Halo!

Dendam Membara Chapter 07

Memuat...

" Cin Han pura-pura tidak melihat mereka dan hendak menuruni anak tangga

Karena tidak memanggul kayu, dia dapat meringankan langkahnya, namun tetap saja sepatu kayu berlapis besi itu mengeluarkan suara yang cukup keras

Melihat betapa Cin Han hendak lewat saja tanpa memandang kepada mereka, Lian Hwa lalu menghadangnya

"Cin Han, kenapa engkau memakai sepatu kayu yang kelihatan berat itu? Bukankah hal itu mengganggu sekali pekerjaanmu ? Lebih baik bertelanjang kaki dari pada memakai sepatu kayu seperti itu!" "Ini perintah suhu!" kata Cin Han singkat dan melibat betapa Cong Bu memandangnya dengan mata mentertawakan, Cin Han tidak mau melayani mereka lagi lalu dia berlari menuruni anak tangga sehingga sepatunya mengeluarkan bunyi lebih keras lagi

Lian Hwa mengikuti Cin Han dengan pandang matanya, kemudian ia berkata penasaran, "Terlalu sekali Hek-bin Lo-han

Aku akan menegurnya, dia terlalu kejam dan tidak adil terhadap Cin Han!" "Aih, sumoi? Kenapa engkau hendak mencampuri urusan mereka? Apa lagi Cin Han hanya seorang kacung, seorang pelayan, dan gurunya, Hek-bin Lo-han hanya seorang kepala dapur!" Akan tetapi pada malam hari itu, setelah berlatih silat bersama suhengnya di bawah pengawasan Thian Cu Hwesio sendiri, Lian Hwa lalu menyelinap ke bagian belakang kuil mencari Hek-bin Lo-han yang tinggal di kamar dekat dapur

Ketika ia tiba di ruangan belakang, dekat ruangan makan, ia melihat Cin Han di luar dan anak itu masih bekerja membelahi kayu dengan sebatang kapak kecil

Betapa mudahnya Cin Han membelah kayu, sekali bacok saja kayu terbelah dua

Ia menyelinap agar jangan sampai terlihat oleh anak itu karena ia hendak menegur Hek-bin Lo-han di luar tahu Cin Han

Ia mendapatkan kakek bermuka hitam itn sedang duduk bersila di luar dapur yang sunyi

Tidak nampak hwesio lain yang pada siang hari bekerja di situ dan kakek itu duduk bersila sambil memejamkan mata seperti orang sedang bersamadhi

Hwesio ini biasa bersikap manis dan ramah, maka Lian Hwa tidak merasa takut atau sungkan kepadanya

"Hek-bin Lo-han

" katanya lirih sambil mendekati

Karena hwesio ini hanya seorang kepala dapur yang sederhana sekali sikapnya, maka Lian Hwa biasa memanggil dia begitu saja tanpa banyak peng-hormatan

Hwesio tua itu membuka mata dan tersenyum lebar ketika melihat bahwa yang memanggil-nya adalah Lian Hwa

"Aih, Ciu-siocia (nona Ciu), ada keperluan apakah malam-malam begini mencari pincang dan engkau tidak beristirahat di dalam kamarmu?" "Lo-han, aku ingin bicara tentang Cin Han!" "Ah? Mengapa dia? Nakalkah dia, kepadamu, siocia?" "Tidak, aku hanya ingin menegurmu, Lo-han, karena engkau sungguh bertindak tidak berperikemanusiaan, tidak adil dan kejam sekali kepadanya! Mengapa kau lakukan kekejaman itu kepadanya, Lo-han?" Kakek itu membelalakkan mata memandang anak perempuan itu, terheran-heran

"Nona Ciu, apa yang kau maksudkan itu? Pinceng tidak mengerti!" "Lo-han, engkau telah menyiksa Cin Han, jangan pura-pura tidak mengerti!" "Omitohud

, dijauhkan pinceng kiranya dari perbuatan itu

Pinceng menyiksa Cin Han ?" "Bukankah dia itu muridmu? Akan

tetapi, engkau memperlakukan dia seperti seekor keledai saja

Engkau suruh memikul air, memanggul dan mencari kayu bakar, bahkan akhir-akhir ini engkau memaksa dia memakai sepatu kayu berlapis besi yang demikian beratnya

Kenapa engkau begini kejam menyiksanya? Dan pelajaran apa saja yang sudah kau berikan sebagai gurunya kepadanya ?" "Omitohud

