Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 02

Memuat...

"Kami memang hendak menghadap Bu Kek Siansu yang mulia dan mohon belas kasihannya."

Jawab murid kepala Bu-tong-pai dengan suara merendah, sebagai seorang hwesio tidak malu-malu untuk minta-minta.

"Karena beliau seorang pendeta To, sudah selayaknya kalau kami datang mohon diberi penerangan,"

Jawab Ang Kun Tojin dengan angkuh.

"Belum tentu beliau seorang tosu, tadi pinceng mendengar beliau menyanyikan syair kitab Dammapada, bukankah itu membuktikan bahwa Bu Kek Siansu adalah seorang pendeta Buddha golongan kami?"

Bantah Leng Lo Hwesio dengan suaranya yang dan lambat.

Mendengar ini, diam-diam para anak murid Kun-lun-pai menjadi kaget, kagum dan juga khawatir. Nyanyian itu terdengar oleh mereka di lereng, masih amat jauh dari tempat ini, akan tetapi ternyata mereka yang berada di puncak ini juga mendengarnya. Bukan main Penggunaan tenaga mujijat khi-kang yang disalurkan pada suara nyanyian itu benar-benar sudah mencapai tingkat sempurna. Mereka khawatir karena kalau betul-betul Bu Kek Siansu seorang penganut Agama Buddha, tentu saja tipis harapan bagi mereka untuk bersaing dengan para hwesio itu.

"Ha-ha-ha, ji-wi Lihiap (Dua Pendekar Tua) harap jangan salah duga dan menarik Siansu pada golongan masing-masing. Biarpun saya sendiri, seperti juga sahabat semua: selama hidup belum pernah bertemu muka dengan Bu Kek Siansu, namun sudah banyak saya mendengar tentang orang tua sakti itu. Beliau mengakui semua agama, seperti sifat para dewa yang melindungi semua manusia tanpa pilih bulu. Tentu beliau seorang yang amat adil. Dan mengingat bahwa kami datang lebih dulu, yang pertama di tempat ini, sepatutnya kami yang mendapat perhatian lebih dulu. Siapa cepat dia dapat, bukan?"

Ang Kun Tojin melangkah maju dan membantah,

"Sicu dan saudara-saudara dari Hoa-san bukanlah orang-orang yang mencari kesempurnaan batin, melainkan jasmaniah, hidup sebagai petani-petani yang bahagia. Ilmu Silat Hoa-san-pai juga sudah tersohor di kolong langit. Untuk apa pula mohon petunjuk Siansu? Tentu bukan untuk urusan kebatinan, akan tetapi kalau hendak mohon petunjuk tentang ilmu silat: untuk apakah pula? Pekerjaan petani tidak membutuhkan ilmu silat terlalu tinggi."

"Ucapan Toyu benar,"

Sambung Leng Lo Hwesio.

"bagi pendeta-pendeta seperti kami dan para tosu Kun-lun, tentu saja amat membutuhkan petunjuk tentang kebatinan dari Siansu. Akan tetapi para Sicu dari Hoa-san, tak mungkin hendak minta petunjuk tentang kerohanian. Kalau mereka hendak minta petunjuk tentang ilmu silat, pinceng kira Siansu juga akan memberi petunjuk, jika melihat bahwa Ilmu Silat Hoa-san-pai masih amat rendah."

Ucapan ini biarpun terdengar membela namun mengandung sindiran yang memandang rendah tingkat Ilmu Silat Hoa-san-pai. Memang hwesio murid kepala Bu-tong-pai ini berwatak keras dan kaku, juga tidak biasa menyembunyikan apa yang dipikirnya.

"Leng Lo Suhu benar-benar memandang rendah kami dari Hoa-san-pai"

Tiba-tiba orang ke lima dari Hoa-san-pai membentak sambil melompat maju. Dia adalah Kok Ceng Cu, seorang yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dengan sepasang mata tajam bersinar-sinar, usianya sekitar tiga puluh tahun.

