Liu Bhok Ki mengangguk dan kini dia memandang kepada gadis cantik yang datang bersama muridnya itu. Seorang gadis yang wajahnya cantik, berbentuk bulat telur, dengan tubuh yang tinggi semampai dan ramping, pakaiannya rapi dan bersih, bibirnya yang merah sehat itu selalu tersenyum, matanya jeli dan kocak. Gagang pedang yang tersembul belakang pundak itu saja menunjukkan bahwa gadis ini bukan seorang wanita lemah.
"Han Beng, siapakah Nona yang datang bersamamu ini?"
Sebelum Han Beng menjawab, Giok Cusudah mengangkat kedua tangan di depan dadanya dan memberi hormat. "Lo- cian-pwe, dua belas tahun yang lalu Lo-cian-pwe pernah berjumpa dengan saya di Sungai Huang-ho. Apakah Lo-Cian- pwe sudah melupakan saya?" Berkata demikian, Giok Cu menatap wajah Si Rajawali Sakti itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Eh? Bertemu di Huang-ho? Kapankah itu, Nona? Dan di mana?" Dia bertanya heran.
"Dua belas tahun yang lalu, di atas perahu dekat pusaran maut ketika terjadi perebutan anak naga. Ketika itu, seperti juga Han Beng, saya dijadikan perebutan oleh para tokoh kang-ouw, dan Ayah Ibu saya menderita luka di atas perahu mereka " Giok Cu bukan sekedar mengingatkan, akan
tetapi juga memancing sambil menatap tajam wajah Pendekar tua itu.
Sin-tiauw Liu Bhok Ki mengingat-ingat dan membayangkan peristiwa yang terjadi dua belas tahun yang lalu itu. Peristiwa memperebutkan anak naga Sungai Huang-ho yang takkan terlupakan selama hidupnya karena dalam peristiwa itulah dia bertemu dengan Han Beng yang kemudian menjadi muridnya. Teringatlah dia akan seorang gadis cilik yang kemudian ikut pula diperebutkan orang-orang kang-ouw karena seperti juga Han Beng, gadis itu telah bergulat dengan "anak naga" dan menggigit serta menghisap darah anak naga itu.
"Ahhhhh sekarang aku ingat! Engkau adalah gadis
cilik yang pemberani itu yang bersama Han Beng melawan anak naga dan berhasil membunuhnya dan menghisap pula darahnya. Bukankah engkau gadis cilik itu?"
Bukan itu yang dikehendaki Giok "Benar, Lo-cian-pwe. Dan Lo-cian-pwe tentu masih ingat kepada Ayah Ibunya berada dalam perahu dalam keadaan terluka. Lo-cian-pwe bersama Han Beng datang dengan perahu lain dan naik perahu orang tuaku, bukan? Tentu Lo-cian-pwe masih ingat apa yang terjadi dengan Ayah Ibuku pada waktu itu ia sengaja tidak melanjutkan karena ingin memancing pendekar tua itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Liu Bhok Ki sudah tentu saja ingat akan semua itu. Dia mengangguk-angguk. "Ya benar, aku ingat semuanya. Setelah menyelamatkan Han Beng dari tangan tokoh-tokoh sesat itu, Han Beng mengajak aku mencari kedua orang tuanya. Akan tetapi gagal, dan kami bertemu dengan orang tuamu di perahu yang juga menderita luka-luka. Aku bahkan masih sempat mengobati mereka sebelum kami berdua meninggalkan mereka."
Giok Cu memandang semakin tajam dan penuh selidik sehingga Liu Bhok Ki terheran, lalu berseru, "Ah, Nona, kenapa engkau memandangku seperti itu?"
