Halo!

Suling Naga Chapter 141

Memuat...

"Mereka bertiga datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun di timur! Ah, Yo Jin, engkau mencari gara-gara saja. Bagaimana baiknya sekarang?"

Yo Jin mengerutkan alisnya dan diapun bangkit. Sedikitpun dia tidak merasa takut.

"Ayah, mereka itu pengacau-pengacau tak tahu malu. Kalau mereka berani datang untuk membikin ribut di sini, biarlah aku akan menghajar meereka lagi."

Berkata demikian, dengan sikap gagah Yo Jin lalu melangkah keluar.

"Toako, berhati-hatilah...."

Siu Kwi berseru dan iapun sudah bangkit dan memegang lengan pemuda itu. Yo Jin menoleh.

"Lebih baik engkau jangan keluar, jangan memperlihatkan diri. Biar aku yang menghadapi mereka."

"Tapi.... tapi engkau akan dikeroyok lagi, dipukuli...."

Yo Jin tersenyum dan untuk beberapa detik lamanya tangannya menggenggam tangan wanita itu.

"Tak perlu dirisaukan! Bukankah di sini ada engkau yang akan mengobati semua bekas pukulan?"

Dia lalu melepaskan tangannya dan cepat keluar karena orang-orang itu sudah berteriak-teriak lagi. Siu Kwi berdiri bengong dan mulutnya tersenyum, wajahnya berseri. Ia merasa seperti seorang gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta! Akan tetapi ia segera mengkhawatirkan keadaan Yo jin dan iapun cepat mengintai dari balik pintu. Ternyata tiga orang pemuda berandalan itu, setelah melarikan diri. Segera pergi menghadap Lui-kongcu (tuan muda Lui), putera dari kepala dusun tempat asal tiga orang pemuda itu.

Mereka memang berkawan dengan putera kepala dusun yang terkenal mata keranjang. Mereka memuji-muji kecantikan wanita yang menjadi pacar seorang pemuda petani di dusun selatan sehingga Lui-kongcu tertarik sekali. Apa lagi mendengar betapa tiga orang pemuda itu yang dianggap sebagai anak buahnya, telah dihajar babak-belur oleh pemuda itu karena memperebutkan wanita cantik, Lui-kongcu merasa penasaran. Mengandalkan kedudukan ayahnya, dia memang sudah biasa merajalela dan suka membikin kacau, menekan para penduduk yang tentu saja takut kepadanya mengingat akan kedudukan ayahnya, yaitu kepala dusun Lui. Ketika Yo Jin muncul diikuti oleh ayahnya yang memandang khawatir, Lui-kongcu sudah menyambutnya dengan dampratan.

"Monyet inikah yang telah lancang tangan berani memukuli tiga orang pemuda dusun kami?"

Dia membentak sambil menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka Yo Jin.

"Siapakah namamu?"

Yo Jin tidak mengenal pemuda yang bertubuh jangkung kurus dan berwajah tampan akan tetapi angkuh ini. Akan tetapi tadi ayahnya sudah memberi tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun timur.Maka dia dapat menduga tetu pemuda tampan jangkung berpakaian mewah ini putera kepala dusun itu.

"Maaf, bukan aku yang memukuli dan mengeroyokku. Aku hanya membela diri saja. Namaku adalah Jin she Yo...."

"Bagus, Yo Jin. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun kami di timur. Engkau telah berani kurang ajar terhadap kami, hayo cepat berlutut minta ampun!"

Bukan watak Yo Jin untuk merendahkan diri karena takut. Dia tidak merasa besalah, maka diapun tidak takut terhadap siapa juga.

"Lui-kongcu, sudah kukatakan bahwa aku tidak bersalah, maka diapun tidak takut terhadap siapa juga.

"Lui-kongcu, sudah kukatakan bahwa aku tidak bersalah. Merekalah yang terkenal sebagai pemuda-pemuda berandalan yang suka membikin kacau. Sebaiknya kalau Lui-kongcu sebagai putera kepala dusun, menghukum mereka agar mereka tidak lagi menjadi berandalan-berandalan yang suka mengacau ke kampung-kampung."

"Tutup mulutmu! Engkau berani membantah dan melawan aku, ya?"

Bentak Lui-kongcu marah sambil melangkah maju mendekati Yo Jin.

"Hayo lekas berlutut!"

"Aku tidak bersalah apa-apa, kenapa harus berlutut?"

Jawab Yo Jin dengan sikap tenang dan alis berkerut, pandang mata tajam ditujukan kepada wajah kongcu itu.

"Engkau melawanku?"

Lui-kongcu membentak, lalu membuat gerakan memasang kuda-kuda dengan gagah dan membentak,

"Haiiiit....!"

Lalu tubuhnya menerjang ke depan, tangannya yang dikepal memukul bertubi-tubi. Yo Jin menyangka bahwa anak kepala dusun ini akan memukulnya, dan dia pun merasa sungkan untuk membalas, maka dia menangkis sedapatnya. Karena tidak membalas, dan karena dia masih lelah, beberapa pukulan mengenai tubuhnya, dan tentu saja terasa nyeri karena mengenai bagian yang memar dan masih biru. Lui-kongcu melanjutkan serangannya sambil berteriak-teriak seperti lagak seorang jagoan tulen. Karena kesakitan, Yo Jin lalu melawan. Dia membalas dengan pukulan tangan kanan yang mengenai dada Lui-kongcu sehingga tubuh si jangkung ini terpelanting!

