Tukk ! Cin Han menahan pekiknya dan terguling! Cin Han bangkit kembali sambil mengelus-elus pundaknya dengan muka menyeringai kesakitan
Totokan itu mendatangkan rasa nyeri yang hebat
Dan jari tangan yang menotoknya tadi amat keras seperti besi dan totokan yang mengenai otot itu membuat kepalanya terasa pening dan dari leher sampai ke pinggang kiri berdenyut-denyut amat nyerinya! Anak laki-laki yang menotoknya itu, tadinya tersenyum lebar dengan puas melihat hasil totokannya, akan tetapi melihat betapa Cin Han dapat bangkit kembali, senyumnya menghilang
"Suheng, totokanmu gagal, dia dapat bergerak," kata anak perempuan itu sambil tersenyum, setengah menertawakan, kemudian memandang kepada Cin Han sambil bertanya, "Cin Han, sakitkah?" Entah mengupa dia sendiri tidak tahu
Ditanya demikian, Cin Han merasa malu untuk mengaku sakit dan dia menggeleng kepalanya
"Engkau dapat bergerak dan berdiri kembali ? Ah, seharusnya engkau menjadi kaku dan tidak mampu menggerakkan kaki tanganmu!" kata anak laki-laki yang kecewa itu
"Tentu totokanku tadi kurang tepat
Biar kuulangi sekali lagi!" Dan diapun melangkah maju, tangan kanannya bergerak cepat dan kembali dia menotok dengan dua jari tangannya ke tempat yang tadi
"Tukkk!" Lebih keras datangnya totokan itu dan Cin Han merasa nyeri bukan main
Akan tetapi, teringat akan anak perempuan yang berada di situ, ketika tubuhnya terpelanting, dia menggigit bibir menahan nyeri agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan
Ketika totokan tadi mengenai pundaknya dekat leher, memang kaki dan tangannya terasa kaku, akan tetapi hanya sebentar dan begitu terbanting jatuh, dia sudah dapat bangkit kembali
Rasa nyeri membuat dia ingin menangis, namun ditahannya
Serasa patah-patah bagian yang tertotok, seperti ditusuk-tusuk jarum nyerinya dan dia hanya berusaha mengurangi rasa nyeri dengan mengelus elusnya
"Engkau masih belum merasa kaki tanganmu kaku?" anak laki-laki itu bertanya penuh penasaran
Cin Han menggeleng kepala dan diam-diam dia merasa girang melihat betapa anak itu mengerutkan alisnya penuh kekecewaan
"Apakah engkau tidak menderita nyeri, Cin Han?" kembali gadis itu bertanya, berusaha mengamati wajah Cin Han di bawah penerangan lampu yang tidak begitu terang itu
Cin Han menggeleng kepala keras-keras dan anak perempuan itu kelihatan lega hatinya
"Suheng, engkau harus belajar lagi dengan tekun dan mempelajari gambar jalan darah tubuh itu lebih teliti
Sekarang biar aku yang melatih totokan untuk membuat tubuh lemas
Cin Han, aku akan menolokmu di bagian jalan darah yang akan membuat tubuhmu terasa lemas kehilangan tenaga
Jangan kaget dan jangan mencoba mengelak karena kalau luput dan mengenai pinggir jalan darah, engkau akan merasa nyeri
"
Cin Han mengangguk dan ketika gadis itu menggerakkan tangan kanan menotok ke arah punggungnya, dia melemaskan tubuh dan menerima totokan itu dengan tabah
"Tukkk!" Cin Han terkulai roboh dan tidak bergerak lagi! Dia tadi merasa betapa jari tangan gadis itupun kaku keras seperti besi, akan tetapi totokan yang mendatangkan rasa cukup nyeri itu tidak membuatnya menjadi lemas walaupun ada perasaan betapa dalam waktu beberapa detik tubuhnya kesemutan
Akan tetapi, dia tidak tega untuk membuat gadis kecil itu kecewa, maka diapun sengaju bersandiwara dan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas
"Ah, aku berhasil, suheng!!" Gadis itu berseru girang dan ia memegang tangan Cin Han, diangkat-nya ke atas lalu dilepaskan kembali dan tangan itupun terjatuh seperti sehelai kain basah
Bukan main girangnya hati anak perempuan itu, dan cepat ia mengurut- ngurut bagian punggung Cin Han yang tertotok sambil berkata, "Jangan takut, Cin Han, aku akan membebaskan engkau dari pengaruh totokanku
" Dan setelah diurut beberapa kali, Cin Han menggerakkan lagi tubuhnya, lalu bangkit berdiri
Dia ikut merasa gembira melihat kegirangan anak perempuan itu
Melihat keberhasilan sumoinya, anak laki-laki itu menjadi marah dan iri
Dua kali dia menotok ,dan gagal, sedangkan sumoinya sekali menotok berhasil baik
Dia merasa malu dan akhirnya marah, ingin menimpakan kemarahannya ini kepada Cin Han yang dianggapnya seorang kacung baru
"Akupun akan menotokmu agar lumpuh dan lemas!" katanya dan cepat sekali jari tangannya menotok punggung Cin Hin
Karena marah, dia menotok dengan sepenuh tenaga, tidak seperti yang diajarkan gurunya
"Tukk
!"