"Sama sekali tidak memandang rendah,"

Bantah Leng Lo Hwesio.

"hanya pinceng sering kali mendengar bahwa Hoa-san-pai mengutamakan tenaga luar dan penggunaan kaki tangan dalam ilmu silat tidak begitu mementingkan kekuatan dalam. Padahal, Bu Kek Siansu adalah seorang ahli kebatinan dan tentu saja petunjuknya akan berhubungan erat dengan kebatinan, maka tidak akan cocok dengan Sicu sekalian."

"Tidak memandang rendah akan tetapi sama sekali tidak menghargai kepandaian lain orang. Sama saja! Leng Lo Suhu, kami dari Hoa-san-pai memang masih rendah pengetahuan, tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan apalagi disombongkan.

Akan tetapi, saya akan merasa takluk kalau seorang di antara para Losuhu dari Bu-tong-pai dapat melebihi apa yang akan saya perlihatkan"

Kok Ceng Cu yang masih berdarah panas dan tidak tahan mendengar partainya dipandang ringan, segera melangkah lebar mendekati sebuah batu gunung yang berwarna putih. Batu ini sebesar perut kerbau, beratnya tidak kurang dari lima ratus kati. Seperempat bagian dari batu ini terpendam dalam tanah, kokoh kuat dan untuk mencabutnya keluar kiranya dibutuhkan sedikitnya tenaga seribu kati. Kok Ceng Cu memasang kuda-kuda di dekat batu, kedua tangannya merangkul dari kanan kiri, lalu dengan sebuah teriakan keras ia mengerahkan tenaga menjebol dan.. batu itu terangkat ke atas terus diangkat ke atas kepalanya.

Otot-otot kedua lengannya tersembul keluar, lehernya mendadak menjadi besar, namun wajahnya yang tampan itu tidak berubah, tetap tenang dan tersenyum. Pihak Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai memandang kagum. Sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi, mereka maklum bahwa untuk mengangkat batu seberat itu mengandalkan tenaga luar, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Selain membutuhkan latihan tekun dan lama, juga harus memiliki bakat alam, yaitu tenaga yang besar dan hal ini hanya dapat dimiliki oleh seorang laki-laki yang selama hidup tetap membujang. Melihat keadaan wajah Kok Ceng Cu, terang bahwa jago Hoa-san-pai ini biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, ternyata dia masih bujang, jejaka tulen.!

"Tenaga gwa-kang (tenaga luar) Sicu hebat sekali, pinceng kagum"

Kata Leng Lo Suhu dengan sejujurnya. Akan tetapi hal ini memanaskan perut Leng Hi Hwesio, murid ke empat dari Bu-tong-pai. Biarpun usianya sudah enam puluh tahun, hwesio keempat dari Bu-tong-pai ini wataknya keras dan tidak mau kalah. Ia segera melompat maju mendekati Kok Ceng Cu dan berkata nyaring.

"Main-main dengan batu mati ini apa sih anehnya? Sicu, kalau kau sudah lelah dan bosan, boleh operkan batu itu pada pinceng"

Tadinya Kok Ceng Cu merasa bangga akan pujian murid tertua Bu-tong-pai, akan tetapi melihat dan mendengar sikap dan kata-kata hwesio ke empat ini, diam-diam ia merasa penasaran juga kaget. Apakah hwesio yang kurus kering ini dapat mempergunakan tenaga seperti dia? Ia berseru keras dan kedua lengannya bergerak ke bawah lalu ke atas, melontarkan batu besar itu kepada Leng Hi Hwesio sambil berseru.

"Losuhu terimalah"

Batu berat itu meluncur ke arah hwesio Bu-tong-pai, kalau menimpa kepala tentu akan remuk. Namun, dengan tenang hwesio ini menggerakkan kedua tangannya, menerima batu itu dengan gerakan indah.

