Bu Kek Siansu terkekeh girang, lalu ia berdiri. Suling Emas tetap duduk bersila dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan tenaga sin-kangnya ia dapat membuka mata tanpa berkedip berjam-jam lamanya.
"Lihat dan ingat baik-baik semua huruf ini, orang muda,"
Terdengar Bu Kek Siansu berkata dan mulailah kakek lambat-lambat, kedua lengannya bergerak-gerak ke depan, mencorat-coret ke atas dan ke bawah, kedua kakinya bergerak selalu, juga geserannya berupa corat-coret membentuk huruf yang disesuaikan dengan coretan bagian atas dengan kedua tangannya. Suling Emas girang sekali bahwa dia dahulu adalah seorang yang amat tekun mempelajari ilmu sastra, sehingga ia hafal akan sepuluh ribu macam huruf. Ia melihat betapa gerakan yang dilakukan oleh kakek itu merupakan coretan-coretan huruf-huruf yang amat indah dan kuat. Lebih mudah baginya untuk mengingat karena ternyata setelah kakek itu melakukan belasan jurus, huruf-huruf itu membentuk sajak-sajak dalam pelajaran Nabi Khong Hu Cu yang ayat pertamanya berbunyi:
THIAN BENG CI WI SENG (Anugerah Tuhan Adalah Watak Aseli).
Tentu saja ia sudah hafal akan ayat-ayat kitab TIONG YONG ini, maka ia tidak perlu lagi untuk mengingat-ingat susunan kalimatnya, hanya perlu mengingat jurus gerakan setiap huruf. Hal ini menguntungkan Suling Emas, karena perhatiannya tidak terpecah dan setelah menyaksikan beberapa belas huruf ia sudah dapat menyelami inti sarinya sehingga selanjutnya ia dapat menduga bagaimana huruf-huruf lain dibentuk dalam gerakan silat itu. Setelah lewat seratus huruf, biarpun kini Bu Kek Siansu bersilat dengan luar biasa cepatnya, ia sudah dapat mengerti dengan baik bagaimana harus bersilat menurut goresan dalam pembentukan huruf-huruf suci itu.
Saking tertarik dan tekunnya, tanpa ia sadari dan sengaja, Suling Emas sudah bangkit dari atas tanah, dan otomatis ia juga bersilat, bukan meniru gerakan Bu Kek Siansu lagi, melainkan ia melanjutkan huruf-huruf yang belum dimainkan, sesuai dengan bunyi sajak dalam ayat-ayat kitab TIONG YONG.
"Cukup, tidak sia-sia kali ini aku berlelah-lelah."
Bu Kek Siansu tertawa gembira.
"Dan saat pertemuan inipun sudah cukup, kau boleh turun dari puncak sekarang juga."
Suling Emas menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih lalu berkata,
"Budi Locianpwe terlalu besar terhadap teecu, bagaimana teecu berani memutuskan pertemuan penting ini sedemikian singkat? Teecu mohon petunjuk."
"Ha-ha-ha, tidak ada manusia di dunia ini yang merasa puas dengan keadaannya sendiri. Siapa mengenal kepuasan dalam setiap keadaan, dialah manusia bahagia yang dapat menikmati berkah Tuhan. Orang muda, kiranya dengan kepandaian yang kau miliki ini, kau berada di persimpangan jalan yang dapat membawa kau ke jurang kejahatan, juga dapat membawamu ke alam murni. Hanya tokoh-tokoh terbesar dari golongan hitam dan putih saja yang sejajar dengan tingkat kepandaianmu."
"Maaf akan kebodohan dan kecupatan pengetahuan teecu, Locianpwe. Bolehkah teecu menambah pengetahuan dengan mengenal nama-nama tokoh-tokoh itu?"
"Ha-ha, mereka yang selama ini menyembunyikan diri, setelah sekarang Kerajaan Sung berdiri, mereka mulai menampakkan diri, agaknya terpikat akan keadaan baru di dunia ini. Golongan hitam amat banyak tokohnya, akan tetapi kiranya hanya ada enam orang yang terkenal dengan sebutan Thian-te Liok-koai (Enam Setan Dunia). Kau tentu sudah mengenal siapa mereka, bukan?"
