"Mereka itu sungguh lancang sekali
Mencobakan ilmu tiam-hiat-hoat yang masih belum sempurna di pelajari kepada seorang manusia, amatlah berbahaya
" "Suhu, siapakah mereka itu? Tadinya teecu mengira bahwa di kuil ini hanya dihuni oleh para hwesio seperti suhu
Apakah banyak anak-anak seperti mereka yang menjadi murid di sini dan siapakah yang menjadi suhu mereka?" Hek-bin Lo-han menarik napas panjang dan menggeleng kepala
"Mereka itu datang dari jauh, dari Tong-an
Sebetulnya, para hwesio di sini tidak ada yang menerima murid, juga Thian Cu
Hwesio yang menjadi ketua kuil ini tidak pernah menerima murid, walaupun dia adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang pandai
Akan tetapi, dua tahun lalu, ketika Thian Cu Hwesio mengadakan perjalanan ke luar kuil, di tengah perjalanan dia melihat dua orang pembesar dengan keluarganya diganggu perampok
Tentu saja dia lalu menolong mereka dan berhasil mengusir para perampok dengan kepandaiannya
Dua orang pembesar itu berterima kasih sekali, berkunjung ke kuil ini dan mereka mengeluarkan biaya besar untuk mempeibaiki bangunan kuil ini
Kemudian, mereka lalu memohon kepada Thian Cu Hwesio agar suka mendidik anak-anak mereka menjadi muridnya dan mengajarkan ilmu silat kepada mereka
" "Dan Thian Cu Hwesio tidak dapat menolak karena mereka sudah membangun kuil ini?" kata Cin Han
Gurunya memandang kepadanya dengan kagum dan mengangguk
"Anak laki-laki itu adalah Kim Cong Bu, putera Kim-ciangkun kepala pasukan keamanan dari kota Tong an, sedangkan anak perempuan itu bernama Ciu Lian Hwa, puteri dari Ciu Taijin, kepala daerah kota Tong-an
Sudah dua tahun mereka belajar ilmu silat dari Thian Cu Hwesio dan agaknya mereka memperoleh kemajuan karena memang keduanya berbakat
" Kakek itu lalu menghentikan ceritanya
"Sudahlah, sekarang lebih baik engkau beristirahat dan tidur agar rasa lelah dan nyeri lenyap
Besok pagi-pagi sudah menanti tugas pekerjaanmu di sini
" Sementara itu, Kim Cong Bu dan Ciu Lian Hwa, dua orang anak itu, juga membicarakan Cin Han
"Untung anak itu baik sekali, suheng
Dialah yang memintakan maaf untuk kita kepada Hek-bin Lo-han
Kalau tidak, kita tentu dilaporkan dan mendapat hukuman dari suhu
" kata Lian Hwa
"Akan tetapi aku tidak suka melihat mata anak itu, matanya bsgitu tajam memandang orang, dan dia memintakan maaf untuk kita seolah-olah dia itu sederajat dengan kita
Pada hal dia hanya seorang kacung!!" kata Cong Bu, masih mendongkol karena kegagalan praktek ilmu menotoknya tadi
"Dia menyebut suhu kepada Lo-han, agaknya dia murid Hek-bin Lo-han
Dan mengingat bahwa Hek-bin Lo han merupakan seorang hwesio tua di sini, maka kalau Cin Han menjadi muridnya, berarti tingkat atau kedudukannya sejajar dengan kita
Engkau melihat betapa suhu sendiri bersikap hormat kepada Hek-bin Lohan, tidak seperti terhadap para hwesio lainnya
"
"Betapapun juga, Hek-bin Lo-han hanyalah seorang kepala dapur, tukang mencari air, kayu dan tukang masak
Cin Han menjadi muridnya? Ha, tentu diajar memikul air dan memasak
Apa lagi?" kata Cong Bu mengejek untuk melampiaskan kedongkolan hatinya
"Jangan menghina, suheng
Memasakpun merupakan ilmu yang amat berguna! Kalau tidak ada Lo-han yang pandai masak, kita tentu hanya akan makan sayur dan buah-buahan mentah!" bantah Lian Hwa
