“Ke Wi-keng? Kebetulan akupun hendak ke sana. Kita dapat naik perahu bersama, aku yang mendayung karena pundakmu tentu masih sakit.” Mereka lalu menumpang perahu yang tadi dan Ki San mendayungnya ke seberang. Dalam pelayaran ini, terdapat sesuatu yang aneh dalam perasaan mereka kalau saling pandang. Terdapat kemesraan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Begitu bertemu mereka sudah saling cocok dan kerja sama membasmi gerombolan Ular Hitam itu membuat mereka merasa saling suka. Apa lagi setelah Ki San mengobati pundak Li Lian. Dari pandang mata mereka, keduanya sudah menyuarakan isi hati masing-masing.
Ayah ibu Li Lian menyambut puteri mereka dengan bangga. Mereka sudah mendengar dari para tawanan gerombolan yang pulang lebih dahulu betapa Li Lian bersama seorang pemuda telah berhasil membasmi gerombolan Ular Hitam dan membebaskan semua tawanan, membakar sarang gerombolan!
Li Lian memperkenalkan Ki San kepada ayah ibunya. “Ayah dan ibu, inilah saudara Song Ki San yang telah membantuku membasmi gerombolan Ular Hitam. Tanpa bantuannya, belum tentu aku berhasil bahkan aku terluka paku beracun, untung ada San-ko yang menyelamatkanku.”
Ayah ibunya menjadi girang menyambut Ki San. “Li Lian, engkau terlalu pemberani. Kenapa tidak bicara dulu dengan ayahmu? Kalau aku pergi bersamamu, tentu engkau tidak sampai terluka. Akan tetapi sudahlah, engkau memang petualang besar dan untung dibantu oleh orang muda yang gagah ini. Orang muda, siapakah gurumu?”
“Guruku bernama Yo Kiat, sekarang telah meninggal dunia.”
“Yo Kiat...?” ayah dan ibu Li Lian berteriak dan memandang kepada Ki San dengan mata terbelalak.
“Paman agaknya sudah mengenal mendiang suhuku?”
“Nanti dulu, coba gambarkan bagaimana bentuk tubuh dan wajah gurumu yang bernama Yo Kiat itu, karena banyak orang yang namanya sama.”
Dengan heran Ki San menggambarkan keadaan mendiang gurunya.
“Ada luka memanjang di leher kirinya?” teriak ibu Li Lian, “tidak salah lagi, dia memang Yo Kiat!” dan ibu ini tiba-tiba menangis sedih.
“Apa artinya semua ini, paman? Apakah paman dan bibi sudah mengenal Yo Kiat mendiang suhuku?”
Li Lian juga merasa heran dan merangkul ibunya yang menangis. “Ibu, ada apakah? Apakah ibu mengenal mendiang guru San-ko?”
“Ki San, tentu saja aku mengenal mendiang suhumu. Namaku adalah Kwan Ciu Ek dan...”
“Bagus!” tiba-tiba Ki San meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya, lalu menudingkan pedangnya ke arah muka tuan rumah itu. “Kwan Ciu Ek, aku datang memenuhi pesan suhu untuk membunuhmu!”
Kwan Ciu Ek menghela napas panjang. “Dia meninggalkan pesan begitu kepadamu? Untuk membunuhku?”
“Ya, dendamnya ditahan selama bertahun-tahun dan karena dia sendiri menderita luka parah maka dia menyuruh aku menggantikannya membalaskan dendamnya. Bangkitlah, Kwan Ciu Ek, dan mari kita selesaikan perhitungan antara mendiang guruku denganmu!”
“Tenanglah, Ki San dan mari kita bicarakan dulu masalahnya.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah berjanji kepada mendiang suhu untuk memenuhi pesannya/”
“Kau tahu mengapa gurumu mendendam kepadaku?”
“Karena engkau telah merampas satu-satunya orang yang dicintanya, yaitu isterinya selagi dia pergi memimpin pasukan berperang.”
Kwan Ciu Ek mengangguk-angguk. “Ia inilah isteri gurumu, Ki San. Dengar, bukannya aku takut melawanmu, belum tentu engkau akan dapat mengalahkan aku, akan tetapi aku menyayangi dirimu kalau melakukan tindakan ceroboh, seperti yang telah dilakukan gurumu ketika memesan kepadamu untuk membalas dendam kepadaku. Duduklah dan dengarkan dulu keteranganku. Nanti setelah engkau mendengarkan kesemuanya, terserah kepadamu akan melanjutkan pembalasan dendam ini ataukah tidak.”
Melihat Ki San masih meragu, Li Lian melepaskan rangkulan dari leher ibunya dan meloncat berdiri menghadapi Ki San. “San-ko, kalau engkau menantang ayahku, aku akan melupakan persahabatan kita, dan akulah yang akan mewakili ayah menghadapi tantanganmu!”
