Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 03

Memuat...

"Sute, jangan bicara begitu.."

Kok Bin Cu mencela adik seperguruan yang berangasan itu. Akan tetapi suaranya terhenti ketika tiba-tiba pada saat itu terdengar lagi suara ketawa dan kini tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang wanita yang amat cantik. Dia datang begitu saja seperti muncul dari dalam bumi, tidak tampak datangnya, tahu-tahu sudah berdiri di depan Kok Ceng Cu sambil tertawa terkekeh-kekeh, bibirnya yang merah dan lembut itu terbuka, tampak dua deretan gigi yang putih seperti mutiara berbaris. Empat belas orang itu memandang dengan mata terbelalak.

Sungguh seorang wanita yang amat cantik, dilihat dari wajahnya yang segar berseri itu agaknya belum dua puluh lima tahun usianya, namun sikap dan gerak-geriknya membayangkan kepribadian yang kuat dan berwibawa, tenang dan tabah, sikap masak seorang tokoh besar. Pakaiannya dari sutera tipis berwarna putih sehingga terbayang baju dalam yang berwarna merah muda. Sepasang kakinya tertutup sepatu kulit mengkilap, berwarna hitam. Yang menarik hati dan mengerikan adalah rambutnya. Rambut hitam gemuk, panjang sampai hampir menyentuh tanah di belakangnya, sebagian lagi terurai ke depan dari kanan kiri lehernya. Tubuhnya padat berisi, kulit leher, tangan dan mukanya halus den putih seperti salju. Wanita yang cantik jelita, bersinar matar bengis, dengan mulut yang selalu mengejek tampaknya dan diselubungi sesuatu yang aneh mengerikan. Begitu ia muncul, tercium bau harum seperti taman bunga.

"Hi-hi-hik, kiranya jejaka tampan yang mengeluarkan tantangan. Wah, untungku hari ini"

Orang muda yang penuh tenaga dan hawa murni, kau dari golongan mana?"

Kok Ceng Cu biarpun sudah berusia tiga puluh tahun lebih, namun tak pernah berdekatan dengan wanita. Memang ia tidak suka akan wanita dan sudah bersumpah akan tetap membujang seumur hidup. Kini menghadapi wanita cantik aneh yang sikapnya sombong, ketawanya terbuka tanpa mengenal sopan dan susila ini, ia menjadi marah sekali.

"Wanita tak bersopan"

Aku tidak suka bicara denganmu, akan tetapi kalau kau ingin tahu, aku Kok Ceng Cu murid ke lima dari Hoa-san-pai. Sudahlah, pergi jangan menambah muak dengan ketawa-ketawa seperti siluman"

"Hi-hi-hik, jejaka murni, nYalinaya kuat. Bagus, bagus, kebetulan sekali. Eh, Kok Ceng Cu, kulihat tadi kau mengangkat batu kecil ini, entah apa kau kuat menerima lemparan dariku?"

Tanpa menanti jawaban, wanita ini menggerakkan kepalanya dan.. rambutnya yang indah dan panjang itu bergerak seperti hidup ke arah batu gunung putih di dekatnya yang tadi dipakai main-main oleh orang-orang sakti itu. Begitu cepat gerakkannya dan tahu-tahu batu itu telah terlempar ke arah Kok Ceng Cu. Benar-benar membuat semua orang bengong terlongong. Bagaimana rambut indah panjang itu dapat dipergunakan untuk mengangkat dan melempar batu yang beratnya lima ratus kati lebih? Akan tetapi Kok Ceng Cu tidak sempat berheran. Melihat datangnya batu ke arah kepalanya, ia cepat menggerakkan kedua lengan, menangkap batu itu dan mengerahkan tenaganya, melemparkan batu itu kembali kepada wanita tadi sambil berseru membentak,

"Siluman jahat, terimalah kembali"

Lemparan Kok Ceng Cu dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, akan hehat sekali akibatnya kalau wanita itu tertimpa. Agaknya wanita aneh ini tidak mempedulikan datangnya batu, hanya mengangkat lengan kiri menangkis. Terdengar suara keras dan batu itu terlempar ke kiri, pecah menjadi dua.

