"Kepala gunduli Aku kira engkau sudah mampus, tidak tahunya masih hidup!" "Omitohudl" ucap Tayli Lo Ceng sambil tertawa.
"Ha ha ha!
Apakah kalian senang apabila aku mampus?" "Kami pasti berkabung untukmu!" sahut Kou Hun Bijin.
"Kepala gundul, engkau muncul mendadak di pulau ini, tentunya ada sesuatu yang penting.
Ya, kan?" "Betul." Tayli Lo Ceng mengangguk, kemudian menatap Lie Man Chiu.
"Omitohud!
Kenapa engkau tidak bersujud kepadaku?" "Aku sudah tidak punya muka bersujud di hadapan Lo Ceng," sahut Lie Man Chiu dengan kepala tertunduk.
"Ha ha hal" Tayli Lo Ceng tertawa.
"Engkau adalah muridku, maka harus bersujud di hadapanku." "Guru!" panggil Lie Man Chiu dengan suara bergemetar saking terharu, lalu bersujud di hadapan Tayli Lo Ceng sambil terisak-isak.
"Muridku, kenapa engkau terisak-isak?" tanya Tayli Lo Ceng sambil tersenyum lembut.
"Guru, aku pernah melakukan kesalahan," jawab Lie Man Chiu.
"Mohon Guru sudi menghukumku!" "Omitohudl Aku telah menghukummu, maka kini aku tidak perlu menghukummu lagi." "Guru telah menghukumku?" "Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Batinmu selalu tertekan oleh perbuatanmu itu merupakan hukuman bagimu.
Mengerti?" "Mengerti, Guru," ujar Lie Man Chiu.
"Guru, bebaskanlah hukumanku itu!
Aku...
aku sudah tidak tahan." "Muridku!" Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Bangunlah!
Aku telah membebaskan hukumanmu.' "Terirnakasih, Guru!" ucap Lie Man Chh sambil bangkit berdiri.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Lo Ceng, mari kita masuk!" "Terirnakasih!" Tayli Lo Ceng manggut-manggut, lalu melangkah ke dalam Begitu sampai di dalam, Tio Tay Seng seger mempersilakannya duduk.
"Silakan duduk, Lo Ceng!" "Terirnakasih, Tio Tocu!" sahut Tayli Lo Ce sambil duduk.
Pada waktu bersamaan, muncullah Toan Ber Kiat dan Lam Kiong Soat Lan seraya berse dengan penuh kegembiraan.
"Guru!" "Gurul" Mereka berdua langsung bersujud di hadapi Tayli Lo Ceng.
Padri tua itu memandang mereka sambil tertawa.
"Ha ha ha!
Ternyata kalian berada di sini bagus, bagus!" ujar Tayli Lo Ceng.
"Bangunlah!" Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan bangkit berdiri, kemudian duduk di sisi Tayli Lo Ceng.
Tak lama, muncullah Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.
"Lo Ceng!" panggil mereka sambil bersujud.
"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng sambil tersenyum lembut.
"Sungguh bahagia kalian berdua, bangun lah" "Terimakasih, Lo Ceng!" ucap Tio Cie Hiong sekaligus bangkit berdiri, begitu pula Lim Ceng Im.
"Kepala gundul!" tanya Kou Hun Bijin.
"Sebetulnya ada urusan apa, sehingga engkau harus ke mari?" "Aku ke mari untuk melihat-lihat," sahut Tayli Lo Ceng sambil tertawa.
"Apakah aku tidak boleh ke mari kalau tiada urusan?" "Tentu boleh, Lo Ceng," sahut Tio Tay Seng.
"Kehadiran Lo Ceng merupakan suatu kehormatan bagi kami semua." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Belum lama ini, mendadak aku merasa tidak tenang, maka aku segera ke mari." "Murid-muridmu berada di sini, tentunya sekarang engkau sudah bisa tenang," ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.
"Ya, kan?" "Sebetulnya ya, namun...." Tayli Lo Ceng mengerutkan kening, "hatiku masih berdebar-debar.
seakan telah terjadi sesuatu." "Oh?" Kou Hun Bijin menatapnya.
"Apa yang telah terjadi?" "Aku justru tidak tahu." Tayli Lo Ceng menggelenggelengkan kepala.