Ki San menjadi serba salah dan dia menyarungkan kembali pedangnya, lalu duduk dan berkata, “Aku siap mendengarkan semua penjelasan paman.”
“Nah, ketahuilah keadaan yang sebenarnya, Ki San. Dua puluh tahun yang lalu, gurumu adalah seorang panglima besar. Aku adalah seorang sahabatnya, bahkan kami pernah belajar silat bersama. Demikianlah, aku juga mengenal isteri gurumu. Ketika pada suatu hari gurumu maju berperang untuk menindas pemberontakan di utara, dia memesan agar aku suka mengamat- amati isterinya dan menjaganya.”
Kwan Ciu Ek menghela napas dan agaknya dia merasa duka akan semua kenangan itu. “Kemudian tersiar berita bahwa pasukan gurumu itu kalah, dihancurkan oleh musuh. Kami menunggu-nunggu, akan tetapi gurumu tidak juga pulang dan menurut kabar angin dari para perajurit, gurumu telah gugur atau melarikan diri karena takut menghadapi pertanggungan jawab atas kekalahan yang dideritanya. Sayangnya, Kaisar percaya akan desas-desus terakhir itu, bahwa gurumu melarikan diri tidak berani bertanggung jawab. Ini merupakan dosa dan keluarganya harus ditangkap untuk mempertanggung jawabkan dosa itu, atau untuk memancing agar gurumu mau pulang. Melihat ancaman ini, aku lalu membawa isteri gurumu untuk pergi dari kota raja. Kami menanti-nanti sambil mencari sampai isteri gurumu melahirkan seorang anak. Ketahuilah bahwa isteri gurumu telah mengandung muda ketika suaminya berangkat berperang. Nah, isterinya melahirkan dan setelah bertahun menanti dan suaminya tidak juga muncul, kami berpendirian bahwa suaminya itu memang telah gugur di medan perang, bukan lari dari tanggung jawabnya. Demi nasib isteri gurumu dan karena memang kami saling setuju, makan aku lalu menikahi isteri gurumu dan anak yang terlahir itu kuanggap anakku sendiri.”
“Ayah...! ayah maksudkan anak itu adalah aku...?” teriak Li Lian sambil menubruk dan merangkul ibunya.
Ayahnya mengangguk dan ibunya berbisik dalam isaknya, “Benar, Li Lian, engkau adalah puteri Yo Kiat, akan tetapi ayahmu yang ini begitu baik kepadamu, kepada kita... dia sama sekali tidak mengkhianati ayah kandungmu, dia malah menolong kami dari aib. Bayangkan saja sebagai seorang janda yang mengandung, kalau sampai aku tertangkap oleh pasukan yang mencari dan dijadikan tawanan...”
“Ibum sudahlah, aku tidak menyalahkan ayah,” kata Li Lian dan iapun bangkit berdiri menghadapi Ki San yang masih duduk tertegun karena tidak mengira akan mendengarkan keterangan seperti itu.
“San-ko, engkau sudah mendengar semua. Bahkan aku sendiripun baru sekarang mendengar riwayat itu. Nah, terserah kepadamu. Akulah puteri gurumu Yo Kiat, dan aku tidak akan membalas dendam kepada siapapun juga. Ayah Kwan Ciu Ek bukan mengkhianati ayah kandungku bahkan telah menolongnya, menyelamatkan isteri dan anaknya. Dia seorang sahabat sejati. Bagaimana hendak didendam dan dibalas? Kalau engkau masih nekad hendak membalas dendam yang tidak pernah ada itu, mari kulayani. Biarlah aku yang mati untuk ayah Kwan Ciu Ek, dan sesudah mati aku akna mengadu kepada ayah kandungku Yo Kiat!”
Ki San menjadi bingung. Tentu saja kalau begitu keadaannya, tidak mungkin dia membalas dendam. Suhunya agaknya telah terluka parah dalam perang, dan tidak dapat menyelidiki dengan seksama, hanya mendengar bahwa isterinya dilarikan sahabatnya Kwan Ciu Ek, maka tumbuhlah dendam di hatinya. Karena dia sendiri merasa lemah oleh lukanya, dia lalu mendidiknya, menurunkan semua ilmunya agar dia yang mewakili membalaskan dendamnya kepada Kwan Ciu Ek yang dianggapnya seorang sahabat yang berkhianat. “Bagaimana, orang muda? Kalau engkau hendak berbakti kepada suhumu dan tetap hendak membalas dendam, aku Kwan Ciu Ek tidak akan melarikan diri. Aku akan menghadapimu, orang muda.”