Kiranya ia telah menggunakan gerakan Dewa Menyambut Mustika, begitu kedua telapak tangannya menempel pada batu, ia meminjam tenaga lontaran tadi, dan terus mengayun batu ke bawah, ke atas lagi, dan melontarkannya ke atas, diterima lagi, diayun dan dilontarkan lagi ke atas sampai lima kali. Ketika untuk ke lima kalinya batu itu menimpa turun, ia menggunakan gerakan menyabet dengan kedua tangan miring. Batu itu melenceng ke samping, terbanting ke atas tanah sampai amblas hampir setengahnya. Inilah gerak pukulan Pukul Roboh Gunung Hitam, sebuah jurus ilmu Silat Bu-tong-pai yang lihai. Terdengar tepuk tangan memuji dari para tosu Kun-lun-pai.

"Siancai, siancai, ilmu pukulan Bu-tong-pai benar-benar hebat"

Seru Ang Kun Tojin. Akan tetapi Pek Sin Tojin, murid ke lima Kun-lun-pai yang bertahi lalat pada ujung hidungnya, menjadi penasaran melihat betapa dua orang dari rombongan Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai seakan-akan mendemonstrasikan kepandaian. Kalau dari pihak Kun-lun-pai tidak ada yang bergerak, jangan-jangan pihaknya akan dipandang rendah. Ia melangkah maju mendekati batu itu, berkata,

"Siancai, batu terbanting keras jangan-jangan banyak cacing yang akan tertimpa remuk."

Kaki kanannya bergerak mencongkel dan.. batu itu menggelinding keluar dari dalam tanah, sampai lima kaki lebih jauhnya. Gerakan ini saja membuktikan betapa lihainya para tosu Kun-lun-pai. Yang paling berangasan di antara semua orang adalah Kok Ceng Cu. Ia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya,

"Hemmm, semua memamerkan tenaga dalam yang mengandalkan tenaga pinjaman, bukan tenaga aseli dari otot dan urat. Biarpun kami dari Hoa-san-pai hanya melatih otot untuk memperkuat tubuh, namun permainan lwee-kang (tenaga dalam) seperti itu juga bukan hal aneh."

Ia tidak melakukan tantangan, namun kata-katanya ini jelas mengangkat golongan sendiri dan tidak memandang tinggi dua rombongan lain. Juga ia berdiri dengan dada terangkat, kedua kakinya memasang kuda-kuda dengan sikap seolah-olah ia siap menghadapi siapa saja yang berani melawannya.

Tentu saja sikap ini memanaskan hati pihak Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai, apalagi pihak Bu-tong-pai. Kalau saja Ang Kun Tojin dan Leng Lo Hwesio tidak memberi isyarat dengan pandang mata, tentu ada tosu Kun-lun dan hwesio Bu-tong yang melompat maju untuk menghadapi Kok Ceng Cu. Pada saat itu terdengar suara tertawa nyaring dan merdu. Semua orang menjadi kaget, memandang ke kanan kiri, namun tidak tampak seorang pun manusia. Padahal jelas sekali tadi terdengar suara ketawa seorang wanita, terdengar dekat sekali, bahkan suara pernapasan di antara kekeh tawa itu dapat mereka dengar.

"Omitohud"

Leng Lo Hwesio mengeluarkan suara sambil merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada.

"Sicu mengeluarkan sikap menantang, membikin marah dewi penjaga gunung"

"Kita datang untuk mohon pelajaran kebatinan kepada Bu Kek Siansu, saudara-saudara dari Hoa-san-pai memperlihatkan kekerasan, sungguh lucu sehingga ditertawakan oleh segala mahluk halus,"

Kata pula Ang Kun Tojin, namun diam-diam ia merasa gelisah karena ia dapat menduga bahwa yang mengeluarkan suara ketawa itu sudah pasti seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Terang bukan Bu Kek Siansu, juga bukan yang bernyanyi tadi, karena suara ketawa ini adalah suara wanita.

"Kami orang-orang Hoa-san-pai tidak takut terhadap segala siluman"

Kok Ceng Cu berkata keras sambil melirik ke kanan kiri.

Post a Comment