Ciu-siocia, katakanlah, apa dia mengeluh akan semua ini kepadamu?" "Tidak, dia tidak pernah mengeluh, akan tetapi aku kasihan padanya dan penasaran

Engkau tidak boleh sekejam itu!" Kakek itu tertawa bergelak dengan gembira sekali

"Ha-ha-ha-ha, nona Ciu yang cerdik, pinceng tidak pernah kejam padanya, pinceng bahkan amat sayang kepadanya

" Anak perempuan itu terbelalak

"Sayang? Kenapa menyuruh dia bekerja seberat itu dan pelajaran apa yang pernah kau berikan?" "Itulah pelajaran yang dilatihnya setiap hari, nona

Apa sekiranya nona atau Kim-kongcu (tuah muda Kim) mampu, memenuhi semua bak air, lalu mengumpulkan semua kayu itu dan membelahnya, seperti yang dilakukan Cin Han setiap hari, apalagi mengenakan sepatu kayu itu ?" Lian Hwa semakin heran

"Jadi

pekerjaan itu

itukah yang kau maksud dengan pelajaran ? Untuk itukah dia berguru kepadamu, Lo-han?" Kakek itu mengangguk-angguk

"Kelak nona akan mengerti, bahkan sekarangpun akan mengerti kalau nona suka berpikir

Nah, beristirahatlah, nona, hari sudah mulai larut, malam sudah tiba

" Lian Hwa meninggalkan kakek itu dengan hati penuh keheranan

Akan tetapi ketika ia melewati ruangan belakang dia melihat Cin Han asyik membaca buku di bawah sinar lampu gantung

Cin Han membaca kitab! Sungguh hal ini di luar dugaannya

Seorang kacung dapat membaca kitab

Agaknya Cin Han tenggelam ke dalam bacaannya

Dia duduk di atas bangku di luar ruangan itu, di tempat terbuka dan malam itu sejuk sekali hawanya, apa lagi bulan muda mulai muncul, mendatangkan sinar kehijauan yang nyaman

"Cin Han, kitab apakah yang kau baca itu ?" tanyanya sambil menghampiri

Cin Han terkejut dan menoleh

Melihat Lian Hwa, dia memandang dengan wajah berseri

"Ah, kiranya engkau, nona Lian Hwa

Kitab ini

ah, hanya kitab sejarah kuno milik suhu

" "Boleh kulihat ?" Cin Han memberikan kitabnya yang sudah tua sekali itu dan Lian Hwa membalik-balik lembarannya

Alisnya berkerut

Tulisannya juga kuno dan tulisan seperti itu sukar sekali dimengerti, memiliki arti yang dalam sekali seperti pada umumnya kitab-kitab kuno

Biarpun sejak kecil ia sudah belajar membaca, namun untuk dapat mengerti isi kitab ini, sukar sekali baginya

Ia mengembalikan kitab itu, diam-diam merasa malu sendiri bahwa dalam hal ilmu membaca jelas ia kalah pandai dibandingkan Cin Han

"Nona Cin, duduklah

Lihat, betapa indahnya malam ini

Bulan sepotong itu demikian lembut, seolah-olah ia berjalan-jalan di antara awan-awan, kadang-kadang bersembunyi lalu perlahan-lahan mengintai keluar dari tirai aWan dan tersenyum lagi

Dan pohon-pohon di sana itu, Nampak aneh sekali dalam cuaca remang-remang, bukan kau lihat, di selatan itu nampak pula bintang-bintang

Indah bukan main!" Melihat kegembiraan Cin Han, Lian Hwa semakin heran

Anak ini aneh sekali

Sejak pagi sampai sore disiksa seperti itu, malamnya sudah bergembira seperti ini

"Cin Han, kenapa engkau gembira sekali?" "Kenapa tidak, nona ? Bukankah hidup ini indah selali? Dan kita memiliki semua anggauta badan yang serba lengkap

Mata untuk melihat keindahan pandangan, telinga untuk menikmati kemerduan suara, hidung untuk menikmati keharuman penciuman, segalanya ada pada kita dan semua keindahan sudah terbentang di depan kita

Bayangkan betapa sengsaranya kalau kita kehilangan satu di antara semua alat perasa itu

Buta misalnya, atau tuli

," Lian Hwa bengong! Seorang kacung, bicara seperti ini ? Ia bingung Bagi Lian Hwa, kata-kata yang keluar dari mulut Cin Han tadi terdengar amat aneh, akan tetapi juga dapat dirasakan sekali kebenarannya

Ia membayangkan, bagaimana kalau ia buta ? Wah, akan sengsara sekali! Dan tuli? Hanya orang buta yang dapat membayangkan keindahan segala sesuatu yang dapat dipandang dan hanya orang tuli yang dapat membayangkan keindahan segala sesuatu yang dapat didengar

Akan tetapi orang yang tidak buta dan tidak tuli, bahkan mengabaikan semua keindahan itu!