“Ingat, San-ko. Kwan Ciu Ek adalah satu-satunya ayah yang kukenal dan kusayang. Kalau andaikata ayah Kwan Ciu Ek sampai kalah dan tewas di tanganmu, akulah yang akan membalaskan dendam kematiannya dan engkau akan kuanggap sebagai musuh besarku selamanya! Aku akan terus berusaha membalas dendam kematian ayah kepadamu!”
Tentu saja Ki San menjadi semakin bingung. Dia hendak membalaskan dendam gurunya, kalau berhasil, dia malah akan dijadikan musuh besar puteri kandung gurunya! Bagaimana ini!
“Aku... aku menjadi bingung...” akhirnya dia berkata.
Kini wanita setengah tua itu yang bicara. “Orang muda, aku mengenal mendiang suamiku yang pertama. Semua ini tentu hanya salah paham saja. Dia seorang yang gagah perkasa. Mungkin dia malu untuk pulang ke kota raja setelah kekalahannya dan dia tidak tahu betul apa yang terjadi dengan diriku. Dia hanya mendengar bahwa sahabatnya melarikan aku dan akhirnya mendengar bahwa aku telah menjadi isterinya dan tinggal di Wi-keng ini, maka menyuruh engkau yang membalaskan dendamnya, itupun setelah dia mati. Ketahuilah, betapapun baiknya suamiku yang sekarang, betapapun banyaknya budi yang telah dilimpahkannya, andaikata kami berdua mengetahui bahwa suamiku yang pertama masih hidup, kami tidak akan saling menikah.”
“Nah, San-ko, semua sudah jelas sekarang. Ayah telah bicara, ibu telah bicara dan aku akan bicara kepadamu. Engkau tentu mengakui bahwa aku telah menyelamatkan nyawamu ketika engkau dikeroyok bajak laut dan perahumu hendak ditenggelamkan. Namun engkau juga telah menyelamatkan aku ketika aku dikeroyok Hek-coa Bong Kit Siong dan teman-temannya. Kita sudah saling menolong, juga ketika engkau mengobatiku. Apakah kita sekarang harus saling berhadapan sebagai musuh yang hendak saling membunuh? Jawablah, San-ko, jawab!”
Ki San menjadi semakin bingung. Tak disangkanya bahwa pesan gurunya itu menempatkan dirinya dalam keadaan yang serba salah. Dia mencinta gadis ini, tak salah lagi. Dia merasa betapa di lubuk hatinya, dia amat kagum dan menyayang gadis ini dan gadis ini bahkan puteri kandung mendiang gurunya. Cocok sekali untuk menjadi jodohnya. Akan tetapi gadis ini juga anak tiri musuh besar. Diombang-ambingkan antara dendam dan asmara! Akan tetapi dendamnya ternyata hanya salah sangka saja.
“Aku tidak tahu... aku tidak dapat menjawab, terserah kepada kalian saja...” katanya bingung sehingga Kwan Ciu Ek tertawa. Dia merasa suka kepada pemuda ini yang dapat menerima alasan-alasan mereka.
“Ada satu cara untuk menghilangkan semua dendam yang tidak berketentuan ini, Ki San. Engkau adalah murid gurumu yang berbakti dan setia, dan kalau engkau kini menjadi mantu gurumu, maka sudah cocok sekali. bagaimana, Ki San, bersediakah engkau menjadi suami Li Lian?”
“Aih, ayah...!” Li Lian tidak dapat menahan rasa malunya dan ia lalu lari meninggalkan mereka masuk ke dalam kamarnya.
Ki San merasa terkejut sekali. “Ah, paman! Apakah... Lian-moi sudi?”
Ibu anak itu tersenyum. “Engkau sudah melihat sendiri, Ki San. Ia lari menyembunyikan diri, itu berarti ia setuju. Kalau ia tidak setuju tentu ia telah mencak-mencak dengan marahnya di sini. Tinggal engkau bagaimana?”
“Saya... saya sebatang kara, tidak mempunyai wali... saya... hanya menyerahkan saja kepada paman dan bibi berdua dan tentang suhu...”
“Biarlah aku yang akan bersembahyang kepada bekas suamiku itu dan aku percaya bahwa dia tentu akan menyetujuinya sekali,” kata ibu Li Lian.
Kwan Ciu Ek maju dan merangkul Ki San. “Jangan khawatir, Ki San. Kalau ada yang mengetahui urusan ini, tidak akan ada orang waras yang akan menyalahkanmu, bahkan akan memujimu karena engkau dapat mempertimbangkan dengan adil.” Demikian, akhir cerita ini penuh kebahagiaan bagi Ki San dan Li Lian. Dendam kebencian dihapus dengan pernikahan penuh kasih asmara…..
>>>>> T A M A T <<<<<