Cong Bu tidak berani membantah kata-kata Lian Hwa yang diucapkan dengan nada agak marah
Memang anak laki-laki ini selalu bersikap manis dan melindungi kepada Lian Hwa
Hal ini bukan saja karena dia merasa sepenanggungan dengan anak perempuan itu, jauh dari rumah dan keluarga dan di kuil ini hanya ada mereka berdua saja sebagai murid, akan tetapi juga karena sebelum mereka dikirim ke kuil itu, Cong Bu mendapat pesan dari ayahnya bihwa dia harus menjaga dan melindungi Lian Hwa
Diapun tahu bahwa Lian Hwa adalah puteri kepala daerah yang menjadi atasan dari ayahnya
Karena Cong Bu selalu berjikap manis dan melindunginya, tentu saja Lian Hwa juga suka kepadanya dan menganggapnya sebagai seorang suheng dan kawan yang baik sekali, walaupun kadang-kadang ia merasa tidak suka akan sikap dan watak Cong Bu yang tinggi hati dan angkuh
Cong Bu memiliki watak yang keras dan tidak mau mengalah, kecuali tentu saja terhadap Lian Hwa, sebaliknya, anak perempuan itu memiliki watak yang lincah, manis dan berbudi halus
Ejekan yang diucapkan Cong Bu mengenai Cin Han yang berguru kepada seorang tukang masak, kepala dapur, yang pekerjaannya hanya memikul air, mencari kayu bakar, memasak dan sebagainya, memang ternyata benar
Mulai pagi-pagi sekali keesokan harinya, Cin Han mendapat tugas memikul air untuk mengisi bak-bak air di dapur! Sumber air berada jauh di bawah puncak sehingga anak itu harus memikul dua ember kayu penuh air, mendaki anak tangga yang lebih dari lima ratus langkah banyaknya
Terseok-seok dia memikul ember kayu penuh air itu dan pada hari hari pertama, banyak sekali air tumpah dari ember sehingga setibanya di dapur, air yang berada dalam dua ember kayu itu tinggal sedikit saja! Namun, dengan kemauan yang amat keras, dengan semangat membaja, Cin Hm tak pernah mau berhenti memikul air biarpun dia harus terhuyung dan terseok, kadang-kadang jatuh dan semua air di kedua ember tumpah, membuat dia terpaksa turun lagi untuk mengisi ember yang dipikulnya
Ketekunannya itu akhirnya berhasil
Setelah kurang lebih tiga bulan, dia mampu memikul air dalam dua ember kayu itu tanpa tumpah, sampai ke dapur, menuangkan dua ember itu ke dalam bak, kemudian berlari menuruni anak tangga untuk mengambil air lagi
Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah mengomel, bahkan tidak berani bertanya kepada suhunya mengapa sampai berbulan-bulan dia tidak pernah diberi pelajaran ilmu silat
Bahkan kini pekerjaannya ditambah, bukan hanya memikul air yang dapat dilakukannya semakin cepat sehingga sebelum tenga hari semua bak telah dapat dipenuhinya
Agaknya karena ada waktu tersisa setelah memenuhi semua bak air, kini gurunya menambah tugasnya untuk mencari kayu di hutan bawah puncak, membawanya ke dapur dan membelah kayu-kayu itu menjadi kayu bakar yang kecil-kecil
Pertama kali mengerjakan tugas baru ini tentu saja dia merasa tersiksa dan lelah sekali
Memanggul kayu berbeda dengan memikul air
Air dalam ember mempunyai gaya gerak dan pikulannya juga dapat memantul sehingga dia dapat meminjam tenaga pantulan pikulan dan tenaga gerakan air yang dipikulnya, membuat pekerjaan itu tidak lagi terasa berat