Bukankah orang begitu sama saja dengan buta dan tuli? Iapun memandang ke luar, ke arah awan dan bulan, ke arah bayangan pohon-pohon, kearah bintang-bintang dan hatinyapun terasa riang sekali

"Engkau benar, Cin Han

Hidup memang indah sekali

Akan tetapi

semua itu, dari siapa engkau tahu? Dan engkau membaca kitab, dari siapa engkau belajar?" "Nona, guruku di dunia ini hanyalah suhu seorang

Dari siapa lagi kalau bukan dari dia?" "Tapi, apakah engkau menjadi muridnya hanya untuk mempelajari segala macam itu ? Bukan belajar silat?" "Memang aku menjadi muridnya untuk belajar ilmu silat

" "Dan engkau sudah pernah dilatih silat ? Apakah dia pandai ilmu silat?" Cin Han menggeleng kepalanya

"Aku belum pernah dilatih silat, dan suhu adalah orang yang paling pandai dalam ilmu silat

" "Hemmm, sudah dua tahun belajar akan tetapi sama sekali belum diajar ilmu silat

Bagaimana mungkin ini? Kalau begitu, jelas engkau dibohonginya

Cin Han

Agaknya dia sama sekali tidak pandai ilmu silat

Coba, selama ini engkau hanya disuruh memikul air, memanggul kayu, mengenakan sepatu kayu berat, untuk apa itu? Hanya ilmu membaca kitab itu memang berguna

Akan tetapi semua pekerjaan berat itu

" "Amat bermanfaat, nona

Dari pekerjaan itu, aku mendapatkan kekuatan pada tubuhku, juga

ketenangan dan kesabaran bagi batinku

juga semua itu memupuk ketahanan terhadap penderitaan yang amat diperlukan untuk kehidupan ini

" "Akan tetapi apa artinya semua itu ? Engkau tidak diajar bagaimana harus menyerang dan merobohkan orang!" "Belajar silat bukan hanya berarti harus merobohkan orang, nona!"

Kembali anak perempuan itu terbelalak memandang wajah Cin Han

"Lalu untuk apa?" Ciu Han tersenyum

Anak perempuan ini masih kanak-kanak, akan tetapi manis, mungil dan lucu sekali

"Untuk menjaga kesehatan, nona

Untuk membela diri dari ancaman bahaya

" "Hemm, kalau aku tidak! Aku ingin menjadi seorang pendekar wanita yang membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan seperti watak para pendekar yang kubaca dalam cerita kitab, sudah malam, Cin Han

Aku harus beristirahat, besok harus bangun pagi-pagi sekali untuk berlatih jurus-jurus baru yang sulit, bersama suheng di dekat sumber air !" Anak perempuan itu dengan lincahnya lalu meloncat dan berlari kecil menanggalkan Cin Han yang kini duduk termenung

Ucapan anak itu sedikit banyak mendatangkan bahan pemikiran

Memang sering dia merindukan pelajaran ilmu silat yang belum juga diturunkan gurunya

Akan tetapi diapun cukup waspada dan melihat hasil dari semua pekerjaan berat itu

Apa lagi memikul air itu

Suhunya sengaja memberi pikulan yang terbuat dari belahan bambu-bambu kecil yang dijadikan satu dan diikat

Selama dua tahun ini, ikatan seratus batang bambu kecil itu setiap bulan dikurangi oleh suhunya

Dia tidak merasakan ini dan tahu-tahu sekarang ikatan itu tinggal dua puluh batang saja! Akan tetapi dia sanggup memikul air di dua ember kayu itu dengan pikulan yang kecil itu! Juga dia sanggup memanggul sebatang kayu besar dengan mudah mendaki anak tangga, sambil lari lagi dan tidak pernah terengah-engah napasnya, bahkan sedikit saja peluh yang keluar

Tidak, dia tidak boleh ragu-ragu

Post a Comment