Halo!

Suling Naga Chapter 140

Memuat...

Tiga orang pemuda itu jatuh bangun dan semangat mereka sudah buyar sama sekali. Mereka masih ketakutan karena tanpa sebab mereka tadi merasa tangan mereka nyeri bukan main, pisau mereka terlepas dan mereka tidak mampu bergerak. Teringatlah mereka akan wanita cantik tadi dan kembali timbul dugaan bahwa wanita itu tentu siluman dan kini membantu si pemuda petani. Maka, tanpa dikomando lagi, mereka bertiga lalu melarikan diri tunggang langgang! Pemuda petani itu berdiri memandang mereka sampai bayangan mereka lenyap di antara pohon-pohon. Dia lalu menyeka darah dari hidung dan bibirnya yang pecah-pecah, menggunakan punggung tangan yang juga matang biru membengkak. Setelah tiga orang lawannya pergi, baru dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan diapun agak terhuyung menghampiri pohon besar di tepi jalan.

"Ah, kau terluka...."

Hampir saja pemuda petani itu menerjang dan menyerang Siu Kwi yang muncul dengan tiba-tiba dari balik batang pohon besar. Dia sudah melupakan wanita itu yang disangkanya tentu sudah melarikan diri ketakutan dan tidak akan kembali lagi ke tempat itu.

"Ah, kau....?"

Serunya kaget, juga girang bukan main. Kukira engkau sudah pergi jauh dari tempat ini, nona. Dengan hati merasa lega sekali pemuda tani itu lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, karena tubuhnya kini terasa lelah bukan main, tenaganya seperti hampir habis. Siu Kwi cepat berlutut di dekatnya.

"Ah, tubuhmu luka-luka semua, babak bundas.... ah, tentu nyeri sekali...."

Katanya dan dengan lembut jari-jari tangan wanita itu menyentuh dada, pundak dan pangkal lengan yang memar dan matang biru.

Sentuhan-sentuhan lembut itu seperti obat yang amat nyaman terasa oleh pemuda tani. Biarpun usianya sudah dua puluh lima tahun, akan tetapi dia belum pernah menikah, bahkan jarang bergaul dengan wanita. Dan kini, tiba-tiba muncul seorang wanita yang luar biasa cantiknya berdekatan dengannya, menyentuh tubuhnya dengan lembut. Jantung pemuda itu berdebar keras sekali dan hal ini mudah nampak oleh Siu Kwi sehingga wanita inipun diam-diam merasa girang sekali. Ia sudah berpengalaman, sudah mengenal banyak pria dan tahu akan keadaan seorang pria. Maka mudah saja ia mengetahui bahwa pria dusun inipun amat tertarik kepadanya dan bahwa pendekatannya membuat pemuda itu berdebar jantungnya. Anehnya, sekali ini ia merasa demikian girang dan bangga akan kenyataan ini!

"Luka-lukamu ini perlu dirawat. Aku biasa merawat luka, marilah kuantar engkau pulang dan akan kurawat luka-lukamu.... ahhh...."

Tiba-tiba Siu Kwi teringat dan mukanya berubah pucat dan iapun bangkit dan melangkah mundur. Pria petani itu sudah merasa girang mendengar bahwa wanita cantik itu akan ikut dia pulang dan akan merawat luka-lukanya, akan tetapi terkejut melihat perubahan sikap wanita itu. Diapun bangkit berdiri, memandang penuh selidik.

"Ada apakah, nona?"

"Kau....ah, tentu di rumahmu ada isteri dan keluargamu yang akan merawatmu...."

Kata Siu Kwi, memandang penuh pertanyaan dan dengan hati gelisah. Mengapa dia tidak ingat akan hal itu? Seorang pria sedewasa ini, apa lagi hidup di dusun, sudah tentu pria ini sudah menikah dan mungkin sudah mempunyai beberapa orang anak! Hatinya seperti ditusuk-tusuk. Kalau dulu, ia tidak akan perduli apakah seorang laki-laki itu berkeluarga atau tidak, mau atau tidak padanya. Kalau ia suka, dengan halus maupun kasar ia tentu akan memiliki pria itu, atau membunuh-nya. Akan tetapi sekarang, ia ragu-ragu, khawatir dan berduka membayangkan bahwa laki-laki ini tentu sudah beristeri! Pemuda petani itu tersenyum. Senyumnya cerah, wajar dan sehat.

"Nona, aku belum pernah menikah. Di rumahku hanya tinggal aku dan ayahku seorang. Ibuku sudah lama meninggal."

Merasa bagaikan sebongkah batu dilepaskan dari hatinya yang tertindih, Siu Kwi ingin sekali merangkul dan mencium pemuda itu. Namun aneh lagi. Ia merasa malu melakukannya, dan ia menahan gejolak perasaannya itu.

