Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 13

Memuat...

"Sssttttt, Nona jangan bicara terlalu keras.."

Tukang perahu makin pucat.

"Dan Tuan Muda harap suka memberikan uang sewa sekarang juga kepada saya, jangan di depan mereka itu.."

"Tidak, Lopek. Kami malah hendak melihat apa yang mereka akan lakukan terhadapmu. Jangan khawatir, kalau mereka berani merampokmu, kami akan memberi hajaran kepada mereka,"

Kata Bu Sin. Dengan terpaksa tukang perahu minggirkan perahunya. Empat orang pengemis itu menoleh ke arah perahu. Seorang di antara mereka yang hidungnya bengkok, menguap lalu berkata keras tanpa berdiri dari tempat duduknya di atas tanah.

"Heee, tukang perahu, dari manakah kau?"

Mengherankan sekali melihat seorang pengemis menegur secara begini dan si tukang perahu menjawab dengan sikap hormat,

"Kami datang dari daerah Propinsi Shen-si, dusun La-kee-bun dekat Sungai Han."

Empat orang pengemis itu sekarang berdiri mengulet dan menguap. Si Hidung bengkok melangkah lebar menghampiri, tanpa pedulikan Bu Sin dan dua orang adik perempuannya yang sudah meloncat turun dan berdiri memandang dengan mata tajam.

"Ho-ho-ho-ho, perjalanan yang jauh sekali. Tentu biayanya banyak. Berapa kau terima?"

"..hanya.. hanya dua puluh tail.. itupun belum saya terima.."

Jawab si tukang perahu ketakutan.

"Goblok benar"

Sejauh itu hanya dua puluh tail? Kau ditipu"

Atau kau yang bohong. Setidaknya harus lima puluh tail"

"Betul, sahabat. Hanya dua puluh tail, akan tetapi Tuan Muda dan kedua Nona ini membagi makan dengan saya dan.."

Lin Lin sudah tidak sabar lagi mendengarkan percakapan ini. Ia melangkah maju dan telunjuk kanannya yang runcing menuding muka pengemis itu.

"Hih, kau ini pengemis tukang minta-minta ataukah perampok? Ada sangkut-paut apa denganmu tentang urusan kami dengan tukang perahu?"

"Ha-ha-ha, Loheng (Kakak), kau lihat anak ayam ini. Nona cantik, kau belum mengenal kami, ya? Kalau kau tahu siapa aku, hemmm, kau akan lari terkencing-kencing"

Empat orang pengemis itu tertawa mendengar ucapan terakhir ini.

"Gembel busuk, Siapa sudi mengenal macammu? Aku hanya tahu bahwa kau seorang gembel kotor yang berhidung bengkok. Minggat dari sini kalau kau tidak ingin aku membikin hancur hidungmu yang bengkok dan menjijikkan itu"

Lin Lin membentak dan melangkah maju. Bu Sin dan Sian Eng yang sudah mengenal watak Lin Lin, tidak mau mencegah, apalagi mereka memang mendongkol menyaksikan sikap para pengemis itu. Mereka siap menghadapi pertempuran dan membantu Lin Lin. Pengemis berhidung bengkok marah sekali. Dengan sikap memandang rendah ia mendekati Lin Lin.

"Bocah liar, kau perlu dihajar"

Lengannya yang panjang itu diulur maju dengan jari-jari tangan terbuka, agaknya hendak menangkap Lin Lin. Gadis ini tentu saja tidak sudi membiarkan pengemis itu menyentuhnya. Tubuhnya berkelebat cepat sekali, kaki kirinya melayang ke atas dan"

"prakkk"

Ujung sepatunya telah mencium muka pengemis itu dengan keras. Si pengemis terhuyung ke belakang, mengaduh kesakitan sambil menutupi mukanya. Darah bercucuran keluar dari hidungnya yang kini menjadi makin miring dan bengkok ke kiri. Matanya yang kanan menjadi hitam dan tak dapat dibuka lagi.

"Setan cilik, kalian berani mencari perkara dengan kami orang-orang dari Pek-ho-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bangau Putih)?"

Tiga orang pengemis yang lain lalu bergerak menerjang Lin Lin. Gadis ini tertawa mengejek dan menghadapi mereka tanpa gentar sedikitpun juga. Bu Sin dan Sian Eng tentu saja tidak mau berpeluk tangan melihat Lin Lin hendak dikeroyok.

"Gembel-gembel jahat, jangan kurang ajar"

Sian Eng berseru dan tubuhnya berkelebat menghadapi seorang pengemis. Bu Sin tanpa mengeluarkan suara juga menerjang maju menghadapi pengemis ke dua. Adapun pengemis yang memaki tadi, sudah bertanding melawan Lin Lin. Tiga orang muda ini tidak mau mempergunakan pedang ketika melihat bahwa lawan mereka hanyalah orang biasa saja yang mengandalkan ilmu silat pasaran dan hanya pandai main gertak saja. Lin Lin menghadapi lawannya sambil tertawa-tawa, mempermainkannya dengan kelincahan tubuhnya sehingga semua serangan lawan itu hanya mengenal angin kosong belaka.

Tempat yang tadinya sunyi itu kini penuh orang karena mereka ingin menonton pertempuran itu. Kejadian yang amat mengherankan mereka, akan tetapi diam-diam mereka mengkhawatirkan keselamatan tiga orang muda itu. Hampir setahun lamanya para pengemis Pek-ho-kai-pang itu merajalela, tak seorang pun berani menentang mereka. Sekarang ada tiga orang muda asing yang datang-datang bertempur melawan pengemis-pengemis itu, tentu saja mereka amat tertarik dan berbondong-bondong datang menonton. Bahkan orang-orang dalam kota Wu-han yang mendengar berita ini, bergegas datang untuk menonton. Akan tetapi banyak di antara mereka terlambat karena ketika mereka datang ke pinggir sungai, pertempuran itu sudah selesai.

