"Maaf, Locianpwe (Kakek Sakti), benarkah dugaan saya bahwa Locianpwe adalah Bu Kek Siansu?"
Kakek itu tertawa dan tampaklah keganjilan pada mukanya karena di balik bibirnya itu tampak berderet dua baris gigi yang masih utuh dan rapi.
"Tidak salah, anak muda. Semoga dengan tibanya musim semi, Yang Maha Murah akan melimpahkan berkah kepadamu.."
Suling Emas terkejut dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. Ia merasa malu karena ucapan selamat pada Hari Musim Semi itu didahului oleh kakek ini.
"Locianpwe, maafkan kelancangan teecu tadi, Teecu menghaturkan Selamat Musim Semi, semoga Locianpwe selalu sehat, bahagia dan dikurniai usia panjang."
"Ha-ha-ha-ha, anak muda lucu, kau rangkaikan sehat dan usia panjang dengan bahagia. Apa kau kira kalau sudah sehat itu pasti berusia panjang, dan kalau berusia panjang itu pasti bahagia? Ha-ha-ha"
"Teecu mohon petunjuk, Locianpwe."
"Sulingmu tadi mainkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) dan kipasmu mainkan Ilmu Kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Kacau Lautan), apamukah Kim-mo Taisu?"
Suling Emas terkejut sekali dan cepat ia mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh bumi.
"Kiranya Locianpwe yang tadi menolong teecu dari pengeroyokan tiga manusia iblis, teecu menghaturkan terima kasih. Kim-mo Taisu yang Locianpwe tanyakan adalah mendiang Suhu, dan beliaulah yang dahulu berpesan kepada teecu agar teecu mencari kesempatan pada tiap hari pertama musim semi untuk menjumpai Locianpwe dan mohon petunjuk."
"Ha-ha-ha, Thian sungguh adil dan bijak, hari ini memberi hadiah dengan jodoh yang amat baik. Jadi Kim-mo Taisu itu gurumu? Dia sudah mati lebih dulu daripada aku? Ha-ha, aku berani mengatakan bahwa dia tentu mati dalam tugas sebagai pahlawan. Memang sejak dulu dia mempunyai jiwa patriot."
"Tidak salah dugaan Locianpwe. Suhu tewas ketika terjadi perang terhadap bangsa Khitan di daerah Ho-peh, Suhu roboh oleh pengeroyokan jago-jago Khitan. Teecu hanya terluka, tapi tidak dapat mencegah terjadinya hal itu."
Suara Suling Emas melirih, akan tetapi sama sekali tidak terdengar kesedihan. Hatinya sudah terlalu masak dan mengeras untuk dapat dikuasai kesedihan.
"Hemmm, belasan tahun ia bersusah payah membantu Cao Kwang Yin dalam usahanya mendirikan Wangsa Sung. Sampai Cao Kwang Yin menjadi Kaisar Sung Tai Cu, gurumu masih terus membantunya dan akhirnya mengorbankan nyawa. Dia seorang patriot tulen, tanpa pamrih, tidak mengejar pangkat, hanya ingin melihat negara kuat dan rakyatnya hidup makmur. Betapapun juga, segala sesuatu sudah direncanakan dan akan diatur pelaksanaannya oleh Tuhan. Orang muda, siapa namamu?"
"Teecu dikenal sebagai Kim-siauw-eng, dan teecu tidak menggunakan nama lain lagi."
"Ha-ha, begini muda, sudah menelan kepahitan hidup. Hati-hati, orang muda, kepatahan hatimu dapat mendorongmu menjadi tidak peduli seperti sekarang ini, melupakan yang lewat, dan akhirnya kalau tidak kuat-kuat batinmu, dapat membuat kau menjadi seorang yang kejam. Baiknya belum sejauh itu kau tersesat, buktinya kau masih mau mengubur jenazah-jenazah itu."