"Teecu pernah mendengar, akan tetapi belum pernah bertemu muka dengan mereka."
"Ha-ha-ha, yang tiga orang tadi siapakah? Mereka adalah tiga di antara Liok-koai itu. Yang tiga orang lagi adalah Toat-beng Koai-jin (Setan Pencabut Nyawa), Tok-sim Lo-tong (Anak Tua Berhati Racun), dan Cui-beng-kwi (Setan Pengejar Roh). Kau berhati-hatilah terhadap enam orang ini. Mereka amat lihai dan memiliki kepandaian tinggi sekali."
"Terima kasih, Locianpwe, akan teecu ingat benar pesan Locianpwe."
"Adapun tokoh-tokoh golongan putih, juga banyak akan tetapi mereka itu tidak suka menonjolkan diri, suka bersembunyi, di antaranya mendiang gurumu. Orang-orang seperti Kim-lun Seng-jin (Manusia Suci Roda Emas), dan Gan-lopek (Empek Gan) termasuk orang-orang luar biasa yang sukar dipegang ekornya ditentukan bulunya. Sudahlah, kelak kalau kau mempunyai nasib bertemu dengan mereka, kau akan dapat menilai sendiri. Sekarang pergilah, doaku selalu bersamamu selama kau tidak menyeleweng daripada kebenaran."
Suling Emas memberi hormat, kemudian pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi. Memang kepandaiannya sudah tinggi tingkatnya, sebentar saja seperti seekor garuda terbang, ia sudah menuruni Thai-san dan setelah tiba di kaki gunung, barulah ia menengok, bukan terkenang kepada siapa-siapa melainkan untuk mengagumi puncak Thai-san yang kini tertutup awan putih itu.
"Awan putih sudah tinggi, masih ada puncak Thai-san yang melewatinya. Namun dibanding dengan langit, puncak Thai-san masih terlalu rendah."
Bibirnya membisikkan sebagian daripada sajak kuno yang pada saat itu terlintas dalam ingatannya. Kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar sambil termenung mengingat kembali Kim-kong Sin-im dan Hong-in Bun-hoat yang baru saja ia terima dari Bu Kek Siansu.
Bu Kek Siansu masih berdiri seperti patung memandang ke arah perginya Suling Emas, kemudian ia berbisik kepada diri sendiri,
"Manusia bertemu dengan penderitaan hidup kalau ia mengharapkan kesenangan hidup. Dia dapat menahan derita hidup dengan tenang tanpa penyesalan, benar-benar seorang muda yang kuat. Kesenangan dikejar, penderitaan didapat, baru mendapatkan kekuatan batin. Mengapa manusia harus mengalami semua ini? Mengapa?"
Bu Kek Siansu mengeluarkan sebuah kitab kecil dari saku jubahnya dan membacanya sambil berdiri. Pada saat itu tiga bayangan orang muncul secepat terbang mendaki puncak. Bu Kek Siansu menyimpan kembali kitabnya di saku, mengambil alat musik khim dan menggantungkannya di punggung. Kemudian dipandangnya tiga orang di depannya itu sambil tersenyum ramah.
"Bukankah kau Bu Kek Siansu?"
Tanya It-gan Kai-ong. Kakek tua renta itu mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Kebetulan sekali. Dunia kang-ouw mengabarkan bahwa setiap tahun, pada hari pertama musim semi, kau akan muncul di dunia dan membagi-bagi ilmu. Hari ini adalah hari pertama musim semi, ilmu apakah yang dapat kau berikan kepadaku?"
Bu Kek Siansu tidak marah mendengar ucapan yang tidak sopan itu, ia hanya tersenyum.
"Aku pun menghadap padamu pada permulaan musim semi untuk minta diwarisi ilmu silat yang sakti, Bu Kek Siansu,"
Kata Siang-mou Sin-ni sambil melangkah maju.
