Halo!

Suling Naga Chapter 125

Memuat...

Sim Houw kembali memandang kepada gadis itu dengan pandang mata yang aneh tadi, pandang mata yang membuat Bi Lan merasa bingung dan canggung,

"Lan-moi, untuk melindungimu dari bahaya, jangankan hanya pedang pusaka, biar nyawakupun kupertaruhkan."

Bi Lan membelalakkan kedua matanya dan sejenak menatap wajah pemuda itu, mencoba untuk meneliti wajah itu di dalam cahaya remang-remang, ingin mengetahui mengapa Sim Houw bersikap seperti itu kepadanya.

"Akan tetapi.... kenapa, toako? Kita baru saja berjumpa dan ber-kenalan, akan tetapi kenapa kau.... kau begitu baik kepadaku? Kenapa kau membelaku mati-matian, mengorbankan pusaka, padahal bagi seorang pendekar, bukankah senjata pusaka itu merupakan nyawa kedua? Dan engkaupun mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku. Kenapa....?"

Di dalam pertanyaan itu terkandung perasaan ingin tahu yang mendalam sekali sehingga wajah Sim Houw berubah kemerahan. Untung cahaya remang-remang menyembunyikan perubahan air mukanya itu sehingga tidak nampak oleh Bi Lan. Gadis itu hanya melihat Sim Houw menarik napas panjang lalu tersenyum, senyum penuh kesabaran dan pengertian seperti yang dikenalnya dengan baik selama ini. Tentu saja hati Sim Houw ingin meneriakkan bahwa dia melakukan semua itu karena dia mencinta gadis ini! Ya, dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan, seperti yang belum pernah dialaminya semenjak cintanya gagal terhadap Kam Bi Eng.

Di dalam diri Bi Lan, dia seperti menemukan Bi Eng ke dua dan dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan! Akan tetapi, tak mungkin dia berani menyatakannya. Dia merasa malu kepada Bi Lan dan kepada diri sendiri. Pertama, dia jauh lebih tua dari gadis ini, tidak sepadan. Dia pantas menjadi paman gadis ini! Dan ke dua, dia tidak mau menderita untuk kedua kalinya, derita yang timbul karena cinta gagal, cinta yang bertepuk tangan sebelah pihak seperti cintanya kepada Kam Bi Eng. Tidak, dia tidak mau menjadi buah tertawaan Bi Lan dan orang lain dengan pengakuan cintanya, dan dia merasa ngeri menghadapi kegagalan lagi. Lebih baik dia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya sendiri, mem-bawa rahasia itu di dalam sisa hidupnya sampai dia mati. Akan tetapi pertanyaan Bi Lan demikian mendesak, menuntut keterangan. Setelah menarik napas panjang sekali lagi untuk menenangkan hatinya yang berdebar, dia berkata,

"Kenapa, Lan-moi? Ah, perlukah hal itu kau tanyakan lagi? Kita melakukan perjalanan bersama, kita sudah menjadi sahabat, sudah sepatutnya kalau aku melindungimu."

"Akan tetapi, antara sahabat tidak mungkin sampai orang harus mengorbankan pusakanya dan bahkan nyawanya, toako."

"Begini, Lan-moi. Engkau sebatangkara di dunia ini, engkau tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Dan akupun hidup sebatangkara. Nasib kita sama. Nah, kalau bukan aku yang melindungi dirimu, habis siapa lagi? Bagaimana aku selanjutnya dapat hidup dengan perasaan tenang kalau aku membiarkan dirimu seorang diri menempuh bahaya besar ini? Tidak, aku tentu takkan pernah dapat mengampuni diriku sendiri. Hidup atau mati, aku harus menemanimu dalam menghadapi ancaman bahaya, Lan-moi."

Sejenak Bi Lan diam saja seolah-olah kecewa mendengar keterangan itu. Dia seperti merasakan bahwa alasan Sim Houw mempertaruhkan nyawanya tentu karena sebab yang lebih mendalam, bukan sekedar setia kawan seorang sahabat baru! Ia seolah-olah mengharapkan pengakuan yang lain!