Kejadian ini benar-benar membuat semua orang terkejut, dan sekaligus maklumlah mereka bahwa wanita ini ternyata memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Juga Kok Ceng Cu sadar akan hal ini, namun penyesalannya terlambat. Sambil terkikik-kikik ketawa wanita itu kembali menggerakkan kepalanya dan kini rambutnya terurai meluncur ke depan dan di lain saat kedua pergelangan lengan dan leher Kok Ceng Cu sudah terlibat rambut. Betapapun murid ke lima dari Hoa-san-pai ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri, usahanya sia-sia seakan-akan seekor latat yang berusaha melepaskan diri daripada sarang laba-laba, meronta-ronta tanpa hasil, malah rambut-rambut itu makin erat mengikat tangan dan mencekik leher.

"Hi-hi-hik, berontaklah, makin keras makin baik agar darahmu berjalan lebih kencang"

Sambil terkekeh wanita itu kembali menggerakkan kepalanya. Tubuh Kok Ceng Cu tersentak ke depan, berputar dan tak dapat dicegah lagi mendekati wanita itu. Tiba-tiba wajah wanita cantik itu menjadi beringas, matanya bersinar-sinar, mulutnya terbuka dan.. cepat sekali mulutnya mendekati tengkuk leher Kok Ceng Cu dan menggigitnya, terus mengisap Kok Ceng Cu mengeluarkan jerit mengerikan, mukanya menjadi pucat kehijauan dan beberapa detik kemudian nyawanya telah melayang meninggalkan badannya.

"Siluman keji.."

Kok Bin Cu dan tiga orang adik seperguruannya bergerak maju, menerjang wanita itu. Akan tetapi mereka terhuyung mundur dan tubuh Kok Ceng Cu yang sudah dingin terlempar ke arah mereka, diiringi suara ketawa wanita itu. Melihat keadaan Kok Ceng Cu yang sudah menjadi mayat, Kok Bin Cu cepat menyambar dan memeluk adik termuda ini dengan penuh kesedihan. Adapun tiga orang adik seperguruannya yang lain berdiri dengan sikap siap, namun ragu-ragu untuk menerjang tanpa perintah Kok Bin Cu. Mereka maklum akan kelihaian wanita siluman ini dan menjadi gentar juga.

"Cuh!". Cuhhhhh!"

Suara orang meludah dan Leng Hi murid ke empat Bu-tong-pai menyumpah-nyumpah karena mukanya terkena ludah kental yang tak diketahui dari mana datangnya.

"Ho-ho-hah, Siang-mou Sin-ni jangan berpesta seorang diri"

Suara laki-laki seperti tambur bobrok ini terdengar dan orangnya sekaligus tampak seorang berpakaian pengemis, sudah tua dan bongkok, mukanya pucat seperti mayat, rambutnya panjang sampai ke pundak, awut-awutan dan riap-riapan kotor, mata kirinya buta, mata kanannya lebar membelalak. Pakaiannya kotor dan penuh tambalan, hanya sepasang sepatunya masih baru. Ia memegang sebatang tongkat butut, berdiri di situ dengan punggung agak bongkok. Dilihat sepintas lalu, ia hanya seorang pengemis kotor biasa saja, malah seorang pengemis yang tidak normal, setengah gila. Hal itu tampak pada mukanya yang mengerikan, apalagi mulutnya yang lebar dan selalu sedikit terbuka, memperlihatkan sebuah gigi besar, gigi yang hanya satu-satunya dalam mulut tua. Kembali ia meludah,

"Cuh-cuh-cuh"

Ke kanan kiri, menjijikkan sekali. Melihat ini, Leng Li Hwesio marah,

"Orang tua jorok, kaukah yang meludahi pinceng tadi?"

