Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 122

Memuat...

Kam Hong sudah melihat munculnya Ci Sian dan hatinya merasa girang, akan tetapi juga mulai khawatir.

Tadi dia melindungi Pek In dan setelah nona itu dapat menyelamatkan diri, eh, kini muncul Ci Sian yang tentu saja harus dilindunginya! Kemudian muncul pula Pek In dan seorang pemuda yang kelihatannya gagah perkasa sekali. Ketika dia melihat pemuda itu mencabut pedang dan meloncat ke dalam pertandingan, dia merasa kaget dan kagum bukan main, juga sekarang dia mulai ingat bahwa dia agaknya, pernah bartermu dengan pemuda perkasa ini. Namun dia tidak sempat bertanya atau mengingat-ingat karena dia sudah dibikin kagum bukan main menyaksi-kan gerakan pedang dari pemuda itu. Gerakan pedang yang mengimbangi gelombang sinar suling-nya, dan pedang itu bahkan mengeluarkan pula suara mengaung-ngaung yang menandingi lengking suara sulingnya! Sebatang pedang yang ampuh dan Ilmu pedang yang luar biasa.

"Ah, Koai-liong Po-kiam dan Suling Emas kedua-duanya diserahkan kepada kita, ha-ha!"

Sam-ok tertawa akan tetapi suara ketawanya ini sebetulnya hanya untuk menyembunyikan rasa khawatirnya menyaksikan permainan pedang sehebat itu yang membantu gelombang sinar suling yang sukar dilawan itu. Dan memang kekhawatiran Sam-ok itu beralasan. Hebat bukan main permainan suling dan pedang itu, bergulung-gulung seperti dua ekor naga bermain-main di angkasa, bergelombang seperti badai mengamuk sehingga tempat itu penuh dengan sinar pedang yang kebiruan dan sinar suling yang keemasan!

Indah bukan main sehingga baik Pek In maupun Ci Sian sampai memandang bengong terlongong. Indah dan juga menggetarkan sampai debu salju bertebaran dan semua itu ditambah lagi dengan suara melengking dari suling dan suara mengaung dari pedang, seolah-olah ada dua suara saling sahut atau saling mengiringi dalam perpaduan suara yang aneh sekali. Lima orang Im-kan Ngo-ok itu berusaha untuk mempertahankan diri, akan tetapi kini keadaannya berbalik sudah. Bukan Im-kan Ngo-ok berlima yang mengeroyok, bahkan mereka berlima itulah yang terkurung dan terdesak oleh sinar pedang dan suling yang datang dari semua jurusan, seolah-olah mereka itu dikeroyok oleh belasan orang lawan! Selama mereka hidup, baru sekarang Im-kan Ngo-ok mengalami hal seperti ini, bertemu dengan dua orang muda yang tak terkenal,

Akan tetapi telah memiliki kepandaian yang luar biasa dahsyatnya dan masing-masing memegang pusaka-pusaka yang telah di jadikan perebutan oleh dunia kang-ouw. Suling Emas dan Pedang Naga Siluman muncul bersama! Bukan main! Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan susul-menyusul dan mula-mula tubuh Ngo-ok yang berjungkir balik itu roboh terguling disusul terlemparnya tubuh Su-ok dan keduanya memegangi pundak dan paha yang berdarah terkena sambaran pedang! Kemudian disusul Toa-ok terjengkang terkena totokan ujung suling yang mengenai pundak kirinya, dan juga Ji-ok terkena hantaman suling pada punggungnya yang membuat nenek ini terguling. Pada saat yang berikutnya, hanya berselisih beberapa detik saja, sinar pedang dan sinar suling menyambar ke arah Sam-ok! Sam-ok sudah ternganga ketika sinar biru menyambar ke arah lehernya!

"Tak perlu membunuh!"

Terdengar Kam Hong berseru dan Sam-ok roboh terguling kena tertotok ujung suling yang mengenai tengkuknya, disusul suara "cringgg!"

Nyaring sekali disertai muncratnya bunga api ketika suling itu langsung menangkis pedang yang nyaris membabat leher Sam-ok. Baik Kam Hong maupun Hong Bu meloncat ke belakang dengan tangan tergetar dan cepat mereka memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega bahwa senjata mereka tidak rusak. Lima orang Im-kan Ngo-ok itu tidak terluka parah dan mereka sudah bangkit kembali, sejenak memandang kepada dua orang muda itu bergantian, kemudian mereka lalu melompat dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun kata keluar dari mulut mereka.

"Tak usah dikejar, musuh yang sudah mengaku kalah dan melarikan diri."

Kata pula Kam Hong melihat Hong Bu hendak mengejar mereka. Sim Hong Bu menyimpan pedangnya dan menghadapi Kam Hong, sinar matanya penuh kagum dan ia lalu menjura.

