Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dan muncullah Sie Lan Hong bersama Lie Bouw Tek di pintu ruangan itu!
"Ibuuu....!"
Bi Sian berseru, memburu kepada ibunya. Mereka saling rangkul.
"Ibu, apa artinya ucapanmu tadi?"
"Bi Sian, anakku. Percayalah, Sie Liong bukan pembunuh ayahmu! Aku yakin akan hal itu!"
"Ibu....!"
Bi Sian memandang kepada ibunya penasaran.
"Kalau bukan dia yang membunuh ayah, habis siapa?"
"Engkau mau tahu siapa pembunuh ayahmu? Dialah orangnya!"
Sie Lan Hong menunjuk ke arah Coa Bong Gan yang seketika pucat dan terbelalak. Karena semua mata kini ditujukan kepadanya, dia menjadi gentar dan tanpa disadarinya, dia melangkah mundur sampai mepet ke dinding.
"Ibu, apa artinya ini? Sute Coa Bong Gan yang membunuh ayah? Bagaimana pula ini? Ibu, aku bingung, aku tidak mengerti...."
Bi Sian masih meragu karena hal itu dianggapnya tidak masuk akal.
"Tidak benar, suci, itu fitnah saja!"
Bong Gan mencoba untuk membantah, walaupun wajahnya sudah menjadi pucat sekali.
"Diam kau!"
Bentak Bi Sian.
"Ibu tidak akan menuduh dengan fitnah! Ibu, jelaskanlah agar aku dapat mengerti."
"Bi Sian, setelah engkau pergi, aku lalu melakukan penyelidikan tentang kematian ayahmu. Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Malam itu, ayahmu pergi ke rumah pelesir, tempat para pelacur dan ayahmu di tempat itu minum sampai mabok. Akan tetapi, menurut keterangan para pelacur di sana, sebelum ayahmu tiba, di sana ada seorang tamu lain. Ayahmu melihat tamu itu, dan tamu itu-lah yang telah membunuh ayahmu."
"Siapa...., siapa dia, ibu?"
"Tamu itu adalah dia, Coa Bong Gan ini!"
"Bohong!"
Teriak Bong Gan.
"Apa perlunya aku membunuh ayahmu, suci?"
"Hemm, apa perlunya?"
Sie Lan Hong berkata.
"Suamiku telah melihatmu di rumah pelacuran. Dan engkau tentu merasa takut kalau sampai suamiku menceritakan kelakuanmu yang hina itu kepada puteriku. Engkau jatuh cinta kepada puteriku ini, bukan? Tentu engkau tidak ingin puteriku mendengar bahwa engkau berkeliaran dan bermain gila di rumah pelacuran, maka engkau membunuh suamiku yang sedang mabok. Dan untuk menghilangkan jejak, engkau menyamar sebagai adikku dan melempar kedok itu di dekat kamar Sie Liong!"
"Aihh, pantas dia bersikeras untuk membunuhku, dan telah berhasil membuntungi lengan kiriku. Tentu untuk menghilangkan sama sekali jejaknya."
Kata Sie Liong yang masih merangkul Ling Ling. Bi Sian kini menjadi pucat, sepasang matanya terbelalak memandang kepada Bong Gan, saking kagetnya, herannya dan marahnya ia sampai merasa hampir pingsan. Ling Ling meronta lepas dari rangkulan Sie Liong ketika mendengar ucapan Sie Liong.
"Liong-koko, jadi dia itulah yang telah membuntungi lenganmu? Keparat jahanam....!"
Ling Ling berlari menghampiri Bong Gan dengan sikap seperti seekor singa betina yang hendak menyerang dengan cakaran dan gigitan.
"Ling Ling, ke sinilah....!"
Namun, seruan Sie Liong itu terlambat. Bong Gan secepat kilat sudah menyambar lengan Ling Ling dan menelikungnya. Dia kini tersenyum menyeringai dan memandang kepada semua orang dengan sikap menantang.
"Kalian semua mundur! Kalau ada yang berani maju, akan kubunuh gadis ini!"
Melihat betapa Ling Ling kembali menjadi tawanan Bong Gan, tentu saja Pendekar Bongkok tidak berani berkutik. Juga Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek yang keduanya sudah memegang pedang masing-masing, tidak berani maju. Akan tetapi, Bi Sian tidak perduli. Ia melangkah mnju menghampiri sutenya, pedang Pek-lian-kiam masih di tangannya, matanya tak pernah berkedip, terbelalak memandang kepada pemuda itu.
"Coa Bong Gan.... kau.... kau..... yang telah membunuh ayah?"
Katanya lirih, seperti orang bertanya juga seperti orang meragu dan tidak per-caya.
"Suci, mundur kau! Akan kubunuh gadis ini kalau engkau tidak mau mundur!"
Bentak Bong Gan.
"Bunuh aku! Keparat jahanam kau! Bunuh aku!"
Ling Ling meronta, lalu setelah lengan sebelah terlepas, ia nekat meneakar dan menggigit.
"Hayo bunuh aku! Jahanam busuk kau, bunuh aku! Engkau telah membuntungi lengan Liong-koko! Hayo kau bunuh aku....!"
Dan bagaikan gila Ling Ling menubruk ke arah pedang yang dipegang Bong Gan. Pemuda ini kewalahan juga ketika Ling Ling meronta, mencakar dan menggigit. Ketika dia hendak menggerakkan tangan kiri untuk menotok, hal yang tidak mudah karena tubuh gadis itu meronta dan menggeliat-geliat, tiba-tiba Ling Ling de-ngan nekat menubruk ke arah pedang. Pedang yang runcing itu memasuki perutnya dan darah muncrat ketika dengan lunglai, Ling Ling roboh. Bong Gan terbelalak dan meloncat ke belakang sambil menarik pedangnya.
"Ling-moi....!"
Secepat kilat Pendekar Bongkok meloncat dan menyambar tubuh Ling Ling yang mandi darah. Sekali memeriksa, tahulah dia bahwa sia-sia saja menolong gadis itu. Gadis itu dalam sekarat!
"Ling Ling.... ahhh, Ling Ling.... kenapa kau lakukan itu....?"
Sie Liong menangis, mengguncang tubuh gadis itu dan menciumi mukanya. Ling Ling menggerakkan bibirnya, berkata lirih.