Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 05

Memuat...

"Kita lihat siapa yang datang,"

Sambung Siang-mou Sin-ni mengangguk. Hek-giam-lo hanya mengangguk dan menurunkan sabitnya. Makin lama suara suling terdengar makin nyaring, seolah-olah penyulingnya berjalan perlahan mendekati tempat itu. Tiga orang sakti ini menjadi tegang hatinya, mereka menduga-duga. Nama besar Bu Kek Siansu yang dipuja-puja seluruh tokoh kang-ouw, sudah banyak kali mereka dengar, namun selama hidup mereka belum pernah melihat orangnya. Apakah kakek sakti itu yang muncul sekarang sambil meniup suling?

Tak lama kemudian muncullah si peniup suling dari balik batu besar, berjalan dengan tenang perlahan menuju ke puncak sambil meniup suling yang dipegang dengan kedua tangannya. Suling itu berkilauan tertimpa matahari dan mudah diduga bahwa benda ini terbuat daripada emas murni. Peniupnya seorang laki-laki tinggi tegap, tampan dan gagah, berusia antara tiga puluh tahun. Pakaiannya seperti pakaian seorang pelajar, dengan ikat pinggang sutera dan tali penutup kepala melambai panjang. Pakaian orang ini hanya bentuknya saja seperti pakaian pelajar, juga topinya, akan tetapi warna sepatu, pakaian, dan topinya hitam, kecuali ikat pinggang dan pinggiran jubah, berwarna kuning. Di bagian dada bajunya yang hitam itu tampak lukisan sebuah suling emas di atas dasar bulatan merah muda seperti bulan purnama.

"Iihhh.. gantengnya.."

Siang-mou Sin-ni memuji, matanya memandang penuh gairah kepada wajah yang tampan itu.

"Inikah orangnya yang memakai nama Suling Emas..?"

It-gan Kai-ong berkata perlahan seperti pada diri sendiri. Adapun Hek-giam-lo hanya mengeluarkan suara mendengus marah. Sementara itu, laki-laki muda bersuling itu sudah melihat adanya tiga orang aneh di puncak, juga adanya mayat-mayat berserakan di sekitar tempat itu. Suara sulingnya berhenti, benda itu ia selipkan pada ikat pinggang dan kedua kakinya melangkah lebar dan cepat ke tempat itu. Keningnya berkerut, sepasang alis yang tebal hitam itu seakan-akan bersambung menjadi satu.

"Keji sekali.."

Ia bersungut-sungut tanpa mempedulikan tiga orang itu.

"Kami yang membunuh mereka. Kau mau membela?"

Ejek It-gan Kai-ong menantang. Dia tersenyum, menoleh kepada pengemis mata satu dan berkata dengan suara tenang berwibawa,

"Kalian membunuh orang, tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, aku tidak peduli, bukan urusanku. Akan tetapi andaikata tadi aku berada di sini, jangan harap kalian mengumbar kekejaman sesuka hati."

Setelah berkata demikian, orang ini lalu menghampiri Hek-giam-lo, memandang sejenak dan berkata.

"Kau Hek-giam-lo, bukan? Beri pinjam senjatamu sebentar, aku hendak mengubur mayat-mayat itu."

Hek-giam-lo mendengus dan melangkah mundur, sabitnya ia angkat ke atas kepala, siap menerjang. Orang muda itu tertawa mengejek.

"Kau takut aku melarikan senjatamu itu? Ha-ha, aku sering kali mendengar bahwa manusia iblis Hek-giam-lo memiliki kepandaian yang amat tinggi, kiranya ia hanya mengandalkan nyawanya kepada sebatang sabit, maka takut kehilangan senjatanya. Hek-giam-lo, sulingku ini dari emas, jauh lebih berharga daripada sabitmu, baik harganya maupun kegunaannya. Kalau kau takut aku melarikan sabitmu, biar kau bawa dulu sulingku ini."

Sebagai seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, mana Hek-giam-lo mau menyerahkan senjatanya? Senjata yang diandalkan sama harganya dengan nyawa. Ia mendengus kembali, menggelengkan muka tengkoraknya. Pemuda tinggi ganteng itu tersenyum lebar, tapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam.

