"Sumoi, engkau jatuh cinta kepada Han Han, bukan?"
Sunyi sejenak. Soan Li menundukkan mukanya dengan kedua pipi merah sekali, tak berani menentang pandang mata suhengnya yang penuh selidik, kemudian sambil menunduk ia menjawab, suaranya juga penuh tuntutan yang membela diri.
"Suheng, agaknya tidak banyak bedanya dengan perasaan hati suheng terhadap Lulu."
Sin Kiat menarik napas panjang, lalu memegang pundak sumoinya, memaksa tubuh sumoinya menjadi tegak untuk memandang wajah sumoinya.
"Soan Li, sumoiku yang manis. Engkau tahu bahwa aku adalah sebagai kakakmu sendiri. Aku tidak akan menyalahkan perasaan hatimu, tidak pula hendak menekan kebebasan hatimu. Bahkan aku tidak akan mencela kalau engkau jatuh cinta kepada Han Han, karena memang dia seorang pemuda yang hebat. Aku sendiri amat kagum kepadanya. Dan aku tidak akan menyangkal lagi bahwa aku jatuh cinta kepada Lulu, maka akan amat picik dan liciklah kalau aku mencela sumoi jatuh cinta kepada Han Han. Akan tetapi, keadaanmu berbeda dengan keadaanku, sumoi. Engkau telah ditunangkan dengan Tan-siucai (Sastrawan Tan) oleh suhu. Engkau tidak bebas lagi, menjadi calon isteri orang lain. Karena itu, sebagai wakil suhu, aku peringatkan kepadamu, sumoi, agar engkau selalu ingat akan kenyataan itu dan jangan menurutkan perasaan hati yang akan menyeretmu ke jalan sesat."
Tiba-tiba Soan Li bangkit berdiri dan memandang suhengnya dengan mata penuh kemarahan.
"Suheng, apakah suheng menilai saya serendah itu?"
"Eh, sumoi, apa maksudmu?"
Sin Kiat juga bangkit berdiri, alisnya berkerut.
"Suheng sendiri mengerti bahwa saya ditunangkan oleh suhu dan sebagai murid yang tidak mempunyai orang tua lagi, saya harus mentaati kehendak suhu. Saya belum pernah melihat wajah tunanganku, dan tentu saja saya tidak mencintanya. Kalau sekarang saya mencinta orang lain, adakah itu merupakan pelanggaran? Adakah itu merupakan perbuatan atau perasaan sesat? Aku mencinta Han Han, akan tetapi hal ini hanya merupakan perasaan hati saja. Jangan suheng mengira bahwa saya akan melupakan kesusilaan, akan melakukan hal-hal yang rendah dan hina, akan mengkhianati ikatan jodoh yang sudah dilakukan suhu. Jangan sekali-kali suheng mengira bahwa dengan cinta kasihku ini aku lalu akan melakukan hal-hal yang sesat."
Melihat sumoinya berdiri dengan muka kemerahan saking marah dan penasaran, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan dua butir air mata seperti dua butir mutiara yang perlahan-lahan menetes turun ke atas kedua pipinya yang kemerahan menandakan bahwa hatinya terluka dan berduka, Sin Kiat lalu memegang kedua lengan sumoinya dan berkata.
"Maafkan aku.... maafkan aku.... sumoi. Sungguh tidak patut aku mencurigai sumoiku yang bijaksana. Ahh, sumoi, kalau memang sedemikian kuat pendirianmu, aku pun tidak akan ragu-ragu lagi. Memang sebaiknya kalau Han Han dibantu, karena tugasnya amat penting. Silakan, akan tetapi, hati-hatilah, sumoi."
Soan Li terisak, saking girangnya dan saking terharu hatinya. Ia menghapus air matanya dan mencengkeram lengan suhengnya.
"Suheng,"
Katanya gemetar.
"terima kasih, suheng. Akan tetapi berjanjilah jangan sampai rahasia hatiku ini terdengar oleh siapa pun juga.... akan kusimpan sebagai rahasia.... kubawa mati...."
Melihat sumoinya berkelebat hendak pergi, Sin Kiat memanggil.
"Sumoi."
Sumoinya menahan kakinya, menengok.
"Sumoi, hati-hatilah, sumoi....."