"Akan tetapi, toako. Pengorbananmu ini akan sia-sia saja. Engkau tertawan, terbelenggu dan ter-totok, tidak berdaya seperti juga aku. Engkau tidak dapat menolongku dan tidak dapat menyelamat-kan dirimu sendiri. Bukankah perbuatanmu ini sama saja seperti bunuh diri?"

Sim Houw menggeleng kepala dan senyumnya nampak aneh.

"Jangan khawatir, Lan-moi. Aku tidak melakukan tindakan membabi buta, melainkan ingat sebelum kulakukan sudah kuperhitungkan masak-masak. Satu-satunya jalan untuk menolongmu hanyalah menyerahkan pusaka dan menyerahkan diri. Kalau sudah terbebas dari ancaman mereka, barulah aku akan mampu menolongmu. Totokan ini bukan apa-apa bagiku. Dengan Ilmu I-kiong-hoan-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah) aku dapat mengelak dari tototokan itu dan pura-pura lumpuh. Dan belenggu inipun tak ada artinya."

Dan tiba-tiba saja, di bawah pandang mata Bi Lan yang terbelalak, Sim Houw menggerakkan kedua tangannya dan belenggu di pergelangan tangannya itupun patah-patah tanpa mengeluarkan banyak suara! Kemudian, dengan hati-hati Sim IIouw menotok jalan darah di pundak dan punggung Bi Lan untuk membebaskan gadis itu, dan juga mematahkan belenggu kaki tangannya.

"Jangan bergerak, bersikap pura-pura masih tertotok dan terbelenggu,"

Bisik Sim Houw yang memasangkan kembali belenggu kaki tangannya yang diturut oleh Bi Lan.

"Pihak musuh terlalu banyak dan mereka kuat sekali. Kita harus menanti saat baik. Kalau orang-orang tangguh itu sudah tidur, barulah kita akan meloloskan diri dari sini. Untuk membuka ruangan ini membutuhkan banyak tenaga dan aku khawatir sebelum kita sempat lolos, mereka sudah datang dan kita akan menghadapi kesukaran lagi. Ingat kita berada dalam sarang musuh."

Bi Lan merasa kagum bukan main atas kehebatan ilmu kepandaian Sim Houw, mengangguk dan mentaati petunjuk Sim Houw. Ia tahu bahwa Sim Houw pasti berhasil mengajaknya keluar dari tempat ini, lolos dan bebas! Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara berkerotokan ketika pintu baja yang berat dan tebal itu dibuka dari luar. Rantai baja yang besar, yang mengikat pintu, dibuka dan kuncinya juga dibuka. Daun pintu itu terbuka dan masuklah seorang kepala jaga yang bermuka hitam dan kasar, bermata lebar dan mata itu sejak dia masuk sudah memandang ke arah Bi Lan dengan sinar mata yang memuakkan gadis itu.

"Aduh, sayang kalau nona manis semulus harus dibunuh. Nona, berilah aku cium satu kali saja dan aku akan minta kepada Nio-nio agar engkau jangan dibunuh, melainkan diberikan kepadaku untuk menjadi isteriku. Cium sekali saja, ya?"

Dan muka yang hitam kasar itu mendekat, hendak mencium bibir Bi Lan. Gadis ini menahan diri, akan tetapi mencium bau yang busuk dari mulut orang itu yang semakin mendekat, ia tidak tahan lagi dan tangannya yang memang sudah terbebas dari belenggu itu tiba-tiba menyambar.

"Prakkk....!"

Terdengar tulang patah ketika tangan Bi Lan dengan kerasnya menampar pipi orang itu. Agaknya tulang rahang yang patah-patah dan giginya juga rontok semua. Orang itu mengaduh dan bergulingan di atas lantai seperti cacing terkena abu panas, mengaduh dan memegangi mulutnya yang penuh darah. Tiba-tiba pada saat para penjaga menjadi kaget dan mereka menyerbu ke depan pintu kamar tahanan, nampak berkelebat dua bayangan dari tempat gelap dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan ketika beberapa orang penjaga terguling oleh amukan dua orang itu. Kiranya yang datang itu adalah Hong Beng dan Kun Tek!