"Aughhh
!" Cin Han terjungkal dan menggeliat kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah
Melihat ini, anak perempuan itu terkejut dan merasa khawatir sekali
Cepat ia berjongkok dekat Cin Han dan berusaha untuk mengurut punggung yang tertotok tadi, akan tetapi sentuhannya bahkan menambah rasa nyeri dan Cin Han merintih
"Bagaimana, Cin Han ? Sakit sekalikah ? Yang mana yang sakit ?" "Punggungku
dan napasku sesak
" kata Cin Han terengah-engah
"Suheng, bagaimana ini? Jangan berdiri enak-enak saja di situ! Nah, bagaimana kalau sudah begini? Engkau menyiksa orang!" Anak perempuan itu menegur suhengnya yang masih berdiri acuh saja
"Sudahlah, nanti juga sembuh
Kenapa ribut-ribut karena kacung ini sedikit kesakitan saja ?" "Suheng! Dia muntah darah! Itu tandanya dia luka dalam
Bagaimana kalau dia sampai mati?" "Aughhh
!" Cin Han terjungkal dan menggeliat kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah ! Melihat ini, anak perempuan itu terkejut dan merasa khawatir sekali
Mendengar ini, barulah anak laki-laki itu merasa khawatir
Kalau sampai kacung ini mati, berarti dia telah membunuh orang dan tentu akan menimbulkan keributan
Diapun berjongkok mendekat dan ikut memeriksa punggung yang tertotok
Nampak kulit punggung di bagian itu matang biru, juga di pundak yang tertotok tadi
Dia ikut pula mengurut untuk melancarkan jalan darah yang tertotok
"Sakitkah, Cin Han?" tanyanya
Sebetulnya, di dalam hatinya Cin Han marah sekali
Dia merasa betapa dadanya panas oleh kemarahan mendorongnya untuk membalas perbuatan anak laki-laki itu
Akan tetapi, dia teringat akan sikap gurunya, juga kata-kata gurunya, yang penting bukanlah bersabar, melainkan melenyapkan kemarahan, demikian gurunya berkata
Dan inilah kemarahan
Dia marah sekali! Anak laki-laki ini terlalu memancang rendah kepadanya, dan bertindak sewenang-wenang!
