"Kauwcu," tanya Pek Bin Kui.
"Setahun kemudian, Iweekang Kauwcu pasti bertambah tinggi.
Ya, kan?" "Betul." Seng Hwee Sin Kun mengangguk.
"Kalau begitu," ujar Pek Bin Kui sambil tersenyum.
"Sudah waktunya kita menguasai rimba persilatan." "Tidak salah." Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut dan berpesan.
"Oh ya, dalam waktu setahun ini, kalian pun harus memperdalam kepandaian masing-masing." "Ya." Pek Bin Kui dan lainnya mengangguk.
"Sekarang aku akan ke ruang rahasia untuk mengobati luka dalamku, setahun kemudian barulah kita bertemu," ujar Seng Hwee Sin Kun lalu melangkah ke dalam menuju ruang rahasia.
Leng Bin Hoatsu dan lainnya saling memandang, kemudian mereka duduk dengan kening berkerut kerut "Kini Seng Hwee Sin Kun telah memasuki ruang rahasia, setahun kemudian kita baru bertemu dia.
Menurut kalian apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Leng Bin Ituatsu.
"Seng Hwee Sin Kun telah berpesan tadi, kita harus memperdalam kepandaian masing-masing, itu yang harus kita lakukan," sahut Pek Bin Kui.
"Menurut aku," ujar Hek Sim Popo dengan tertawa.
"Bagaimana kalau kita menyerang Kay Pang?" "Itu tidak boleh." Pat Pie Lo Koay menggelengkan kepala.
"Karena kita harus mentaati pesan Seng Hwee Sin Kun, maka alangkah baiknya kita memperdalam kepandaian saja." "Benar." Tok Chiu Ong manggut-manggut dan menambahkan, "Setahun kemudian barulah kita berunding dengan Seng Hwee Sin Kun, apakah kita perlu menyerang Kay Pang atau tidak?" "Ngmm!" Leng Bin Hoalsu mengangguk.
"Memang harus begitu, jadi kita tidak melanggar apa yang dipesankan Seng Hwee Sin Kun." "Lalu bagaimana para anggota kita?" tanya Hek Sim Popo mendadak.
"Apakah kita masih perlu melatih mereka?" "Tentu perlu," sahut Leng Bin Hoatsu.
"Ka rena setahun kemudian, kita harus menyerang Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya." "Ha ha hal" Pek Bin Kui tertawa gelak.
"Setahun kemudian, Seng Hwee Kauw pasti akan menguasai dunia persilatan!" "Betul." Leng Bin Hoatsu manggut-manggut dan tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha.
" "Setahun kemudian, Kay Pang dan tujuh partai besar harus tunduk kepada Seng Hwee Kauwl" ujar Hek Sim Popo sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"He he hel" "Eh?" Pek Bin Kui memandang Pai Pie Lo Koay.
"Lo Koay, kenapa engkau diam saja?" "Dulu Bu Lim Sam Mo ingin menguasai rimba persilatan, tapi akhirnya mereka bertiga malah mati.
Oleh karena itu...." Pat Pie Lo Koay menggeleng-gelengkan kepala.
"Maksudmu Seng Hwee Kauw tidak mampu menguasai rimba persilatan?" tanya Pek Bin Kui dengan kening berkerut.
"Kita harus tahu, kepandaian Tio Cie Hiong tinggi sekali," sahut Pat Pie Lo Kuay "Kelihatannya Seng Hwee Sin Kun masih tidak mampu mengalahkan putranya, apalagi melawan Tio Cie Hiong." "Tapi kita pun harus tahu," ujar Pek Bin Kui sungguhsungguh.
"Kini Seng Hwee Sin Kun sudah memasuki ruang rahasia untuk mengobati lukanya, sekaligus memperdalam lwekangnya.
Nah, setahun kemudian Iweekangnya pasti tinggi sekali.
Aku yakin Tio Cie Hiong bukan lawannya." "Tidak salah," sela Tok Chiu Ong.
"Kareni itu, setahun kemudian Seng Hwee Kauw pasti dapat menguasai rimba persilatan." "Mudah-mudabanI" ucap Pat Pie Lo Koay lalu tertawa gelak.
"Ha ha ha!