"Yang datang menghadap adalah kami bertiga bukan hanya kau berdua,"
Hek-giam-lo menyusul dengan suaranya yang dalam. Bu Kek Siansu mengangkat kedua lengannya ke atas sambil tertawa.
"Jangan khawatir, aku si tua tidaklah kikir dengan ilmu, hanya aku khawatir ilmu-ilmu yang kukenal tidak akan berjodoh dan cocok dengan pribadi kalian bertiga. Ketahuilah, bahwa ilmu-ilmuku hanya dapat diterima oleh orang yang menjauhkan diri daripada rasa dengki, iri, murka, benci dan kejam. Tanpa dapat menjauhkan sifat-sifat ini, ilmu yang kuturunkan bukan hanya tak ada gunanya, malah mungkin akan merugikan tubuh sendiri. Nah, ilmu apakah yang hendak kalian minta?"
Tiga orang sakti itu saling pandang. Sifat-sifat yang disebut kakek itu tadi bukanlah sifat yang aneh apalagi pantang bagi golongan hitam mereka. Malah sifat kejam merupakan ukuran untuk kelihaian seseorang. Makin tinggi tingkatnya, harus makin kejam, karena siapa yang kurang kejam, berarti mempunyai kelemahan dan hal ini amat memalukan"
Tentu saja mereka tidak sudi menerima ilmu dengan ikatan seperti itu.
"Bu Kek Siansu, tadi kami mendengar nyanyianmu yang mengharuskan orang membalas benci dengan kasih. Apakah kau termasuk orang yang tidak mempunyai rasa benci?"
"Mudah-mudahan Thian menguatkan batinku dan membungkus seluruh pikiran dan hatiku dengan sinar kasih-Nya."
"Jadi kau tidak membenci golongan kami? Tidak akan membeda-bedakan dengan golongan lain?"
Bu Kek Siansu menggeleng kepala. Tentu saja ia dapat melakukan hal ini dengan mudah.
"Kalau begitu,"
Kata pula It-gan Kai-ong.
"kau jangan pilih kasih. Tadi kau turunkan dua macam ilmu kepada Suling Emas. Nah, kami pun minta kau turunkan ilmu-ilmu itu kepada kami."
"Betul, aku menghendaki dua ilmu itu,"
Kata Siang-mou Sin-ni.
"Ilmu-ilmu apa tadi itu dan apa namanya?"
Hek-giam-lo menyambung.
"Ha-ha-ha, kalian bertiga memang bermata tajam, tidak percuma menjadi tiga di antara Thian-te Liok-koai"
Memang tadi aku menurunkan dua macam ilmu kepada Suling Emas yang disebut Kim-kong Sin-im dan Hong-in Bun-hoat. Akan tetapi entah kalian dapat mengerti kedua ilmu itu dan menyukainya, tergantung kepada kalian sendiri Bagaimana?"
Karena mereka bertiga tadi sudah merasakan sendiri bagaimana hebatnya kepandaian Suling Emas tanpa mereka ketahui bahwa sebetulnya yang meruntuhkan pedang-pedang itu adalah Bu Kek Siansu yang ingin mencegah terjadinya pertempuran selanjutnya antara orang-orang sakti itu, maka tentu saja mereka merasa iri hati dan ingin mendapatkan ilmu yang tadi diwarisi oleh Suling Emas.
"Tidak perlu banyak cerewet, lekas perlihatkan Kim-kong Sin-im"
Kata pula It-gan Kai-ong yang memang selalu bersikap kasar terhadap siapa pun juga. Baginya makin kasar sikapnya, makin baik dan berwibawa dan gagah"
"Kalian juga setuju?"
Bu Kek Siansu yang masih tetap tersenyum itu bertanya kepada Siang-mou Sin-ni den Hek-giam-lo. Keduanya meragu sejenak, akan tetapi terpaksa mengangguk karena tidak ada pilihan lain. Seperti juga It-gan Kai-ong, kedua orang sakti ini masih memandang rendah kepada Bu Kek Siansu dan mereka menaruh curiga kalau-kalau kakek tua renta ini akan menipu dan mempermainkan mereka.