Dara yang menyamar pria ini terkejut. Satu-satunya harapan untuk dapat menyelamatkan nyawa Ciang Bun adalah nenek itu, maka diapun cepat menyambar buntalan pakaiannya dan meloncat, lari mengejar. Karena memang gin-kang dari Ganggananda amat hebat, sebentar saja nenek itu sudah tersusul. Mereka turun dari lembah dan perjalanan itu melalui tanah datar, menuju ke sebuah bukit yang banyak batu-batu besarnya. Perjalanan mendaki dan agak sukar, dan karena malam itu hanya diterangi bintang-bintang, cuaca suram muram, maka perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki, tidak dapat berlari cepat lagi.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Ganggananda untuk mencari keterangan lebih lanjut. Nenek itu memperkenalkan diri sebagai Gan Cui, akan tetapi ketika ditanya tentang keadaan Bu-taihiap, ia tidak mau banyak bicara, hanya mengatakan bahwa Bu-taihiap adalah seorang laki-laki yang gila perempuan.Kalau saja Ganggananda tahu siapa adanya Bu-taihiap, tentu dia akan terkejut sekali karena Bu-taihiap yang dianggap musuh besar oleh nenek Gan Cui sebetulnya adalah seorang pendekar sakti yang namanya terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang datuk yang berilmu tinggi. Di dalamKisah Suling Emas dan Naga Siluman banyak diceritakan tentang pendekar ini. Bu-taihiap bernama Bu Seng Kin.
Memang dia terkenal sebagai seorang pria yang ganteng, tampan dan gagah dan pandai sekali merayu wanita. Memang dia remantis sekali, dan tidak aneh kalau disebut gila perempuan karena dia jarang mau melepaskan kesempatan untuk menggoda dan merayu setiap kali bertemu wanita cantik. Entah berapa ratus wanita cantik yang sudah jatuh oleh rayuannya, menjadi kekasihnya. Bahkan isterinyapun banyak, di antaranya yang terus mendampinginya sampai tua adalah Tang Cun Ciu yang berjuluk Cui-beng Sian-li, tokoh Lembah Suling Emas yang kini berganti nama menjadi Lembah Naga Siluman karena nyonya ini tadinya adalah isteri seorang di antara tokoh keluarga Cu, yaitu mendiang Cu San Bu.
Begitu bertemu dengan Bu-taihiap, nyonya inipun dirayu dan jatuh. Dan akhirnya nyonya inipun mencari Bu-taihiap dan ikut mendampinginya. Ada pula yang bernama Gu Cui Bi, seorang nikouw! Nikouw yang sudah jatuh pula inipun mendampingi suaminya yang bangor. Yang ke tiga adalah Nandini, seorang wanita Nepal, bukan sembarang orang karena wanita ini pernah menjadi panglima Nepal. Tiga orang isteri yang mendampinginya di hari tua ini rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Nenek Gan Cui adalah satu di antara ratusan orang wanita yang jatuh oleh rayuannya, kemudian ditinggalkannya begitu saja. Tidak mengherankan kalau nenek itu tidak pernah berhasil membalas dendam, karena yang dihadapinya adalah seorang pendekar sakti yang amat terkenal. Kalau dahulu di waktu mudanya Bu-taihiap tinggal di Puncak Merak Emas di Pegunungan Himalaya, kini dia lebih suka merantau di seluruh daratan bersama tiga orang isterinya. Karena mereka kini sudah tua, sudah rata-rata enam puluh tahun usianya, maka kalau mereka memperoleh tempat yang indah menyenangkan, mereka tinggal di tempat itu untuk sementara. Setelah bosan lalu berangkat merantau lagi.
Dan pada waktu itu, Bu-taihiap dan tiga orang isterinya tinggal untuk sementara di bukit berbatu-batu itu. Bukit itu puncaknya ternyata datar dan indah, penuh dengan pohon bunga yang aneh-aneh dan yang jarang terdapat di daerah lain. Di tempat ini Bu-taihiap membangun sebuah pondok kayu yang cukup besar dengan beberapa buah kamar untuk dia dan tiga orang isterinya.
"Nenek Gan, engkau sendiri yang begini pandai tidak mampu mengalahkan Bu-taihiap, lalu bagaimana seorang muda seperti aku akan mampu mengalahkannya. Aku harus tahu diri, dan kalau aku disuruh menghadapi seorang yang ilmunya jauh lebih tinggi dariku, bukau kah itu berarti aku akan mati konyol dan akan bunuh diri?!
"Heh-heh, aku tidak setolol itu. Aku sudah mengenal wataknya. Selain mata keranjang, manusia she Bu itupun tinggi hati dan angkuh sekali. Dia tidak pernah mau kalah dalam ilmu kepandaian bu. Maka, aku akan menemuinya dan menantang kepadanya untuk mengadu ilmu gin-kang. Karena ilmu itu merupakan andalan dan kebanggaannya, tentu dia dengan girang menerimanya dan aku akan mengajukan engkau sebagai jagoku. Dan kalau dia sampai kalah, heh-heh, selain dia harus memenuhi janji, juga dia akan malu setengah mati. Dia, Bu-taihiap jagoan terkenal itu, jagoan perempuan, akhirnya harus mengaku kalah oleh seorang wanita!!
