"Ti.... tidak apa-apa, suci."
"Engkau memang aneh, mari kita berlatih saja agar kelak kalau kakakmu datang, tidak mudah bagi dia untuk menjungkir-balikkan aku, hi-hik."
Akan tetapi Lulu masih termenung.
"Suci, bagaimana kabarnya dengan usahamu menyelidiki tentang dia?"
Nirahai menarik napas panjang. Hampir setiap hari ia dibikin repot oleh pertanyaan Lulu.
Tentu saja dia sudah menyelidiki dan malah sudah mendenger tentang keributan yang ditimbulkan oleh Han Han di rumah Pangeran Ouwyang Cin Kok, betapa kemudian Han Han ditangkap ketika dikeroyok oleh Toat-beng Ciu-sian-li dan Gak Liat, lalu dibawa pergi oleh nenek itu. Dia sudah pula menyuruh orang menyelidiki ke In-kok-san, akan tetapi karena keadaan di situ dapat dikatakan menjadi sarang musuh, amatlah sukar menyelidik ke sana dan tidak ada penyelidik yang tahu apa yang terjadi dengan diri Han Han. Hanya diketahui bahwa pemuda itu lenyap, entah masih hidup entah sudah mati. Tentu saja ia tidak menceritakan semua itu kepada Lulu, hanya menceritakan bahwa ketika dikeroyok Oleh Ma-bin Lo-mo dan Gak Liat seperti yang diketahui Lulu ketika ditangkap Ouwyang Seng, pemuda itu dapat melarikan diri.
"Sampai sekarang belum ada beritanya, sumoi. Kakakmu itu orang aneh sekali, dan entah menghilang ke mana. Akan tetapi aku masih mengirim penyelidik ke semua jurusan"
Demikianlah, Lulu berlatih terus bersama Nirahai dan ilmu kepandaiannya meningkat secara hebat sehingga diam-diam Nirahai sendiri menjadi kagum. Puteri yang sakti ini maklum bahwa kalau dia sendiri tidak digembleng oleh Maya, kiranya kepandaian Lulu sekarang sudah melampaui tingkatnya ketika ia belum menjadi murid nenek sakti itu. Setahun mereka berlatih tekun. Pada suatu hari, Nirahai pulang dari pertemuannya dengan para pembantunya, langsung mengunjungi Lulu yang sedang berlatih di depan Nenek Maya di kebun bunga belakang tempat tinggal mereka di lingkungan istana. Wajah Nirahai tampak tegang dan datang-datang berkata.
"Wah, kembali pasukan-pasukan kita terpukul mundur di Se-cuan. Di sana berkumpul banyak sekali orang pandai sehingga kini Kang-thouw-kwi Gak Liat sendiri mengirim berita minta bantuan orang-orang pandai. Agaknya teecu sendiri harus berangkat ke sana, subo. Dan mengingat bahwa di pihak musuh banyak terdapat orang sakti, teecu mengharap subo dan sumoi suka pula membantu."
Nenek Maya tersenyum.
"Aku sudah tua untuk berperang. Engkau berangkatlah bersama Lulu, dan aku sendiri akan keluar dari istana karena sudah bosan di sini. Kelak kalau ada waktu, aku akan menyusul ke sana, hanya untuk melihat-lihat."
Nirahai tidak berani memaksa.
"Sumoi, sekali ini, sucimu benar-benar membutuhkan bantuanmu. Tentu engkau suka membela bangsa dan negara, bukan? Selain itu, hanya daerah barat yang belum diselidiki. Siapa tahu kita akan dapat mendengar tentang kakakmu di barat."
Memang Nirahai pandai sekali. Dia mendengar akan munculnya seorang panglima musuh yang berkaki buntung, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Dia menduga bahwa pemuda buntung itu agaknya Han Han, akan tetapi ia ragu-ragu karena kalau Han Han, mengapa kakinya buntung? Pula, kalau ia menceritakan hal ini kepada Lulu dan sumoinya itu kemudian menduga bahwa Han Han membela musuh, agaknya akan sukar mengajaknya untuk membantu. Lulu mengangguk.