"Tapi aku yakin, ke jadian itu pasti berkaitan dengan kita." "Kepala gundul, apakah itu tidak salah?" tany Kou Hun Bijin dengan kening berkerut kerut "Engkau harus tahu, bahwa Lie Ai Ling, Tio Bu Yang dan putriku tidak berada di sini.
Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas diri mereka?" "Maaf!" sahut Tayli Lo Ceng.
"Aku tidak berani memastikan, maka aku pun tidak berani sembarangan menjawab." "Lo Ceng?" Wajah Lim Ceng Im tampak lagi cemas.
"Sudah lama putra kami tidak pula apakah...." "Omitohud!
Aku tidak berani memastikan nya " ujar Tayli Lo Ceng dengan kening berkerut kerut.
"Mudah-mudahan mereka tidak akan terjadi sesuatu!" "Lo Cengl" Sam Gan Sin Kay menatapnya "Kami semua menjadi cemas.
Beritahukanlah kira kira apa yang telah terjadi!" "Aku yakin telah terjadi sesuatu, namun tidak berani memastikan apa yang telah terjadi," ujar Tayli Lo Ceng sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu____" Kou Hun Bijin tampak serius.
"Besok aku dan suamiku harus ke Tionggoan." "Bijin...." Kim Siauw Suseng tersentak.
"Besok kita akan ke Tionggoan?" "Ya." Kou Hun Bijin mengangguk.
"Kita harus mencari Goat Nio dan Ai Ling, sebab aku khawatir telah terjadi sesuatu atas diri mereka." "Itu tidak perlu," ujar Tayli Lo Ceng dan menambahkan.
"Lebih baik kita tunggu beberapa hari, kalau mereka masih belum pulang, barulah kalian berangkat ke Tionggoan mencari mereka." "Itu____" Kou Hun Bijin mengerutkan kening.
"Kakak," ujar Tio Cie Hiong.
"Kita tunggu saja beberapa hari, kalau mereka masih belum pulang, barulah kita ke Tionggoan " "Engkau dan Ceng Im juga mau ke Tiong goan ?" tanya Kou Hun Bijin.
"Apa boleh buat!" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita harus mencari mereka." "Aku pun harus ikut," sela Sam Gan Sin Kay.
"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng.
"Kemungkinan besar kalian tidak perlu ke Tionggoan." "Kenapa?" tanya Kou Hun Bijin.
"Sebab..." jawab Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh, "aku merasa ada beberapa orang sedang menuju ke mari." "Kepala gundul!" Kou Hun Bijin menatapnya tajam "Perasaanmu tidak akan salah?" "Aku yakin tidak akan salah." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Mari kita buktikan!
Mungkin Lo Ceng tidak akan omong kosong." "Kalau kepala gundul itu berani omong kosong, kepalanya yang gundul itu pasti benjoli "sahut Kou Hun Bijin samhil tertawa cekikikan "Aku pasti mengetuk kepalanya!" "Omitohud...." Tayli Lo Ceng tersenyum, "Tidak salah," ujar Tio Cie Hiong mendadal "Aku mendengar suara langkah berat menuju kemari." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng manggut manggut.
"Sungguh tajam pendengaranmu!
Sekarang aku baru mendengar suara langkah." "Benar," sahut Kou Hun Bijin.
"Aku pun sudah mendengar langkah." Berselang beberapa saat, muncullah Sian Koan Goat Nio, Lie Ai Ling dan Lu Hui San memapah Kam Hay Thian.
Kemunculan mereka membuat semua orang melongo bercampur terkejut, sebab Kam Hay Thian dalam keadaan pingsan dan wajahnya pun pucat pias.
"Tolong dia!
Tolong dia!" seru Lo Hui San dengan air mata berderai-derai sambil membaringkan Kam Hay Thian di lantai.
Tio Cie Hiong segera mendekati Kam Hay Thian, lalu memeriksanya dengan teliti sekali Setelah itu, ia duduk bersila di lantai dan sebelah telapak tangannya ditempelkan di dada Kam Hay Thian yang hangus itu, sekaligus mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.
"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas panjang.
