"Hemmm, jai-hwa-cat, apakah yang kau lakukan di kuil tadi?"
Penjahat itu pucat wajahnya. Ia membesar-besarkan hatinya, akan tetapi karena kedua pundaknya tak dapat digerakkan sehingga kedua lengannya pun setengah lumpuh, pergelangan tangan kanannya pun tidak boleh dipakai bergerak, ia maklum akan keadaan dirinya yang sedang terluka dan lemah.
"Aku.... aku terluka.... dan aku sudah diampuni para nikouw...."
Katanya gagap. Han Han memandang penuh selidik.
"Andaikata aku membantumu mendapatkan nikouw muda itu dalam keadaan tidak berdaya sehingga engkau akan dapat melakukan apa juga atas dirinya tanpa ia mampu melawan, engkau akan memberi hadiah apa kepadaku?"
"Wah, jangan main-main, orang muda. Nikouw yang cantik itu memiliki ilmu kepandaian lihai bukan main, sedangkan kau seorang buntung kakimu...."
"Hemmm, apakah dia selihai ini?"
Han Han mengempit tongkatnya, kedua lengannya dikembangkan secara tiba-tiba ke kanan kiri.
"Kraaakkk.... kraaakkkkk.... bruukkk....."
Dan batang pohon di kiri kanannya ambruk dan terjebol akarnya. Penjahat itu terbelalak, dan wajahnya berubah girang setengah ngeri ketika ia berkata,
"Hebat sekali! Orang muda perkasa, kalau engkau mampu menangkap nikouw itu dalam keadaan tak berdaya sehingga aku dapat.... eh, dapat membalas dendam kepadanya, aku.... aku akan memberimu kuda ini, dan sekantung uang perak."
"Kau tentu hendak memperkosanya?"
Penjahat itu menyeringai.
"Akan dia rasakan, sepuasku, sampai dia mampus."
"Keparat."
Tongkat di tangan Han Han berkelebat, penjahat itu menjerit dan roboh dari atas kudanya dengan tubuh terlempar, kudanya meringkik dan melarikan diri. Sejenak Han Han berdiri tegak memandang tubuh yang tidak berkepala lagi itu, karena kepalanya sudah pecah berantakan tak berbentuk lagi, tercecer ke mana-mana. Han Han yang tadinya tenggelam dalam kedukaan karena Kim Cu, ditelan keharuan, kemudian menjadi marah mendengar kata-kata jawaban penjahat yang sengaja dipancingnya, tiba-tiba terisak, air matanya mengucur turun dan bibirnya terdengar mengeluarkan rintihan, lututnya yang tinggal sebuah itu ditekuk, ia berlutut dan mengeluh.
"Kakekku seorang jai-hwa-sian. Ahhh, Kong-kong, kenapa engkau begitu sesat? Aku keturunan keluarga Suma yang jahat, yang sesat. Kalau kakekku masih hidup, akan kubunuh juga.... ahhh, Kong-kong, kenapa kau sejahat itu....?"
Kemudian ia meloncat bangun, wajahnya keruh dan beringas, suaranya keras,
"Karena darah terkutuk itu mengalir di tubuhku, aku dibenci sana-sini, dimusuhi, nasibku selalu buruk.... ya Tuhan, ampunilah hamba...."
Ia lalu mencelat jauh dan seperti gila melanjutkan perjalanan sambil mengerahkan kepandaiannya yang membuat tubuhnya makin lama mencelat makin jauh dan makin cepat sehingga seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah lagi.
Puteri Nirahai memenuhi janjinya. Lulu diterima di istana dan tidak dituntut oleh kaisar, bahkan Pangeran Ouwyang Cin Kok dan puteranya pura-pura tidak tahu bahwa gadis yang menjadi adik angkat Han Han itu kini kembali ke istana. Lulu tekun belajar ilmu silat di bawah bimbingan Nenek Puteri Maya yang amat sakti itu, juga Nirahai digembleng oleh nenek ini. Ternyata bahwa yang dilatih oleh Lulu ketika ia berada di Pulau Es adalah Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat, yaitu ilmu silat yang dasar geraknya mengambil dari coretan huruf-huruf indah. Karena ketika berlatih di Pulau Es itu tidak ada yang memimpin, maka Lulu hanya mempelajari secara ngawur saja, sehingga ia hanya menguasai kulitnya, tidak menguasai isinya. Kini, setelah digembleng oleh Puteri Mayat baru ia dapat mengerti inti dari Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat.
Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat adalah ilmu silat sakti yang diciptakan oleh Bu Kek Siansu, seorang manusia dewa yang selain sakti dalam ilmu silat, juga seorang ahli dalam ilmu sastra. Oleh kakek dewa ini kedua ilmu itu digabungkan sehingga dalam gerakan ilmu silat itu dimasukkan unsur-unsur keindahan tulisan, seolah-olah yang menggunakan ilmu silat ini sedang mencoret-coret tulisan huruf indah di udara. Karena inilah maka disebut Hong-in-bun-hoat (Ilmu Silat Sastra Angin dan Awan). Dahulu, jika Lulu bersilat, kelihatannya hanya indah sehingga oleh Han Han dikatakan sebagai tarian. Kini, setelah mengetahui inti sari ilmu itu, setiap gerakan Lulu adalah didasari goresan menulis huruf. Di jaman dahulu, Ilmu Hong-in-bun-hoat ini oleh Bu Kek Siansu hanya diturunkan kepada pendekar sakti Suling Emas.
Kemudian diajarkan pula kepada muridnya yang terkasih, yaitu Kam Han Ki yang kini menjadi Koai-lojin. Oleh Kam Han Ki inilah ilmu itu disusun menjadi kitab yang dipelajari Lulu (Kam Han Ki di waktu muda dalam cerita tersendiri: ISTANA PULAU ES). Selain dilatih ilmu silat yang pada dasarnya telah dipelajari Lulu ini, juga Nenek Maya menurunkan ilmu yang amat dahsyat, yaitu ilmu Toat-beng-bian-kun (Ilmu Silat Tangan Kapas) yang kelihatannya dimainkan tanpa tenaga, dengan kedua tangan berubah sehalus kapas, namun mengandung inti tenaga sin-kang yang dapat menahan tenaga sin-kang lawan yang kuat. Lulu amat berbakat dan juga amat cerdik sehingga dalam waktu singkat, hanya beberapa bulan saja, ia telah dapat menguasai kedua ilmu itu sehingga tingkat kepandaiannya melonjak cepat bukan main.
Hal ini adalah karena ia telah memiliki tenaga sin-kang murni yang ia dapatkan ketika bersama Han Han melatih diri di Pulau Es. Adapun Nirahai yang memang tadinya sudah lihai bukan main sebagai pewaris ilmu-ilmu dahsyat dari Mutiara Hitam, yang dahulunya menjadi ilmu-ilmu tangguh dari tokoh wanita perkasa Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian ibu kandung Suling Emas, kini setelah digembleng oleh Nenek Maya, kepandaiannya pun meningkat secara hebat sekali. Bahkan ia telah dilatih untuk mainkan ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat yang dimainkan dengan suling emas yang dipinjamnya dari Gu Toan si kakek bongkok penjaga kuburan Suling Emas. Kini dara perkasa ini menguasai dua ilmu pedang yang sebenarnya berlawanan, yaitu Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) dan Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa).
Dengan penggabungan dari kedua ilmu pedang yang berlawanan ini dapat dibayangkan betapa lihainya Puteri selir Kaisar Mancu ini. Makin lama, Lulu makin betah tinggal di istana yang indah dan mewah, juga yang mencukupi segala kebutuhannya. Apalagi Nirahai amat baik kepadanya, memperlakukannya sebagai adik sendiri. Dan memang sesungguhnya Nirahai amat mencinta Lulu sehingga Lulu yang halus perasaannya itu membalas kasih sayang sucinya. Mereka amat rukun dan kerukunan ini mempengaruhi juga pendirian Lulu tentang pertentangan antara Kerajaan Mancu dan pemberontak yang berpusat di Se-cuan. Memang pada mulanya, secara terus terang ia berani menentang Nirahai dengan mengemukakan pendapatnya yang timbul dari pengalamannya.
"Suci, sebetulnya aku tidak ingin mencampuri tugas suci sebagai puteri Kaisar dan sebagai pemimpin para pengawal. Akan tetapi karena suci ingin mengajak aku membantu, perlu kuberitahukan kepadamu bahwa aku tidak mempunyai kesan baik terhadap sepak terjang bangsaku sendiri."