Bu Sin yang wataknya pendiam dan tidak mau main-main, segera dapat merobohkan lawannya dengan sebuah tendangan kilat. Pengemis itu terlempar, bergulingan dan tak dapat tertahan lagi tubuhnya menggelinding ke dalam sungai. Sian Eng juga merobohkan lawannya semenit kemudian. Pukulannya dengan tangan miring yang "memasuki"

Lambung lawan membuat pengemis lawannya itu roboh menekan-nekan perut dan meringis kesakitan, duduk berjongkok tak tentu geraknya, tapi tidak mampu bangun kembali.

"Berhenti"

Lin Lin membentak dengan mengulur lengannya ke depan, menyetop pengemis yang menjadi lawannya. Pengemis itu kaget, mengira gadis itu benar-benar hanya menyetopnya saja. Ia pun berdiri dengan memasang kuda-kuda dan memandang heran.

"Berhenti dulu sebentar, ya?"

Lin Lin melangkah mendekati pengemis bekas lawan cicinya yang kini mendekam di atas tanah itu. kakinya bergerak dan.. tubuh pengemis itu terlempar ke dalam sungai menyusul kawannya. Setelah melakukan hal ini, Lin Lin menghampiri lawannya kembali yang masih berdiri memasang kuda-kuda, lalu berkata manis.

"Nah, sekarang boleh teruskan"

Sikap gadis yang lincah jenaka ini memancing ledakan ketawa daripada para penonton.

Memang sudah terlalu lama mereka tertekan oleh para pengemis, merasa penasaran dan marah yang ditahan-tahun. Sekarang ada tiga orang muda memberi hajaran, hati mereka lega dan pues. Biarpun biasanya mereka takut terhadap para pengemis Pek-ho-kai-pang, sekarang menyaksikan sikap gadis remaja yang cantik jelita dan jenaka itu, mereka tak dapat menahan kegembiraan mereka. Lawan Lin Lin marah bukan main, sedangkan pengemis hidung bengkok yang menjadi orang pertama mendapatkan hajaran, siang-siang sudah meninggalkan tempat itu sambil mendekap hidungnya yang remuk. Kemarahan lawan Lin Lin membuat Lin Lin makin gembira. Ia tidak peduli betapa pengemis itu sudah mengeluarkan sebatang tongkat dan menyerang dengan tongkat di tangan.

"Wah, baunya yang tidak tahan"

Lin Lin menggunakan tangan kiri memijat hidungnya dan kini hanya menghadapi tongkat pengemis itu dengan tangan kanan saja. Memang lincah sekali gerakan Lin Lin. Tongkat itu biarpun diputar dan dipukul-pukulkan bertubi-tubi, tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya. Malah beberapa kali, dengan gerakan kilat, gadis ini sudah berhasil memutar ke belakang lawannya dan mengirim tendangan ke arah pantatnya sampai mengeluarkan suara

"plokkk"

Dan debu mengebul dari celana yang kotor itu. Para penonton terkekeh-kekeh geli dan ada yang memegangi perut saking menahan tawa.

"Lin-moi, lekas bereskan dia"

Bu Sin mengerutkan kening, membentak adiknya.

"Sudah beres, Sin-ko"

Jawab Lin Lin dan entah bagaimana lawannya tidak mengerti, tahu-tahu tongkatnya sudah terampas di tangan kanan gadis itu dan kini ia terpaksa terhuyung-huyung mundur dan miring ke kanan kiri karena digebuki dengan tongkatnya sendiri. Lin Lin terus menggebuk pundak, mendorong dada dan akhirnya pengemis yang mundur-mundur itu terjengkang masuk ke dalam sungai. Karena takut dipermainkan terus oleh Lin Lin, tiga orang pengemis itu membiarkan tubuh mereka hanyut oleh air sungai dan baru berenang mendarat setelah agak jauh dari tempat. Adapun Bu Sin segera membayar tukang perahu yang ketakutan dan menyuruhnya cepat-cepat pergi dari situ. Tanpa diperintah dua kali, si tukang perahu lalu mendayung perahunya sepanjang pinggir sungai melawan arus yang tidak begitu kuat.

Bu Sin maklum bahwa mereka telah membuat ribut di tempat ini, maka ia segera mengajak kedua orang adiknya untuk memasuki kota Wu-han, tidak mempedulikan orang-orang yang tadinya menonton dan kini memandang kepada mereka penuh kekaguman dan kekhawatiran sambil membicarakan peristiwa tadi. Karena malam telah tiba dan mereka merasa lelah sehingga tak mungkin melanjutkan perjalanan di waktu malam, Bu Sin mengajak dua orang adiknya bermalam pada sebuah rumah penginapan yang berada di sebelah timur pusat kota. Sebuah rumah penginapan yang sederhana, namun cukup bersih. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah penginapan, mereka tidak pernah melihat adanya pengemis. Lega hati Bu Sin, karena ia sudah merasa khawatir kalau-kalau urusan itu berkepanjangan dan mereka akan menemui kesulitan dari kawan-kawan empat orang pengemis tadi.

"Wah, cerita empek tukang perahu tadi dilebih-lebihkan."

Kata Lin Lin.

"Katanya di sini berkeliaran banyak pengemis jahat, mana buktinya? Hanya empat ekor cacing tanah tadi yang tiada gunanya sama sekali."

"Eh, Lin-moi, kenapa sih kau agaknya ingin sekali melihat pengemis-pengemis lagi? Mau apa?"

Post a Comment