Mulai sekarang, kita pun harus memperdalam kepandaian maslng masing." --ooo0dw0ooo-- Bagian ke tiga puluh empat Monyet Bulu Putih Menemui Ajalnya Setelah menempuh perjalanan siang malam beberapa hari, akhirnya Tio Bun Yang tiba juga di Gunung Thian San dengan menggendong erat erat monyet bulu putih Setibanya di gunung itu, Tio Bun Yang segera mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kan untuk menghangatkan monyet bulu pulih yang digendongnya.
Ia pun menggunakan ginkang menuju goa tempat tinggal monyet bulu putih, da-n ketika hari mulai sore barulah sampai di tersebut.
"Kauw heng, kita sudah sampai." Tio Bun Yang memberitahukan.
Monyet bulu putih menengok ke sana ke mari dengan mata redup, kemudian bercuit lemah.
"Kauw heng!" Tio Bun Yang duduk bersila.
Ditaruhnya monyet bulu putih itu di pangkuannya, lalu dibelainya.
"Gembirakah engkau berada di dalam goa ini?" Monyet bulu putih mengangguk sambil bercuit, menunjuk dirinya lalu menunjuk ke kiri.
"Kauw heng____" Tio Bun Yang terisak-isak.
"Engkau bilang setelah engkau mati, aku harus ke arah timur puncak gunung ini?" Monyet bulu pulih manggut-manggut lemah.
Tio Bun Yang memandangnya dengan air mata herderai-derai.
"Kauw heng, engkau...
engkau tidak akan mati____" Tio Bun Yang terus membelainya.
Monyet bulu putih menggeleng-gelengkan kepala, kemudian air matanya pun meleleh, sekaligus menjulurkan tangannya memegang lengan Tio Bun Yang.
"Kauw heng____" Tio Bun Yang juga menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau tidak akan mati____" Monyet bulu putih bercuit-cuit lemam.
"Maksudmu aku harus ke arah timur puncak punung ini?" tanya Tio Bun Yang.
"Di sana terdapat sebuah goa es?" Monyet bulu putih itu mengangguk, nafasnya semakin lemah.
"Kauw heng...." Tio Bun Yang memeluknya erat-erat.
"Kauw heng...." Monyet bulu putih itu bercuit, kemudian kepalanya terkulai.
Seketika juga Tio Bun Yang menjerit.
"Kauw hengl Kauw heng " Monyet bulu putih itu diam saja, ternyati nafasnya telah putus.
Dapat dibayangkan, betapa sedihnya hati Tio Bun Yang.
Ia terus membelai monyet bulu putih itu sambil menangis meraung raung.
"Kauw beng.
Kenapa engkau tinggalkan aku Kauw heng...." Tio Bun Yang terus menangis meraung-raung, akhirnya pingsan.
Berselang beberapa saat, barulah ia siuman dan segera memeluk monyet bulu putih itu lagi.
"Kauw heng!
Engkau mati karena menyelamatkan nyawaku.
Aku bersumpah, semua keturunanku tidak boleh membunuh monyet jenis apa pun.
Kauw heng, aku bersumpahl" Setelah bersumpah, barulah Tio Bun Yang mengubur monyet bulu putih tersebut, lalu berangkat ke arah timur puncak gunung itu.
-ooo0dw0oooTiraikasih Bukan main dinginnya hawa di puncak sebelah Timur Gunung Thian San.
Sejauh mata memandang hanya tampak salju.
Tio Bun Yang tidak habis pikir, kenapa monyet bulu putih itu menyuruhnya ke tempat tersebut.
Setibanya di tempat itu, ia melihat sebuah jurang yang ribuan kaki dalamnya.
Tio Bun Yang berdiri di pinggir jurang itu sambil mengerutkan kening, la yakin monyet bulu putih itu punya maksud tertentu menyuruhnya ke mari.
Karena itu, tanpa ragu ia menuruni jurang tersebut sekali gus mengerahkan Pan Yok Hian Sin Kang, agar tidak kedinginan.
Tak seberapa lama, sampailah Tio Bun Yang di dasar juraog Sungguh dingin dan indah dasar jurang itu, Tio Bun Yang merasa dirinya seperti berada di dalam sebuah kaca besar, karena di tempat itu hanya terdapat salju beku.
Kalau ia tidak memiliki Pan Yok Hian Thian Sin Kang, mungkin sudah mati beku di dasar jurang itu.
Tio Bun Yang menengok ke sana ke mari.
tiba tiba dilihatnya sebuah goa, dan segeralah ia menuju goa itu.