Kiranya, hanya lagak saja seperti jagoan. Memang dia pernah belajat silat, akan tetapi orang seperti dia mana ada ketekunan belajar secara sungguh-sungguh? Dia belajar hanya untuk berlagak, maka yang dihafalnya hanyalah pemasangan kuda-kuda dan gerakan-gerakan yang nampak indah, namun karena dia tidak tekun mempelajari dasar-dasarnya, maka semua gerakannya itu kosong belaka, bagaikan bungkusan indah yang tidak ada isinya. Maka, begitu Yo Jin membalas, diapun terkena pukulan dan terpelanting. Melihat demikian, tiga orang pemuda berandalan itupun maju mengeroyok. Tentu saja Yo Jin yang masih belum pulih kesehatannya, dan masih lelah itu, harus menerima hajaran empat orang pengeroyoknya, dipukul dan ditendang sampai babak belur. Namun, dengan gigih dia membela diri dan melawan, sedikitpun tidak pernah mengeluh.

"Heiii, jangan berkelahi! Jangan pukuli anakku....!"

Ayah Yo Jin yang melihat puteranya dipukuli orang lalu maju untuk melerai, akan tetapi ia disambut oleh pukulan-pukulan yang membuat ia roboh terpelanting pula! Melihat itu, Siu Kwi lalu keluar dari tempat persembunyiannya.

"Tahan, jangan berkelahi!"

Mendengar suara perempuan, empat orang pengeroyok itu menghentikan amukan mereka dan Lui-kongcu memandang bengong ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik jelita berdiri di situ. Tiga orang pemuda berandalan itupun memandang dan mereka segera mengenal wanita itu.

"Kongcu, itulah pacarnya yang cantik!"

Lui-kongcu tidak perlu diberitahu lagi karena matanya yang berminyak sudah melahap kecantikan yang berada di depan matanya dan diapun sudah dapat menduga bahwa tentu wanita ini yang menjadi gara-gara keributan itu, yang diperebutkan dan dia tidak menyalahkan anak buahnya kalau tergila-gila kepada wanita ini. Memang cantik jelita!

"Yo Jin, aku akan mengampunimu kalau engkau mau memberikan pacarmu ini kepadaku, setidaknya kupinjam dia untuk beberapa malam lamanya!"

Kata Lui-kongcu tanpa malu-malu lagi. Dapat dibayangkan betapa panas rasanya hati Yo jin. Dia sudah jatuh cinta kepida Siu Kwi dan kini mendengar kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar itu, yang ditujukan kepada Siu Kwi, tentu saja dia menjadi marah.

"Lui-kongcu, andai kata ia itu pacarku, tunanganku atau isteriku, tentu takkan kuserahkan kepadamu, dan akan kuhajar engkau yang berani bersikap kurang ajar! Akan tetapi sayang, ia hanya seorang sahabat baru dan seorang tamuku yang terhormat."

Mendengar jawaban ini, Lui-kongcu dan tiga orang pemuda berandalan itu saling pandang. Si gendut, seorang di antara tiga pemuda berandalan itu, berseru tak percaya.

"Kau bohong! Kalau bukan pacarmu, kenapa engkau membelanya sampai mati-matian?"

"Hemmm, orang-orang macam kalian ini tentu merasa heran, akan tetapi orang-orang sopan tentu mengerti bahwa sudah sepatutnya kalau seorang pria menghormati wanita, membelanya dan bukan seperti kalian yang hendak menghinanya dan mempermainkannya!"

"Ha-ha-ha, bocah petani dusun tolol! Orung macam engkau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau ia bukan apa-apamu, sudah, mundur kau dan jangan turut campur!"

Kata Lui-kongcu yang diam-diam merasa jerih juga melihat kenekatan Yo Jin yang agaknya tidak mengenal takut dan sakit. Ia menghampiri Siu Kwi dan tersenyum menyeringai sambil memasang aksi.

"Nona cantik, marilah engkau ikut bersamaku. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun di timur yang kaya raya. Engkau tentu akan mengalami kesenangan kalau ikut bersamaku. Jadilah tamuku yang terhormat dan kita bersenang-senang bersama. Marilah, manis!"

Dia mengulur tangan hendak memegang tangan Siu Kwi.

Agaknya, pemuda ini selalu yakin bahwa setiap orang perempuan tentu akan tunduk dan memyambut ajakannya dengan girang. Wanita mana yang dapat menolaknya? Dia masih muda, tampan dan gagah, kaya raya dan ayahnya menjadi kepala dusun yang hidupnya seperti seorang raja kecil saja di dusunnya! Sudah terlalu banyak wanita yang tunduk kepadanya, seperti kerbau dicocok hidungnya kalau dia merayu dan mengajak mereka. Siu Kwi ingin sekali tampar menghancurkan kepala Lui-kongcu itu. Akan tetapi ia masih terus sadar dan teringat bahwa ia kini harus menjadi seorang yang baru sama sekali, tidak boleh lagi mempergunakan ilmunya untuk mengulangi lagi kehidupan sesat dan kejam seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, tentu saja ia tidak dapat memadamkan kemarahan yang berkobar di dalam dadanya melihat sikap anak kepala dusun itu.

"Tidak, aku tidak mau pergi ke mana-mana, ti-dak mau pergi meninggalkan Jin-toako yang membutuhkan perawatanku. Kalian pergilah dari sini dan jangan membikin kacau!"

Lu-kongcu tertawa dan membelalakkan matanya.

Post a Comment