"Baiklah, suci. Biarpun aku juga seperti subo, tidak suka perang, akan tetapi biarlah aku hitung-hitung membalas budimu."
Nenek Maya lalu meninggalkan istana dan mendapat kehormatan besar karena kaisar sendiri mengantar keberangkatannya dengan pesta perpisahan. Kemudian tiga hari berikutnya, Puteri Nirahai bersama Lulu berangkat ke Se-cuan, memimpin sebuah pasukan besar.
Puteri Nirahai nampak gagah sekali dengan pakaian perangnya, gagah dan cantik jelita. Adapun Lulu yang tidak mau memakai pakaian perang, tidak mau pula menerima pangkat panglima, berpakaian biasa yang ketat dan dia menunggang kuda di samping Nirahai. Banyak orang di sepanjang jalan mengelu-elukan keberangkatan Puteri Nirahai yang telah banyak dikenal. Akan tetapi mereka kagum dan heran melihat seorang gadis cantik berpakaian biasa yang berkuda di samping puteri itu, karena memang selama berada di kota raja, Lulu tidak pernah keluar dari istana, juga Puteri Nirahai diam-diam mengatur agar kehadiran Lulu di kota raja tidak sampai diketahui orang. Hal ini untuk menjaga agar gadis itu tidak dicari oleh Han Han atau oleh para pejuang yang menganggap gadis itu sudah menjadi sekutu mereka.
Bagaimanakah ada berita bahwa pemuda buntung yang amat lihai menjadi panglima musuh di Se-cuan? Siapakah pemuda buntung ini? Dia itu bukan lain adalah Han Han. Seperti kita ketahui, setelah membunuh jai-hwa-cat yang berusaha memperkosa nikouw di Kwan-im-bio, di mana Han Han hancur hatinya menghadapi pertemuannya dengan Kim Cu, pemuda ini lalu melanjutkan perjalanannya ke kota raja. Mungkin karena kakinya yang buntung, juga karena ketika dahulu ia berada di kota raja, ia tidak menimbulkan kecurigaan kecuali hanya rasa kasihan yang timbul di hati orang yang melihat kakinya yang buntung. Akan tetapi kebuntungan kakinya pun tidak menimbulkan keheranan karena di masa itu, perang telah menimbulkan banyak malapetaka sehingga banyak terdapat orang yang buntung kakinya, tangannya, atau cacat tubuhnya.
Pada malam harinya, Han Han mempergunakan kepandaiannya, tanpa terilhat oleh seorang pun penjaga, ia meloncat ke atas rumah encinya, yaitu rumah gedung Giam-ciangkun, perwira she Giam, kakak iparnya atau suami encinya. Menjelang tengah malam itu keadaan sunyi sekali dan ketika ia mengintai kamar encinya yang ia sudah hafal karena ia pernah tinggal di rumah gedung ini, ia menjadi girang melihat encinya tidur berdua saja dengan Giam Kwi Hong, puteri encinya itu yang kini sudah berusia hampir lima tahun. Cepat ia menyelinap masuk dan dengan hati-hati ia membangunkan encinya dengan jalan memijit ibu jari kaki encinya. Sie Leng terbangun, kaget ketika melihat wajah Han Han yang dikenalnya betul, cepat bangkit duduk dan membetulkan pakaiannya. Han Han menaruh telunjuk ke depan bibirnya dan berbisik.
"Leng-cici, aku datang...."
Sie Leng kini sudah sadar betul, melihat adiknya dan matanya terbelalak ketika melihat kaki Han Han.
"Adik Han.... kaki.... kakimu....."
"Sssttttt.... tidak apa-apa, Enci. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar. Di mana dia.... eh.... suamimu?"
Berat rasa lidah Han Han untuk menyebut Perwira Giam Cu sebagai cihu.
"Dia.... dia sudah sebulan.... berangkat ke Se-cuan...."