Akan tetapi justeru kenangan ini yang mendatangkan kemarahan, makin berkobar rasanya api kemarahan kalau dia mengingat-ingat apa yang dilakukan orang terhadap dirinya
Dia membuang pikiran yang mengingat-ingat itu dan api kemarahan itupun padam, kemarahan itupun tidak ada lagi
Akan tetapi hanya sebentar karena segera dia teringat lagi dan marah lagi
Cin Han merasakan benar pertentangan dalam batinnya ini, membuat dia tertegun keheranan dan dia menjadi lupa lagi untuk marah! "Tidak, tidak sakit," jawabnya sebagai pencetusan kemarahannya dalam bentuk ketinggian hati
Dia tidak sudi memperlihatkan kelemahannya kepada anak laki-laki ini
Diapun tidak suka memperlihatkan kelemahannya kepada anak perempuan itu, akan tetapi agaknya berbeda alasannya dengan sikapnya terhadap anak laki-laki itu
"Cin Han, kau maafkan kami
" anak perempuan itu berkata halus
"Benar permintaan sumoi, maafkan kami, Cin Han," anak laki-laki itu menyambung
Tadinya, mendengar ucapan anak perempuan itu, Cin Han sudah siap untuk memaafkan, dan untuk mengatakan bahwa hal itu tidak apa-apa
Akan tetapi mendengar sambungan kata-kata anak itu, dia membungkam mulutnya dan tidak mau menjawab
Pada saat itu muncul Hek-bin Lo-han dari dalam
Sebelum tiba di situ dia sudah berseru, "Cin Han, engkau diterima menjadi pembantuku !" Akan tetapi ketika dia tiba di situ dan melihat Cin Han diurut-urut punggungnya oleh dua orang anak itu, dia terkejut
"Cin Han, ada apakah ?" tanyanya, mendekat dan semakin terkejut melihat tanda matang biru di punggung dan pundak dekat leher, dan melihat darah masih bertepatan di tepi mulut anak itu
"Engkau terluka? Muntah darah ?" Anak perempuan itu yang menjawab, "Lo-han, kami tadi hendak berlatih ilmu tian-hiat-hoat yang kami pelajari dari suhu dan kami bertemu dengan Cin Han, kacung baru ini
Kami menggunakan tubuhnya untuk berpraktek
" "Omitohud
Kalian sungguh anak-anak yang lancang, ceroboh, dnn sewenang-wenang
Perbuatan kalian itu dapat membunuh orang, tahukah kalian ? Kalau sampai hal ini terjadi kepada kalian sendiri, apakah kalian mau ? Lihat saja kalau sampai suhu kalian tahu akan hal ini, tentu kalian akan dijatuhi hukuman!!" Mendengar ini, dua orang anak itu kelihatan menjadi ketakutan, dan anak laki-laki itu mencoba untuk membela diri, "Akan tetapi, sebelum kami melakukannya, kami sudah bertanya dan Cin Han mau membantu kami
" Anak perempuan yang juga ketakutan itu segera memegang lengan Hek-bin Lo-han dan berkata dengan suara memohon, "Lo han yang budiman, tolonglah kami, harap jangan laporkan kepada suhu
Aku
aku takut kalau sampai beliau marah dan menjatuhkan hukuman
" Hek-bin Lo-ban menggeleng kepala dengan alis berkerut
"Kalian nakal dan jahat, perlu mendapat hukuman
" Melihat betapa anak perempuan itu ketakutan, hati Cin Han sudah mencair dan kemarahannya lenyap seketika
"Sudahlah, suhu
Teecu tidak apa-apa, harap urusan ini dihabiskan saja
" Wajah Hek bin Lo han yang tadinya nampak muram, kini tiba tiba menjadi cerah berseri-seri
Dia berkata kepada dua orang anak-anak itu
"Kalian pergilah, pinceng tidak akan melaporkan kalian
" Dua orang anak-anak itu kelihatan girang sekali dan merekapun segera pergi dari situ
Hek-bin Lo-han lalu menggandeng tangan muridnya, diajak pergi ke kamarnya dekat dapur dan di dalam kamar itu, dia lalu mengurut punggung dan pundak Cin Han dan tak lama kemudian lenyaplah semua rasa nyeri
"Cin Han, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi tadi," kata Hek bin Lo-han
"Mereka tadi bertemu denaan teecu yang sedang menyapu pekarangan karena tempat itu penuh daun kering dan di sana terdapat sebatang sapu pula
Lalu mereka minta bantuan teecu untuk berlatih semacam ilmu
Sebagai pendatang baru tentu saja teecu bersedia membantu mereka dan mereka menyuruh teecu membuka baju
" Dia menceritakan betapa totokan-totokan anak laki-laki itu amat menyakitkan, dan betapa totokan anak perempuan itu hampir berhasil membuat dia menjadi lumpuh dan lemas
Hek-bin Lo-ban mengangguk-angguk