"Nona Can, cepat keluarlah!"

Kata Hong Beng sambil menendang roboh seorang penjaga.

"Sim Houw, aku datang menolongmu, cepatlah keluar!"

Kata Kun Tek yang masih terhitung paman dari Sim Houw dan diapun merobohkan seorang penjaga lain dengan tamparan tangan kirinya. Dengan pedang Koai-liong-kiam di tangan, Kun Tek meloncat ke dekat pintu kamar tahanan.

Maksudnya untuk membuka pintu itu menggunakan pedang pusakanya Akan tetapi dia merasa heran dan juga girang melihat bahwa pintu yang amat kuat itu sudah terbuka dan nampaklah Sim Houw dan Bi Lan sudah menerobos keluar dari pintu yang terbuka itu. Melihat bahwa yang menolongnya adalah pamannya yang dulu masih kecil ketika dia berkunjung ke Lembah Naga Siluman, Sim Houw menjadi girang sekali. Hampir dia tidak mengenal pemuda tinggi besar itu kalau saja tadi tidak menyebut namanya begitu saja. Dan Bi Lan juga merasa girang disamping merasa heran mengapa dua orang pemuda yang pernah saling gempur itu kini datang bersama untuk menyelamatkan ia dan Sim Houw. Akan tetapi tidak ada waktu bagi mereka untuk bercakap-cakap dan empat orang itu lalu mengamuk,

Merobohkan setiap penghadang dan sebentar saja mereka sudah dapat menerobos keluar dari kepungan dan berloncatan keluar dari tembok belakang yang mengurung gedung itu. Ketika Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya mengejar ke tempat tahanan, mereka tidak menemukan lagi dua orang tawanan itu. Dengan marah dan mendongkol sekali Kim Hwa Nio-nio hanya dapat mendengar laporan anak buahnya betapa komandan jaga memasuki kamar tahanan dan tahu-tahu telah remuk tulang rahangnya, dan betapa dua orang pemuda yang pernah lolos dari tangkapan mereka tadi telah datang dan membantu lolosnya dua orang tawanan. Dengan tangannya sendiri Kim Hwa Nio-nio menampar kepala dari komandan jaga itu sehingga orang itu roboh dengan kepala retak-retak dan tewas seketika.

"Sam-wi sute, kini percaya betapa baiknya muridmu yang bernama Bi Lan itu?"

Kim Hwa Nio-nio mengomel ketika ia kembali ke ruangan dalam dan melihat tiga orang sutenya itu masih enak-enak saja duduk makan minum.

"Ia telah melarikan diri bersama Sim Houw dan dibantu oleh pemberontak-pemberontak."

"Hemm, tidak kusangka anak itu menyeleweng,"

Kata Iblis Akhirat.

"Akan tetapi kami ingin bertemu dengannya, dan kalau ia tidak menyerah, kami sendiri yang akan memberi hukuman kepadanya!"

"Cepat, kita bersembunyi ke dalam kuil ini,"

Kata Hong Beng kepada Sim Houw dan Bi Lan yang mengikuti dia dan Kun Tek melarikan diri dari gedung yang menjadi markas besar para pembantu Hou Taijin. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di ruangan dalam kuil itu, aman dan mereka segera duduk menghadapi meja, minum air teh panas yang disediakan oleh para hwesio kuil. Bi Lan lalu memperkenalkan Hong Beng kepada Sim Houw.

"Sim-toako, saudara Gu Hong Beng ini adalah seorang murid dari keluarga para pendekar Pulau Es, ilmu kepandaiannya hebat. Dan Hong Beng, Sim-toako ini adalah Pendekar Suling Naga. Kiranya aku tidak perlu memperkenalkan Sim-toako dengan Kun Tek karena agaknya malah ada hubungan keluarga antara kalian."

Sim Houw dan Hong Beng saling memberi hormat dan Kun Tek berkata,

"Sim Houw adalah keponakanku sendiri, biarpun usianya lebih tua dariku. Dan dia telah berjasa besar untuk keluarga kami, bahkan dialah yang mengembalikan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang kubawa ini kepada kami."

Post a Comment