Ganggananda terkejut sekali dan cepat ia agak menjauh dan menghentikan langkah, memandang nenek itu dengan mata terbelalak.
"Apa maksudmu, nek?!
"Hi-hik, antara kita sama-sama wanita, tentu engkau berpihak padaku daripada laki-laki gila perempuan itu, bukan?!
"Bagaimana engkau bisa tahu, nek?! Ganggananda bertanya penasaran. Selama ini, penyamarannya dapat dibilang sempurna sehingga belum pernah ada orang yang dapat mengenalnya sebagai wanita. Akan tetapi nenek ini yang sejak tadi tidak memperlihatkan sikap bahwa ia tahu akan keadaan dirinya, menyebutnya orang muda, bagaimana tiba-tiba kini mengatakan bahwa ia seorang wanita?
"Ah, apa sukarnya bagiku! Penyamaranmu memang baik dan engkau seorang ahli pula dalam hal itu. Akan tetapi terhadap ketajaman penciumanku, mana mungkin engkau mampu menyembunyikan atau merobah bau khas seorang wanita? Dengan ketajaman hidungku, aku dapat mencium bau binatang-binatang berbisa dari jarak jauh. Ular itupun dapat kucium biarpun ia bersembunyi di dalam lubang, bukan? Dan sejak pertemuan pertama, baumu sebagai wanita sudah pula tercium olehku. Dan karena engkau seorang wanita pulalah yang mendorongku untuk minta bantuanmu. Wanita manapun akan membenci pria yang suka mempermainkan wanita.!
Ganggananda atau Gangga Dewi atau yang biasa disebut Gangga saja, menarik napas panjang dan diam-diam dara ini kagum terhadap nenek yang selain lihai juga memiliki ketajaman penciuman yang istimewa itu.
"Engkau benar, nek. Aku adalah seorang gadis. Akan tetapi merantau seorang diri dalam dunia yang begini kotor dan penuh dengan orang jahat....!
"Memang tepat menyamar sebagai pria agar lebih aman, apalagi kalau bertemu dengan laki-laki jahat dan gila perempuan macam Bu-taihiap, sungguh tidak aman sekali bagi seorang wanita yang muda lagi cantik seperti engkau.!
Pada keesokan harinya, ketika matahari telah menyinari permukaan bumi, membuat bayangan panjang dan masih lemah, tibalah nenek Gan Cui dan Gangga di depan sebuah pondok kayu yang berada di tanah datar puncak bukit itu. Rumah itu terpencil, sederhana dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi namun indah. Memang indah pemandangan alam di tempat itu.
Dari puncak ini nampak bumi terhampar luas, sinar matahari tak terhalang apapun dan tanah di puncak itu sendiri amat subur, penuh dengan tanaman bunga dan tanaman obat. Akan tetapi tidak nampak seorangpun manusia, seolah-olah pondok itu kosong. Hal ini mulai dikhawatirkan Gangga. Kalau pondok itu kosong, berarti usaha mereka gagal dan bagaimana nenek itu akan mau memberikan obat yang amat dibutuhkan Ciang Bun? Akan tetapi, nenek itu tidak nampak khawatir seperti Gangga. Ia kelihatan tegang dan siap, maju menghampiri pondok dari depan.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang muncul dari sebelah kiri pondok dan ternyata ia adalah seorang nenek yang usianya tentu sudah lima puluh lima tahun kurang lebih, namun masih nampak bekas kecantikannya. Nenek ini memakai pakaian mewah, tubuhnya masih ramping dan padat dan gerakannya gesit. Wajahnya yang cantik dan terawat baik itu membayangkan kegalakan dengan sinar matanya yang tajam. Sebatang pedang yang tergantung di punggungnya menandakan bahwa nenek ini adalah seorang ahli silat dan hal inipun kentara dari gerakannya ketika berkelebat datang tadi. Kini ia sudah berdiri di depan Gan Cui dan Gangga, sejenak memandang tajam penuh selidik, kemudian tersenyum mengejek menatap wajah nenek Gan Cui.
"Hemm, perempuan tak tahu malu. Engkau masih berani merangkak datang lagi setelah berkali-kali kalah oleh suamiku?! kata wanita itu dengan suara mengejek. Wanita ini adalah seorang di antara isteri-isteri Bu-taihiap dan ialah yang memiliki tingkat kepandaian paling tinggi. Ia adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, janda tokoh keluarga Lu yang tergila-gila kepada Bu-taihiap dan kini menjadi seorang di antara isteri-isterinya yang selalu mendampingi pendekar petualang asmara itu.
Disambut dengan ucapan keras itu, nenek Gan Cui tetap tenang saja. Agaknya ia tidak mau ribut dengan para isteri Bu-taihiap karena urusannya adalah urusan pribadi, antara ia dan pendekar itu sendiri. Kalau sampai ia melibatkan isteri-isterinya, terlalu berat dan berbahaya baginya, karena iapun maklum betapa lihainya para isteri Bu-taihiap. Maka, iapun hanya memandang tajam dan berkata.