Soan Li tersenyum manis kepada kakaknya, senyum mulutnya akan tetapi berlinangan air matanya. Setelah sumoinya pergi, Sin Kiat termenung. Takkan terlupakan selamanya bayangan wajah sumoinya ketika menengok tadi, wajah yang tersenyum manis akan tetapi yang diliputi kedukaan besar, kedukaan yang timbul karena kekecewaan hati,
Cinta kasih yang takkan dapat tersampaikan karena gadis itu telah terikat oleh jodoh yang ditentukan oleh suhu mereka. Wajah yang manis, akan tetapi betapa menyedihkan senyum di antara linangan air mata. Berulang kali Sin Kiat menarik napas panjang dan diam-diam ia menyesal mengapa suhunya menentukan jodoh bagi sumoinya. Ia merasa yakin bahwa calon suami yang dipilihkan suhunya itu tentulah seorang yang benar-benar baik, akan tetapi apakah artinya kebaikan seseorang sebagai calon suami tanpa disertai rasa cinta dari pihak calon isteri? Sin Kiat mencoba melupakan rasa duka di hatinya itu dengan menyibukkan dirinya membantu Lauw-pangcu yang mulai mengumpulkan anak buahnya bahkan dibantu oleh para tamu mengatur jebakan untuk menyambut serbuan pasukan Mancu.
Tidaklah terlalu sukar bagi Han Han untuk mendapatkan markas pasukan Mancu yang dicarinya. Markas itu berada di tepi sungai, sebuah dusun yang penduduknya telah diusir dan kini dusun itu diubah menjadi sebuah markas yang terjaga kuat. Ketika ia berjalan terpincang-pincang dan berhadapan dengan puluhan orang tentara penjaga yang segera mengurungnya dengan todongan golok dan tombak, diam-diam Han Han merasa beruntung bahwa dia membawa surat perintah rahasia itu untuk dapat bertemu dengan Su-ciangkun. Tanpa surat itu, biarpun ia sanggup menerobos memasuki markas, namun hal itu tentu saja akan amat berbahaya mengingat betapa ketatnya penjagaan dan bahwa markas itu tentu dihuni oleh ribuan orang tentara yang tak mungkin akan dapat dilawannya sendirian saja.
"Berhenti! Siapa engkau dan mau apa mendekati benteng penjagaan?"
Bentak seorang pemimpin regu yang mengurungnya sambil menodongkan ujung goloknya di leher Han han. Han Han bersikap angkuh dan ia menjawab,
"Jangan bersikap kurang ajar kalau kalian tidak ingin dihukum oleh Su-ciangkun. Aku adalah utusan pribadi Puteri Nirahai dari kota raja, membawa surat pribadi beliau untuk disampaikan kepada Su-ciangkun."
Ujung golok itu agak menjauhi lehernya, namun pengurungan masih ketat. Suara kepala regu itupun tidaklah galak lagi ketika bertanya.
"Hemmm, bagaimana kami dapat tahu bahwa engkau adalah utusan dari kota raja? Masa kota raja mengutus seorang.... eh, pincang.... dan apa tandanya bahwa engkau adalah utusan kota raja?"
Han Han tersenyum di dalam hatinya. Biarpun masih memperlihatkan keraguan, setidaknya kepala regu ini sudah berhati-hati sehingga tidak berani menyebutnya buntung, melainkan pincang sungguhpun ia tidak dapat membeda kan mana yang lebih merendahkan antara sebutan pincang dan buntung,
"Hemmm, beranikah engkau meragukan utusan Sang Puteri Nirahai? Tidak tahukah engkau, apa pura-pura tidak tahu bahwa Puteri Nirahai terkenal mempunyai banyak pembantu orang-orang kang-ouw sebagai pengawal-pengawal pribadi dan pengawal-pengawal rahasia? Karena sekali ini Puteri Nirahai mengirim perintah rahasia dan pribadi kepada Su-ciangkun, tentu saja mengutus seorang di antara pembantu-pembantu pribadinya, dan tidak mengutus utusan resmi. Mengerti.?"
Tentu saja para penjaga itu mengenal atau setidaknya sudah mendengar akan kekuasaan Puteri Nirahai, karena pemimpin pasukan-pasukan yang bermarkas di situ, Su-ciangkun, adalah anak buah puteri yang amat mereka kagumi dan hormati itu. Akan tetapi karena Han Han hanya seorang pemuda buntung yang sama sekali tidak mengesankan, tentu saja mereka pun ragu-ragu apakah benar orang muda macam ini menjadi utusan pribadi Puteri Nirahai.