Akan tetapi, kayu merupakan benda yang mati tak bergerak sama sekali, seluruh beratnya menindih pundak sehingga tertatih-tatih dia melangkahi anak tangga dan semakin lama terasa semakin berat
Juga ketika dia mempergunakan kapak membelah kayu, telapak tangannya sampai bengkak-bengkak dan lecet-lecet
Namun, anak yang memiliki semangat membaja ini tak pernah mengeluh dan dengan tekun melakukan pekerjaan itu sampai beberapa bulan kemudian, dia dapat memanggul cukup banyak kayu ke dapur, dan membelahnya, dengan cepat bukan main tanpa mengalami kulit telapak tangan lecet lagi
Akan tetapi, gurunya seolah-olah memang sengaja hendak menyiksanya
Kini dia diharuskan mengena-kan sepatu kayu yang berat sebagai pengganti sepatunya yang sudah butut
Sepatu kayu itu berat sekali karena di bagian bawahnya dilapisi besi seperti tapal kaki kuda! Dan kalau dia berjalan, mengeluarkan bunyi keras seperti kuda
Yang menyakitkan hati Cin Han adalah seringnya Cong Bu menggoda dan mengejeknya
Hanya kalau Cin Han ditemani oleh Lian Hwa, anak laki-laki itu tidak berani mengejeknya, karena tentu akan ditegur oleh Lian Hwa yang selalu bersikap manis dan lembut kepada Cin Han
Bahkan, melihat betapa Cin Han harus bekerja berat, pandang mata anak perempuan itu mengandung iba
Pada hari pertama Cin Han mengenakan sepatu kayu baru itu, menaiki anak tangga tertatih-tatih memanggul kayu-kayu besar, setiap langkahnya mengeluarkan suara keras seperti kaki kuda, muncullah Cong Bu seorang diri saja, Apak itu berdiri di atas, sambil tertawa-tawa melihat Cin Han mendaki anak tangga itu dengan susah payah dan setiap langkahnya mengeluarkan suara keras
Cin Han maklum bahwa Cong Bu mentertawakannya di atas
Dia merasa malu dan mendongkol, akan tetapi dia dapat mengusir perasaan ini dan melanjutkan pekerjaannya
Setelah tiba di atas, seperti yang sudah diduganya, Lian Hwa tidak nampak di situ dan Cong Bu segera menyambutnya dengan suara ketawa
"Ha-ha-ha, kukira tadi ada seekor kuda yang naik ke sini, Cin Han
Kiranya engkau yang menjadi kuda!" Karena kedua kakinya terasa gemetar saking lelahnya dibebani sepatu berat, membuat kayu yang dipanggulnya terasa lebih berat dari pada biasanya, dan keringat menetes-netes dari mukanya, Cin Han berhenti sebentar untuk menyusut keringatnya dengan tangan
"Ha-ha-ha, sudah hampir dua tahun engkau berada di sini, menjadi murid Hek-bin Lo-han, apa saja yang sudah kau pelajari, Cin Han? Memikul air dan memanggul kayu, dan masak-masak barangkali?
Dan kini engkau belajar menjadi seekor kuda
Akan tetapi engkau tidak mirip kuda, mirip keledai bodoh!" "Suheng
!" Terdengar suara Lian Hwa menegur dan anak perempuan itu datang dengan langkah lebar ke tempat itu
Muka Cin Han sudah menjadi merah sekali dan dia cepat melanjutkan pekerjaannya, memanggul kayu itu ke arah dapur
Betapapun dia sudah berhati-hati melangkah, tetap saja setiap langkahnya mengeluarkan bunyi keras yang membuat Lian Hwa juga memandang dengan heran
Ketika dia kembali dari dapur untuk turun dan mencari kayu lagi karena persediaannya belum cukup, Lian Hwa dan Cong Bu masih berada di tempat tadi dan dari jauh dia melihat Lian Hwa bicara dengan suhengnya, kelihatan anak perempuan itu menegurnya karena dia masih dapat menangkap akhir kalimatnya
"
sebaliknya dari rasa iba, engkau malah menggodanya