"Aku datang untuk bertemu dengan orang she Bu. Dan sekali ini aku tidak akan gagal.!
"Kami sudah tahu akan kedatanganmu dan kami sudah siap menyambutmu. Marilah masuk dan langsung saja ke ruangan belakang di mana suami kami telah menantimu,! kata nyonya itu yang segera membalikkan tubuhnya masuk ke dalam pondok. Nenek Gan Cui mengikutinya tanpa ragu-ragu, sedikitpun tidak kelihatan takut, padahal Gangga mempunyai perasaan seperti memasuki guha naga atau sarang harimau.
Bagaimana tidak akan merasa ngeri memasuki rumah orang yang dianggap musuh? Dan melihat sikap gagah nyonya rumah itu, iapun merasa semakin ngeri. Ia sudah dapat menduga, dari langkah kaki nyonya tua itu, bahwa nyonya itu tentu lihai sekali, apalagi telah berani bersikap memandang rendah seperti itu terhadap seorang nenek seperti Gan Cui.Ruangan belakang itu ternyata cukup luas dan dinding belakangnya tidak ada, terbuka menembus ke taman bunga di belakang.
Hawanya sejuk sekali di ruangan itu. Di ruangan ini nampak duduk seorang kakek yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, dan di sebelah kirinya duduk dua orang wanita. Kakek itu bertubuh tegap dan wajahnya yang sudah mulai dibayangi ketuaan usianya itu masih nampak amat tajam dan ganteng, dengan kulit mukanya yang bersih kemerahan, alisnya yang tebal dan pandang matanya yang demikian tenang dan penuh pengertian, mulutnya selalu tersenyum dan tahulah Gangga mengapa pria ini banyak digandrungi wanita. Senyumnya itu! Sungguh merupakan senyum yang melumpuhkan. Dan sepasang matanya juga begitu hidup seolah-olah dia dapat menyatakan isi hatinya melalui pandang mata dan senyumnya.
Dua orang wanita itupun cantik-cantik. Yang seorang memakai penutup kepala pendeta, berjubah seperti seorang nikouw, wajahnya putih bundar, mulutnya kecil dan ia nampak manis sekali walaupun usianya juga sudah lima puluh tahun lebih. Wanita ke dua juga beberapa tahun lebih tua, akan tetapi wanita ini jelas bukan orang Han. Sekali pandang saja tahulah Gangga bahwa wanita itu adalah seorang wanita berbangsa India atau Nepal, tubuhnya kecil jangkung, hidungnya mancung dan matanya hitam tajam sekali, sikapnya ketika duduk itu membayangkan kegagahan. Dua orang nenek ini adalah dua orang isteri Bu-taihiap di samping Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu yang menyambut tamu tadi.
Yang seorang adalah Gu Cui Bi yang pernah menjadi nikouw dan sampai sekarang tidak pernah mengganti jubah nikouwnya dan selalu menutupi kepalanya dengan penutup kepala para nikouw. Adapun yang ke dua adalah Nandini, puteri Nepal yang pernah memimpin pasukan Nepal sebagai panglima yang gagah perkasa. Dua orang wanita ini duduk dengan anteng, hanya pandang mata mereka menyambut munculnya nenek Gan Cui dan Gangga dengan sikap memandang rendah. Tanpa bicara, Tang Cun Ciu juga duduk di kursi pertama di sebelah kiri suaminya.
Kini Bu-taihiap memandang nenek Gan Cui sambil tersenyum.
"Adik Cui, engkau baru datang? Apakah sekali ini engkau datang untuk menerima usulku dan menghabiskan sisa hidup bersama kami? Agaknya engkau membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengambil keputusan yang amat baik itu.!
"Orang she Bu! Jangan engkau mimpi bahwa aku akan mengalah begitu saja! Aku datang untuk menantangmu!!
Pendekar itu menarik napas panjang dan masih tersenyum, menoleh kepada tiga orang isterinya dan berkata lirih.
"Lihat, ia ini sungguh memiliki hati yang keras seperti baja!!
Ucapan itu bukan memburukkan, bahkan lebih condong memuji. Tiga orang wanita di sampingnya hanya melirik dan melihat cebiran bibir mereka menunjukkan bahwa ketiganya merasa tidak puas dengan ucapan ini dan di dalam hati mereka mengejek, walaupun tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Gangga melihat semua ini dan diam-diam dara ini tertarik sekali. Sebuah keluarga yang aneh, pikirnya, juga penuh diliputi sikap gagah.
Kini Bu-taihiap memandang kepada Can Cui, masih tersenyum.
"Adik Cui, kiranya selama tiga tahun tidak jumpa, engkau menghimpun kekuatan untuk berusaha menantangku kembali? Hemm, engkau menantangku? Ingat baik-baik, tidak mudah mengalahkan ilmuku dan andaikata aku kewalahan menghadapimu, tentu tiga orang isteriku ini tidak akan tinggal diam. Apakah engkau mampu menghadapi kami berempat?!
"Boleh! Kalau kalian begitu tidak tahu malu untuk mengeroyokku, akupun tidak takut!!