Sejak tadi Han Beng hanya diam saja, bahkan menundukkan mukanya. Dia mengerti akan sikap Giok Cu. Dia tahu bahwa gadis itu, walaupun percaya kepadanya, namun masih merasa penasaran dan ingin mendengar sendiri pengakuan gurunya, dan kini gadis itu memancing-mancing agar Liu Bhok Ki menceritakannya apa yang sesungguhnya terjadi ketika itu. Dia sengaja diam saja tidak mau mencampuri karena dia yakin akan kebersihan gurunya maka tidak perlu dia membelanya. Biarlah gadis itu mendapat keyakinan sendiri setelah bicara dengan gurunya yang dia percaya dapat mengusut semua keraguan dari hati Giok Cu. "Lo-cian-pwe, apakah yang Lo-cia pwe lakukan ketika naik ke perahu Ayah Ibuku?" tanyanya dan pandang matanya menatap tajam. Liu Bhok Ki memandang heran.
"Eh? Apa yang kulakukan? Aku bertanya kepada orang tuamu tentang orang tua Han Beng, kemudian melihat mereka menderita luka-luka, aku lalu mengobatinya."
"Apakah ketika Lo-cian-pwe mengobati mereka, Ayah dan Ibuku itu menderita luka-luka parah?"
Liu Bhok Ki menggeleng kepala dengan tegas. "Sama sekali tidak! Luka yang mereka derita hanya luka di luar saja, dan aku yakin setelah kuobati ketika itu mereka tentu sembuh kembali."
Giok Cu membayangkan ketika ia bersama subonya berada di perahu ayah Ibunya itu. Ayah ibunya yang ia temukan dalam keadaan terluka, akan tetapi mereka tidak parah, dan mereka bercerita bahwa mereka diserang oleh orang-orang jahat, mereka terluka dan hanya seorang saja pembantu mereka selamat. Yang lain tewas. Juga ayah bundanya yang menceritakannya bahwa orang tua Han Beng tewas. Juga ayahnya bercerita bahwa Han Beng dan Liu Bhok Ki, pendekar tua itu yang mengobati mereka, demikian cerita ayahnya. Dan tiba-tiba Ban-tok Mo-li yang berseru keras mengatakan bahwa ayah bundanya diracuni Liu Bhok Ki dan ayah ibunya tiba-tiba terkulai dan tewas dengan muka berubah menghitam! Racun yang amat keras dan dapat menewaskan orang seketika. Hal itu tentu saja baru diketahuinya setelah ia mempelajari ilmu dari Ban-tok Mo-li. Ayah ibunya tewas oleh racun jahat yang merenggut nyawa orang seketika, bukan racun yang membunuh perlahan-lahan. Kalau benar Liu Bhok Ki yang meracuni ayah ibunya, tentu ayah ibunya sudah tewas ketika ia dan Ban-tok Mo-li tiba perahu mereka. Jelas bahwa ayah ibunya tewas oleh racun yang membunuh mereka seketika, dan racun itu pasti bukan dari Liu Bhok Ki datangnya dan lebih masuk akal kalau Ban- tok Mo-li yang meracuni mereka!
"Lo-cian-pwe adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, tentu Lo-cian-pwe tidak sudi untuk berbohong, dan bukan seorang pengecut yang tidak berar mempertanggung jawabkan perbuatannya ”
"Heiiiii! Nona, apa maksud kata-katamu itu?" Liu Bhok Ki terbelalak dan wajahnya yang gagah itu menjadi kemerahan, matanya mengeluarkan sinar mencorong.
"Ketika Lo-cian-pwe berada di perahu orang tua saya itu, Lo-cian-pwe mengobati ataukah meracuni mereka?"
Dengan alis berkerut dan mata mencorong pendekar tua itu bertanya, suaranya dalam dan berwibawa, "Nona, mengapa engkau bertanya demikian? Aku telah mengobati mereka. Kenapa aku harus meracuni mereka? Tidak ada alasan sama sekali! Dan mengapa pula engkau menduga bahwa aku telah meracuni orang tuamu?"
"Karena ketika saya dan Subo tiba di perahu orang tua saya itu, saya menemukan mereka dalam keadaan terluka dan tak lama kemudian mereka tewas keracunan. Dan menurut keterangan Subo (Ibu Guru), mereka itu tewas karena Lo-tan- pwe yang meracuni mereka."