"Ho-ho-hah-hah, aku memang suka meludah, biasa meludahi anjing korengan dan kucing kudisan. Lebih suka lagi meludahi keledai gundul, cuh-cuh"

Mukanya menghadap ke bawah dan ia meludah ke bawah, akan tetapi anehnya, dua kali meludah, dua kali muka Leng Hi Hwesio yang berada di sebelah kanannya dalam jarak tiga meter itu terkena sambaran ludah kental yang sebagian memasuki lubang hidungnya. Entah bagaimana ludah itu bisa terbang menyeleweng dan miring. Kakek pengemis itu berjingkrak kegirangan bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa.

"Ha-ho-hoh!, Bagus sekali. Keledai Bu-tong memang baik menjadi tempolong ludah"

"Jahanam hina"

Leng Hi Hwesio mana dapat menahan kesabarannya? Dengan kemarahan meluap-luap ia sudah mencabut pedangnya dan menerjang pengemis itu.

"Ho-ho-ha-hah, untung besar hari ini bisa meludahi mampus keledai Bu-tong"

Tiba-tiba terdengar suara keras dan pedang di tangan Leng Hi Hwesio sudah terlempar jauh, menimpa batu gunung dan patah menjadi dua. Kemudian kakek pengemis itu meludah terus dan tiap kali meludah, Leng Hi Hwesio berseru kesakitan. Hujan ludah itu mengenai tubuhnya, akan tetapi tidak hanya membikin kotor seperti tadi, kini terasa seperti pukulan-pukulan keras yang tepat mengenai jalan darah di tubuhnya. Tiap kali kakek itu meludah dan mengenai tubuhnya, ia berteriak mengaduh, kemudian ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan diri. Namun kakek itu terus meludah, makin keras agaknya karena kini tubuh Leng Hi Hwesio bergulingan seperti seekor cacing terkena abu panas dan dari telinga dan hidungnya keluar darah segar.

"Pengemis keji, lepaskan Sute kami"

Leng Lo Hwesio dan dua orang adik seperguruannya cepat mencabut pedang dan menerjang pengemis itu. Akan tetapi pengemis itu mengangkat tongkatnya, sekaligus tiga batang pedang itu tertangkis dan terpental.

Sungguhpun tiga orang hwesio kosen itu tidak sampai melepaskan pedang masing-masing, namun mereka merasakan telapak tangan mereka sakit dan panas. Terkejutlah mereka. Bu-tong-pai terkenal dengan ilmu pedang yang digerakkan dengan tenaga lwee-kang, kuat bukan main. Akan tetapi sekarang sekali tangkis saja kakek ini dapat membuat pedang mereka terpental. Padahal mereka adalah orang-orang yang menduduki tingkat dua, tiga, dan empat di Bu-tong-pai, yang paling lihai di bawah suhu mereka. Sementara itu, kakek itu terus meludahi tubuh Leng Hi Hwesio yang kini sudah tak dapat bersambat atau bergerak lagi. Hebatnya, kepala yang gundul itu kini bolong-bolong dan dari situ keluar darah bercampur otak. Hwesio ke empat ini sudah tewas.

"Mana orang Kun-lun, Mana tosu-tosu bau dari Kun-lun?"

Tiba-tiba terdengar suara dan kali ini suara itu terdengar dari.. bawah Terlalu hebat peristiwa yang terjadi berturut-turut itu, dan para tosu Kun-lun-pai masih tercengang dan ngeri menyaksikan kematian seorang anggauta rombongan Hoa-san-pai dan seorang hwesio Bu-tong-pai. Sekarang mendengar bentakan dari bawah tanah ini, mereka seketika menjadi pucat dan cepat memandang ke arah suara. Tentu saja pandang mata mereka tertuju ke bawah, karena dari situlah munculnya suara.

"Hi-hi-hik, It-gan Kai-ong! Dengar itu, Si Tengkorak Hidup Hek-giam-lo juga datang. Bakal ramai sekarang"

Wanita rambut panjang tadi kini tertawa dan Si Pengemis Mata Satu juga tertawa dan meludah ke kanan kiri.

"Bagus, dan kebetulan orang-orang Kun-lun berada di sini. Baik sekali. Hayo, Hek-giam-lo tengkorak busuk, perlihatkan diri, apa kau gentar melihat banyak orang Kun-lun-pai?"

Post a Comment