"Sungguh beruntung dapat bertemu dengan Kam-taihiap lagi di tempat ini, terutama dapat menikmati Ilmu Taihiap yang sungguh mengagumkan sekali."

Kam Hong menarik napas panjang. Dia kini dapat mengerti bahwa pemuda inilah yang menjadi suheng dari Pek In dan kalau pemuda ini dengan pedang yang diandalkan oleh keluarga Cu, maka mereka itu bukanlah omong kosong belaka,

"Engkau pun memiliki kepandaian. yang amat mengagumkan hatiku, orang muda...."

"Taihiap, namaku adalah Sim Hong Bu, kita pernah saling bertemu beberapa tahun yang lalu...."

"Hong Bu pernah menolongku ketika Su-bi Mo-li muncul dahulu, Paman.... eh, Suheng....!"

Kata Ci Sian dan mendengar sebutan yang ragu-ragu ini, Kam Hong tersenyum. Dia maklum akan isi hati dara ini, yang tentu telah bercerita kepada Hong Bu bahwa dia adalah suhengnya, maka kini menyebutnya suheng. Dan memang sesungguhnyalah, bukankah Ci Sian itu sumoinya, mengingat bahwa mereka berdualah yang berhak menjadi murid kakek kuno yang mewariskan ilmu-ilmu itu. Mereka berdua sajalah yang berhak menyebut diri sebagai pewaris-pewaris ilmu itu dan menjadi murid jenazah kuno yang bernama Cu Keng Ong itu. Dan karena itu, maka sudah sepatutnyalah kalau mereka berdua saling menyebut suheng dan sumoi. Untuk meng-hilangkan keraguan Ci Sian dan juga untuk memberi muka kepada dara itu, dia pun lalu menjawab.

"Ya, aku teringat akan hal itu, Sumoi. Memang Sim Hong Bu ini seorang yang gagah, dahulu menolongmu dan sekarang pun menolongku pula."

"Ah, Kam-taihiap harap jangan merendahkan diri, sesungguhnya bukan aku yang menolong Taihiap, melainkan Taihiaplah yang menolong Sumoiku...."

"Eh, Hong Bu, setelah kita saling mengenal seperti ini, perlu lagikah engkau menyebut-nyebut Taihiap kepada Suheng? Rasanya tidak enak benar."

Ci Sian mencela. Kam Hong tertawa.

"Benar apa yang dikatakan Sumoi. Hong Bu, mulai sekarang, jangan menyebut Taihiap, sebut saja Toako, cukuplah."

"Suheng, mari kita pergi dari sini.... Ayah tentu akan merasa gelisah sekali karena sejak kemarin aku belum pulang. Kau antarlah aku pulang agar Ayah dan para Paman percaya apa yahg telah terjadi."

Kata Pek In dan dia pun lalu memegang tangan Hong Bu dan menarik pemuda itu untuk pergi.

"Sumoi, engkau telah diselamatkan oleh Kam-tai.... Kam-twako, sepatutnya kita menghaturkan terima kasih."

"Aku.... aku....!"

Pek In memandang bingung dan membuang muka. Kam Hong maklum akan apa yang dirasakan oleh dara itu, maka dia pun tertawa.

"Sudahlah, di antara kita, perlukah bersikap sungkan dan pakai segala macam terima kasih segala?"

"Suheng, marilah!"

Pek In kembali menarik tangan Hong Bu. Pemuda ini memandang kepada Ci Sian dengan pandang mata penuh kasih sayang dan kemesraan, juga penuh dengan perasaan kecewa dan duka karena mereka harus berpisah itu.

"Ci Sian.... kapankah kita dapat saling bertemu kembali?"

Suara pemuda remaja itu terdengar gemetar penuh perasaan, penuh harapan. Sinar matanya dan suaranya ini tidak terlepas dari perhatian Kam Hong yang berpandangan tajam dan tahulah dia bahwa pemuda perkasa itu agaknya jatuh hati kepada Ci Sian!

Juga Pek In adalah seorang wanita dan biasanya, seorang wanita amat peka terhadap sikap pria dan seorang wanita akan mudah sekali mengetahui apabila melihat pria yang jatuh cinta, maka Pek In juga dapat melihat sinar mata penuh kasih dan suara yang menggetar mesra penuh harapan itu. Pada saat yang sama itu, timbullah rasa cemburu yang amat menyakitkan hati di dalam diri Cu Pek In dan.... Kam Hong! Pendekar ini terkejut sendiri dan cepat dia memejamkan mata dan menarik napas panjang untuk mengusir pikiran yang dianggapnya tidak benar itu. Mengapa dia merasa cemburu kalau ada seorang pemuda jatuh cinta kepada Ci Sian, hal yang sudah sewajarnya itu? Sementara itu, Ci Sian sendiri hanya merasa suka terhadap Hong Bu, pemuda yang selain amat baik, gagah perkasa, ternyata juga memiliki ilmu kepandaian yang hebat itu.

Post a Comment