Kalau engkau kelak hendak mengajarkan ilmu silat kepada seorang murid, bukan uang pembayaran ukurannya, melainkan keadaan jiwa dan raga anak itu
Dia harus memiliki raga yang baik dan berbakat, dan memiliki jiwa yang bersih
" "Baik, suhu (guru), teecu (murid) akan mentaati perintah suhu
" "Ha-ha-ha-ha! Belum juga pin-ceng menerima permohonanmu, engkau sudah begitu yakin dan menganggap dirimu sebagai murid pin-ceng
" Kembali Cin Han membentur-benturkan dahinya di atas tanah
"Teecu mohon agar suhu sudi menerima teecu sebagai murid, atau sebagai kacungpun teecu mau asal diberi pelajaran ilmu silat
" "Omitohud, engkau mempunyai kemauan keras
Akan tetapi ketahuilah bahwa pinceng sendiri juga bekerja di dalam sebuah kuil di puncak bukit ini sebagai seorang kepala dapur!" "Kalau begitu teecu akan membantu pekerjaan suhu di sana!" kata Cin Han penuh semangat
"Anak baik, siapakah namamu?" "Nama teecu Bu Cin Han, teecu hidup sebatang kara di dunia ini karena ayah dan ibu teecu sudah meninggal dunia
Teecu tidak mempunyai keluarga, tidak mempu-nyai tempat tinggal
" "Omitohud
, hidup adalah duka, sekecil ini sidah kehilangan segalanya dan menderita sengsara
Cin Han, ketahuilah bahwa pinceng dipanggil Hek-bin Lo-han (Orang Tua Muka Hitam ) dan pinceng bekerja sebagai kepala dapur di kuil para hwesio di puncak bukit ini
Biarlah engkau ikut bersama pinceng ke kuil dan akan pinceng usahakan agar engkau diterima oleh kepala kuil sebagai seorang kacung yang membantu pekerjaan pinceng di dapur
Mari kita berangkat
"
"Terima kasih, suhu," kata Cin Han dengan girang sekali dan melihat kakek itu melangkah pergi mendaki bukit, diapun cepat mengikutinya
Akan tetapi, kedua kakinya gemetar dan dia hampir tidak kuat melangkah, namun ditahannya semua rasa nyeri dan lelah dan dia memaksa diri mengikuti kakek itu dengan langkah gontai
Kakek itu maklum akan keadaan Cin Han, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan agaknya memang hendak mengujinya
Tiba tiba Cin Han melihat seekor kelinci lagi, tak jauh darinya, tersembul keluar dari semak-semak
Dia menubruk cepat, akan tetapi bukan kelinci yang didapatnya, melainkan tusukan duri semak-semik membuat kedua lengannya berdarah
Melihat ini, Hek bin lo-han tertawa
"Ha-ha…
sudah lapar sekalikah perutmu?" "Maaf, suhu
Sejak sarapan pagi tadi sampai sekarang, teecu belum makan
" "Kalau begitu, usahakan agar kelinci itu keluar dari semak-semak, biar pinceng yang akan menangkapnya
" Bukan main girangnya rasa hati Cin Han
Diapun mempergunakan batu-batu disambitkan ke dalam semak-semak dan tak lama kemudian, kelinci itu meloncst keluar diri semak-semak dan sebelum dia menghilang ke dalam semak-semak lain, tiba-tiba kakek itu menggerak-kan tangan kirinya ke arah binatang itu dan kelinci itupun terdiam, tak mampu berlari lagi seolah-olah menjadi lumpuh seketika, "Nah, tangkaplah
" Hek-bin Lo-han berkata kepada Cin Han
Cin Han menangkap kelinci itu dengan mudah
Setelah Cin Han menangkapnya, kelinci itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, namun Cin Han memegangnya dengan kuat
"Nah, sekarang setelah kau tangkap, apa yang akan kau lakukan? Membunuhnya?