"Terimalah ini"

Serunya dan suling di tangan kanannya itu tiba-tiba meluncur seperti halilintar menyambar, ke arah leher kiri Hek-giam-lo. Serangan ini cepat bukan main, juga tidak terduga karena gerakan suling itu dilihat dari depan seperti memutar, ujungnya membentuk lingkaran yang tidak dapat diterka ke mana akan mencari sasaran. Tiba-tiba, Hek-giam-lo melihat ujung suling sudah hampir menempel ulu hatinya.

Namun ia memang lihai sekali. Sambil mengeluarkan suara gerengan seperti setan, tangan kirinya menyambar dari samping menangkap suling itu dan mendorong ke kanan agar meleset daripada ulu hatinya, bagian yang berbahaya itu. Alangkah herannya ketika ia merasa betapa suling itu dengan mudah dapat ia renggut, malah agaknya dilepaskan oleh pemiliknya. Ia menduga akan adanya tipuan, akan tetapi terlambat karena pada saat itu, tenaga yang amat keras merampas sabitnya. Ia masih berusaha mempertahankan dengan tangan kanan, namun tiba-tiba suling di tangan kirinya itu bergerak hendak menusuk dadanya kembali. Terpaksa ia mengalihkan perhatian dan tenaganya ke tangan kiri yang mencengkeram suling, berusaha merampas suling untuk menyelamatkan diri. Lebih penting menyelamatkan diri daripada ancaman suling, baru kemudian berusaha merampas kembali senjatanya. Pemuda itu tertawa sambil melompat mundur, sabit panjang sudah berada di tangannya.

"Hek-giam-lo, terima kasih atas kebaikanmu. Hanya sebentar aku pinjam sabitmu, kalau sudah selesai akan kukembalikan."

Setelah berkata demikian, pemuda aneh ini lalu melirik ke kanan kiri beberapa lama, kemudian tiba-tiba ia meloncat ke kiri, sekali loncatan tubuhnya melayang lebih sepuluh meter jauhnya. Kiranya ia memilih tanah yang lunak di balik sebuah batu besar. Sabit di tangannya bergerak dan tampak sinar berkilauan ketika dengan cepatnya ia menggali tanah dengan sabit itu.

"Heh, kau tentu si muda sombong yang memakai nama Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas)"

Terdengar suara serak Si Muka Tengkorak.

"Kembalikan senjataku."

Suling Emas tidak menjawab, melainkan menggali terus dengan cepat sekali sehingga sebentar saja di depannya telah tergali sebuah lubang besar. Namun ia masih menggali terus dengan cepat. Sinar hitam yang lembut bergulung meluncur ke arah punggungnya. Sinar hitam ini datang dari Hek-giam-lo yang melepas senjata rahasianya yang disebut Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam). Begitu hebat racun jarum-jarum yang jumlahnya tujuh batang ini sehingga mengeluarkan uap hitam seakan-akan awan yang membungkusnya ketika benda-benda kecil ini meluncur mencari korban.

Melihat Hek-giam-lo mempergunakan ilmunya melepas jarum, Siang-mou Sin-ni dan It-gan Kai-ong terkejut. Mereka berdua sudah mengenal baik hebatnya jarum-jarum itu. Sekarang Suling Emas yang ternyata hanya seorang pemuda masih hijau diserang dari belakang dan pemuda itu asyik bekerja menggali tanah, mana dapat ia menyelamatkan diri? Suling Emas menggali dengan gerakan cepat dan aneh. Bukan hanya tangan kanan yang memegang sabit saja yang bergerak, malah semua tubuhnya ikut bergerak.

Seorang petani akan mentertawakannya karena cara ia mencangkul tanah menggunakan sabit amatlah lucu, meloncat ke sana ke mari, bergoyang-goyang dan terhuyung-huyung. Akan tetapi kalau melihat hasil galian di depannya, orang akan bengong terlongong. Sepuluh orang tukang cangkul bekerja sama dengan cangkul yang baik sekalipun belum tentu akan dapat menggali lubang sedemikian besar dalam waktu demikian cepatnya. Sekarang, tiga orang sakti itu yang menjadi kagum. Tanpa menoleh, Suling Emas masih tetap bekerja dan ketika gulungan awan hitam yang membungkus jarum-jarum beracun itu menghampirinya dan berpencar mengarah tujuh bagian jalan darah terpenting, ia masih saja bergerak-gerak menggali lobang.