"Pemuda itu terkena pukulan Seng Hwee Gang Hoat (Ilmu Pukulan Api Suci)]" "Seng Hwee Gang Hoat?" Kini Siauw Suseng, Kou Hun Bijin, Sam Gan Sin Kay dan Tio Tay ng terkejut bukan main.
Mereka saling memandang sambil mengerutkan kening.
"Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Lo Ceng, apakah Cie Hiong dapat menyelamatkan nyawanya?" tanya Sam Gan Sin Kay.
"Mudah-mudahan!" sahut Tayli Lo Ceng.
Sementara Tio Cie Hiong sudah berhenti mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.
Ia bangkit berdiri sambil menghela nafas lega.
"Paman, bagaimana keadaannya?" tanya Lu Huii San cemas.
"Masih bisa ditolong," sahut Tio Cie Hiong.
Kemudian ia berkata kepada Toan Beng Kiat.
"Beng Kiat, gendong dia ke kamar!" "Ya, Paman." Toan Beng Kiat segera menggendong Kam Hay Thian yang masih dalam keadaan pingsan itu ke kamar.
Tio Cie Hiong juga ikut ke kamar.
Lu Hui San tidak ketinggalan.
Gadis itu mengikuti dari belakang.
Toan Beng Kiat membaringkan Kam Hay Thian di tempat tidur, sedangkan Tio Cie Hiong mengambil dua butir pil, kemudian dimasukkan ke mulut Kam Hay Thian, dan setelah itu ia berkata.
"Pemuda itu akan siuman esok, mari kita ke ruang depan!" "Paman, aku...
aku ingin menjaganya," ujar Lu Hui San sambil menundukkan kepala.
"Dia tak perlu dijaga.
Lebih baik engkau ikut ke ruang depan," sahut Tio Cie Hiong dan sekaligus berjalan ke ruang depan.
"Hui San, mari kita ke ruang depan!" ajak Toan Beng Kiat.
"Engkau harus menuruti perkataan Paman Cie Hiong." Lu Hui San mengangguk, lalu bersama Toan Beng Kiat berjalan ke ruang depan.
Mereka duduk di sebelah Lam Kong Soat Lan.
Suasana di ruang itu tampak agak luar biasa.
"Cie Hiong, bagaimana keadaan pemuda itu?" tanya Sam Gan Sin Kay.
"Dia akan siuman esok," jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Namun aku masih merasa heran." "Kenapa merasa heran?" tanya Kim Siauw Suseng.
"Mungkinkah dia punya hubungan dengan Bui Lim Sam Mo?" Tio Cie Hiong mengerutkan ke ning.
"Karena dia memiliki Pak Kek Sin Kang " "Oh?" Sam Gan Sin Kay tertegun.
"Kalau begitu, mungkinkah dia murid Bu Lim Sam Mo?" "Pengemis bau, engkau sudab pikun barangkali!" ujar Kui Hun Bijin sambil tertawa.
"Sudah hampir dua puluh tahun Bu Lim Sam Mo mati, sedangkan pemuda itu berusia dua puluhan!
Coba-lebih pikir, mungkinkah pemuda itu murid Bu Lim Sam Mo?" "Oh, ya!
Aku...." Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Aku memang sudah pikun, tidak memikirkan itu." "Goat Nio, tuturkanlah apa yang telah terjadi!" ujar Kou Hun Bijin sambil menatap putrinya.
"Kam Hay Thian bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun..." tutur Siang Koan Goat Nio mengenai kejadian itu.
"Jadi engkau dan Ai Ling sudah bertemu Bun Yang?" tanya Kou Hun Bijin dengan wajah berseri.
"Ya." Siang Koan Goal Nio mengangguk.
Wajahnya tampak agak kemerah-merahan.
"Tapi____" "Kenapa?" Kim Siauw Suseng memandangnya dalamdalam.
"Dia...
dia terluka ringan." Siang Koan Goat Nio memberitahukan.
"Kauw beng terluka parah kali, aku khawatir...." 'Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas panjang.
"Sungguh kasihan monyet bulu putih itu!" "Bagaimana kauw heng bisa terluka parah?" tanya Tio Cie Hiong cemas.
"Dan bagaimana keadaan Bun Yang?" "Kauw neng menyelamatkan nyawa Bun Yang, maka terkena pukulan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun," jawab Siang Koan Goat Nio memberitahukan.