Menyembelihnya lalu memanggang dan makan dagingnya ?" Cin Han menjadi bingung dan dia memandang kelinci yang berada di tangannya itu
Harus diakuinya bahwa selama hidupnya, belum pernah dia menyembelih kelinci
Apa lagi kelinci, seekor ayampun belum pernah dia menyembelihnya
"Omitohud
lihat baik baik kedua matanya itu, Cin Han
Apakah engkau tidak melihat betapa ia ketakutan dan mata itu menjadi basah oleh air mata? Dan suaranya itu, bukankah ia sedang menangis dan minta dilepaskan? Tegakah engkau menyembelihnya, melihat darah merah muncrat membasahi bulunya yang lembut bersih itu?" Cin Han bergidik dan diapun melepaskan kelinci itu yang segera berlari lenyap ke dalam lemak-lemak belukar
Cin Han tadi merasa betapa jantung kelinci itu berdenyut keras dan betapa napasnya memburu, tanda dari ketakutan
"Tidak, Suhu
Teecu tidak dapat membunuhnya! Teecu belum pernah membunuhnya walaupun pernah makan daging kelinci
" Kakek itu tertawa dan merasa lega
Bagaimanapun juga, anak ini masih memiliki kepekaan dan hatinya tidak kejam
Diapun lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol, mengeluarkan bungkusan dari balik jubahnya yang lebar dan robek-robek oleh serangan lima orang pemburu tadi
"Engkau lapar? Pincengpun lapar
Nah, mari kita makan seadanya
" Dibukanya bungkusan itu dan ternyata berisi roti basah dan sayur asin
Tanpa sungkan lagi Cin Han ikut makan dan bukan main lezatnya roti sederhana dan sayur asin itu bagi perut yang lapar
Dia makan dengan lahap, tidak malu dilihat suhunya yang tersenyum-senyum
Setelah mereka selesai makan dan melanjutkan perjalanan, Cin Han bertanya, "Suhu, siapakah lima orang tadi dan mengapa mereka menyerang suhu ?" "Pinceng tidak mengenal mereka
Mereka memburu binatang dan ketika mereka mengintai sekelompok kijang, siap untuk membunuh, pinceng merasa tidak tega dan pinceng berteriak mengejutkan kijang-kijang itu yang melarikan diri
Para pemburu itu marah dan menyerang pinceng
" "Mereka itu jahat sekali, suhu
Akan tetapi suhu memiliki ilmu kepandaian tinggi, kenapa suhu tidak melawan ketika dipukuli dan ditendangi ? Kenapa suhu demikian sabar?" tanya Cin Han yang masih merasa penasaran
"Bersabar adalah suatu penekanan amarah, Cin Han
Pinceng tidak bersabar, karena pinceng tidak marah
Engkau tidak perlu belajar untuk bersabar, karena kesabaran itu baru dibutuhkan kalau ada kemarahan dalam batin
Yang penting adalah melenyapkan amarah seluruhnya dari dalam batin
Kalau sudah tidak ada kemarahan lagi, siapa yang membutuhkan kesabaran?" Dalam usia sepuluh tahun, sukarlah bagi Cin Han untuk dapat menyalami kebenaran yang diucapkan oleh Hek-bin Lo-han itu, kelak barulah dia mengerti bahwa yang dimaksud-kan oleh gurunya adalah bahwa kebajikan dalam kehidupan tidak mungkin dilatih, tidak mungkin dipupuk, tidak mungkin dicari
Yang mungkin kita lakukan adalah mengenal semua keburukan yang ada pada kita, dalam batin kita
Yang dapat kita lakukan adalah meniadakan semua keburukan itu, melenyapkan semua kotoran yang mengeruhkan batin, antari lain kemarahan, kebencian, iri hati, pementingan diri pribadi, pengejaran kesenangan karena semua itu mendatangkan duka
Kalau sudah tidak ada marah dalam hati, tak perlu belajar sabar lagi, karena keadaan tidak marah itulah kesabaran
Kalau sudah tidak ada duka dalam batin tidak perlu lagi mencari kebahagiaan karena keadaan tanpa duka itulah kebahagiaan
Malam telah tiba, ketika akhirnya mereka tiba di kuil yang terletak di puncak bukit itu
Kuil itu cukup besar dengan halaman luas dan di belakang kuil terdapat perkebunan sayur yang terawat dengan baik