"Maaf, Locianpwe. Teecu cukup dapat membedakan mana jahat mana baik, biarpun teecu sengaja meninggalkan hidup yang lewat untuk.. untuk.."
"Melupakan kepahitan yang mematahkan hatimu?"
Suling Emas hanya mengangguk lalu menundukkan muka.
"Teecu mohon petunjuk."
"Kau berjuluk Suling Emas, tentu pandai bermain suling. Hayo perdengarkan suara sulingmu, dan kita coba-coba main bersama sulingmu dengan khim yang kumainkan, mencari keserasian."
Kakek itu lalu duduk di atas rumput, menurunkan alat musiknya yang mempunyai tujuh buah kawat itu.
Suling Emas girang sekali. Sebagai seorang murid gemblengan dari orang sakti Kim-mo Taisu, tentu saja ia maklum bahwa bermain musik bagi seorang seperti Bu Kek Siansu, berarti berlatih atau menguji kepandaian lwee-kang dan ilmu silat tinggi. Ia segera duduk bersila, mengatur pernapasan, lalu meniup sulingnya. Bu Kek Siansu tersenyum mendengar lengking suling yang tinggi mengalun dan merdu, bersih dan nyaring itu. Jari-jari tangannya lalu mulai menyentuh kawat pada khimnya, terdengar suara cring-cring-cring tinggi rendah.
Suling Emas kaget bukan main. Begitu suara kawat khim itu berbunyi, napasnya jadi sesak dan suara sulingnya terdesak hebat sampai menurun rendah sekali. Ia segera meramkan kedua matanya, memusatkan panca indra, mengerahkan seluruh tenaga sin-kang di dalam tubuhnya, mengatur pernapasan sepanjang dan mungkin sampai memenuhi pusarnya, dan semua tenaga yang dikumpulkan ini ia salurkan melalui suara sulingnya yang kini menjadi bening dan tinggi kembali. Akan tetapi permainan khim dari Bu Kek Siansu juga makin hebat. Suara nyaring tinggi rendah dari kawat-kawat itu merupakan jurus-jurus penyerangan yang lebih hebat daripada tusukan-tusukan pedang pusaka. Lebih hebat daripada gempuran tangan sakti, kadang-kadang bergelombang datangnya, bertubi-tubi dan makin lama makin kuat seperti ombak samudera.
Keadaan Suling Emas amat terdesak. Orang muda ini meniup suling sambil meramkan mata, keningnya berkerut dan uap putih menyelubungi kepalanya, saking hebatnya tenaga sin-kang bekerja di tubuhnya. Ia berusaha sedapat mungkin untuk menangkis dan melindungi dirinya dari gelombang yang menghanyutkan, akan tetapi usahanya itu seperti seorang pelajar renang mencoba untuk berenang melawan badai dan taufan mengamuk di lautan. Ia sebentar tenggelam sebentar timbul, sebentar terseret dam terhanyut kemudian dibantingkan ke atas setinggi gunung lalu dihempaskan ke bawah seperti dilempar ke neraka. Beberapa kali hampir ia pingsan namun semangatnya yang pantang mundur membuat kenekatannya bulat dan ia tetap sadar. Dengan tekun ia memperhatikan gaya penyerangan dari suara khim itu, dan terciptalah dalam otaknya inti sari jurus-jurus penyerangan ilmu silat yang amat tinggi dan ajaib.
Bu Kek Siansu di samping menuntun dan memberi petunjuk, agaknya juga hendak menguji kekuatannya. Suara khim itu makin mendesak, menekan dan pada saat terakhir Suling Emas hampir tak kuat lagi, kepalanya pening, matanya melihat seribu bintang, tubuhnya menggigil dan peluhnya sebesar kacang kedelai memenuhi jidatnya. Tiba-tiba, berbareng dengan berhentinya sama sekali suara suling yang makin melemah dan makin habis itu, berhenti pula suara khim. Suasana hening bening, sunyi senyap. Suling Emas dengan wajah pucat dan napas terengah merasa seakan-akan batu seberat gunung yang menindih kepalanya, diangkat orang. Ia menyalurkan hawa secara normal dan pernapasannya kembali dalam keadaan normal.
