Mendengar disebutnya Hek-giam-lo, muka Ang Kun Tojin makin pucat. Ia belum pernah bertemu dengan Hek-giam-lo, akan tetapi ia mengenal nama ini yang oleh gurunya disebut sebagai seorang tokoh hitam yang amat keji dan jahat, malah ada bibit permusuhan dengan Kun-lun-pai, yaitu musuh dari mendiang kakek guru Ang Kun Tojin.
Terdengar suara menggereng seperti harimau dari dalam tanah dan tiba-tiba tanah berikut batu berhamburan terbang dan tahu-tahu tanah itu sudah berlobang besar. Dari dalam lubang meluncur cahaya seperti kilat yang terbang ke arah lima orang tosu Kun-lun-pai. Para tosu ini bukanlah orang-orang sembarangan. Tingkat ilmu silat mereka seperti juga orang-orang Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai itu, sudah mencapai taraf tinggi sekali. Sekali pandang saja mereka maklum bahwa yang menyambar ini adalah sebuah senjata yang amat tajam dan runcing, yang disusul melesatnya bayangan hitam. Cepat mereka berlima melompat ke belakang, mencabut pedang dan menangkis.
"Trang-trang-trang.."
Terdengar bunyi nyaring. Bunga api berhamburan disusul melayangnya tiga batang pedang, yaitu tiga batang di antara lima pedang yang bertemu dengan senjata berkilauan itu.
Kemudian terdengar jerit mengerikan dan Pek Sin Tojin, tosu yang bertahi lalat pada hidungnya, telah roboh mandi darah. Dari leher sampai ke perutnya terdapat luka goresan yang panjang, luka kulit saja akan tetapi amat mengerikan. Apalagi kalau mereka melihat lawan mereka yang kini sudah berdiri di depan mereka, benar-benar mendirikan bulu roma. Dia seorang yang tubuhnya sedang saja, malah agak kurus. Seluruh badan, kecuali sepasang tangan yang kecil kurus, terbungkus pakaian serba hitam. Mukanya adalah muka tengkorak, tulang putih mengerikan dengan dua lobang mata hitam, kepala tengkorak tertutup topi runcing hitam, kedua kakinya memakai sepatu hitam pula. Di tangannya tampak sebuah senjata sabit yang amat tajam dan runcing, agak melengkung.
Senjata sabit itu kini bergerak-gerak ke arah tubuh Pek Sin Tojin, sekali berkelebat tentu kulit tubuh tosu itu teriris robek. Pek Sin Tojin menggeliat-geliat, bergulingan, darah memenuhi tubuh dan mukanya, namun sabit itu terus bergerak, makin lama makin cepat. Empat orang tosu Kun-lun-pai menerjang lagi, yang dua orang termasuk Ang Kun Tojin menggunakan pedang, yang dua orang lagi karena pedangnya terlempar, menerjang dengan kepalan. Akan tetapi hebatnya, si tengkorak ini hanya menggerak-gerakkan tangan kirinya dan semua serangan itu tertangkis oleh ujung lengan bajunya. Adapun sabit di tangan kanannya terus bergerak, mengiris-iris kulit tubuh Pek Sin Tojin sampai cobak-cabik.
Kekejaman yang mendirikan bulu roma. Pek Sin Tojin tak dapat mengerang lagi, tubuhnya berkelojotan, lalu diam. Gerakan sabit juga berhenti dan kini sabit itu berkelebatan menghadapi empat orang Kun-lun-pai yang mengeroyoknya. Sementara itu, orang-orang Bu-tong-pai sudah bergerak mengeroyok si kakek pengemis yang melayani tiga orang kosen Bu-tong-pai ini sambil meludah-ludah dan memaki-maki. Di lain pihak, empat orang Hoa-san-pai juga mengeroyok si wanita rambut panjang yang melayani mereka sambil terkekeh-kekeh genit.