Sie Leng memandang khawatir sekali karena takut kalau-kalau adiknya masih mendendam. Han Han bernapas lega, lalu duduk di atas bangku. Sie Leng duduk di ranjang, menengok puterinya. Melihat puterinya tidur nyenyak, ia lega dan menoleh kepada adiknya.
"Han Han, engkau pergi tanpa pamit, kata cihumu, engkau mencari adik angkatmu...."
"Cici, kedatanganku ini memang untuk bertanya kepadamu. Pertama, tahukah engkau tentang Lulu, adik angkatku itu?"
Sie Leng menggeleng kepala.
"Adikmu itu aneh seperti engkau. Dia menjadi pelayan istana lalu tiba-tiba lenyap, melarikan diri"
Semenjak itu, tidak ada lagi yang tahu di mana dia berada, dicari oleh sepasukan pun tidak dapat ditemukan."
Han Han tersenyum. Lega dadanya, bahwa adiknya tidak berada di istana. Memang ia sudah menduga akan hal ini.
"Sekarang pertanyaan ke dua, Enci, dan kuharap Enci benar-benar akan jujur dan memenuhi permintaanku, menjawab pertanyaanku secara jujur. Di manakah tempat tinggal Giam Kok Ma, bedebah yang dahulu memperkosa Ibu kita, perwira muka kuning itu?"
"Han-te...., Apa yang akan kau lakukan?"
"Apa yang akan kulakukan tak perlu kau ketahui, Enci, dan juga bukan urusanmu lagi. Aku bersumpah bahwa engkau tidak akan tersangkut. Katakanlah, di mana dia dan di mana pula lima orang perwira yang lain, yang dahulu ikut bersama suamimu membasmi keluarga kita?"
Pucat wajah Sie Leng. Ia merasa takut kalau-kalau adiknya itu akan mengamuk. Apa dayanya seorang yang buntung? Kalau adiknya tertangkap dan dihukum mati, ahhh.... ia merasa ngeri dan otomatis ia menggeleng-geleng kepalanya.
"Enci, dengarlah."
Han Han berkata tak sabar.
"Aku sudah melupakan perbuatan suamimu terhadap engkau, aku sudah mengampunkan dia. Akan tetapi aku minta ganti. Enam orang perwira yang lain harus dapat kuketahui tempat tinggalnya, dan engkau harus memberitahu aku. Harus, kau dengar? Kalau engkau tidak mau memberitahukan di mana adanya enam orang perwira terkutuk itu, demi Tuhan, terpaksa aku akan mencari dan membunuh suamimu."
"Tidak...., Jangan....."
Sie Leng berteriak, menjerit kecil dan anaknya terbangun. Bocah itu bangkit duduk dan melihat Han Han ia terbelalak memandang.
"Eh, Ibu? Siapakah dia ini? Apakah dia mengganggu Ibu? Awas, siapa yang mengganggu Ibu, akan aku hajar."
Kwi Hong yang masih kecil itu sudah berdiri dan mengepal tinjunya. Han Han memandang dengan mata terbelalak penuh kekaguman.
"Lihat, Enci. Puterimu lebih berbakti daripadamu."
Encinya memangku Kwi Hong, menciumnya dan berbisik,
"Hussshhhhh, dia ini Pamanmu, tidak akan mengganggu Ibu. Tidurlah, Nak....."
Setelah ditepuk-tepuk pahanya, anak yang masih mengantuk itu tertidur kembali dan dibaringkan oleh ibunya.
"Han Han, jangan kira bahwa aku tidak punya semangat. Aku tidak berdaya, akan tetapi kutanamkan sejak kecil di dalam hati Kwi Hong bahwa dia harus menjadi anak yang berbakti, yang akan membela ayah bundanya dengan taruhan nyawa, tidak seperti aku....."
Ia menangis pula.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang katakan, di mana adanya enam orang perwira musuh kita itu?"
"Han Han, apa dayamu menghadapi mereka? Apalagi kakimu sudah buntung...."
"Jangan khawatir, setelah kakiku buntung, aku malah lebih banyak harapan untuk membalas dendam. Di mana mereka?"
Setelah menarik napas panjang berulang kali, Sie Leng lalu berkata,