Kuil kuno ini dihuni oleh tiga puluh lebih orang hwesio, dipimpin oleh Thian Cu Hwesio, seorang hwesio berusia enam puluh tahun, tokoh Siauw-lim-pai
Thian Cu Hwesio inilah yang puluhan tahun lalu menemukan kuil tua yang tidak terpakai lagi itu, sebuah bangunan yang sebagian sudah rusak
Dia lalu mengajak beberapa orang hwesio lain untuk membangun kembali kuil ini karena letaknya baik, tanah di sekitarnya juga subur
Kemudian dia memimpin beberapa orang hwesio mendiami kuil itu dan makin lama, makin banyak saja murid yang menjadi hwesio di situ, melaksanakan kehidupan yang penuh damai dan sejahtera
Pekerjaan mereka setiap hari adalah bercocok tanam, memperdalam pengetahuan agama, berdoa, juga kadang-kadang mereka turun bukit untuk menyebarkan pelajaran agama, juga untuk menolong rakyat dengan segala kemampuan mereka yang ada
Akhirnya kuil itupun terkenal di antara para penghuni perdusunan di sekeliling bukit itu, menjadi tempat bagi mereka untuk berobat, berdoa dan pelarian dari duka
Hek-bin Lo-han baru lima tahun bekerja di kuil itu sebagai kepala dapur
Dia adalah seorang bekas kepala perampok yang telah bertaubat
Dia diterima oleh Thian Cu Hwesio dan setelah bekerja di situ selama tiga tahun, tekun mempelajari kitab agama dan berdoa, Thian Cu Hwesio lalu menerimanya menjadi hwesio dan memberinya julukan Hek-bin Lo-han
Karena dia rajin dan kuat maka dia diangkat menjadi kepala bagian dapur, mengepalai beberapa orang hwesio muda yang bekerja di dapur
Ketika Hek-bin Lo-han dan Cin Han tiba di halaman kuit, hwesio itu berkata, "Hwesio kepala kuil dalam waktu seperti ini tentu sedang samadhi, Biar pinceng yang menghadap dan melapor
Engkau menanti dulu di sini
" Cin Han yang ditinggal masuk oleh gurunya, melihat betapa halaman itu agak kotor oleh daun kering yang rontok tertiup angin
Di situ terdapat pula sebatang sapu, maka sebagai seorang anak yang tahu diri, diapun mengambil sapu dan disapunyalah halaman itu
"Sumoi, ini ada kacung baru
Bagus sekali untuk melatih tiam-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah) yang baru saja kita pelajari !" "Tapi, suheng (kakak seperguruan)
Kita disuruh belajar mempergunakan patung manusia di ruangan latihan itu!!" "Jauh lebih baik menggunakan manusia sungguh dari pada sebuah patung yang kebal terhadap totokan, sumoi (adik perempuan seperguruan)!" Cin Han yang masih menyapu melihat seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun dan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun sedang berjalan menghampirinya
Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan itu
Akan tetapi mereka kini telah berada di dekatnya dan anak laki-laki yang memiliki sepasang alis tebal itu memegang pundaknya
"Heii, siapa engkau ? Apakah engkau kacung baru di kuil ini?" Cin Han mengangguk
"Benar, nama saya Bu Cin Han, kacung baru
" "Bagus!! Cin Han, kami adalah murid-murid suhu Thian Cu Hwesio, dan kami sedang latihan
Maukah engkau membantu kami latihan dengan menjadi pengganti patung agar kami dapat mempraktekkan ilmu totokan kami?"
Cin Han memandang kepadanya, lalu kepada anak perempuan itu
Seorang anak perempuan yang mungil dan cantik, sepasang pipinya merah dan matanya indah dan jeli
Dia-pun mengangguk
Dengan girang anak laki-laki itu minta agar dia membuka baju atasnya
Biarpun merasa heran, Cin Han membuka bajunya
Mereka mengajak Cin Han berdiri di bawah lampu gantung di serambi depan
Dan tiba-tiba saja anak laki-laki itu menotok pundak kirinya dekat leher