Sungguh pertempuran yang amat seru namun tidak seimbang kekuatannya. Seperti tiga ekor harimau buas dikeroyok serombongan kelinci saja. Sabit di tengan tengkorak hidup itu menyambar seperti halilintar dan sebentar saja, dua orang tosu Kun-lun-pai sudah menggeletak dengan tubuh terbacok hampir putus menjadi dua potong, sedangkan Ang Kun Tojin dan seorang sutenya sudah luka-luka pula. Juga wanita mengerikan yang bernama Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum) telah menewaskan dua orang Hoa-san-pai dengan cambukan-cambukan rambutnya. Wanita ini hanya berdiri tegak, kepalanya digerak-gerakkan dan rambutnya melayang-layang di sekitar tubuhnya, menangkis senjata dan menghantam lawan.
Jangan dipandang rendah rambut ini, karena ketika menghantam lawan, rambut halus dan berbau harum itu seakan-akan telah berubah menjadi kawat baja yang amat kuat. It-gan Kai-ong (Raja Pengemis Mata Satu), meludah-ludah dan memaki-maki. Ludahnya membikin buta seorang lawan yang terus ditusuk tongkat kepalanya sehingga mati seketika. Leng Lo Hwesio mengerahkan seluruh Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat, namun sama sekali tak berdaya menghadapi sinar tongkat kakek itu. Mereka semua maklum bahwa kalau dilanjutkan, mereka semua pasti akan tewas. Seperti ada yang memberi komando, Ang Kun Tojin, Kok Bin Cu, dan Leng Lo Hwesio melompat pergi meninggalkan para sutenya yang sudah tewas. Mereka pun menderita luka-luka berat.
"Ha-ha-ho-ho! Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, biarkan mereka pergi untuk memberi tahu kepada partai masing-masing"
"Tak usah kau ngoceh, pengemis picak"
Siang-mou Sin-ni mencibirkan bibirnya yang merah sambil mengebut-ngebutkan rambutnya yang panjang dengan cermat.
"Kalau aku mau, apa kau kira tua bangka Hoa-san itu bisa pergi hidup-hidup?"
"Ho-ho-hah! Bagaimana, Hek-giam-lo, puas kau hari ini dapat membunuh empat orang tokoh Kun-lun?"
Pengemis itu berpaling kepada si tengkorak.
"Aku datang ke Thai-san bukan untuk itu,"
Hek-giam-lo Si Tengkorak Hidup menjawab pendek.
"Hi-hik, untuk apalagi kalau bukan untuk minta sesuatu dari Bu Kek Siansu? Iihhh, Hek-giam-lo, sejak kapan kau ikut-ikut menjadi pengemis seperti pengemis picak ini?"
Siang-mou Sin-ni mengejek. Akan tetapi Hek-giam-lo tidak menjawab, hanya mendengus marah.
"Ho-hah, setan cilik, lidahmu benar-benar lemas, bibirmu halus mengandung madu, tapi ludahmu seperti butrawali dan merica! Kau sendiri datang pada permulaan musim semi, apakah akan memberi selamat panjang umur kepada setan gunung? Ho-ho, kau sendiri juga akan mengemis ilmu, bukan?"
"Cih, mulutmu bau busuk, pengemis kotor, Aku mendengar bahwa Bu Kek Siansu akan muncul di dunia. Aku hendak melihat apakah dia dapat menghadapi rambutku, kalau dapat, baru aku mau mengangkatnya sebagai guru, bukan mengemis seperti kau"
"Ha-ha, silat lidah, Menjadi murid dan mengemis ilmu, apa bedanya? Malu-malu kucing segala, cuh"
It-gan Kai-ong meludah ke dekat kakinya dan batu di dekatnya berlubang oleh ludah itu.
"Bukankah begitu, Hek-giam-lo?"
Si tengkorak hidup tidak menjawab, tidak mengangguk atau menggeleng hanya mengeluarkan suara,
"Huhhh"
"Ihhh, menyebalkan si tengkorak busuk ini. Apa mendadak menjadi bisu? Apakah ingin menyembunyikan suara seperti bertahun-tahun ia menyembunyikann mukanya? Wah, alangkah inginku merenggut lepas kedok tengkorak itu dan melihat apakah dia laki-laki atau wanita, kalau laki-laki tampan atau buruk, muda atau tua"
"Hemmm.."
