Ki San mengangguk dan dia merasa senang sekali. seorang gadis yang cantik, gagah perkasa dan bijaksana. Mereka mendayung perahu ke tepi dan Li Lian meloncat ke darat, lalu menghilang di antara rumah-rumah dusun. Tak lama kemudian ia sudah tiba kembali membawa roti kering dan dendeng, juga seguci air teh. Mereka lalu makan minum di perahu itu dan setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan. Malam itu mereka mendayung bergantian. Kalau yang seorang mendayung, yang lain rebah dan mencoba untuk tidur.
Pada keesokan harinya, tibalah mereka di kaki bukit Ular Hitam itu. Agaknya, anak buah Ular Hitam memang tidak pernah melakukan penjagaan karena mereka yang menguasai seluruh daerah itu menganggap bahwa tidak akan ada orang berani datang memusuhi mereka. Para gerombolan berdatangan ke bukit itu hanya untuk membagi hasil rampokan mereka. Mereka hidup enak-enak di situ, menikmati hasil pembagian para gerombolan.
Karena itu, dengan mudah Ki San dan Li Lian menyusup sampai ke lereng yang menjadi sarang gerombolan itu. Sarang itu merupakan sebuah perkampungan kecil dengan dua puluh lebih buah rumah yang lumayan terbuat dari pada kayu dan di situ anak buah gerombolan tinggal bersama keluarga masing-masing. Di tengah terdapat sebuah rumah besar dan itulah tempat tinggal Hek-coa Bong Kit Siong.
Hari masih pagi dan para anggauta gerombolan yang biasa hidup bermalas-malasan itu belum ada yang bangun. Ki San dan Li Lian menyelinap ke atas. Ketika melihat seorang anggauta gerombolan berada di samping rumahnya, masih nampak malas-malasan, Ki San lalu meloncat dan sekali menggerakkan tangannya, dia telah menotok roboh orang itu dan diseretnya tubuh orang itu di balik semak-semak di mana telah menunggu Li Lian.
“Hayo katakan di mana gadis bernama Ciu Kwan Bi berada! Kalau engkau tidak mengaku, pedang ini akan menyembelih lehermu!” Li Lian berkata sambil menempelkan pedang di leher anak buah Hek-coa-pang itu. Orang itu menjadi pucat sekali wajahnya. “Semua tawanan berada di rumah tawanan, nona... aku... aku mohon ampun...”
“Hemm, berapa orang tawanan berada di sana? Dan mereka itu siapa saja?”
“Ada belasan orang, sepuluh wanita dan lima orang pria. Mereka ditawan menanti uang tebusan.”
“Dan nona Ciu Kwan Bi?”
“Ia... ia hendak diperisteri pangcu, tapi masih belum mau.. dan ia ditawan, pekan depan akan dipaksa menikah dengan pangcu.”
“Jahanam busuk!” Li Lian memaki dan pedangnya ditempelkan semakin kuat ke leher itu sehingga yang mempunyai leher meringis kesakitan.
“Hayo, antar kami ke rumah tahanan itu,” bentak Li Lian. “Baik, nona...”
Dengan berindap-indap kedua orang pendekar itu lalu menggiring anak buah gerombolan menuju ke sebuah rumah besar yang letaknya di belakang rumah tinggal Hek-coa Bong Kit Siong. “Itulah tempatnya, nona, aku... aku tidak berani maju lagi... di sana terjaga...”
“Biar aku yang menyelinap masuk,” kata Ki San dan Li Lian mengangguk menanti di luar rumah itu sambil menodongkan pedangnya kepada anak buah gerombolan yang menjadi tawanannya.
Dua orang penjaga rumah tahanan itu terkejut ketika tiba-tiba ada seorang pemuda muncul di depan mereka. Keduanya duduk menghadapi meja dan melihat seorang pemuda asing, mereka terkejut dan menegur sambil mencabut golok.
“Hei, siapa engkau...”
Akan tetapi jawaban yang mereka peroleh adalah tangan yang menyambar cepat mengenai pundak dan dada sehingga mereka roboh terkulai dalam keadaan tertotok. Tidak tahunya di sebelah damlam juga ada dua orang penjaga yang menjadi terkejut mendengar suara gaduh di luat. Ketika mereka melihat bahwa dua orang rekan mereka dirobohkan seorang pemuda asing, mereka lalu memukul kentungan dan segera menggunakan golok menyerang Ki San. Pemuda ini menangkap pergelangan mereka, dan begitu kakainya bergerak menendang, kedua orang itu terjengkang dan tidak mampu bangkit kembali. Ki San merampas sebatang golok lalu masuk ke dalam. Benar saja di sebelah dalam terdapat kamar-kamar tahanan yang terisi para tahanan, lima belas orang jumlahnya, sepuluh orang wanita dan lima orang pria. Ki San membikin putus rantai pintu kamar-kamar itu dan semua tahanan disuruhnya keluar. Ketika dia mengantar mereka keluar, ternyata keadaannya sudah ribut. Semua anak buah gerombolan telah terbangun oleh kentungan dan dia melihat Li Lian dikeroyok banyak orang anak buah gerombolan, bahkan tampak seorang laki-laki tinggi besar yang menggunakan sepasang golok dengan lihainya. Dia menduga bahwa orang tinggi besar itu tentulah Hek-coa Bong Kit Siong, maka diapun menerjang dan merobohkan beberapa orang anak buah gerombolan yang menyambutnya dengan golok. Sekali ini dia menggunakan pedangnya dan hatinya khawatir sekali melihat betapa Li Lian bergerak dengan terhuyung-huyung. Gadis itu terluka!