Namun kini di antara berkelebatnya sinar sabit yang putih, tampak bergulung-gulung sinar kebiruan yang mengeluarkan angin keras. Mendadak awan hitam itu membalik sampai tiga kaki jauhnya, Hek-giam-lo mengeluarkan suara geraman hebat dan awan hitam itu mendesak maju lagi, Si Muka Tengkorak berdiri setengah berjongkok, kedua tangannya dilonjorkan ke depan dan ia mengerahkan tenaga sin-kangnya untuk memberi dorongan kepada senjata rahasianya. Suling Emas menunda gerakannya menggali. Ia pun membalik dan kiranya di tangan kirinya terdapat sebuah kipas biru yang terdapat lukisan indah. Ia mengipaskan benda itu ke depan sambil berseru.

"Hek-giam-lo, aku terima tantanganmu, akan tetapi tunggulah sebentar sampai selesai pekerjaanku."

Ia mengebutkan lagi kipasnya dan sekali lagi awan hitam yang sudah mendesak maju itu terpental mundur sampai lima kaki jauhnya.

Tanpa mempedulikan Hek-giam-lo yang terpaksa menerima kembali jarum-jarumnya itu, Suling Emas berloncatan ke sana ke mari dan tampaklah mayat-mayat yang berserakan itu satu demi satu melayang masuk ke dalam lobang besar yang digalinya tadi. Pemandangan yang amat mengerikan. Mayat-mayat itu seakan-akan hidup kembali dan terbang seperti setan-setan penasaran. Padahal Suling Emas hanya menggunakan ujung sabit untuk mencongkel mayat-mayat itu. Dalam waktu pendek saja sebelas buah mayat itu sudah terbang semua ke dalam lubang. Suling Emas lalu menguruk lubang dengan tanah galian. Begitu cepat ia melakukan pekerjaan ini sehingga waktu untuk menggali dan "mengubur"

Ini tidak lebih daripada sepuluh menit saja.

"Ho-ho-hah-hah, Suling Emas namanya menyundul langit. Kiranya hanya seorang bocah ingusan yang tak tahan melihat mayat-mayat berserakan. Ha-ha-ha."

It-gan Kai-ong tertawa mengejek.

"It-gan Kai-ong, terimalah salamku. Tak kusangka di puncak Thai-san ini akan bertemu dengan seorang raja, sungguh menyenangkan,"

Jawab Suling Emas.

"Tampan sekali, Ganteng.. dan jejaka tulen. Hebat. Suling Emas, mari pergi bersama saya.."

Suara Siang-mou Sin-ni amat manis dan merdu, senyumnya memikat dan kerling matanya menyambar. Pemuda biasa saja kiranya akan runtuh kalbunya dan bobol pertahanannya kalau menghadapi senyum dan kerling yang memabukkan ini. Memang Siang-mou Sin-ni memiliki kecantikan yang luar biasa, keharuman rambut yang memabukkan, dan ada sesuatu yang mujijat, hawa kekuatan yang tidak sewajarnya, keluar dari tubuhnya. Suling Emas menjadi merah mukanya ketika ia mengangguk dan membungkuk sebagai tanda hormat.

"Siang-mou Sin-ni, terima kasih. Kulihat di antara mayat-mayat itu terdapat seorang muda yang sudah kau sedot habis isi tulang belakangnya, apakah kau masih juga belum kenyang?"

Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh-kekeh mendengar ejekan ini. Adapun It-gan Kai-ong lalu menegur,

"Kim-siauw (Suling Emas), kau yang masih begini muda, bagaimana berani lancang menyebut nama kami? Bagaimana kau bisa megenal bahwa aku It-gan Kai-ong?"

"Banyak raja di dunia ini, akan tetapi yang suka memakai pakaian tambalan, hanyalah raja pengemis. Di antara banyak raja pengemis yang terkenal, memang ada beberapa orang di antaranya yang buta kedua matanya, akan tetapi yang picak sebelah hanyalah It-gan Kai-ong."

Siang-mou Sin-ni makin keras kekeh tawanya. bahkan Si Muka Tengkorak yang pendiam juga terbatuk-batuk menahan tawa. It-gan Kai-ong mencak-mencak saking marahnya.

"Bocah sombong, berani kau mempermainkan aku? Hayo ke sinilah, boleh kita adu kepandaian."

"Nanti dulu, Kai-ong. Biarlah dia mencoba kelihaian rambutku. Kalau dia bisa mengatasi rambutku, tak perlu aku mencium dan menggigitnya, hi-hi-hik"

Post a Comment