"Aih, kalau begitu baru aku berani ikut denganmu dan merawat luka-lukamu."

Karena pertanyaan wanita itu, kini si pemuda petani juga memandang ragu. Masih nonakah wanita ini ataukah sudah nyonya? Kiranya sukar dipercaya kalau masih nona, karena usianya sudah tidak begitu muda lagi walaupun kecantikannya membuat ia nampak jauh lebih muda. Setidaknya, tidak lebih muda darinya dan wanita seusia ini tak mungkin masih perawan.

"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, nona.... atau.... nyonyakah?"

Luar biasa sekali! Siu Kwi merasa mukanya panas dan ia tentu akan terheran-heran kalau dapat melihat betapa kulit mukanya berubah kemerahan seperti seorang perawan yang tersipu malu! Heran sekali ia, mengapa ia merasa begini malu dan canggung ditanya oleh pemuda ini apakah ia masih gadis ataukah sudah menikah? Tentu saja akan tidak enak sekali kalau ia mengaku masih gadis, karena usianya sudah tidak pantas untuk itu.

"Aku.... aku seorang janda yang ditinggal mati suamiku, beberapa tahun yang lalu. Semenjak itu, aku hidup seorang diri saja...."

"Ahh....! Maafkan pertanyaanku kalau aku telah menyinggung perasaanmu dan mendatangkan kembali kenangan yang menyedihkan,"

Kata pemuda itu, agak terkejut. Siu Kwi tersenyum, manis sekali.

"Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, kesedihan sudah lama meninggalkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin mengetahui siapakah namamu dan di mana rumahmu?"

"Aku she Yo bernama Jin, tinggal berdua dengan ayah di dusun sebelah selatan itu."

Dia menudingkan telunjuknya ke arah selatan di mana nampak dari situ sekelompok rumah dusun.

"Namamu Jin (Welas Asih), pantas engkau berhati mulia, mau membela dan menolong aku yang sama sekali tidak kau kenal. Aku she Ciong, namaku Siu Kwi dan lempat tinggalku tidak tetap karena aku sudah tidak memiliki keluarga lagi."

Pemuda dusun yang bernama Yo Jin itu memandang dengan sinar mata mengandung iba dan dia menggeleng kepala.

"Akan tetapi.... apakah sama sekali tidak mempunyai anggauta keluarga? Orang tua, saudara-saudara...."

Akan tetapi Ciong Siu Kwi menggeleng kepala dan ia memang tidak berbohong. Ia sendiri sudah tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali ketika dipungut oleh Sam Kwi.

"Aku hidup sebatangkara, seorang diri saja di dunia yang luas ini. Aihh, kenapa kita bercakap-cakap saja, engkau perlu dirawat. Mari kuantar engkau pulang."

Siu Kwi lalu memegang lengan pemuda itu dan membantunya bangkit berdiri. Melihat betapa wanita itu memegang lengannya, kembali jantung Yo Jin tergetar dan diapun masih merasa ragu-ragu. Seorang wanita secantik ini, sudah menjanda dan nampak begitu mewah pakaiannya, hendak menggandengnya!

"Tapi, nyonya...."

"Hemm, Yo Jin. Aku sudah memperkenal-kan bahwa namaku Siu Kwi, bukan?"

"Baiklah,.... adik Kwi. Aku.... aku masih sangsi apakah mungkin seorang seperti engkau ini merawatku....?"

Senang hati Siu Kwi disebut Kwi-moi (adik Kwi) walaupun ia yakin bahwa ia lebih tua dari pemuda itu. Diapun sengaja menyebut toako (kakak) untuk mengimbangi sebutan Yo Jin dan untuk menghormati pemuda dusun itu. Kenapa tidak, Jin-toako? Engkau sudah menolongku, menyelamatkan aku dari gangguan tiga pemuda berandalan itu.

Budimu terlampau besar dan sudah sepatutnya kalau aku kini merawatmu, sekedar untuk membalas kebaikanmu dan menyatakan terima kasihku. Akan tetapi.... tentu saja aku tidak berani memaksa kalau engkau tidak sudi dirawat oleh seorang janda yang hidup merana dan kesepian. Di dalam kalimat terakhir itu terkandung isak dan inipun bukan pura-pura karena memang hati Siu Kwi merasa sedih sekali membayangkan hatinya yang sedang kesepian dan merana itu menderita pukulan karena ditolak oleh Yo Jin. Ia merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda ini. Bukan sekedar nafsu berahi yang mendorongnya. Entah bagaimana, melihat sikap pemuda ini yang melindungi dan membelanya mati-matian tanpa pamrih, ia merasa aman sentausa berada di samping Yo Jin. Perasaan sepi lenyap.