"Ha-ha-ha, tidak kecewa kau menjadi murid Kim-mo Taisu."
Suling Emas membuka kedua matanya, lalu berlutut.
"Banyak terima kasih atas petunjuk Locianpwe yang amat berharga."
"Orang muda, bakatmu memang luar biasa. Pantas saja Kim-mo Taisu mengangkatmu sebagai murid. Manusia hidup mengejar ilmu. Ilmu harus dipergunakan di dunia ini untuk kemajuan hidup, untuk mengabdi kebajikan, dan memberantas kejahatan. Apa artinya mempelajari ilmu kalau tak mampu mempergunakan sebagaimana mestinya? Apa pula artinya puluhan tahun mempelajari ilmu kalau kesemuanya itu kelak dibawa mati? Karena inilah maka setiap tahun, hari pertama musim semi, aku selalu mencari jodoh untuk menurunkan beberapa ilmu yang berhasil kuciptakan. Siapa dapat bertemu denganku pada hari pertama musim semi, dia pasti akan menerima sesuatu dari ilmu-ilmuku sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing."
Melihat kakek itu berhenti sebentar, Suling Emas yang selalu berwatak jujur tanpa mau menyembunyikan dan dipermainkan perasaan, berkata,
"Teecu sudah mendengar akan hal itu, sudah pula teecu dengar betapa banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal keji dan jahat menerima pula warisan ilmu dari Locianpwe. Harap Locianpwe terangkan mengapa Locianpwe menurunkan ilmu kepada mereka itu."
Kakek itu tertawa lebar, berkilauan giginya tertimpa sinar matahari.
"Aku sudah melepaskan diri daripada ikatan perasaan, tidak mencinta tidak pula membenci, tiada yang baik dan tiada yang buruk bagiku. Betapapun juga, aku seorang manusia yang masih dikuasai pikiran dan pertimbangan. Mereka yang berjodoh dan bertemu dengan aku, siapa pun dia, akan menerima warisan ilmu, sesuai dengan watak dan bakatnya."
Suling Emas biarpun baru berusia tiga puluh tahun, namun ia seorang kutu buku yang sudah banyak melalap kitab-kitab kuno, maka ia dapat menerima pendirian seorang sakti seperti ini. Ia tidak mau berdebat, dan tidak berani mencela, maka ia lalu bertanya,
"Teccu sudah menerima petunjuk dengan suara tadi, bolehkah teecu bertanya, apa nama ilmu itu dan apakah ilmu ini cocok dengan teecu maka Locianpwe mengajarkannya?"
"Orang muda, selama aku merantau dan setiap tahun menurunkan ilmu, hanya ada dua ilmu yang tak pernah dapat diterima orang, biarpun setiap kali sudah kucoba untuk menurunkannya. Yang pertama adalah ilmu yang terkandung dalam suara khim tadi, yang kuberi nama Kim-kong Sin-im (Tenaga Emas dari Suara Sakti). Kau tadi dapat melayani aku, sampai lima puluh delapan jurus, itu sudah bagus sekali, berarti kau sudah dapat menangkap inti sarinya, tinggal kau kembangkan saja, tergantung kepada ketekunan dan bakatmu. Yang ke dua adalah ilmu yang juga tak pernah dapat dimengerti orang, yaitu Hong-in-bun-hoat (Ilmu Sastra Angin dan Mega)"
Kulihat kau cerdik, bakatmu luar biasa dan menilik pakaianmu, kiranya kau tidak asing akan sastra, bukan?"
"Teecu masih bodoh, akan tetapi teecu memberanikan diri untuk mencoba menyelami Ilmu Hong-in-bun-hoat itu, Locianpwe."