Dugaannya memang benar. Tadi, ketika Li Lian menanti sambil menodongkan pedangnya pada leher tawanannya, tiba-tiba terdengar bunyi kentungan. Li Lian tahu bahwa tentu kawannya sudah ketahuan penjaga, maka pedangnya digerakkan dan tawanannya roboh terguling. Bermunculan banyak sekali anak buah gerombolan yang melihatnya. Li Lian mengamuk dengan pedangnya. Akan tetapi, dalam menghadapi pengeroyokan banyak orang itu, tiba-tiba ada paku menyambar. Paku itu dilepas oleh Hek-coa Bong Kit Siong. Li Lian tidak mampu menghindarkan diri. Paku itu menuju ke lehernya dan ia hanya dapat memiringkan lehernya namun paku masih menyambar dan menancap di pundak kirinya. Nyeri bukan main rasa pundaknya itu, akan tetapi Li Lian tidak menjadi gentar bahkan mengamuk semakin hebat. Kini Hek-coa Bong Kit Siong sendiri dengan sepasang goloknya menyambut amukannya, dibantu oleh banyak anak buahnya sehingga Li Lian yang sudah terluka tiu menjadi terhuyung dan tidak leluasa gerakan pedangnya.
Untung baginya pada saat itu Ki San keluar dan menerjang ke arah para pengeroyoknya yang menjadi kacau balau. Ki San cepat menggunakan pedangnya menyerang Hek-coa Bong Kit Siong sedangkan Li Lian hanya melayani pengeroyokan beberapa orang anak buah gerombolan karena sebagian besar dari anak buah gerombolan itu mengeroyok Ki San.
Pemuda itu mengamuk dan mengeluarkan semua ilmu pedangnya, juga mengerahkan seluruh tenaganya. Banyak golok beterbangan karena patah-patah bertemu dengan pedangnya dan dia terus mendesak ke arah Hek-coa Bong Kit Siong. Demikian pula Li Lian mengamuk dan ia merasa agak ringan karena yang mengeroyoknya hanya lima orang saja. Biarpun pundak kirinya tertancap paku dan terasa panas dan nyeri sekali, namun ia masih berhasil merobhkan lawannya satu demi satu.
Sementara itu, Ki San yang mengamuk juga sudah membuat semua anak buah Hek-coa-pang kocar-kacir dan kini tinggal Hek-coa Bong Kit Siong seorng saja yang melawannya. Datuk sesat ini memang cukup lihai. Sepasang goloknya ternyata merupakan senjata yang ampuh pula, tidak patah bertemu dengan pedang Ki San. Dan dia pandai bermain golok sambil bergulingan di atas tanah sehingga agak sulit bagi Ki San untuk merobohkannya.
Tiba-tiba Li Lian datang membantunya. Setelah lima orang pengeroyoknya roboh pula dan melihat betapa Ki San masih belum dapat mengalahkan Hek-coa Bong Kit Siong, Ku Lian lalu menerjang kepala gerombolan itu dengan pedangnya. Kini, si Ular Hitam itu dikeroyok dua. Tentu saja dia menjadi kewalahan sekali. tadipun melawan Ki San dia sudah tersesak hebat dan hanya mampu bertahan saja. Kini dengan masuknya Li Lian yang lihai, dia tidak kuat bertahan lama. Setelah lewat belasan jurus saja, pedang Li Lian telah berhasil menusuk lambungnya dan diikuti pedang Ki San yang menembus dadanya. Kepala gerombolan yang selama ini ditakuti semua orang di tepi Sungai Kuning sebelah utara itu tewas seketika.
Karena anak buah gerombolan yang belum tewas sudah melarikan diri, Ki San dan Li Lian lalu membakar sarang gerombolan itu dan menggiring para tawanan itu turun dari bukit untuk pulang ke rumah masing-masing. Ciu Kwan Bi, gadis berusia delapan belas tahun yang menjadi sahabat dan tetangga Li Lian, ikut pulang bersama para tahanan yang lain, karena ada beberapa orang pula yang sekampung dengannya. Mereka menggunakan perahu-perahu milik para penjahat itu dan mereka disuruh berangkat lebih dulu karena Li Lian perlu mengobati lukanya.
Mereka berdua duduk di bawah pohon, melihat api yang membakar sarang. “Bagaimana dengan lukamu, Lian-moi? Mari kuperiksa dan kuobati.”
Karena terpaksa, Li Lian membiarkan baju di bagian dadanya dibuka sedikit dan Ki San mengerutkan alisnya melihat paku masih menancap di situ dan di sekitar luka itu nampak kehitaman. “Ah, paku beracun! Akan tetapi hangan lhawatir, aku membawa obat luka keracunan pemberian mendiang suhuku,” kata Ki San.
“Jahanam itu melepas senjata rahasia selagi aku sibuk menghadapi pengeroyokan. Untung tidak masuk ke leherku,” kata Li Lian, ngeri memikirkan paku itu mengenai lehernya, tentu ia sudah tewas saat ini.
“Maaf, Lian-moi. Aku harus mencabut paku ini dan menghisap keluar racunnya.”
“Lakukanlah, San-ko dan jangan sungkan,” kata Li Lian, akan tetapi tetap saja mukanya berubah kemerahan dan jantungnya berdebar tidak karuan ketika bibir pemuda itu menyentuh pundaknya dan menghisap. Setelah darah yang keluar dihisap berwarna merah, barulah Ki San menghentikan penghisapannya dan menaruh bubuk obat merah kepada luka itu, lalu dibalutnya dengan sapu tangan milik Li Lian.
“Terima kasih, San-ko. Mungkin engkau telah menyelamatkan nyawaku dengan pengobatan ini.”
“Sudahlah, di antara kita sudah sepatutnya saling bantu membantu, tidak ada terima kasih. Sekarang engkau hendak ke mana, Lian-moi?”
“Pulang.”