributan," katanya penuh penyesalan

"Cin Han, kongcu ini benar

Memang pin-ceng adalah seorang bekas perampok, seorang tokoh sesat yang telah menyadari kekeliruannya dan kembali ke jalan benar

Akan tetapi pinceng tidak pernah mengajarkan engkau untuk mencuri

Benarkah engkau suka mengintai mereka dan meniru jurus-jurus mereka?" "Benar, suhu

" jawab Cin Han sejujurnya

"Sudah seringkali?" "Sudah, suhu

" "Sudah berapa banyak jurus yang kau tiru dan kau pelajari?" "Sudah banyak yang teecu lihat akan tetapi teecu tidak berhasil menirukannya, suhu, kecuali satu jurus saja, kalau tidak salah mereka menyebut jurus itu Harimau Putih Menerkam Ular

Jurus ini sudah taecu pelajari dan teecu latih

Post a Comment