Tengkorak hidup itu mundur selangkah, mukanya menghadap Siang-mou Sin-ni dan senjata sabitnya yang mengerikan itu diangkat ke atas, agaknya siap bertempur. It-gan Kai-ong berjingkrak-jingkrak tertawa dan bertepuk-tepuk tangan.
"Bagus, bagus.., Aku pun mempunyai keinginan yang amat sangat, yaitu melihat kalian bertempur mengadu ilmu. Alangkah akan ramainya, entah siapa yang hanya bernama kosong belaka. Siang-mou Sin-ni ataukah Hek-giam-lo. Hayo, mulailah"
Sejenak Siang-mou Sin-ni ragu-ragu, kepalanya sudah tegang, agaknya ia hendak menggerakkan rambutnya menerjang. Akan tetapi matanya melirik ke arah pengemis tua itu, lalu tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh.
"Hi-hi-hik, pengemis tua busuk, kau hendak akali kami berdua, ya? Kau mengadu kami, biar keduanya mampus atau payah, baru kau turun tangan dan dapat memonopoli atas ilmu-ilmu dari Bu Kek Siansu. Begitukah? Akal bulus"
"Kalian mau saling gempur atau saling cinta, apa sangkut-pautnya dengan aku? Habis, kau mau apa?"
Kakek itu merengut, kesal.
"Kita bertiga harus menentukan siapa paling unggul, dia berhak menemui Bu Kek Siansu. Yang kalah dinyatakan tidak berharga dan harus minggat."
"Setuju"
Jawab It-gan Kai-ong.
"Kau bagaimana?"
Tanyanya kepada Hek-giam-lo. Yang ditanya hanya mengangguk, tetap berdiri memasang kuda-kuda, sikapnya amat bercuriga dan tidak percaya kepada dua orang di depannya itu. Tiga orang sakti itu berdiri memasang kuda-kuda, saling pandang dengan sinar mata penuh kebencian. Mereka seakan-akan tiga ekor harimau yang siap menanti datangnya terjangan lawan, tegang sampai ke bulu-bulunya, akan tetapi terlalu hati-hati untuk bergerak lebih dahulu karena maklum bahwa lawan amatlah hebat, siapa terlena dia akan sirna.
Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni melengking tinggi dan rambutnya bergerak seperti sinar hitam menyambar ke arah Hek-giam-lo. Hanya satu atau dua detik selisihnya dengan gerakan It-gan Kai-ong yang menggunakan tongkat menyerang wanita ini, dan gerakan Hek-giam-lo yang menggunakan sabit menerjang It-gan Kai-ong. Sekaligus tiga orang itu telah menyerang dan diserang. Sekaligus pula mereka mendengus nyaring dan mengelak dengan lompatan kilat ke samping. Kini mereka berdiri lagi membentuk segi tiga, memasang kuda-kuda dan tidak bergerak. Suara desingan senjata mereka yang menyambar tadi masih terdengar gemanya, mengaung dari dalam jurang di dekat situ.
Amat tegang seluruh urat syaraf, ketiga orang itu sodah siap untuk melakukan terjangan atau menghadapi serangan lagi. Akan tetapi tiba-tiba wajah mereka bergerak dan perhatian mereka tertarik oleh bunyi suling yang amat luar biasa. Sesaat bunyi suling itu semerdu kicau burung di waktu pagi hari menyongsong munculnya sang matahari, akan tetapi pada saat lain terdengar seakan-akan halilintar menyambar-nyambar membelah gunung, pada detik ini terdengar gembira seperti suara bidadari tertawa merdu, pada lain detik seperti tangis wanita yang ditinggal mati suaminya.
"Tunda dulu urusan kita,"
Kata It-gan Kai-ong.