"Aih, mana mungkin aku menolak uluran tanganmu, Kwi-moi? Mari, marilah kita pulang."

"Pulang?"

Seperti dalam mimpi Siu Kwi mengulang kata yang terdengar amat luar biasa itu, amat asing namun amat indahnya.

"Ya, pulang! Bukankah engkau tadi mengajakku pulang? Ke rumahku, rumah ayahku."

"Pulang....?"

Kembali Siu Kwi mengulang kata itu, kata yang baginya mengandung makna yang asing dan indah,

Seolah-olah "pulang"

Merupakan sebuah tempat milik mereka berada, sebuah sarang yang aman sentausa, yang nyaman dan penuh kedamaian. Ayah Yo jin adalah seorang kakek petani yang bertubuh tinggi besar, berwatak jujur dan dia menyambut pulangnya puteranya dengan alis berkerut. Tentu saja dia merasa heran bukan main melihat anaknya pulang bersama seorang, wanita cantik berpakaian mewah yang menggandengnya. Mereka nampak demikian mesra! Akan tetapi perasaan heran ini menjadi kekagetan dan kekhawatiran ketika dia melihat betapa muka anaknya itu matang biru dan bengkak-bengkak. Baru dia mengerti setelah Yo Jin menceritakan bahwa dia diganggu dan dikeroyok oleh tiga orang pemuda kota yang berandalan itu dalam membela Ciong Siu Kwi yang hendak diganggu.

"Nyonya.... eh, adik Ciong Siu Kwi mene-mani aku karena ia hendak merawat luka-lukaku, ayah. Aku tidak dapat menolak maksud baiknya itu."

Ayahnya mengangguk-angguk dan menatap wajah wanita ini dengan tajam penuh selidik. Pandang mata itu membuat Siu Kwi merasa kikuk sekali, akan tetapi ia hanya menundukkan mukanya.

"Mari, Jin-toako, kucuci luka-luka itu, karena kalau didiamkan saja dan terkena kotoran dapat membengkak dan berbahaya,"

Katanya halus kepada Yo Jin. Pemuda itu mengangguk dan mulailah Siu Kwi merawatnya. Ia mencuci luka-luka itu, dengan jari-jari tangan menyentuh halus ia menggosok bagian yang bengkak, menaruh obat pada bagian yang memar dan matang biru. Entah mana yang lebih manjur, obat yang dipergunakan Siu Kwi ataukah sentuhan jari-jari tangannya, akan tetapi Yo Jin merasa betapa kenyerian di tubuhnya lenyap seketika. Mau rasanya dia dipukuli orang setiap hari kalau sesudah itu dirawat oleh jari-jari tangan wanita cantik ini! Karena dia memang jujur, maka suara hatinya ini tak dapat ditahannya.

"Wah, aku sungguh beruntung!"

Katanya, Ayahnya sudah meninggalkan mereka yang berada di ruangan samping.

"Beruntung? Kenapa?"

Tanya Siu Kwi, ingin tahu sekali.

"Ya, beruntung telah dipukuli orang sampai babak belur dan matang biru."

Siu Kwi memandang heran.

"Eh? Betapa anehnya!"

"Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin aku akan mendapatkan perawatanmu seperti ini?"

Siu Kwi merasa betapa jantungnya berdebar. Ingin ia merangkul pemuda itu, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya. Ia harus bersikap biasa, ia tidak menuruti lagi segala kehendak hatinya seperti yang sudah-sudah. Namun ia tidak dapat terbebas dari perasaan jengah sehingga mukanya berubah kemerahan.

"Jin-toako, masih sakitkah bekas pukulan dan tendangan itu?"

"Tidak, sama sekali sudah lenyap. Sentuhan tanganmu yang lembut mengusir semua rasa nyeri,"

Jawab Yo Jin sungguh-sungguh.

"Senangkah engkau kurawat begini?"

"Senang sekali! Mau rasanya aku setiap hari menerima pukulan asal engkau yang merawatnya."

Siu Kwi memandang penuh perhatian. Bersandiwarakah pemuda ini? Apakah dia sebenarnya seorang laki-laki yang pandai merayu hati wanita dan kini berpura-pura sebagai seorang pemuda dusun yang bodoh? Tidak, dia merasa yakin bahwa pemuda ini bukan seorang perayu, melainkan seorang yang amat jujur. Apa yang diraskannya, apa yang dipikirkannya, langsung saja keluar melalui mulutnya. Dan ia merasa betapa ada suatu kegembiraan besar memenuhi dadanya. Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring di luar rumah dan ayah Yo Jin memasuki ruangan itu dengan wajah membayangkan kekhawatiran besar.

Post a Comment