Sampai di depan goa, ia tidak berani langsung masuk, melainkan berdiri di situ sambil memandang ke dalam.
Sungguh mengherankan, karena goa itu tampak terang.
Berselang sesaat, barulah Tio Bun Yang melangkah memasuki goa itu.
Bukan main indahnya goa itu, sehingga sukar diuraikan dengan kata-kata.
Tampak berbagai macam bentuk balok es berdiri di dalam goa, dan dinginnya sungguh luar biasa.
Tio Bun Yang telah mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang, tapi ia masih merasa dingin., Tiba-tiba ia melihat beberapa baris tulisan terukir pada dinding goa, ternyata merupakan huruf-huruf Han kuno.
Tio Bun Yang mengerti, sebab ketika masih kecil, ayahnya pernah mengajarnya hurufhuruf Han kuno tersehut.
Maka, segeralah ia membacanya Engkau telah memasuki goa es ini, pertanda monyet salju itu telah mati oleh pukulan Seng Hwee Ciang Hoat yang mengandung api Itu memang sudah takdir, maka engkau tak usah sedih.
Tentunya engkau merasa heran, kenapa monyet salju itu menyuruhmu ke mari, itu merupakan pesanku, sebab Seng Hwee Sin Karg telah muncul di rimba persilatan.
Oleh karena itu, engkau harus mempelajari Kan Kun Taylo Sin Kang yang mengandung hawa dingin di dalam goa es ini.
Perlu engkau ketahui bahwa Kan Kun Taylo Sin Kang yang engkau miliki mengandung hawa panas yang disebut 'Yang', begitu pula Pan Yok Hian Thian Sin Kang yang engkau miliki.
Walau engkau memiliki Pan Yok Hian Thian Sin Kang pelindung diri, namun tidak akan terluput dari serangan Seng Hwee Sin Kang yang mengandung semacam api, yang akan membuatmu terluka dalam.
Apabila engkau cuma terluka luar, berarti engkau memiliki mutiara inti es yang di dalam batu es di dalam goa hangat tempat tinggal monyet salju.
Sungguh beruntung engkau memiliki mutiara inti es itu, karena akan mempermudah engkau mempelajari Kan Kun Taylo Im Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta Yang Mengandung Hawa Dingin).
Kalau engkau telah berhasil mempelajari Kan Kun Taylo Im Kang, barulah engkau mampu melawan Seng Hwee Sin Kang.
Kan Kun Taylo Sin Kang dan Seng Hwee Sin Kang berasal dari Persia, apabila Seng Hwee Sin Kang muncul, maka Hian Goan Sin Kang pun akan muncul (Tenaga Sakti Melumpuhkan Lawan).
Ilmu tersebutpun berasal dari Persia.
Seandainya ilmu tersebut dimiliki penjahat, celakalah rimba persilatan, sebab Pan Yok Hian Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang maupun Seng Hwee Sin Kang masih di bawah tingkat Hian Goan Sin Kang.
Oleh karena itu, engkau harus berhati-hati menghadapi orang yang memiliki Hian Goan Sin Kang.
Kini engkau boleh mulai mempelajari Kan Kun Aiylo Im Kang.
Ikuti saja petunjuk-petunjuk berikutnyal Engkau harus duduk bersila, sepasang telapak tanganmu harus memegang mutiara inti es itu.
Dengan penuh perhatian Tio Bun Yang membaca petunjukpetunjuk tersebut.
Ia bergirang dalam hati karena telah memperoleh mutiara inti es tersebut.
Seusai membaca petunjuk-petunjuk itu, se geralah ia mengeluarkan kantong kulit dari dalam bajunya, lalu mengambil mutiara inti es di dalam kantong kulit itu.
Tio Bun Yang duduk bersila sambil menggenggam mutiara inti es dengan kedua telapak tangannya.
Seketika ia merasa hawa yang amat dingin menerobos ke dalam tubuhnya melalui kedua telapak tangannya.
Cepat-cepat lah ia mengatur pernafasannya sesuai petunjuk-petunjuk yang dibacanya tadi dengan mata dipejamkan, ia mulai mempelajari Kan Kun Taylo Im Kang.
--ooo0dw0ooo-- Para penghuni Pulau Hong Hoang To terheran-heran bercampur gembira karena kemunculan Tayli Lo Ceng yang mendadak itu.
Seketika Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.